Setangkai Layu

Setangkai Layu
Pertemuan Itu


__ADS_3

Dan benar, esoknya Vino muncul lagi di hadapan Hana.


"Kan... aku nebus janjiku kemarin, " dengan senyum manisnya.


Hana hanya tersenyum tipis, "terserah kamu aja, tapi sorry aku banyak kerjaan, " melangkah balik ke belakang.


Namun dengan cepat Vino meraih pergelangan tangan Hana, menahannya, "tunggu dong! "


"Apaan si? " protes Hana dengan kesal.


"Nggak ada niat gitu buat nanya 'gimana keadaan kamu, masih sakit enggak', " sambil memasang wajah, menunjukan luka kemarin.


Hana menghela nafas kasar, "tolong lepasin, aku beneran banyak urusan, " Hana tetap saja cuek.


"Yaa... sorry.., sebenarnya aku mau ngajak kamu lihat lahan cafe kamu yang baru, " kata Vino tanpa melepas cengkeraman tangannya.


"Oo... bentar, aku masuk dulu. Tunggu lima belas menit lagi, " ujar Hana sembari menarik tangannya, namun gagal. Membuatnya lagi-lagi menatap jengah pada Vino.


"Tangan kamu, " Ucapnya datar.


Vino berlagak terkejut, "oya, maaf. "


Empat puluh lima menit kemudian mereka telah sampai di lokasi tersebut. Tanah kosong yang terletak lokasi yang cukup strategis dengan pemandangan hijau pepohonan rimbun, nampak sangat sejuk.


"Tempat ini yang kamu maksud? " Vino menatao kagum.


"Iya, tanah milik ayahku. Ayah udah setuju aku bikin cafe lagi di sini. Cuma kesan sejuknya nggak boleh ilang. Jadi aku penginnya cafe kami yang ini temanya outdoor. Jadi pengunjung bisa dimanjakan sama udara sejuk di sini."


"Tapi kalau cuma outdoor, gimana kalau musim hujan? " respon Vino cukup cepat.


"Di sebelah sana itu nggak terlalu banyak pohonnya kan? selain kantor, dapur juga kasir kayaknya masih bisa dibikin buat pelanggan. Jadi tetep ada yang di dalam ruangan, " ujar Hana yang Vino setujui.


"Ok.. bisa diatur nanti, " jawab Vino sembari menengok jarum jam di pergelangan tangannya.


"Nggak bisa banget tepat waktu, " desisnya.


"maksud kamu? " Hana tak mengerti.


"Ini abang gue si bos, nggak selalu aja ngaret, " jawab Vino.


"Nggak papa kok. "


"Soalnya dia harus tahu detail konsepnya kan. "


"Kita tunggu aja dulu sebentar, " ujar Hana.


"Baiklah.. panas banget, duduk di sana aja. Entar kulit putih kamu kebakar, " kata Vino. Hana hanya tersenyum tipis.


Setelah itu dia kembali fokus dengan layar gawainya, membuat Vino terlihat sangat jenuh.

__ADS_1


"Kayaknya HP lebih menarik buat diajak ngomong, " sindirnya.


Hana menoleh seketika, "memang apa yang perlu kita omongin lagi, " tanyanya.


"Kamu punya pacar, tunangan atau bahkan suami? tapi kayanya kalau suami belum deh, ke mana-mana sendirian. Mana ada suami nyuekin istri kaya kamu, " cerocos Vino dengan menatap tajam Hana.


"Tuh tau jawabannya, " singkat Hana tanpa menatapnya lagi.


Vino tanpa permisi mengambil ponsel Hana dari tangannya, "bisa nggak jawabnya liat aku, emang aku di layar HP kamu ya? " Vino merasa kesal dengan sikap acuh Hana.


"Balikin nggak? " gertak Hana mendelik.


Vino berdiri mengangkat tangannya tinggi, membuat Hana kesulitan mengambilnya. Hana lantas naik kursi tempatnya duduk tadi demi mendapatkan ponselnya, namun naas saking gugupnya malah terpeleset. Hampir saja tersungkur dan kepalanya terantuk sandaran kursi tersebut jika Vino tidak cepat menangkap tubuhnya.


"Kamu nggak papa? " Vino kepanikan.


"Nggak papa, aku bisa sendiri, " meringis, menahan sakitnya. Tapi menolak Vino papah.


"Lutut kamu? " betapa terkejutnya Vino saat melihat lutut Hana terluka cukup parah, terantuk pinggiran kursi besi yang beberapa bagian meruncing berkarat.


"Kita ke rumah sakit aja, takut infeksi, " cemas Vino.


"Nggak papa kok, cuma luka kecil, " ujar Hana, perhatian Vino membuatnya teringat pada Angga. Yang sejak malam itu tak pernah sekalipun menghubunginya lagi.


