
"Mas dimana?" tanya Anin ketika panggilannya tersambung.
"Aku di proyek," jawab Roman singkat.
"Oo...apa entar kita bisa ketemu?"
"Mungkin aku lembur, kerjaan numpuk. Memang kamu dimana?"
"Aku mulai kerja di kantor Mas Angga, ya udah kalau Mas sibuk. Nggak papa, bisa ketemu besoknya lagi," pasrah Anin tak mau memaksa.
"Aku usahakan besok," kata Roman.
"Iya Mas," kemudian memutus panggilan tersebut. Anin merasakan perubahan sikap Roman yang makin acuh padanya. Tapi tak mengapa baginya, ini belum seberapa di banding kegigihannya hingga
mendapatkan perhatian Roman tiga tahun lalu.
Sementara di tempat lain, Roman tengah mengecek hasil kerja Kinar kemarin. Menelitinya lembar demi lembar.
"Kerja kamu rapi, teliti juga," puji Roman.
"Baru belajar Pak, belum paham semuanya."
"Teruskan saja, biar beban pekerjaanku sedikit berkurang," menyodorkan kembali print out file tersebut.
"Oya...jangan panggil aku Bapak. Serasa tua," protes Roman.
"Aku musti panggil apa?" Kinara menautkan kedua alisnya.
"Terserah..."
"Bang aja kali ya..." Kinara terkekeh sendiri.
"Aku bukan Abang penjual lutis langganan kamu," protesnya lagi.
"Terus apa..?" ada kesan manja di kalimat itu.
"Mas...," jawab Roman singkat.
"Baiklah...Mas Roman," sembari mengangguk-anggukan kepalanya namun fokusnya masih pada lembaran file di hadapannya.
Baru kali ini aku melihatnya tersenyum seperti itu... manis. Kata hati Roman bicara, terselip perasan lain saat menatap raut wajah itu. Raut wajah yang membuatnya ingin dan ingin bertemu setiap waktu.
"Hari ini kamu masak apa?" Roman sepertinya berusaha mengakrabkan dirinya dengan Kinara.
"Ada ikan asin sama sayur asem, cuma itu," jawab Kinara tanpa menoleh ke arah Roman.
__ADS_1
"Mas Roman nggak doyan ya?"
"Yang penting bisa dimakan, apa aja nggak masalah," tutur Roman.
"Baguslah kalau begitu. Jadi aku masaknya sesukaku saja ya."
"Ya..terserah kamu saja."
Dua menu itu telah tersaji di meja, tak ada menu spesial lain. Hanya satu toples kerupuk yang biasa menjadi teman berisik sebagai pelengkap. Tepat sebelum satu suapan mereka lahap, Jay tiba-tiba masuk.
"Makan siang dulu Jay," tawar Roman yang kali ini di turuti Jay.
Kinara mengambil satu piring kosong di sebelahnya, menyodorkan pada Jay.
"Silahkan Mas..." ucapnya canggung.
Akhirnya tiga orang itu berada di satu meja dengan fokus pada piring masing-masing. Tanpa ada rasa curiga ada keterikatan rumit diantara mereka.
"Lu balik ke Jogja buat ketemu cewek lu kan?" tanya Roman memecah keheningan. Membuat Kinara menghentikan gerakan sendoknya.
"Cewek gue udah ada di sini," jawab Jay datar dengan lirikan ke arah Kinara.
uhuk..uhuk...Kinara tersedak dibuatnya.
Belum sempat tangan Jay meraih gelas, Roman dengan cepat sudah lebih dulu menyodorkanya seraya menepuk-nepuk punggung Kinara. Membuat mata Jay membulat, dengan raut yang langsung berubah.
"Nggak papa, cuma kesedak saja. Aku ke belakang dulu," ngeloyor pergi meninggalkan meja tersebut. Menghindari perlakuan lembut Roman pada dirinya. Sementara sorot mata Jay masih begitu menajam menatap ke arahnya, hingga menghilang di balik pintu kamar mandi.
______________________________
Dua hari berlalu sejak kejadian itu Jay belum menemukan celah untuk mengetahui apa sebenarnya yang Kinara sembunyikan. Membuntutinya pun rasanya percuma, tak mungkin menemukan jawaban yang dia inginkan.
Dua hari itu pula Roman agaknya lupa dengan janjinya menemui Anin, hubungan yang diawali rasa kasihan itu sama sekali tak mampu mengikat perasaanya. Hatinya masih berkeliaran untuk menemukan tempat bertambat. Membuat Anin tak mampu meredam kekecewaannya, memutuskan menemuinya di lokasi proyek saat senggang.
Baru saja satu langkah kakinya masuk, matanya di buat terbelalak. Pemandangan sang pujaan hati tengah dalam posisi sangat dekat dengan seorang perempuan membuat tensinya naik seketika.
