
Merindukan upreknya suasana dapur dengan aroma asap yang membuatnya belajar banyak olahan masakan, serta suasana akrab penuh ketulusan membuat Kinara tak sabar untuk menemui mereka ditengah jam istirahatnya.
"Hemmm...Chef...ini wangi banget, aku dapet jatah nggak," celetuknya dengah ekspresi takjub dengan karya masakan Joni yang selalu menemukan inovasi baru.
"Eitsss...awas jangan sampai ngeces tuh Iker, haram kalau jatuh di piring ni...," sahut Chef Joni.
"Dari kapan lu balik di mari, bosen ya kerja bareng si muka penggaris," ledeknya, yang memang kenal dengan Roman.
"Iiihhh...kok muka penggaris sih."
"Iya lah, tiap hari kerjaannya narik garis lurus, bobo, lengkung kanan kiri ok gitu...rumit di gue," sambil mengerucutkan bibirnya.
"Emangnya anak TK kali ya..." balas Kinar.
"Laper nih mana yang spesial buat ku, kangen sama masakan Chef," pintanya manja.
"Noh cuciin dulu seabreg perkakas masak, baru gue kasih," tunjuk Joni.
"Ihhh tega amat si," keluh Kinara, tapi dah tau kalau Joni pasti memang sengaja mempermainkannya, menguji kesabaranya. Mereka memang sudah cukup akrab, meski jika si Joni marah bergidik juga Kinara dibuatnya, seram.
"Noh di kulkas ada yang asem-asem seger. Nggak usah mrengut gitu," tuh kan Joni akhirnya nggak tega juga.
"Ini kan Chef... aku juga mau," sela Rita yang sudah lebih dulu mengambilnya dari lemari pendingin.
"Kamu tuh nyerobot aja, tadi pagi di suruh motongin kagak mau giliran makan aja...terdepan," gumam Joni.
"Bagi dong, lagian sama Kinara juga kagak bakalan habis. Iya kan Ki..." Rita mengedipkan matanya, memberi kode.
"Itu mah paling nak emang makan berdua puas-puas kenyang gitu," sahut Kinara dengan senyum meledek.
"Serah kalian..., gue bikin yang lain aja, awas kalau ngrecokin lagi," ancam Joni dengan mode mangkel-mangkel seneng. Trio racun kumpul lagi, batinnya.
Irisan berbagai buah segar dengan siraman susu, mayonaise dan yogurt, dengan parutan keju di atasnya, membuat liur hampir menetas. Sumpah seger banget, pas banget buat nyegerin lidah di cuaca yang cukup ekstrim ini. Mereka berdua melahapnya hingga tersisa kotak bening, wadahnya.
"Akhirnya lu balik lagi kerja di depan Ki," ujar Rita ikut merasa senang.
"Aku penginnya di sini lagi sama kalian, tapi katanya di depan ada yang resign. Terpaksa aku masuk," jawab Kinara.
"Terus proyeknya udah selesai?"
"Belum si..cuma nggak tau, Pak Angga nyuruh aku balik ke sini."
"Pak Angga tuh perhatian banget sama Lu, ada hati kali," kata Rita curiga.
"Nggak lah..ngarang aja."
"Iiihhh... bisa jadi kan, bos jatuh cinta sama karyawanya, cinta si kaya dan si miskin."
__ADS_1
"Beda ahhh...udah aku mau balik kerja. Jatah waktu udah habis," pamit Kinara beranjak meninggalkan dapur itu.
"Entar gue tunggu di parkiran pulangnya ya...kangen gue sama si ganteng Evan," seru Rita.
"Ok..."
Sementara di lokasi proyek sana, Jay masuk ke ruangan Roman. Didapatinya Roman tengah menikmati satu kotak nasi, dengan lauk yang tertata rapi tersekat di sebelahnya.
"Gue mau ambil daftar supplier material hari ini," kata Jay.
"Ada di meja itu," tunjuk Roman masih menikmati hidangan di depannya, yang membuatnya bersemangat.
Tanpa sengaja Jay memperhatikan paper bag yang tergelatak kosong.
Apa Kinara yang memberikannya? tatapnya penuh curiga. Sama dengan yang tadi pagi Kinara bawa.
Di tempat lain Kinara melenggang dengan anggun setelah membeli plester di minimarket terdekat, menempelkan pada kakinya yang lecet korban hills murahnya. Belum sampai di pintu masuk karyawan, tiba-tiba seseorang tersungkur, terjatuh persis di belakangnya.
"Bapak...?" betapa terkejutnya seorang pria paruh baya sudah tergelatak tak sadarkan diri.
