Setangkai Layu

Setangkai Layu
Cerita manis


__ADS_3

Sedari pagi Kinara sudah bersiap, mengemasi beberapa barang ke dalam tas punggung milik Evan.


"Kita mau kemana Bu, kok bawaannya banyak banget," keluh Evan penasaran.


"Pihnik sayang, seneng kan?" jawab Kinara tersenyum sumringah, lagi ceria-cerianya.


"Sama ayah?"


Kinara menggeleng perlahan, "enggak...sama Om Jay," sedikit ragu menjawabnya.


"Kenapa nggak sama ayah? Apa ayah ibu lagi marahan?"


"Enggak sayang, ayah kamu lagi sibuk," hanya alasan itu yang terbesit di kepalanya.


"Tapi aku mau sama ayah, aku kangen ayah," rengek Evan.


"Iya sayang, Ibu janji lain kali Evan pergi bareng ayah," bujuk Kinara dengan lembut.


Suara ketukan pintu pun terdengar, menyala pembicaraan mereka.


"Itu pasti Om Jay, kita berangkat sekarang," kata Kinara seraya menuntun Evan menuju pintu.


"Kalian sudah siap?" tanya Jay begitu pintu terbuka.


"Wah..jagoan Om ini makin ganteng aja ya," seraya mengusap gemas pucuk kepala Evan. Tapi Evan hanya menunjukan setengah senyumnya.


Jay pun paham, wajah Evan terlihat tak senang dengan kehadiranya. Tapi dia mencoba menepis semua itu, dia yakin anak kecil itu cepat atau lambat akan bisa menerima kehadirannya, sebagian untuk menjadi seorang ayah.


"Ayo sayang..kita pergi sekarang," ajak Kinara sembari menuntunnya ke arah mobil di jalan depan sana.


"Om Jay mau ngajak kita jalan kemana si?" kata Kinara sedikit manja, memecah keheningan.


"Ketempat yang Evan sama ibunya suka," jawab Jay tetap menunjukan senyumnya.


"Tuh kan sayang...Om mau ngajak kita senang-senang," Kinara masih mencoba membuat Evan ceria.


"Aku senengnya kalau sama ayah," satu kalimat yang serasa menusuk hati Jay, membuat Kinara terdiam.


"Lain kali kita pergi bareng ayahnya Evan, pasti tambah rame," ucap Jay menutupi kesedihannya.


"Om janji ya," tuntut Evan.


"Iya Om janji...tapi Evan harus seneng sekarang, Om nggak mau lihat Evan cemberut," kali ini Evan mulai melunak, sikap Jay yang begitu sabar membuatnya luluh.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, celotehan Evan yang mulai lupa kerinduannya pada sang ayah membawa suasana riang di dalamnya. Tingkah polah bocah kecil selalu membuat tawa. Jay pun marasa usahanya tak sia-sia.


Mobil berhenti pada lahan luas berpasir yang masih sangat longgar belum banyak pengunjung yang datang sepagi ini.

__ADS_1


"Kita udah sampai Om?" tanya Evan, matanya berkeliling melihat sekitar. Penasaran berada di tempat apa saat ini.


"Iya boy..kita udah sampai."


"Apa ini di pantai?" tanya Evan menebak-nebak.


"Pinter banget anak Om ini, kita memang udah Deket banget sama pantai. Kata ibu kamu pengin banget pergi ke pantai," ujar Jay.


"Ayo cepetan turun Bu, Evan nggak saba!r pengin main ombak," rengek Evan penuh semangat.


"Tapi janji nggak boleh sembarangan main ombak, harus tetep sama Om apa sama Ibu," Kita Kinara tugas mengingatkan.


"Iya Bu..janji," jawab Evan tersenyum.


Mereka bertiga langsung turun, Evan dengan semangatnya langsung berlarian menuju tempat yang di impikanya selama ini. Jay langsung mengejarnya. Menyusulnya berlari. Sementara Kinara hanya berjalan pelan, ada bahagia yang tak terucap kala melihat dua orang yang dia cintai bergandengan dengan ceria.


Bahagia yang aku impikan adalah kebahagiaan nyata yang tanpa berbatas waktu. Bahagia yang lahir dari proses alur cerita hidup yang terlampaui penuh makna...lirih Kinara dalam hati tanpa memutus pandanganya dari dua orang didepan jauh sana. Yang tengah berlari berkejaran penuh semangat menuju tempat yang mereka inginkan.


"Ibu....ayo cepetan..." teriak Evan sayup-sayup terdengar. Kinara pun bergegas melangkah cepat menyusulnya.


Di bawah terik matahari yang masih serasa hangat, di iringi tiupan angin pantai yang berhembus menyejukkan. Saling berpegangan, berlari kecil berkejaran dengan ombak yang menyapa untuk bermain.


