Setangkai Layu

Setangkai Layu
Kejutan hebat


__ADS_3

Awan hitam berarak menggulung cerahnya langit dalam waktu sekejap. Mengganti biru ceria menjadi sendu kelabu, diiringi rintikan deras tertumpah membasahi bumi yang gersang. Meredam udara panas, mengikis sedikit lelah yang menerjang para pemburu nafkah. Begitu halnya bagi Jay yang sedari tadi bermandikan keringat, perlahan mengering. Membawa energi baru yang semakin mengobarkan asanya untuk segera merampungkan tanggungjawab pekerjaannya.


Satu jam kemudian, langkah kakinya begitu mantap menapaki jalanan diiringi rintik syahdu yang belum mereda. Ada satu tujuan yang telah dia niatkan dari semalam.


"Aku minta yang itu Mba," seraya menunjuk satu cincin putih bertahtakan berlian kecil. Nampak sederhana namun tetap anggun dengan khasnya, seperti sosok Kinara di matanya.


"Ini sangat anggun, pasti sangat cocok dengan calon istri Tuan," kata pelayan toko tersebut tersenyum.


"Iya, aku mau yang ini."


"Baik Tuan."


Mengantongi kotak kecil tersebut dalam saku celananya. Malam ini dia telah sangat yakin akan melamar Kinara, secepatnya menikahinya.


Namun di tempat yang lain, dengan resah Kinara menunggu Evan yang tak juga pulang padahal hari sudah gelap. Beberapa kali dia menghubungi nomor ponsel Roman tak ada jawaban sama sekali. Pikiran buruknya terus berkeliaran, begitu takut jika Roman membawa pergi Evan jauh darinya. Hingga dia putuskan untuk pergi mencari ke apartemennya.


Cuaca yang tak mendukung hari itu, mbuat Roman mengurungkan niatnya pergi ke luar dengan Evan. Mereka menghabiskan waktu bermain berdua, di dalam apartemennya. Hingga mereka berdua tertidur cukup lama, Roman benar-benar tak menyia-nyiakan waktu sedikitpun saat bersama anaknya.


"Ayah...!" panggil Evan dengan suara parau, tanganya menggerayang mencari sang ayah yang telah lebih dulu bangun.


"Iya sayang, ayah di sini," sahut Roman yang kemudian mendekat setelah mengisi baterai ponselnya.


"Udah malem ya Yah...Ibu pasti nyariin," kata Evan.


"Belum malem banget, Evan mandi dulu ya. Habis itu Ayah anter pulang. Kita ajak Ibu makan malem bareng, mau kan?"


"Horeee...mau banget Yah," sorak Evan dengan riangnya.


"Oke..kalau gitu kita mandi sekarang," Roman membopong Evan dengan gemas, membawanya masuk ke kamar mandi. Memandikannya dengan penuh kasih sayang, sungguh momen yang palingenggemburakan baginya. Baru kali ini, bisa bersama buah hatinya seharian.


"Ayah...kenapa kita nggak tiap hari kaya gini. Apa karena ayah nggak mau ya?" kata Evan dengan polosnya.


"Ayah malah pengin banget tiap hari bisa sama Evan kaya gini. Bisa selalu berada di sisi Evan juga Ibu Evan. Secepatnya, kita pasti bisa bersama," jawab Roman penuh keyakinan, seraya mengusap gemas pucuk kepala Evan.


"Ayah janji ya..."


"Tentu."

__ADS_1


Ayah akan berusaha memenangkan hati Ibu kamu, untuk bisa nerima Ayah berada di sisi kalian selamanya.. ucap Roman dalam hati, menatap Evan dalam-dalam.


"Anak ayah udah ganteng sekarang, Evan tunggu bentar ya. Giliran ayah yang mandi," ujar Roman setelah memakaikan baju serta menyisir rambut Evan.


"Iya Yah...Evan tunggu di luar," sahut Evan seraya berlari ke luar mengahmpiri lagu mainannya yang masih tergelatak berantakan di ruang tengah.


Tak berselang lama, suara keriet pintu mengalihkan perhatian Evan. Dilihatnya Hana bersama dua orang yang masih asing baginya.


"Tante Hana," pangg Evan tersenyum.


"Evan di sini," Hana terhenyak melihat Evan. Sementara Ayah Ibunya yang tak tau menau soal Evan, kini berada di sisinya.


"Siapa yang Dateng sayang?" teriak Roman dari dalam kamar.


"Tante Hana Yah..." seru Evan menjawabnya.


Panggilan Evan tersebut sontak membuat Arini dan Doni tercekat, mereka berdua terdiam penuh tanya tentang siapa sosok kecil itu. Dan Hana terdiam gagu, tak tahu harus menjelaskan ya bagaimana. Meski sorot mata Ibu dan Ayahnya tertuju padanya, menuntut jawab.


"Ayah...Ibu...kalian di sini," Roman sama terkejutnya.


"Kinara?" Hana kembali tercekat dengan kedatangan Kinara yang membuatnya bertanya dalam hati, apa ini hanya kebetulan.