"Bapak...Bapak...,bangun Pak," panik Kinara yang kemudian berteriak minta tolong. Security yang mendengarnya segera menghampirinya. Dipapahnya tubuh Bapak itu, dibawanya masuk ke dalam mobil. Segara menuju rumah sakit terdekat.
"Maaf Mba, aku tinggal dulu ya. Harus balik kerja," pamit security setelah mengantarkanya ke rumah sakit.
"Iya Pak, makasih banyak," jawab Kinara.
Setelah empat puluh menit menunggu Dokter keluar dengan wajah leganya. Tampaknya ada kabar baik.
"Gimana Dok?"
"Kondisi Pak Ilham sudah mulai stabil, bisa di pindahkan ke ruang rawat inap," kata Dokter menjelaskan, yang ternyata dia sudah mengenal pasien tersebut. Ilham Yudistira pengusaha sukses yang juga adalah pasiennya selama ini.
"Makasih Dok," Kinara terlihat begitu lega.
"Kalau boleh saya tau, anda siapanya Pak Ilham? Apa putrinya?" tanya Dokter cukup penasaran.
"Ooh...bukan Dok," Kinar menggeleng. "Kebetulan tadi Bapak itu jatuh di belakang saya."
"Ooh gitu, nanti biar aku kabarkan sama anaknya. Kebetulan Pak Ilham itu adalah salah satu pasien saya. Saya tau riwayat sakitnya, juga cukup kenal dengan Angga putra laki-lakinya," ujar Dokter yang mengamati wajah cemas Kinara.
"Sekali lagi makasih Dok."
"Sama-sama..tapi saya minta tolong. Sebelum anaknya dateng, tolong jagain dia dulu ya," pinta Dokter.
"Baik Dok," Kinar menurut.
Di tatapnya wajah yang mulai menua itu dengan lekat, raut wibawanya terlihat menyimpan beban yang membuatnya nampak lelah.
__ADS_1
"Kinara...kau kah nak," lirih Pak Ilham membuat Kinara tercengang. Bagaimana dia tau namanya, padahal baru kali ini mereka bertemu.
"I-iya Pak, saya Kinara," balas Kinara ragu.
"Kinara...betulkah itu?" telisiknya penuh semangat, berharap itu Kinara anaknya yang dia cari selama ini.
"Pah...gimana keadaan Papah?" sela Angga yang tiba-tiba masuk.
"Papah nggak papa, ada yang nolongin Papah," mengarahkan matanya pada Kinara.
"Untung ada kamu, makasih Kinara," ucapnya.
"Kebetulan Tuan tadi jatuh persis di belakang saya," mengganti sebutan setelah tau Pak Ilham adalah ayah dari bosnya. Pemilih hotel semegah itu.
"Ini Kinara Pah, dia kerja di hotel kita," ujar Angga memperkenalkan Kinara.
"Gadis baik...terimakasih nak..." Pak Ilham bisa menyadari tak mungkin semudah itu dia menemukan anaknya.
"Sama-sama Pak kalau begitu saya pamit dulu. Harus balik kerja lagi," pamitnya seraya mengulurkan tangannya, menyalami dan mencium punggung tangan pria yang pantas menjadi ayahnya.
"Biar aku anterin," tawar Angga.
"Nggak usah Pak, aku naik ojek aja. Kasian Tuan sendirian," jawab Kinara.
"Jangan panggil tuan Nak..." protes pak Ilham.
"Maaf Pak.." balas Kjanra menunduk.
"Papah nggak papa di sini, kamu anterin saja," kata Pak Ilham.
Kinar pun tak bisa menolak, menuruti kemauan Pak Ilham. Kembali Ke hotel dengan bosnya.
Hanya butuh waktu tak lebih dari tiga puluh menit untuk kembali sampai ke hotel. Kinara turun di ikuti oleh Angga.
"Sekali lagi terimakasih banyak," kata Angga.
"Dari tadi makasih mulu Pak," jawab Kinara menyunggingkan senyum manisnya.
"Aku nggak tau apa yang bakal terjadi sama papa kalau kamu nggak cepet nolongin dia. Mungkin lain waktu papahku bakalan pengin ketemu kamu, mau kan?" Angga pun tersenyum.
"Iya Pak."
"Ok...makasih lagi sebelumnya," Angga tersenyum sembari menepuk lbut bahu Kinara.
Dari jarak tak lebih dari lima belas meter Jay menatap kedekatan mereka. Menarik kesimpulan yang hanya berdasarkan terkaanya.
Padahal tak ada perasaan apapun antara mereka berdua, perhatian dan Bahkan tatapan Angga tak lebih tatapan sayang seorang Kakak yang ingin melindungi adiknya.
__ADS_1