Setangkai Layu

Setangkai Layu
Kamu masih istriku


__ADS_3

Roman melangkah dengan hampa, jika saja kenyataan ini bisa ditawar sebaiknya jangan terjadi. Kemudian dia menghampiri Hana yang tengah duduk mematung di sebuah bangku panjang.


Hana menoleh saat Sang kakak berada persis di sebelahnya.


"Apapun yang memang milik kita, sejauh apapun pergi, pada akhirnya akan menjadi milik kita kembali. Kita tidak tahu, esok dan kedepannya akan seperti apa, " ucapnya tersenyum penuh keikhlasan sembari menatap dan menggengam lembut tangan sang kakak, memberinya kekuatan.


Ucapan Hana membawa kesejukan tersendiri bagi Roman, ada sedikit kelegaan atas keikhlasan meski berawal karena keterpaksaan.


"Apapun keputusan kamu Mas, aku akan mendukungnya. Bukankah pada akhirnya yang kita inginkan adalah bahagia, dengan ataupun tidak dengan orang yang kita pilih saat ini, " lagi Hana menambahinya.


Mata Roman berkaca-kaca, "iya... kamu bener, kita jalani saja, mungkin sekarang waktunya aku yang berkorban untuk Kinara. "


"Semua akan ada jalannya masing-masing, biar waktu yang akan menuntun kita kemana arahnya. Aku balik dulu Mas, " pamit Hana sembari menenteng sling bagnya, melangkah pergi dengan kerelaan jika cintanya mungkin bukan untuknya. Sementara Roman, masih terdiam mencerna setiap kalimat Hana. Meyakinkan diri, saatnya melakukan sesuatu untuk cintanya.


Tak terasa hari sudah menggelap, lorong yang sedari tadi berseliweran beberapa tenaga medis, kini nampak sepi. Dengan gamang dia melangkah kembali ke ruangan itu, mengintip dari luar pintu Kinara masih di tempat yang sama. Menunduk, menopangkan kepalanya di sisi Jay terbaring lelap. Jemari mereka saling bertaut, seolah tak ingin apapun memisahkannya. Makin menguji keikhlasan Roman.


Akhirnya Roman memutuskan melangkah masuk, di tariknya satu kursi, duduk di sisi Kinara. Lalu Perlahan di tariknya bubuh Kinara, dibawanya kedalam peluknya. Tanpa melepas jemarinya yang masih Jay genggam kuat saling bertaut. Cemburu..? Tentu, bagaimanapun dia hanya manusia biasa. Namun saat ini rasa itu harus dihempasnya jauh-jauh.


"Mungkin ini, kali pertama dan terakhir aku memelukmu sebagai seorang suami. Maafkan aku yang belum bisa manjadi pria baik yang bisa kamu andalkan," bisiknya dalam hati, dengan titikan air mata yang tak mampu dia bendung, menetesi geraian rambut indah sang istri.


Dalam diamnya Jay melihat adegan tersebut, saat kecupan hangat Roman mendarat di kening Kinara dengan wajah sendunya. Kali pertama Jay melihat Roman benar-benar menangis untuk seorang perempuan.


Aroma udara pagi tak tercium menyengat di ruangan itu, namun sinar terang sang mentari membuat Kinara perlahan menyadari jika hari telah berganti. Mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan, baru dia menyadari dia telah terbaring di sofa. Rupanya Roman memindahknya, saat dilihatnya genggaman tangan Jay telah lepas. Kedua matanya segera berlari mengarah ke tempat Jay terbaring, seulas senyuman indah pun menyapanya pagi itu.


"Maaf aku ketiduran semalem, " ucapnya seraya mendekat ke arah Jay.


Jay hanya menggeleng, "Kamu pasti cape, " ucapnya lirih. Obrolan ringan mereka pun terhenti saat Dokter dan seorang asitennya masuk mengecek kondisi Jay. Kabar baiknya, kondisi Jay makin stabil dan membaik.


"Aku udah baik-baik saja, kamu denger kan kata Dokter tadi, " ujar Jay.


Kinara mengangguk penuh kelegaan, "aku suapin, " kata Kinara seraya mengambil satu nampan berisi sarapan pagi milik Jay. Menyuapkan sendok demi sendok dengan perlahan ke mulut Jay, hingga hampir seperempat bagian.


"Bagaimana dengan Evan? apa dia nggak rewel kamu tinggal selama ini? "


Kinara menggeleng ragu, "ada Mas Roman, " jawabnya lirih sembari mengangkat gawainya yang berdering.

__ADS_1


"Aku sama Evan di tempat parkir, dia nyariin kamu terus. Terpaksa aku bawa ke sini, " ujar Romantis dari ujung sana.


"Ya, aku keluar sekarang, " segera Kinara bergegas keluar.


"Evan di luar nyariin, aku tinggal sebentar ya, " pamitnya pada Jay dengan gugup, tanpa menunggu jawaban Jay.


