
Satu tahun telah berlalu semenjak kejadian itu, Hana kini menetap kembali di Jogja meneruskan bisnis cafe milik orang tuanya yang semakin maju dalam pengelolaannya. Setiap waktunya dia sibukkan untuk bekerja dan bekerja, karena dengan itu dia pikir akan secepatnya melupakan perasaannya.
Begitu halnya dengan Jay yang kini sibuk menata hidup dan hatinya. Secara finansial dia telah banyak berubah, lebih mapan. Banyak tender pekerjaan konstruksi yang dia pegang selama beberapa bulan ini dan nampaknya memiliki prospek yang bagus kedepannya.
Kesibukannya setidaknya bisa menjadi penghibur diri, menepikan rasa sesak yang masih tersimpan hingga saat ini. Cinta yang terlalu dalam, memberi ruang luka yang terlampau dalam juga.
*****
Malam itu Hana yang merasa sangat lelah melangkah keluar dari cafe nya. Tak seperti biasanya dia tak memesan taksi atau ojek online. Ada titipan sang Ibu yang harus dia beli di supermarket terdekat di sana.
Beberapa barang telah masuk dalam keranjang, saat menunggu di kasir terlihat sepintas olehnya seorang laki-laki bertubuh tegap tengah duduk menikmati secangkir kopi yang uapnya masih mengepul, panas.
Tak ada perasaan apapun, dia pun kemudian keluar. Berganti duduk di tempat pria tadi, menunggu taksi yang telah dipesannya.
Sebuah korek api di atas meja menarik perhatiannya, diambilnya korek api tersebut.
Seketika jantungnya kembali berdebar, ingatanya melayang pada sosok Jay kembali.
"Seperti miliknya, " gumamnya sendiri, memegangi korek api yang sepertinya dia kenal.
Apa yang kamu pikirkan Hana, dia saja mungkin nggak pernah mikirin kamu. Batinnya berkata.
"Maaf Mbak, itu milik saya, " ucap seorang pria menunjuk pada korek tersebut.
"Ooh, maaf tadi tergelatak di sini, " jawabnya dengan tersenyum meski sedikit terkejut.
"Makasih Mbak, " ucap pria tersebut lagi, kemudian melangkah pergi.
"Sama-sama."
Namun tiba-tuba pria muda itu berhenti, "maaf sebelumnya, Mbak lagi nungguin taksi? " tanyanya, yang mungkin ada maksud.
"Iya."
"Mbak ke arah mana, kalau kita serah bisa sekalian saya antar, " tawarnya.
"Aku ke arah sana, tapi makasih nggak usah repot-repot, " ujar Hana.
"Nggak papa kok Mbak, lagian ini udah malem nggak baik buat perempuan masih di luaran, " mencoba meyakinkan Hana.
"Terimakasih, taksiku udah dateng, " jawabnya dengan seulas senyum, sembari beranjak menuju taksi.
"Syukurlah, saya jadi lebih tenang, " jawab pria itu lagi dengan wajah manisnya.
"Kalau cewek lain pasti udah klepek-klepek gue gituin, tapi dia... cuek, dingin. Napa gue nggak nanya namanya ya, hemmm, " Vino mau menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil menggerutu.
*****
Waktu beranjak semakin larut, Vino masih terbuai dengan bayangan gadis yang ditemuinya tadi. Berharap ada kesempatan lain untuk melihatnya, mengenalnya lebih dekat.
"Besok kamu pantau pengerjaan bangunan hotel Diamond! " suruh Jay pada sepupunya itu.
"Siap bang, nggak lembur kan? "
__ADS_1
"Nggak, " jawab Jay singkat.
"Baguslah... " tak ada lagi jawaban dari Jay.
"Bang... " panggil Vino.
"Apa? "
"Kapan abang mau nyari pasangan? bosen aku tiap hari ngurusin Abang, " keluh Vino yang biasa asal bicara.
"Kalau bosen, pergi aja, " tegas Jay datar.
"Nanti Bang, kalau aku udah punya rumah, punya istri pasti bakalan pindah, " jawabnya mulai halu. Membuat Jay tersenyum kecut, dia tau bagaimana playboynya si Vino.
"Jangan senyum gitu Bang, aku udah ketemu cewek yang bener-bener bikin aku langsung jatuh cinta, " kata Vino. Namun sayangnya Jay nggak menggubris, dia nggak tertarik sama sekali membahas hal tersebut.
****
Kesibukan yang kian padat membuat Hana lupa akan kondisi tubuhnya. Dengan wajah yang memucat, dia tetap berangkat ke cafe padahal ibunya telah melarang. Tumpukan berkas yang harus dia cek, dan beberapa janji dengan rekan bisnis harus dia tuntaskan.
Dan salah satunya janji temu dengan kontraktor yang akan membangun cafe barunya.
"Mbak Hana sakit ya? " tanya Mira asistennya.
"Sebaiknya d tunda dulu janjinya, bikin janji besok lagi, " ujar Mira menambahi.
"Aku nggak papa kok Mir, " susah dibilangin.
"Mba pucet banget," kata Mira.
"Ya udah Mbak hati-hati, " pesan Mira nampak khawatir.
Hana pun menuju sebuah cafe yang telah mereka sepakati untuk bertemu. Cafe yang terletak tak jauh dari hotel Diamond yang tengah menjadi proyek Jay.
