
Tak terima dengan keputusan Roman yang mengakhiri hubungan diantara mereka, Anin berjalan terhuyung setengah mabuk menuju apartemen Roman. Suara gedoran pintu yang begitu mengusik, memaksa Roman beranjak.
Anin langsung menubruknya, menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan Roman tanpa bisa Roman hindari.
"Kamu mabuk, aku anter kamu pulang!" kata Roman dengan santai, seolah tak memperdulikan tingkah Anin.
"Aku mau tidur di sini, aku mau tidur sama kamu, aku mau kamu hamilin aku seperti wanita murahan itu," ucapnya setengah sadar sembari menunjuk-nunjuk ke arah dada Roman.
"Ayo pulang !" Roman menyeret Anin keluar, tapi nyatanya Anin berusaha sebisa mungkin bertahan, dia bersikeras untuk tetap berada di tempat itu.
"Aku bilang aku nggak mau balik. Apa yang kamu lakukan pada wanita itu, lakukanlah padaku sekarang juga," Anin meninggikan nada bicaranya.
"Kamu sedang mabuk," sebaiknya kamu pulang.
"Memangnya kenapa? Aku rela berikan semua yang kamu minta termasuk sesuatu yang paling berharga yang aku miliki, tapi kenapa...kenapa kamu nggak sedikitpun bisa melihat keberadaanmu, tak sedikitpun kamu simpan aku di hati kamu. Mas...ini nggak adil, ini nggak adil..." racau Anin diiringi tangis, yang kemudian ambruk di lantai.
Tak tega melihat kondisi Anin, Roman memapahnya ke kamar. Membaringkannya dia atas kasur, masih meracau tak karuan.
Sementara di lain tempat, Hana yang kerepotan dengan barang belanjaan yang penuh sesak di tangan kanan dan kirinya tanpa sengaja bertemu dengan Jay yang kebetulan membeli satu bungkus rokok.
Tanpa izin maupun basa-basi, Jay langsung saja mengangkut beberapa plastik berukuran besar yang memang cukup berat.
"Nggak usah Mas.. aku bisa kok," cegah Hana yang tak menduga bertemu dengan Jay, bahkan menolongnya.
"Seberapa kuat badan kamu, ini terlalu banyak," balas Jay tanpa menghentikan langkahnya meninggalkan Hana yang tak bisa mengimbangi langkahnya.
"Makasih Mas..." ucap Hana tersenyum simpul, serasa kelopak-kelopak indah bertebaran mengelilinginya, berbunga-bunga hatinya.
Selama dalam perjalanan tak ada percakapan yang berarti, selain degup jantungnya yang serasa melompat-lompat tak seperti biasanya, Hana hanya sibuk mensejajarkan langkahnya agar tak tertinggal dari langkah Jay yang begitu lebar.
Sembari melangkah terbesit di pikiran Hana untuk mengetikan jemarinya pada layar ponsel miliknya memesan dua cangkir kopi di cafe depan apartemen, setidaknya bentuk ucapan terimakasihnya untuk Jay.
"Makasih.." ucapnya setelah tiba di depan cafe tersebut, dengan dua cangkir kopi panas di tanganya kemudian melenggang kembali menyusul Jay.
"Dimana apartemen kamu?" tanya Jay yang menunggu sesaat.
"Lantai tujuh," jawab Hana singkat, wajahnya masih terlihat gugup.
__ADS_1
Kali ini Hana melangkah lebih dulu, menuju apartemennya yang sudah tak seberapa jauh.
"Sudah sampai...makasih Mas," sembari menghela nafas, tersenyum lega setelah terseok-seok mengikuti langkah Jay yang begitu cepatnya.
"Masuk dulu Mas, aku tadi mampir beli kopi," menunjukan dua cup kopi panas yang ada di tangannya.
"Sebentar saja, cuma buat minum ini," kata Hana lagi.
"Buka pintunya," ucap Jay tanpa mengiyakan tawaran Hana.
Hana terkejut, pintu hanya tertutup tidak terkunci. "Tumben Mas Roman pulang," duganya.
Baru beberapa langkah, suara gaduh terdengar dari dalam kamar. Mereka berdua hanya terdiam, meyakinkan pendengaran mereka.
Makin jelas terdengar suara desahan seorang perempuan, Hana yang terbakar penasaran perlahan menghampiri kamar itu. Sedikit terbuka, hingga dia bisa melihat apa yang tengah terjadi di dalam sana.
"Apa yang kalian lakukan di sini," gertak Hana melihat posisi tubuh Roman menindih tubuh serang perempuan.