"Kamu sudah bahagia Kinara, aku tidak seharusnya ada diantara kalian. Diantara kebahagiaan kalian, " batin Jay meratapi diri.


Tergopoh-gopoh Kinara menghampiri Evan, "maafin Ibu sayang, " ucapnya penuh rasa bersalah.


"Ibu dari mana aja, seharian nggak pulang, " rajuk Evan.


"Ibu nungguin Om Jay yang lagi sakit, " Kinara berusaha menjelaskan dengan hati-hati.


"Kalau ayah yang sakit, apa Ibu juga mau nungguin! " celetukan Evan membuat Kinara tersentak.


"Kenapa Evan ngomong kya gitu, tentu Ibu mau nungguin, " sela Roman meredam kekesalan Evan.


"Ayah sama Ibu mau balik ke Jogja siang nanti, nggak papa kan kalau kita temui sebentar, " ujar Roman.


"Iya," Kinara pun kemudian menunduk merasa bersalah pada suaminya itu, "aku minta maaf, " ucap Kinara hanya sampai di situ.


Mobil Pun melaju dengan cepat menuju tempat tinggal Roman dan keluarganya.


"Cucu Oma akhirnya dateng juga. Oma kangen kangen banget sayang, " sapa Arini.


"Evan juga kangen Oma, " balas Evan memeluk sang nenek dengan Erat.


"Oma udah masak makanan kesukaan kamu sama ayah kamu, yuk buat nenek suapin," ajak Arini dengan semangat.


Kinara segera menyusul ke belakang membantu menyiapkan makan siang, kemudian mereka berkumpul pada satu meja menikmati makan siang yang terasa sedikit canggung itu.


"Roman, mulai sekarang jaga anak istri kamu baik-baik. Buatlah mereka bahagia, " pesan Doni sangat ayah.


"Setiap hubungan punya permasalahan masing-masing, punya ujianya masing-masing. Ibu cuma pengin kalian tetap kuat, jangan goyah dengan apapun. Ibu juga ingin kalian segera memberi Evan adik. Karena Ibu yakin, utubakan membuat perasaan kalian juga akan lebih kuat," permintaan sang Ibu yang tak pernah mereka bayangkan.

__ADS_1


Memiliki anak, bahkan cintapun belum di mulai dan entah bertahan seberapa lama.


"Bu..., Evan masih kecil, dia masih butuh banyak perhatian. Jika kita memang berjodoh tak akan ada satu pun yang akan memisahkan kita, " jawab Roman yang tau bagaimana perasaan Kinara saat ini.


"Baiklah, Ibu hanya ingin kalian bahagia. Ibu nggak mau cucu Ibu ini kurang kasih sayang jika kalian tidak bersama," Arini miris membayangkan nasib Evan beberapa tahun lalu sebelum Roman datang.


"Ibu sama Ayah nggak usah khawatir, " Roman berusaha menenangkan sang Ibu.


****


Setelah mengantar kedua orang tuanya ke stasiun, wajah Roman nampak muram dan pucat.


"Kita balik ke rumahku saja," pintanya.


"Horee.. kita nginep di rumah ayah, " sorak Evan kegirangan.


"Kamu nggak papa kan? Aku cuma mau istirahat sebentar, nanti aku anter kamu ke rumah sakit lagi, " ucap Roman datar.


"Nggak usah," merasakan ketidaksukaan Roman.


Begitu sampai di rumahnya kembali, tanpa basa-basi Roman langsung menuju kamar tidurnya tak sanggup menahan sakit kepala yang tiba-tiba menyerangnya.


"Kalau kamu cape, kamu bisa istirahat dulu ruang tamu," ucap Roman sembari berlalu.


Sementara Evan yang tak mau pisah dari Roman, terus saja mengikuti langkahnya.


"Ayah mau istirahat sebentar, kamu main sama Ibu ya, " bujuknya dengan lembut.


"Evan mau ikut ayah istirahat, " kekehnya.


"Baiklah, " Roman pun kalah.


Hampir dua jam berlalu, tak ada tanda-tanda Roman bangun meski Evan sudah sejak dari tadi keluar kamar. Sedikit khawatir, Kinara pun masuk dengan ragu ke dalam kamar Roman.


Dilihatnya wajah pucat dengan bibir bergetar menggigil, Kinara langsung mendekat. Dan benar badan Roman sangat panas. Kinara langsung beranjak mencari obat pereda demam sekaligus air hangat untuk mengompresnya.

__ADS_1


Sampai tengah malam, demam Roman baru sedikit mereda. Matanya perlahan terbuka, di dapati Kinara menunduk terlelap di sisinya.


Roman tersenyum melihat pemandangan itu, "terimakasih, " ucapnya sembari mengusap pucuk kepala Kinara dengan lembut


__ADS_2