
Di bawah temaramnya lampu tidur yang menyala redup, Jay memandangi cincin yang baru saja dia ambil dari saku jaketnya. Cincin yang seharusnya telah melingkar di jari manis Kinara, namun tertunda oleh beberapa kejadian. Begitu banyak ujian cintanya, keluhnya yang tak pernah terlisankan.
"Ini hanya simbol, tanpa atau dengan ini aku harap perasaan kita takan pernah berubah. Aku percaya ada jalan untuk kita," batin Jay tanpa mengalihkan pandanganya dari kilaunya cincin itu.
****
Di tempat lain, Kinara pun masih terjaga. Evan tak bisa tidur dengan nyenyak, gelisah dan selalu mengigau, menyebut kata ayah. Mungkin saking lelahnya bermain seharian, di tambah rasa rindunya pada sang Ayah, pikir Kinara. Mengusap keningnya dengan lembut tanpa henti, berharap bisa memberikan ketenangan untuk buah hati tercinta. Namun tak banyak berpengaruh.
Keadaan membuatnya berubah panik, saat Evan justru menggigil. Sementara suhu tubuhnya melonjak naik terasa menyengat saat disentuh. Obat penurun demam, dan kompres yang sudah berjam-jam tak membuat suhu tubuhnya berangsur turun. Ingin minta tolong, tak tau dengan siapa. Saat seperti ini dia sangat membutuhkan sosok Bu Ira, tapi beliau tengah berada di Jogja karena urusan yang mendesak.
Sepertiga malam, demam Evan belum berangsur menurun. Berkali-kali dia bangunkan untuk minum air putih mencegah dehidrasi, berulang kali Evan mengeluh kepalanya sakit.
"Bu...sakit Bu...sininya sakit banget," rintih Evan dengan lirih, seraya menunjuk ke arah kepalanya.
"Iya sayang, tahan ya...nanti kita ke rumah sakit. Ibu lagi minta bantuan," Kinara terlihat sangat khawatir.
"Panggil ayah Bu...."
"Iya sayang...sabar ya," berulang kali Kinara menghubungi Jay dan Roman, berharap salah satu ada yang tersambung. Namun masih kosong, keduanya bisu dalam lelapnya.
"Ibu...." jerit Evan cukup keras menahan sakit, hingga tiba-tiba hilang kesadaran. Tubuhnya kaku, bibir membiru, nafasnya serasa terhenti.
"Evan...." jerit Kinara yang begitu panik, tak tau harus berbuat apa. Tak pernah mendapati Keadaan seperti ini.
"Evan...bangun sayang," mencoba menyentuh pipinya. Terlihat Evan mulai bernafas dangkal, tubuhnya terus berkedut tak kunjung berhenti.
"Sayang...." teriak Kinara. Melihat keadaan seperti itu dia baru sadar Evan mengalami kejang.
Otaknya mulai dapat bekerja, mengambil apa yang bisa dia ambil untuk dimasukan ke mulut Evan, mencegah lidahnya agar tidak tergigit hingga fatal.
Beberapa menit kemudian, tubuh Evan berangsur normal. Tak lagi berkedut seperti tadi, bersamaan dengan itu, suara gedoran pintu dari arah begitu keras memecah sunyinya malam.
"Cepat buka Kinara?" teriakan dari luar sana.
"Apa yang terjadi sama Evan?" tanya Roman dengan panik, sseketika pintu terbuka.
"Evan kejang," jawabnya pelan. Roman langsung melangkah cepat menuju kamar, dilihatnya Evan tengah terbaring lemas. Mulai bisa mengeluarkan suaranya, menangis pelan saat dilihatnya sosok sang ayah.
"Kita bawa dia ke rumah sakit," tuturnya dengan panik, langsung membopong tubuhnya.
"Iya Mas," Kinara menyambar sweater dan tas selempangnya dengan cepat, berjalan mengikuti langkah cepat Roman.
__ADS_1
Hanya butuh tiga puluh menit untuk sampai di rumah sakit, Evan tengah mendapatkan penanganan di ruang gawat darurat. Sementara dua orang itu menunggu dengan gelisah di luar.
"Bagaimana anak saya Dok?" desak Roman seketika Dokter muncul dari ruangan tersebut.
"Diagnosa sementara anak Bapak mengalami infeksi yang disebabkan oleh virus, tapi untuk lebih tepatnya kita tunggu hasil cek laboratnya besok," tutur sang Dokter.
"Tidak berbahaya kan Dok?" guratan cemas begitu nampak di wajah Roman juga Kinara.
"Jangan khawatir, setelah di rawat beberapa hari inshaAlloh anak Bapak akan segera pulih," jawab sang Dokter.
"Terimakasih Dok."
"Sama-sama, silahkan...Bapak dan Ibu sudah boleh masuk. Sebentar lagi akan di antar oleh perawat ke ruang rawat inap."
"Baik Dok, sekali lagi terimakasih."