"Mas..." panggilnya dengan nada kesal. Muat dua orang itu menoleh bersamaan.
"Anin...!"
"Jadi karena ini kamu betah banget di sini?" tatapannya makin terlihat murka saat dilihatnya gadis itu adalah Kinara.
"Apa maksud kamu?"
"Jangan salah paham Nin, Pak Roman cuma menjelaskan apa yang aku nggak paham di komputer itu," sela Kinara yang sebenarnya juga terkejut dengan keberadaan Anin yang pernah akrab dengannya.
__ADS_1
"Saya keluar dulu Pak," pamitnya, memilih pergi. Tak mau mencampuri masalah mereka.
Anin tak bergeming, sama sekali tak menanggapi ucapan Kinara. Meski dalam hatinya menyeruak rasa penasaran kenapa dia berada di tempat tersebut.
"Kalian saling kenal?" tanya Roman setelah mendengar Kinar menyebut nama Anin, yang berarti mengenalnya.
"Iya, kami saling kenal. Bahkan lebih dari sekedar kenal," jawab Anin sinis.
"Setelah Abangku sepertinya kamu juga terpesona dengannya. Laki-laki memang sama saja," gumamnya kesal.
Mendengar kata Abang yang alias adalah Jay membuat Roman mengernyitkan alisnya. Ingin tau lebih jelas, "Abang kamu?"
"Abang ku mendekam di penjara gara-gara nolongin dia. Dia malah hamil sama laki-laki lain. Tidak tau diri..." ucap Anin penuh penekanan.
Penjara...sedekat itulah hubungan mereka? Lalu Hamil...apa karena perbuatanku? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggerayangi otaknya, mengingat perbuatanya yang memang mungkin membuahkan janin dalam rahimnya.
"Kenapa kamu diem Mas..?" sergah Anin.
"Aku ingin sendiri dulu, jangan ganggu aku," pungkas Roman serasa kepalanya mau pecah memikirkan hal tersebut.
"Heh...rupanya benar, dia meracuni mu," lirih Anin berderap keluar membawa kekecewaan. Tak pernah diduganya, Kinara kbalj muncul mengusik hidupnya.
Hampir dua jam, Roman hanya tertunduk memikirkan hal tersebut. Apa yang harus dia perbuat jika benar anak itu adalah anaknya. Rasa bersalah semakin mendesak, menusuk nyeri ke ulu hatinya.
Saat memutuskan bangkit beranjak keluar, dilihatnya Jay melangkah membawa satu kantong beras dan satu kresek belanjaan lain dengan Kinara di sisinya.
Jadi benar mereka sedekat itu. Dan aku yang sudah merusak semuanya... apa yang harus aku lakukan? tak mampu mengurai permasalahan di kepalanya. Mengacak kasar rambutnya, frustasi.
"Makasih Mas..." ucap Kinara pada Jay terdengar lembut namun tanpa ekspresi setelah barang belanjaannya diletakan di dapur.
"Lain kali kalau mau belanja bilang saja, biar aku suruh orang buat ambil," balas Jay menatapnya teduh.
Sementara Roman hanya terdiam, memperhatikan dua orang tersebut. Terselip rasa bersalah sekaligus perasan tak nyaman di hatinya. Perasaan yang dirinya saja belum bisa memaknainya. Yang jelas dia tak suka dengan kedekatan mereka.
Setelah Jay keluar menyisakan dua orang itu. Melihat tatapan Roman yang tak seperti biasanya membuat Kinara tak nyaman.
"Aku pulang duluan. Pekerjaan ku sudah beres," kata Kinar berpamitan seraya berkemas. Kemudian langsung beranjak, mengayunkan langkahnya menuju pintu, keluar.
"Aku minta maaf," ucap Roman seraya menahan tangannya.
Kinar menoleh bingung, "untuk apa?"
Roman terhenyak, dia belum siap untuk mengatakan kebenaranya, "untuk semuanya, aku sering merepotkan mu," jawabnya terbata.
"Aku di sini bekerja, ada imbalannya. Jadi nggak ada yang perlu dimaafkan," jawab Kinara seraya menarik tangan Roman dari pergelangan tangannya.
__ADS_1
Saar itu rasanya Roman ingin sekali mendekap tubuh gadis itu, menyandarkan di dadanya. Melegakan beban berat yang Kinar pukul sendiri karena perbuatannya.
Dan di tempat lain Jay menerima kabar dari orang suruhanya. "Dari data yang ada, Kinara belum pernah menikah. Tapi dia memiliki seorang anak. Saya tidak bisa mencari data Bapak si anak itu," isi chat masuk dari seorang temanya.