Matanya berkeliling mencari seseorang yang mungkin tengah menunggunya, tapi cukup ramai sulit baginya untuk mengenali orang tersebut. Dia pun memilih duduk di salah satu sudut yang tak terlalu bising pengunjung, sambil memegangi kepalanya yang makin terasa menusuk.
Getar gawai dari dalam tasnya gak sabar menunggu disentuh, dilihatnya ada panggilan dari nomor yang tidak dia kenali.
"Maaf Mba, saya perwakilan dari CV. Jaya Abadi. Saya baru tiba di cafe, bisa tolong di infokan anda di sebelah mana? " tanya Vino yang kali ini mewakili Jay, karena ada jadwal yang tubrukan.
"Saya menunggu di pojok utara, meja nomor 9," jawab Hana.
"Baiklah, saya akan segera ke sana, " kemudian Vino menutup panggilannya.
Pemandangan di sudut tersebut, sontak membuat matanya membelalak terkejut. Ada wajah yang semalaman membuatnya resah, wajah yang dia ingin temui lagi dan lagi.
"Selamat siang, " sapanya dengan senyum mengambang.
"Siang, " jawab Hana tersenyum datar.
"Mbak masih inget nggak? ini... " ucap Vino sembari menunjukkan korek api yang tertinggal semalam.
"Ooh, ya ya... maaf, saya inget. Mas yang semalam, " jawab Kinara.
__ADS_1
"Seneng bisa ketemu lagi, " ujar Vino, meloncat bahagia hatinya.
"Kenalkan saya Vino, maaf bos saya kebetulan ada janji lain jadi nggak bisa menemui Mbak, " ujar Vino memperkenalkan sekaligus menjelaskan.
"Saya Hana, soal itu nggak papa. Asal nanti semua yang saya mau bisa mas gambarkan dengan baik, dan hasilnya sesuai harapan saya, " ujar Hana.
"Tentu akan saya usahakan semaksimal saya mampu Mbak Hana, " jawanya lagi.
"Wajah Mbak pucat, apa lagi sakit? " ternyata tak luput dari perhatian Vino.
"Cuma nggak enak badan sedikit aja, " jawab Hana mencoba menutupi apa uang tengah dia rasakan sebenarnya.
"Baiklah kalau begitu Mbak bisa jelaskan konsep dari cafe yang Mbak inginkan, " ujar Vino.
"Dengan jelas dan detail Hana langsung menjelaskannya, Vino yang memang cepat bisa menangkap langsung bisa memahami."
"Nanti kita jadwalkan untuk survei tempat lokasi, " kata Hana mengakhiri penjelasannya.
"Baiklah, saya tunggu jadwalnya, " guratan senyum Vino sungguh memancarkan kebahagiannya.
"Kalau begitu saya permisi dulu, " pamit Hana sembari mengemasi barang-barangnya. Tapi sakit kepalanya ternyata semakin tak bisa ditahannya, dia pegangin sebentar dan brughhh... ambruklah tubuhnya tak kuasa menahan lagi.
"Hana... Hana... " Panik Vino, yang kemudian membopongnya membawa ke rumah sakit.
*****
"Kenapa dengan teman saya Dok! " tanya dengan panik setelah Dokter memeriksa kondisi Hana.
"Terlalu lelah, beban pekerjaannya mungkin terlalu banyak. Tenang saja, dia akan segera membaik. Kamu sudah menyuntikan obat melalui infusnya, " kata Dokter.
"Syukurlah, terimakasih Dok, " ucap Jay.
Hana terbaring di atas brankar ruangnya, matanya masih terpejam belum sadarkan diri, " Vino duduk di sisinya dengan setia, memandang lekat wajah cantik yang terbaring lemah.
"Kamu dimana? " terdengar suara datar dari ujung gawai yang baru saja Vino geser tombol merahnya.
"Di rumah sakit Bang, klien kita tiba-tiba jatuh pingsan, " jawabnya.
"Yang mana? " kali ini Jay ingin tahu lebih.
"Yang mau mbangun cafe, " jawab Vino singkat.
"Pekerjaan masih banyak, jangan ditunda-tunda. Cepatlah balik, " titahnya yang sulit dibantah.
"Sebentar Bang, nunggu dia sadar baru aku balik. Kasian dia sendiri, " ujar Vino.
"Jangan buang-buang waktu, " omel Jay yang kemudian menutup panggilannya.
"Orang kalau susah jatuh cinta ya gitu, nggak punya hati, " gumam Vino.
"Siapa? " Tiba-tiba terdengar suara lirih dari sisinya, Vino pun menoleh. Hana sudah sadar.
*****
__ADS_1
Hai.. Hai.. Hai... keputusan author gagal nyatuin Jay sama Kinara pasti banyak yang kecewa, maaf beribu maaf ya temen-temen timnya Jay-Kinara. Yuk kita do'ain aja biar Jay dapetin pengganti yang juga dia cintai. Yang benar-benar bisa membuatnya keluar dari cerita lalunya... Biar semua bahagia.
Promo lagi ya.. cerita baru aku yang kemarin judulnya "berharap lupa" sekarang udah ganti ya "Terpaksa Memilih, " aku terpaksa memilih ganti judul biar lebih pas gitu sama alur ceritanya yang bakaln makin penuh konflik dan nguras emosi... Cap cus ya jangan di tinggalin, akoh kesepian di sana... 😘