****
Berada di ruang VIP yang terasa sangat nyaman, Evan terbaring lemah. Memanggil lirih nama Ibu.
"Ibu..." lirihnya seraya menggerakkan tangannya meraih tangan sang Ibu.
"Evan mau tidur," ucapnya parau seraya memejamkan matanya. Di saat itu baik Roman maupun Kinara membelalak takut, sesuatu yang tak mereka inginkan terjadi.
"Jangan berpikir buruk, Evan hanya butuh istirahat. Besok dia akan bangun dalam keadaan yang lebih baik," ujar Roman berusaha menenangkan Kinara, meski hatinya sendiri dilanda ketakutan yang memuncak.
Menahan rasa lelah dan kantuknya, Kinara terus saja memperhatikan Evan. Tak mau sedetikpun luput dari pantauanya.
"Biar aku yang jagain Evan," ujar Roman yang tak disahut sama sekali oleh Kinara.
"Evan akan baik-baik saja, besok pasti dia sembuh," ucap Roman lembut seraya duduk di sebelah Kinara.
Kinara hanya menunduk, "aku bukan Ibu yang baik, membuat Evan sampai seperti ini," katanya terdengar lirih.
"Kamu Ibu yang luar biasa," balas Roman, meraih tubuh Kinara bersandar di bahunya. Mengusap lembut bahunya hingga matanya terpejam, melepas lelah yang telah menderanya.
"Aku ingin esok, lusa dan seterusnya bisa berada dia sisimu seperti ini. Menjadi tempatmu bersandar melepas semua beban yang ada. Aku mencintaimu Kinara," kalimat terakhir Roman bisikkan pelan sembari mengusap mesra helaian rambut Kinara dalam pelukannya.
Embun pagi menitik dari dedaunan, nampak berkilau oleh pancaran mentari yang telah bertengger gagah mengikis pekatnya malam. Tangan mungil bergerak perlahan, matanya mengerjap pelan. Pemandangan indah terpampang nyata saat pandanganya mulai terlihat jelas. Tersenyum melihat Ayah memeluk hangat Ibunya yang masih terpejam lelap.
Seolah merasa di panggil, Roman pun terbangun. Melihat senyuman sang anak membuat lelahnya menguap sirna sejauh-jauhnya.
__ADS_1
"Husssttt," isyarat agar Evan membiarkan ibunya terlelap.
Evan yang tanggap dengan maksud sang ayah, hanya tersenyum mengangguk-anggukan kepalanya. Dia memang suka melihat ayah dan ibunya begitu dekat, begitu hangat.
Di ambang pintu sana, seseorang tanpa suara menatap adegan tersebut. Hatinya terasa hancur remuk tak berbentuk melihat perempuan yang dia cintai berada nyaman di pelukan laki-laki lain. Mencoba berbesar hati, menerima keadaan, mengerti perasaan Evan adalah pilihan Jay. Melangkah mundur, memilih berjaga di deretan kursi tunggu luar ruangan. Mencoba membentuk hatinya kembali, untuk tetap bertahan meski getir terasa. Kisahnya memang tak mudah.
Kinara yang mulai merasa silau oleh sinar mentari yang makin menerang, membuka matanya perlahan. Beranjak lepas dari pelukan Roman yang baru dia sadari.
"Maaf..." ucapnya canggung menyadari keadaan tersebut.
"Ibu baru bangun?" celetuk Evan dengan senyumnya membuat Kinara begitu lega bahagia.
"Kenapa Evan nggak bangunin Ibu?" seraya mengurai pelukan hangatnya, wajahnya berbinar seketika melihat buah hatinya ceria pagi ini.
"Ibu tidurnya nyenyak banget di pelukan ayah, kata ayah jangan dibangunin dulu," katanya dengan polos membuat Roman membelalak, ketahuan ulahnya. Sementara Kinara makin terlihat canggung.
"Nggak ada maksud apa-apa, cuma kamu kelihatanya olah banget," kelitnya.
"Ya udah, ayah cari sarapan dulu. Kasian Ibu kamu, jangan sampai sakit," Roman berpamitan.
"Iya Yah..."
Roman beranjak keluar, terlihat sosok yang sangat dia kenal tengah duduk bersandar dengan kedua tangan terlipat.
"Sejak kapan lu di sini?" tanyanya datar.
"Sejak tadi," jawab Jay tak kalah datar, bahkan tanpa menatapnya sama sekali.
"Mereka udah bangun, masuk saja," tawar Roman.
"Lu mau kemana?" balik tanya.
"Cari sarapan."
"Biar gue aja, Evan lebih butuh elu," balas Jay.
Kalimat Jay membuat Roman tercengang, selapang itu kah hati Jay.
"Tapi Kinara juga butuh elu," jawabnya spontan.
"Yang lebih penting sekarang adalah Evan. Aku dan Kinara nggak usah lu pikirin. Kami bisa jaga hati kami sendiri," kata Jay menyembunyikan makna yang perlu Roman pikirkan sendiri apa maksudnya.
__ADS_1