"Kamu tunggu di sini sebentar, " Vino berlari ke mobil, berharap ada sesuatu yang bisa di gunakan di sana. Namun hanya ada sebotol air mineral dan sapu tangan kecilnya yang masih dia simpan sampai sekarang, milik mendiang ibunya. Diambil keduanya, bergegas kembali ke arah Hana lagi.


"Tahan sebentar, aku bersihin dulu, " kemudian mengelap luka itu dengan sapu tangan yang dia pegang.


"Nanti pulangnya kita tetep ke rumah sakit, aku nggak mau kamu kenapa-napa, " ucapan Vino itu makin membuat ingatannya kembali pada Angga, hingga tanpa dia sadari air matanya meleleh.


Entah kenapa ketimbang Jay, akhir-akhir ini dia lebih memikirkan Angga. Dia kehilangan sosok hangat itu, dia merindukan perhatian Angga.


"Pasti perih banget, " Vino secara reflek mengusap air mata Hana dengan lembut.


Hana yang tengah menunduk sedih, mengangkat kepalanya melihat sosok yang telah berdiri menatapnya. Bibirnya terkatup rapat enggan membuka, saat dilihatnya seseorang yang sangat dia kenal.


"Sejak kapan Abang udah di sini? " Vino yang tengah bersimpuh mengusap air mata Hana, seketika menoleh ke belakang.


"Apa kabar? " sapa Jay datar menatap Hana.


"Baik, " singkat Hana tersenyum tipis.


"Jadi kalian udah kenal? " wajah Vino terlihat sangat penasaran.


"Iya, dia temen kakakku, " jawab Hana.


"Oo... " Vino cuma melongo.


"Bagaimana kabar Roman? " tanya Jay.

__ADS_1


"Baik, Kinara sama Evan juga baik, " jawab Hana menatap mata Jay, adakah yg berubah ketika mendengar nama Kinara.


"Syukurlah kalau begitu. Sepertinya kita harus segera diskusikan bagaimana konsep tempat ini, seperti yang kamu mau, " Jay memilih untuk langsung membahas masalah pekerjaan dengan.


Hana bangkit berdiri, meringis menahan sakit di sekitar lututnya, sembari memeganginya. Vino berniat memapahnya namun lagi-lagi dia tolak.


"Aku bisa sendiri, " ucapnya dengan langkah terpincang-pincang, mengikuti langkah Jay yang seolah tak memperdulilannya. Kemudian dia jelaskan konsep cafe yang dia inginkan dengan detail.


Tidak butuh waktu lama, cukup lima belas menit Jay sudah sangat paham apa yang Hana inginkan untuk cafe barunya itu. Tanpa basa-basi dia segera bergegas meninggalkan tempat itu, melaju cepat dengan sepeda motornya.


Hana pun hanya menatap pasrah kepergian Jay, sepertinya dia sudah tak berharap banyak.


"Ayo aku anter kamu, " ucap Vino sembari memegang kedua bahunya.


Hana pun mengangguk, mengayunkan langkahnya dengan perasaan hampa meninggalkan tempat itu.


Hana makin menutup mulutnya, dia hanya termenung menetap ke arah luar jendela mobil. Dan itu malah semakin menyulut kecurigaan Vino yang sedari tadi mencoba membaca raut wajah Hana yang terlihat makin murung.


"Bener luka kamu nggak papa? " tanya Vino memecah keheningan.


"Cuma luka kecil, nggak papa. Besok juga sembuh, " Hana tersenyum kecil.


"Oya makasih sapu tangannya, nanti aku balikin kalau udah aku cuci, " imbuh Hana.


"Itu kan gara-gara aku, aku yang harusnya tanggung jawab sampai luka kamu sembuh, " ujar Vino.


Mendengar ucapan itu membuat Hana tertawa geli, "tanggung jawab apa emangnya? "


"Jadi tukang ojek kamu, " Vino tersenyum pun tersenyum, senyuman Hana makin membuatnya terpesona.


"Udah sampai... aku turun, " kata Hana.


"Beneran aku akan jadi tukang ojek kamu, " lagi, Vino menegaskan.


"Nggak perlu aku udah punya tukang ojek langganan, " balas Hana masih dengan senyumnya, beringsut keluar dari mobil.


"Aku nggak akan nyerah, " seru Vino. Namun Hana tetap melangkah jauh, tanpa menghiraukan ucapan tersebut.


Begitu masuk ke dalam cafenya, Hana dikejutkan dengan sebuah bungkusan paket yang disodorkan oleh asistennya, Mia.


"Mba.. tadi ada yang nitipin ini buat Mba, " kata Mia.


Hana mengerutkan kedua alisnya, "dari siapa, " penasaran.


"Kurir yang nganter, nggak ada nama pengirimnya, " jawab Mia.


"Makasih Mi, " diambilnya bungkusan paket itu. Yang lantas dua buka. Dan isinya sebuah kotak obat, lengkap dengan isinya.


"Vino atau Mas Jay? " batinnya bertanya, karena hanya ada dua orang itu yang tau lukanya sejak tadi.

__ADS_1


__ADS_2