Setangkai Layu

Setangkai Layu
Angga Murka


__ADS_3

"Carikan informasi lengkap tentang gadis yang bernama Kinara Anggraini, ini alamatnya," titah Angga dari ujung gawainya.


"Kinara Anggraini, status lajang belum pernah menikah. Tinggal bersama seorang perempuan paruh baya bernama Bu Ira, kakak dari ibunya alias Bu denya. Memiliki seorang anak laki-laki berusia empat tahun lebih," diluar dugaan ternyata anak buahnya telah lebih dulu tau.


"Secepat itu?" Angga mengernyitkan alisnya, tak mengerti kenapa secepat itu temannya tau jnformasi selengkap itu.


"Beberapa hari lalu Jay, sekarang elu. Ada apa sih sama tuh cewek?"


"Jay..?" sungguh makin membuat Angga bertanya-tanya.


"Apa hubungannya dengan Jay?" desaknya.


"Kalau soal itu gue ngga tau, lu tanya sendiri sama orangnya," jawabnya.


Angga terpaku dalam rasa ingin tahu yang terus menuntutnya. Ingatanya melompat pada perkataan Jay saat itu yang berniat mencari seorang gadis. Yang ia tau gadis itu adalah gadis yang menjadi penyebab Jay mendekam empat tahun lebih di penjara. Gadis yang mampu menyelinap masuk dalam kerasnya hati lelaki malang itu.


Apa Kinara adalah gadis itu...lalu..bagaimana jika Jay tau Roman telah merusaknya. Oh...Tuhan...


Angga mengusap kasar wajahnya, tak mampu membayangkan apa yang terjadi jika semua itu benar adanya.


Matanya terus terjaga meski sunyinya malam telah memanggilnya untuk terpejam. Hati dan pikirannya terus melayang enggan untuk terjeda. Tak sabar menunggu pagi yang mungkin akan memberi titik terang untuk kalut keruhnya perasaanya saat ini.


_____________________________


Bias mentari pagi berkilau indah dari titik-titik embun yang menyegarkan dedaunan. Siulan burung sayup-sayup terdengar merdu bak alunan musik yang membakar asa. Membangkitkan semangat manusia bumi untuk mulai tenggelam dalam rutinitas hariannya.


Jay duduk bertengger di atas motor sportnya, mengamati satu sudut tanpa mengalihkan pandangannya. Nampak keluar bocah kecil dengan suara nyaringnya, memanggil ibu...


"Ibu lagi ke warung sebentar sayang, yuk mandi dulu," bujuk Bu Ira seraya membopong bocah itu.


Kurang dari lima menit, nampak perempuan muda dari arah berlawanan melangkah gugup ke arahnya tanpa memperhatikan keberadaanya. Menenteng satu kresek hitam yang entah apa isinya. Hingga berbelok masuk ke dalam rumah tesebut, menutup pintu kembali.


Rengekan manja anak kecil, hingga suara bising dari arah dapur tak luput dari perhatiannya. Bahkan hingga saat Evan menangis sejadi-jadinya saat tak mau di tinggal oleh sang ibu. Jay melihat semuanya.


Lebih dari rasa iba, Jay benar-benar ingin membopong bocah itu membuatnya tenang dalam pelukannya. Hatinya begitu tersayat-sayat melihat kehidupan perempuan yang sangat dia cintai, dengan beban yang begitu berat.

__ADS_1


Aku tidak peduli dia anak siapa. Aku benar-benar ingin membuatmu dan dia tersenyum bahagia. Tak ada lagi tangisan seorang anak yang terpisah dari ibunya, hanya karena mencari nafkah.


Jay memutar kunci motornya, menekan tombol starter, kemudian melajukanya. Menyusul Kinara yang sudah berjalan di depan sana.


"Naiklah...!" berhenti persis di sebelahnya.


Kinara menoleh, menatap penuh tanya seseorang yang telah berada di sebelahnya.


"Kenapa diam? ini sudah siang," kaya Jay lagi.


"Mas Jay...?" dari suara itu dia bisa menerkanya.


"Kenapa masih diam? Buruan naik!" desak Jay.


"Pegangan!" kata Jay, tersenyum saat Kinara akhirnya menurutinya. Duduk persis di belakang punggungnya. Hal baru baginya, karena dulu belum pernah ada kesempatan.