"Apa Evan ada di sini?" desak Kinara dengan cemas mencari Evan.


"Ada di dalam masuklah!"


"Ibu..." Evan berhamburan memeluk sang Ibu, begitu ibunya masuk. Kejutan baru bagi Doni dan Arini datang tepat waktu, menambahi kejutan pertama yang belum usai.


"Siapa yang akan menjelaskan semua ini?" lirih Arini penuh tekanan. Jantungnya berdebar dengan keadaaan ini. Kinara pun menatap bingung wajah-wajah mereka.


"Evan...kenalin, ini Ayah sama Ibunya Tante Hana. Kakek Nenek kamu," ujar Hana mberi sedikit penjelasan, tak mau membuat Evan makin terlarut tegang suasana. Namun Evan hanya terdiam, dia masih merasa asing.


"Evan ikut Tante jalan-jalan keluar ya," bujuk Hana membopong bocah kecil itu. Memberikan kesempatan pada Roman dan Kinara untuk menjelaskan keadaan rumit ini.


"Semua ini adalah kesalahanku, Kinara hanyalah korban dari ulah bejatmu. Jangan menatapnya seperti itu," Roman mulai membuka pembicaraan. Sementara Kinara hanya menunduk diam.


"Kinara melahirkan anakku tanpa sepengetahuanku, aku adalah ayah yang tidak bertanggung jawab. Aku menelantarkan anak dan perempuan yang melahirkan anakku. Aku telah banyak membuat mereka menderita," imbuh Roman. Sementara Arini dan Doni masih terdiam menunggu penjelasan berikutnya.

__ADS_1


"Karena itu, detik ini di depan ayah dan ibuku. Kinara...demi anak kita, menikahlah denganku," ucap Roman penuh harap.


"Bukan hanya karena kamu telah melahirkan anakku, tapi aku benar-benar mencintai kamu. Sejak awal, sejak pertemuan itu. Aku mungkin tidak akan pernah bisa mengembalikan kebahagiaan yang telah aku renggut, beri aku kesempatan untuk mengukir kebahagian baru untuk kamu juga Evan," Roman mengucapkanya penuh kesungguhan.


Air mata Kinara menitik jatuh seketika, mengingat pertemuan yang Roman maksud, mengingat kejadian itu, mengingat kehidupannya setelah kehamilan itu yang hampir membuatnya putus asa. Dan kenapa dia harus terjebak dalam keadaan seperti ini.


Arini mulai paham keadaan itu, dia pernah merasakannya hampir sama. Seketika dia berlutut di hadapan Kinara.


"Maafkan anakku, aku sangat mengerti bagaimana rasanya. Aku mohon maafkan Roman," air matanya menitik penuh rasa bersalah.


"Ibu jangan seperti ini, bangun Bu," Kinara langsung memapah Arini untuk bangun.


"Aku sudah memaafkan anak Ibu sejak lama, tapi aku bersamanya aku belum bisa," tatapan Kinara beralih pada Roman saat mengucapkan kalimat itu, sebagai jawaban atas lamaran itu.


Roman menatap balik Kinara dengan mata memerah, "kenapa?" desaknya.


"Aku pamit pulang Bu..Pak.., sudah cukup malam. Evan besok harus sekolah," pamit Kinara pada Arini dan Doni enggan tanpa menjawab pertanyaan Roman.


"Sekali lagi Ibu minta maaf, ibu nggak bisa ngajar anak Ibu dengan baik," ucap Arini.


Kinara hanya mengedipkan mata, memaksakan senyum meski berat kemudian melangkah keluar meninggalkan tempat yang membuatnya hampir mati kehabisan nafas.


Doni yang sedari tadi diam kini tak mampu lagi menahan amarahnya, tangan yang mengepal sejak tadi melayang begitu ringan mengajar Roman dengan kerasnya.


Buggghhh...


"Pukulan ini tidak setimpal untuk apa yang telah kamu perbuat. Gadis itu, anak itu...bertahun-tahun menderita karena ulah kamu," gertak sang Ayah.


"Cukup Mas...cukup..." Arini mencoba menahan Doni yang hendak memukul Roman lagi.


Kinara enggan mengehentikan langkahnya meski masih terdengar suara gaduh di dalam sana. Dia terus mengayunkan langkah cepatnya. Ingin segera menjauh dari tempat itu. Namjn dari arah belakang tiba-tiba ada yang menarik tangannya. Dilihatnya wajah lebam, dengan darah masih mengalir di sudut bibirnya.


"Aku antar kamu pulang," kata Roman tanpa tawar menawar.


"Aku bisa pulang sendiri," Kinara mencoba melepaskan cengkraman tangan Roman, namun sia-sia. Dua terus menarik paksa pergelangan tangan Kinara.


Sementara di depan rumah Kinara, Jay tengah menunggunya memegangi cincin yang tak sabar ingin dia sematkan di hari Kinara.

__ADS_1


__ADS_2