
"Maaf saya permisi ke depan sebentar, " pamit Angga yang tak tahan dalam keadaan tertekan seperti itu.
Bayangan sosok tinggi tegap terlihat di kegelapan sana saat Angga melangkah keluar dari kediaman Bu Ira. Terlihat bayangan sosok itu perlahan menjauh. Angga segera mengejarnya.
"Terlambat bukan? Kinara memutuskan menggadaikan perasaanya karena keadaan, dan itu karena lu. Lu yang nggak pernah ada ketegasan," gertak Angga penuh amarah ketika telah berada persis di belakang Jay.
"Kinara akan lebih bahagia tanpa aku," jawab Jay tanpa menoleh ke arah Angga.
Makin kesal dengan ucapan Jay, Angga menarik tubuh Jay, melayangkan satu tinju dengan kerasnya.
"Kalau begitu jangan pernah muncul lagi di depan Kinara, enyahlah dari kehidupannya, " gertaknya lagi dengan berapi-api, dengan genangan air mata yang Angga tahan dipelupuknya.
*****
Pernikahan yang telah di depan mata membuat Roman hampir tak percaya, namun terbesit rasa bersalah di sudut hatinya. Dia sangat paham, Kinara menyetujuinya tak lebih karena keterpaksaan.
"Apa kamu yakin dengan keputusan kamu?" tanya Roman yang tengah merasakan hatinya bagai terombang-ambing.
Kinara terdiam sejenak, mengumpulkan kata demi kata untuk menjawab pertanyaan itu.
"Yakin atau enggak, nyatanya keadaan lebih mendukung kita untuk bersama."
Roman menggenggam tangan Kinara dengan lembut, "masih ada waktu buat kamu memikirkannya lagi, yang perlu kamu tau aku hanya ingin kamu bahagia. Dengan atau tidak bersamaku," tatapan Roman penuh ketulusan.
Kinara yang merasakan hal tersebut, tanpa bisa dia kendalikan air matanya menitik perlahan. Setuluskan itu lelaki yang pernah membuat hidupnya berada pada titik yang teramat sulit beberapa tahun silam.
Roman mengusap air mata itu dengan lembut, kemudian membawa Kinara ke dalam pelukannya.
"Mari kita besarkan anak kita bersama-sama, Evan butuh kita orang tua yang bisa menjadi contoh untuknya, bukan orang tua yang egois. Apapun keputusanmu, aku siap Kinara, " ujar Roman.
Kinara hanya terdiam, menenggelamkan tangisnya dalam pelukan Roman yang kali ini terasa nyaman baginya. Mungkinkah dia semakin yakin untuk memulai lembaran baru dengan lelaki itu, bisakah dia menghempas jauh seluruh perasaanya pada Jay.
*****
Malam itu Angga benar-benar terusik dalam keresahan yang terus menggerayanginya batinnya. Terselip ganjalan yang sangat membuatnya gak nyaman. Bukan karena masalah dirinya, melainkan Kinara. Dia masih tak yakin Jay tega meninggalkan Kinara begitu saja seperti saat ini.
Ide gila dan mungkin kekanakannya pun muncul, tanpa pikir panjang dia mengambil ponselnya.
"Ketemu di Retro cafe besok!" isi pesannya yang dia kirimkan pada Jay.
Pesan yang sama juga dia kirimkan pada Kinara, setidaknya dua orang itu harus berbicara pikirnya. Angga hanya tak ingin Kinara menyesali keputusan besar dalam hidupnya itu. Apalagi hari pernikahan sudah ditentukan oleh kedua belah pihak, satu minggu lagi.
Rencana itu berhasil, Kinara siang itu duduk menunggu dengan tenang di cafe yang Angga sebutkan dan hanya berselang sekitar lima menit Jay nampak masuk juga ke cafe tersebut. Matanya berkeliling mencari sosok Jay, namun justru Kinara yang terlihat di salah satu sudut. Mata keduanya pun saling bertemu dan mengunci sesaat, Jay baru sadar ini pasti ulah Angga.
Sementara Kinara yang cukup terkejut, mencoba menenangkan diri. Berdamai dengan hatinya yang mendadak kacau.
Kini mereka berdua duduk saling berhadapan, namun sepi tanpa kata. Keduanya memilih menikmati orang batin mereka masing-masing.