Menerobos padatnya lalu lintas pagi, yang saling berebut posisi terdepan, memburu waktu untuk segera sampai tujuan. Liak-liuk lincah Jay menyalip beberapa kendaraan di depannya. Semburat senyum masih terpampang di wajahnya, begitu senang saat sesekali Kinara memeluknya erat. Seolah takut tubuhnya terhempas angin, terlempar ke tepian. Saking ngebutnya si Jay.


Sementara di lain tempat, Angga yang semalaman tak terpejam sama sekali telah berada di lokasi proyek. Mengayunkan langkahnya lebar, tak sabar ingin membuat perhitungan dengan Roman.


"Tumben lu sepagi ini!" menyadap sekenanya.


"Kinara punya anak," kata Angga dengan sorot matanya yang begitu tajam.


"Lalu apa hubungannya sama gue?" balas Roman.


"Apa lu nggak nyadar, dia itu anak lu," tegas Angga.


"Kenapa lu begitu yakin? Bisa jadi dia anak suaminya. Dia pernah menikah," jawab Roman datar.


"Kinara belum pernah menikah," Angga mulai geram dengan sikap Roman.


"Bagaimana kalau dia nikah siri. Beberapa kali juga dia berurusan dengan lelaki berbeda. Mungkin salah satu dari mereka salah ayah anak itu," sanggah Roman. Nuraninya benar-benar telah tertutup oleh bisikan setan yang terkutuk yang telah menguasai jalan pikirnya.


Buuugghh...satu kepalan melayang keras di wajah Roman hingga terhuyung, "ini untuk Kinara yang telah lu lecehkan sekaligus lu hina," Angga terlihat sangat murka.

__ADS_1


Buuugghh..."dan ini untuk pecundang yang tak paham makna tanggungjawab," sorot mata Angga begitu tajam, dengan amarah yang telah meledak dari ubun-ubunnya. Sementara Roman beringsut bangkit, mengusap sudut bibirnya yang mengalir darah segar.


"Kalau lu nggak mau. Gue yang akan tanggungjawab jawab, lu bakalan nyesel seumur hidup lu," gertak Angga sembari melayangkan tinjunya sekali lagi. Namun teriakan seseorang dari arah pintu mampu menahannya.


"Jangan Pak..." teriak Kinara, berlari memapah Roman untuk berdiri.


"Kenapa pagi-pagi udah berkelahi kaya gini," gumam Kinara ke arah Angga.


"Ngapain lu tolongin dia, sekarang juga ku balik kerja di hotel lagi," Angga menarik tangan Kinara, menyeretnya keluar.


"Ada apa ini Pak?" serunya sembari memberontak.


"Lu...jangan deket sama pecundang itu lagi," sergahnya. Terus menyeret tangan Kinara memaksanya masuk ke mobil.


Melihat tatapan Angga yang begitu mengerikan, membuat Kinara memilih diam, menurut apa maunya.


Sementara di ruangan sana, Jay menyodorkan satu kotak obat pada Roman. Jika saja dia tau apa penyebab Angga semarah ini, dia nggak akan Sudi melakukan itu.


Kembali ke suasana dalam mobil. Kinara memegangi pergelangan tangan yang tampak memerah, terasa panas.


"Maaf..udah nyakitin kamu," amarah Angga mulai mereda.


"Aku hanya nggak habis pikir. Jika Pak Angga dan Mas Roman ada masalah, kenapa melibatkan aku di dalamnya," ujar Kinara.


Angga tak mampu menjawab pertanyaan itu, rasanya belum tepat untuk menceritakan apa yang terjadi sebenarnya.


"Pekerjaan kamu terlalu berat di sana, lebih baik balik ke hotel. Lebih dekat juga dari rumah kamu," jawabnya hanya beralasan.


Kinar menatap raut wajah Angga, ada keanehan di sana. Namun dia memilih diam, tak mau menjangkaunya terlalu dalam.


*Ternyata aku salah...aku pikir dengan kalian bekerja bareng, Roman bisa memanfaatkan keadaan itu untuk mempertanggungjawabkan perbuatanya. Tapi nyatanya ini malah makin menyulitkannya. Maafkan aku Kinara...


Aku telah menjadi penyebab keadaan kamu yang seperti ini. Aku siap menanggungnya*.


Kata hati Angga, entah kenapa perasaanya begitu hancur saat ini. Seolah merasakan kehancuran yang adil kandungnya rasakan.

__ADS_1


__ADS_2