Setangkai Layu

Setangkai Layu
Keputusan Besar Kinara


__ADS_3

Roman membopong Evan yang nampaknya terlihat lelah, membawanya menuju mobil. Sementara Kinara hanya mengekor di belakangnya.


"Jangan diambil hati omongan ibu ku, mungkin dia udah pengin punya mantu perempuan," ujar Roman mencoba berseloroh.


"Nggak papa, wajar kan kalau ibu kamu udah pengin mantu perempuan. Anak lelakinya bahkan udah punya anak," jawab Kinara datar.


"Aku masih nunggu kamu... " jawab Roman spontan.


"Sampai kapan?"


"Sampai kesempatan itu terbuka nyata atau tertutup rapat serapat-rapatnya."


"Bersama orang yang mungkin nggak bisa membuka hati sepenuhnya buat kamu, seberapa sanggup kamu bertahan?" tanya Kinara dengan tatapan mendalam.


"Kecuali kamu menyerah, aku akan bertahan."


Kinara terdiam dengan jawaban itu, membuang pandangannya ke arah lain. Semakin membuatnya gamang.


Roman hanya menatapnya singkat, lalu kembali fokus dengan kemudinya. Pasrah dengan segala ketetapan yang harus diterimanya.


Sementara Doni dan Arini hanya duduk di ruang tengah tanpa kata, saling diam dengan berbagai pemikiran masing-masing.


"Cucu kita sudah sebesar itu, tanpa punya status ayah yang syah. Apa yang Cilla alami kenapa juga harus dialami Evan," ucap Arini.


"Bahkan sampai sekarang kita belum pernah meminta maaf pada orang tua Kinara, atas kelakuan anak kita," timpal Doni.


"Kita perlu bicara sama mereka Mas, setidaknya untuk meminta maaf. Juga membahas bagaimana nasib Evan. Jika saja Kinara mau nerima Roman, itu akan mudah. Tapi sepertinya cinta Roman hanya sepihak."


"Besok kita ke rumah Kinara, kita selesaikan semuanya," keputusan Doni nampaknya sudah sangat bulat.


****


Esoknya, Roman tiba-tiba menghampiri Kinara yang tengah bersiap menuju tempat kerjanya.


"Kinara...!" Kinara menoleh mendengar panggilan itu.

__ADS_1


"Ada yang perlu aku bicarakan sebentar. Ayah Ibuku berniat menemui orang tuamu malam ini. "


Kinara tersentak mendengar kabar itu, "untuk apa? "


"Untuk Evan. Dan untuk mungkin untuk semua kesalahan-kesalahanku. "


"Tadi aku udah hubungi Om Ilham, beliau bersedia menemui orang tuaku. Tinggal Bu Ira yang belum aku kabari," imbuh Roman.


"Terserah kalian saja, maaf aku tinggal dulu, " Kinara langsung mengayunkan langkahnya menuju tempat kerjanya. Menyimpan sekelebat resah yang mengusik batinnya.


Sementara di tempat lain, Angga sengaja menemui Jay.


"Bagaimana proyeknya? "


"Perkiraan akhir bulan besok akan rampung semuanya. Maaf sebelumnya, setelah proyek ini selesai gue pamit, " kata Jay.


"Maksud lo? "


"Gue mau nyari kerjaan lain. "


"Ya, memang ada. Gue udah nyakitin dia, nggak pantes gue ada di sini lagi. "


"Gue pikir lu bakalan perjuangin cinta lu buat adik gue, nyatanya sekejap itu lu lepasin gitu aja. Gue pengin banget ngajar lu habis-habisan karena udah bikin Kinara nangis lagi. Tapi gue rasa lu punya alasan yang emang nggak pengin orang lain tau,"


"Makin gue pertahanin Kinara tetep di sisi gue, itu hanya bikin Kinara makin menderita Belum lagi restu keluarga gue, " alasan Jay terdengar cukup tepat.


"Gue bakalan segera tau alasan lu sebenernya, " balas Angga mendelik, tak menggubris alasan apapun. Kemudian berlalu pergi.


Angga berhenti sejenak, "orang tua Roman malam ini bakalan menemui orang tua kami, bukan nggak mungkin kedatangan mereka untuk mempertegas hubungan Roman dan Kinara, " setelah mengatakan hal tersebut, Angga kembali melangkah. Terbesit harapan, Jay bisa merubah keputusannya. Karena dia yakin masih ada ikatan kuat diantara mereka.


Malam itu pun tiba, tak ada yang istimewa. Hanya saja rumah Bu Ira yang biasanya sepi, sekarang nampak lebih ramai. Pak Ilham juga Angga telah berada di sana, menunggu Roman dan keluarganya.