"Kapan pernikahan kalian? " pertanyaan itu akhirnya muncul meski teramat berat bagi Jay.
__ADS_1
"Minggu depan, " jawab Kinara dengan singkat.
Jay menyinggung kan setengah senyumnya, sembari menyenderkan punggung pada kursi, "semoga lancar," ucapnya.
"Terimakasih, semoga Mas juga bahagia dengan Mba Renata."
Mendengar kalimat tersebut, raut wajah Jay nampak berubah. Namun tak mampu Kinara artikan apa maksudnya.
"Kenapa, apa ada yang Mas tutup-tutupi? " cecar Kinara yang mulai curiga.
"Aku hanya bahagia, bisa kembali sama dia," begitu lihai mulut Jay mendustai hati.
"Aku senang mendengarnya," mata Kinara mulai berkaca-kaca, masih sesakit ini rasanya.
"Aku pergi dulu, jaga diri kamu baik-baik, " Jay bangkit, beranjak pergi tak sanggup lebih lama berada di sisi Kinara. Karena mungkin akan membuatnya berubah pikiran. Hal yang sangat ditakutinya, karena bui menunggu Kinara jika itu terjadi.
Sementara Kinara hanya menunduk, tak sanggup juga baginya melihat Jay yang perlahan menjauh, menghilang dari jangkauan mata. Rintikan air matanya mengalir tak tertahan lagi, menangisi keadaan yang tak merestuinya bersatu dengan cintanya.
Indah semua cerita
Yang t'lah terlewati dalam satu cinta
Kita yang pernah bermimpi
Jalani semua, hanya ada kita
Namun ternyata pada akhirnya
Tak mungkin bisa kupaksa
Restunya tak berpihak
Pada kita
Kisah kita selamanya?
Tak terlintas dalam benakku
Bila hariku tanpamu
S'gala cara t'lah kucoba
Pertahankan cinta kita
S'lalu kutitipkan dalam doaku
Tapi ku tak mampu melawan restu
Namun ternyata pada akhirnya
__ADS_1
Tak mungkin bisa kupaksa
Restunya tak berpihak
Pada kita
Kisah kita selamanya?
Tak terlintas dalam benakku
Bila hariku tanpamu
S'gala cara t'lah kucoba
Pertahankan cinta kita
S'lalu kutitipkan dalam doaku
Tapi ku tak mampu melawan restu
Ho-ho-wo-oh
Ho-oh-oh
Kisah kita selamanya?
Tak terlintas dalam benakku
Bila hariku tanpamu
S'gala cara t'lah kucoba
Pertahankan cinta kita
S'lalu kutitipkan dalam doaku
Tapi ku tak mampu melawan restu
Lantunan lagu sendu dari Penyanyi Mahalini menggema dalam ruangan itu, gambaran dirinya ada dalam lirik lagu tersebut.
Dia kah yang menyerah, ataukah keadaan yang membuatnya kalah. Tapi nyatanya restu memang tak berpihak pada kita, hatinya berkata diiringi rintikan air mata yang terus lolos dengan derasnya.
Dan Jay yang sebenarnya masih berdiam di luar sana, menatap Kinara penuh rasa bersalah. Karena dia pun tak menginginkan demikian. Ingin rasanya dia berlari, memeluk dan merengkuh cintanya lagi. Tapi dia mampu menahan diri, kebahagiaan Kinara lebih penting baginya ketimbang memaksa diri memilikinya.
Kamu harus membayar mahal atas kesakitanku ini Kinara. Jangan membuatku menyesali keputusanku, bahagialah...
Jay akhirnya memilih melangkah pergi, membiarkan Kinara yang masih terisak di dalam sana. Berat, sangat berat baginya. Tapi ini yang terbaik.
Kini dia hanya berharap waktu akan menyembuhkan luka, meski hati takkan melupa. Karena dia memang tak pernah berniat sedikitpun untuk melupakan cintanya, perempuan yang telah banyak merubah dirinya. Perempuan yang membuatnya rela berkorban meski nyawa sekali pun. Meski pada akhirnya mereka harus kalah oleh keadaan oleh restu yang tak berpihak.
__ADS_1
****
Hari tak selamanya mendung, setelah ini mungkin bakalan terang benderang cerah ceria... yuk sogok othornya biar balikin Kinara ke Jay...😊