Melupakan beban kepedihan yang pernah atau bahkan masih mereka alami hingga saat ini. Membuangnya sesaat, menepikannya sejauh-jauhnya. Menggantinya dengan senyum yang menenteramkan batin mereka masing-masing. Larut dalam bungkusan kebahagiaan yang tak ingin lenyap begitu saja.


"Kok baju ibu yang nggak basah sendirian si," protes Evan memberengut manja.


"Cepet kejar Om...." seru Evan tertawa gembira, turut mengejarnya.


"Horeee...ibu ketangkep," sorak Evan melihat Jay telah memegangi Kinara dengan erat.


"Sayang...kita apain ibu sekarang," tanya Jay dengan tatapan jahilnya.


"Ceburin Om..."


"Jangan..jangan di ceburin, lepasin...." teriak Kinara meronta. Namun Jay tetap mendekapnya kuat, mendorongnya semakin ke tengah dan byuuuuur.... melamparnya jatuh di gulungan ombak yang mulai mendekat.


"uhuk...uhuk...," Kinara tersedak asinya air laut.


"Awas ya kalian, nanti Ibu bales..." ancamnya memberengut. Beranjak mengejar Jay, menariknya ke dalam air lagi.


"Ampun sayang...aku nggak lagi-lagi," pinta Jay terdengar manja. Kinara tetap menariknya, hingga mereka jatuh ke dalam air bersama dengan posisi Kinara berada tepat di atas tubuh Jay.


"Kena kan kamu," ujar Kinara merasa menang, sembari bangkit. Namun Jay menahannya, menatapnya penuh makna seraya mendekatkan wajahnya. Suasana pun berubah hening sesaat, saat bibir Jay hanya beberapa sentimeter lagi menempel lekat di bibir Kinara. Namun Kinara malah mendorongnya.


"Evan mana...?" berkelit mencari Evan, sekaligus menghindar dari kelanjutan adegan tersebut.


"Lain kali kamu nggak bakal bisa ngehindar," seru Jay dengan tatapan nakalnya.

__ADS_1


"Masa sih...," balas Kinara dari kejauhan.


"Ibu nggak papa? Evan cuma becanda," ujar Evan merasa khawatir.


"Ibu nggak papa kok. Yuk kita berteduh di sana, sambil main pasir. Sekalian makan siang," tunjuk Kinara pada sebuah pohon rindang di tepian sana.


Sementara Jay, melangkah penuh bahagia ke arah dua orang yang kini telah masuk ke dalam hidupnya. Sungguh kebahagiaan yang baru kali ini dia rasakan. Seolah tak ingin waktu berjalan mengakhirinya.


"Bekelnya ketinggalan di mobil, Ibu ambilin dulu ya," kata Kinara.


"Kamu jagain Evan aja di sini, biar aku yang ambil," sela Jay.


"Baiklah..." jawab Kinara melengkungkan kedua sudut bibirnya.


Tak sampai sepuluh menit, Jay telah kembali menenteng satu paper bag berukuran cukup besar.


"Ini kan?" mengangkat paper bag tersebut.


"Iya, makasih Mas," jawab Kinara yang langsung mengambilnya. Segera menyiapkanya.


Ada beberapa makanan yang telah Kita siapkan sejak pagi tadi, Termasuk rendang ayam yang dulu selalu jadi favorit Jay.


"Sayang...makan dulu," panggilnya.


"Ayo boy..makan dulu biar ibu nggak ngambek. Entar kita main lagi," bujuk Jay pada Evan.


"Ok Om...Ibu kalau marah suka galak," bisik Evan di telinga Jay.


"Takut tuh..." jawab Jay terkikik.


Malihat rendang ayam membuat Jay terdiam sejenak, raut wajahnya berubah entah apa yang dia pikirkan.


"Om kenapa kok diem, nggak suka sama makanannya ya," tanya Evan curiga, membuat Kinara beralih menatap Jay.


"Enggak kok, ini malah makanan kesukaan Om," jawab Jay yang justru mengambil lauk lain. Tak menyentuh makanan itu sama sekali.


Kinara terdiam, mengamati raut Jay yang tak bisa dia artikan sembari menyuapi Evan dengan telaten.


"Maaf, aku malah bikin Mas mengingat luka lama," ujar Kinara setelah Evan menghabiskan makanannya, kembali bermain dengan pasir.


"Kamu mengantarkan makanan itu lalu meninggalkanku, aku cuma nggak mau itu," jawab Jay tanpa menatap Kinara.


"Maafin aku Mas..." jawab Kinara, seraya menyenderkan kepalanya di pundak Jay. Menggantikan kalimat yang tak bisa dia ucapkan langsung.


****


Moga2 hari ini bisa nambah lagi setelah bab...thanks buat yang masih stay tune nungguin cerita ini, apalah daya authornya masih sibuk di dunia nyata...😘😘

__ADS_1


__ADS_2