"Kamu udah siap untuk keputusan nanti? " tanya Angga yang nampak khawatir melihat kegamangan sang adik.


"Memang keputusan apa Mas? "

__ADS_1


"Buat nerima atau nolak Roman? Bukan nggak mungkin kedatangan mereka buat ngelamar kamu," jawab Angga singkat namun menajam.


"Nggak lah, mereka datang cuma mau minta maaf kok, " berusaha menenangkan diri dengan kenyataan yang memang mungkin saja terjadi.


"Jay... " baru satu nama itu terucap, Tiba-tiba terhenti


"Kinara.. Angga... " seru Bu Ira memanggul mereka, memaksa jay menjeda ucapanya.


Ternyata Romantis dan keluarganya sudah tiba. Sosok Arini yang lembut mampu menyamarkan kecanggungan mereka dengan sapaanya yang hangat.


Mereka pun langsung duduk setelah beramah-tamah saling sapa dan berkenalan. Kemudian Doni memulai pembicaraannya.


"Sebelumnya kami sekeluarga meminta maaf jika kedatangan kami terkesan mendadak, yang mungkin mengganggu waktu Bapak juga Ibu. Maksud kedatangan kami pertama untuk silaturahmi, dan yang paling utama adalah kami bermaksud mengucapkan permintaan maaf kami atas kesalahan-kesalahan anak kami Roman di masa lalu. Mungkin ini sudah sangat terlambat, tapi kami tetap harus menyampaikan penyesalan kami ini. Terlebih pada Kinara yang hidupnya telah dibuat kacau oleh anak kami, " ucap Doni penuh iba juga sesal.


"Maafkan kami, yang tidak mendidik anak kamu dengan baik sehingga hal tersebut sampai terjadi, " imbuh Doni lagi.


Dengan berat Pak Ilham pun bersuara, "sejujurnya saya ngerasa tidak berhak menjawab ini. Tapi sebagai ayah kandungnya saya ingin mengupayakan yang terbaik untuk Kinara. Meski sangat menyakitkan untuk anak saya, semuanya sudah terjadi, tak ada yang mampu merubah kenyataan itu. Roman sudah dengan nyata menunjukan i'tikad baiknya untuk bertanggung jawab. Dan tentunya kami sekeluarga hanya bisa menerima dan memaafkan dengan lapang dada. Semua yang telah terjadi biarlah menjadi pelajaran berharga dan bahan koreksi untuk diri kita masing-masing terutama sebagai orang tua," ucap Pak Ilham dengan jantung yang berdebar hebat. Masih terasa sangat menyesakkan baginya mendapati nasib putrinya yang demikian.


"Terimakasih atas kebesaran hati Bapak sekeluarga yang telah memaafkan kesalahan kami. Dan yang ingin saya bicarakan lagi, bagaimana dengan status cucu kita Evan. Jujur kami sangat berharap hubungan Roman dan Kinara berlanjut dengan ikatan yang syah, yang tentunya akan mempertegas status Evan nantinya. Tapi semuanya saya serahkan pada Bapak sekeluarga terutama Kinara." Tatapan Doni dan Arini bersamaan terarah pada Kinara.


"Untuk hal tersebut semuanya di tangan Kinara," Pak Ilham pun menoleh pada Kinara yang tengah terdiam menunduk.


"Kinara butuh butuh waktu untuk memikirkannya, " selamat Angga yang tak tahan melihat sang adik dalam desakan.


"Aku akan belajar, belajar untuk menerima Mas Roman dalam hidupku, " jawaban Kinara dengan suara bergetar, begitu cepat dia memutuskan.


Angga tercengang mendengar jawaban tersebut, dia tak percaya dengan apa yang didengarnya. Begitu pula dengan Roman yang tak yakin dengan keputusan Kinara, meski tak dipungkiri dia teramat senang mendengarnya.


"Kami lega mendengarnya, terimakasih Kinara," ucap Doni yang terlihat bahagia.


"Maaf jika kami terlalu tergesa-gesa, bagaimana jika secepatnya kita tentukan tanggal pernikahannya? saya rasa lebih cepat lebih baik," ujar Arini dengan pertimbangan status Evan.


"Terserah Bapak sama Ibu saja," jawab Kinara pasrah.


Angga terlihat begitu gusar, ingin segera menarik tangan sang adik lalu menghujaninua dengan pertanyaan yang telah berdesakan di kepalanya.

__ADS_1


Secepat itu kah... kenapa...


__ADS_2