"Kamu memang gila Anin..." bisik Roman menajam. Belum sempat dia menoleh, seseorang menarik tubuhnya, menghajarnya bertubi-tubi.
Jay tak menjawab apapun, dia langsung menarik tubuh adiknya, membawanya keluar dari tempat itu. Sementara Hana hanya terdiam bingung, ia tak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang. Kakaknya melakukan hal sebejat itu.
"Ini nggak seperti yang kamu lihat Hana...kakakmu nggak seburuk itu," ucap Roman membela diri, seolah lupa dirinya pernah benar-benar melakukan hal bejat itu pada Kinara.
"Kakak sudah keterlaluan, aku nggak bisa tinggal diam," ancam Hana.
"Aku bersumpah, aku nggak lakukan apapun pada Anin," berusaha meyakinkan Hana.
Sekitar lima belas menit lalu, setalah Roman membaringkan tubuh Anin. Anin justru bertingkah keterlaluan, dia benar-benar memaksa Roman menidurinya. Roman dengan tegas menolaknya, membuat Anin makin murka. Kemudian meraih laci di nakas, mengambil gunting lalu menusukannya ke lehernya. Mengancam Roman jika menolak, dia akan menusuk dirinya makin dalam. Tapi Roman memang tetap menolak, dia berusaha merebut gunting itu dari tangan Anin.
Mendengar ada orang yang masuk, Anin malah bersandiwara seolah mereka memang tengah melakukan hubungan terlarang, mengeluarkan suara racauanya berusaha agar terdengar nyata. Dan itu berhasil membuat Hana dan Jay yang datang percaya dengan adegan itu.
"Lalu kenapa Mas putusin Anin?" tanya Hana dengan tajam.
"Sebenarnya Mas udah punya anak," tanpa keraguan Roman mengakuinya.
"Anak...? Anak dari mana?" pernyataan itu sontak membuat Hana tersentak.
__ADS_1
"Mas telah melakukan kesalahan sama seorang perempuan sampai dia hamil tanpa pernah Mas ketahui. Bahkan baru kemarin Mas tau, jika anak kecil itu adalah anakku," tutur Roman.
"Mas ingin menebus kesalahan Mas, yang bahkan sempat mengingkari kenyataan dia adalah anak kandung Mas," imbuhnya lagi.
"Jika kejadian itu menimpaku, apa pernah Mas bayangin bagaimana menderitanya? Kenapa Mas tega ngelakuin itu?" gertak Hana.
"Semua sudah terjadi, nggak ada hak lagi untuk membela diri. Mas memang salah. Karena itu Mas ingin berusaha menjadi ayah yang baik untuknya," lirih Roman.
"Bukan hanya demi anak kandung Mas, tapi perempuan itu benar-benar telah membuat Mas jatuh hati. Perempuan yang telah Mas hancurkan masa depannya," raut penuh sesal nampak jelas di wajah Roman.
"Meski Mas telah benar-benar jatuh cinta sama dia, tapi luka yang mas toreh terlalu dalam."
"Aku akan berusaha membuat Kinara bisa nerima Mas," jawab Roman.
"Kinara...?" tanya Hana seraya memicingkan matanya.
"Dia Kinara, Evan anak kandung Mas."
"Selamat berjuang, aku rasa Kinara terlalu baik buat Mas," pungkas Hana, kemudian melenggang pergi ke kamarnya. Membawa kekecewaan akan ulah kakaknya.
_________________________________
Wajah lebam, dengan luka yang masih terasa perih di sudut bibirnya tak menghalangi Roman untuk tetap datang menjemput Evan. Sehari saja dia tak bisa tak melihat bocah kecil yang tumbuh dengan kecerdasan yang berbeda.
Seperti biasa, Evan selalu menyeretnya ke meja makan untuk sarapan pagi.
"Wajah ayah kenapa, kok biru-biru?" tanya Evan saat menyadari luka di wajah ayahnya.
"Ayah di pukul karena kesalahan Ayah," jawabnya melirik ke arah Kinara yang tengah melihat ke arahnya.
"Tapi ayah kan bukan orang jahat," kata Evan.
"Siapa bilang, ayah adalah orang yang paling jahat karena udah terlalu banyak bikin ibu kamu sedih," ucapnya, masih menatap tajam Kinara
****
Alhamdulillah rampung lagi ini part...maafkan author yang belum bisa up normal Ben hari. Apalah daya, tugas di dunia nyata ampuuuun banyaknya...ampe gliyeran mau ngerjain mana dulu..😁 banterin komennya ya...tu yang paling bikin othor semangat....😍
__ADS_1