
"Kamu yang membuatku makin berat melepasmu Kinara, " lirih Roman sembari menatap wajah lelah Kinara yang terpejam lelap di sampingnya itu.
Kali pertama baginya terbaring di ranjang yang sama setelah beberapa hari menikah.
Sebagai seorang laki-laki normal, hasratnya mulai menggebu menginginkan hal yang lebih dari sekedar terlelap bersama. Roman mulai kesulitan mengendalikan dirinya, dengan perlahan menyentuh kan bibirnya ke bibir manis yang tengah terkunci dalam lelap itu. Namun seketika nuraninya kembali, bukan dengan cara seperti ini mendapatkannya. Dan akhirnya hanya sebatas satu kecupan singkat.
****
Aroma nikmat menyengat, menelusup celah tiap ruangan. Wewangian khas rempah dapur menusuk hidung, menggugah selera. Memaksa untuk segera beranjak meninggalkan nyamanya tempat tidur.
Roman berhenti di salah satu anak tangga, menatap bahagia sosok yang nampak anggun dengan celemek berkutat dengan mahir memainkan peralatan dapur.
"Mas udah bangun? apa udah baikan? " tanya Kinara yang mendadak gelagapan saat menyadari tatapan suaminya itu.
"Aroma masakan kamu bikin aku nggak betah di kamar, " jawab Roman tersenyum.
"Oo ini, tadi Evan minta sup jamur sama ikan goreng. "
Tanpa jawaban apapun lagi, Roman langsung menuju meja makan. Tak sabar mengisi perutnya yang semalaman dia biarkan kosong.
"Evan mana? "
"Sama Si Mbok di teras belakang. "
"Panggil dulu, biar kita makan bareng, " pinta Roman.
Pemandangan langka yang baru terjadi, mereka duduk bersama dengan suasana pagi yang begitu hangat. Menikmati hidangan sederhana di iringi senyum ceria ketiganya.
Aku tak ingin berakhir, aku ingin bersanding dengan keluarga kecilku ini selamanya. Tuhan... tamak kah aku... batin Roman yang mulai terasa miris ketika mengingat kenyataan untuk melepas Kinara cepat atau lambat.
Ponsel Kinara kembali berdering di tengah suasana bahagia itu, "Mba Kinara, hari ini Mas Jay akan menjalani terapi, sebaiknya ada satu orang yang menemani, " ucap seorang perawat dari rumah sakit memberikan informasi.
"Baik Sus, saya akan segera ke sana, " jawabnya singkat.
Kabar tersebut sontak membuat suasana berubah kaku, raut wajah Roman seketika dingin.
"Aku antar kamu setelah kita antar Evan ke sekolah, " ujar Roman sembari bangkit dari tempat duduknya.
"Mas... " panggil Kinara, namun Roman tetap berlalu dengan wajah kecewa.
__ADS_1
"Mbok.. titip Evan sebentar, " seru Kinara sembari melangkah tergopoh-gopoh menyusul suaminya.
"Kita berangkat sekarang, " nada Roman sedikit ketus.
"Mas...! "
"Kondisi Jay lebih penting dari apapun, " masih dengan nada datarnya.
"Mas... aku minta maaf belum bisa menjadi istri yang baik buat kamu, " berkaca-kaca Kinara mengucapkanya.
"Kamu nggak salah, yang salah pernikahan kita. Dan aku yang salah sudah berada di tengah-tengah cinta kalian. Apapun pilihan kamu, aku terima. Meski berat, sangat berat karena aku menginginkan hubungan kita ini lebih dari sekedar syah di atas kertas."
Kinara tidak bisa menjawab apapun, hanya menunduk dalam kegamangannya. Di satu sisi ada hati yang harus dia jaga, di sisi lain ada kewajiban yang harus dia jalankan. Yang tak mungkin selamanya akan berjalan beriringan.
****
"Aku benar-benar merasa iri sama Kinara, " ujar Hana yang tengah menemani Jay saat itu.
"Kamu punya segalanya, tidak seperti dia yang hanya gadis malang, " jawab Jay.
"Dia memiliki seutuhnya hati kamu, yang bahkan tak secuilpun bisa aku dapatkan," ucap Hana tersenyum miris, menertawai dirinya sendiri.
Jay tersenyum kecut mendengar penuturan Hana yang memang benar adanya. Kinara satu-satunya dan takkan terganti, meski tak bisa dia raih.
"Tapi dia adalah istri kakakku, apa kamu bakalan jadi perebut bini orang, " kelakar Hana mencoba mencairkan suasana yang mendadak kaku.
"Dia akan kembali tanpa aku rebut, jika memang kamu di takdirkan untuk bersama, " jawab Jay yang sangat mengerti keadaan saat ini.
"Kamu berhak bahagia Mas... tanpa atau dengan Kinara, " pungkas Hana yang kemudian terhenti saat Kinara masuk.
"Hana...! " Kinara sedikit terkejut melihat Hana.
"Tadi kebetulan aku lewat arah sini, jadi aku mampir. Maaf ya, tadi aku temenin Bang Jay. "
"Makasih udah temeni Mas Jay, " balas Kinara.
"Kamu udah dateng, sekarang gantian kamu yang jaga. Aku pamit dulu, " Hana langsung beranjak keluar dari kamar itu dengan perasaan yang dia sendiri tak mengerti.
"Temani aku keluar! " pinta Jay.
__ADS_1
Kinara langsung memapah tubuh Jay, duduk di kursi roda dan mendorongnya keluar.
Awan biru berbaris rapi, terlukis indah di bentangan luas langit cerah atas sana. Semilir angin berhembus, menerpa dua wajah yang menengadah penuh harap. Mengurai benang yang rasanya makin kusut tergeletak begitu saja.
"Aku mau bicara sama suamimu, bisa kamu minta dia ke sini? " tanya Jay dengan tatapan penuh kesungguhan.
Tak sampai tiga puluh menit, sosok yang mereka nanti telah berdiri dengan batin yang penuh tebak.
Ketiganya kini hanya memilih diam, bersiap dengan kalimat yang akan terucap atau mempersiapkan hati untuk kalimat yang akan mereka dengar.
Tangan Jay perlahan menggenggam lembut jemari kinara, menambah debaran-debaran yang kian menyesakkan.
Tak kuasa Roman melihatnya, tak kuasa memaksa kerelaan secepat ini. Bohong jika dia ikhlas.
"Dia adalah milikku yang tak bisa kumiliki, " ucap Jat bergetar.
"Aku titip dia, selama kamu menjaganya dengan baik aku tidak akan pernah mengambilnya, " ucap Jay lagi sembari satu tanganya meraih tangan Roman dan menyatukanya dengan tangan Kinara.
Roman memicingkan kedua matanya, tak yakin dengan apa yang dia dengar.
"Mas... " Kinara memanggil lirih Jay.
"Jadilah istri dan ibu yang baik, aku akan tetep ada apapun buat kamu, " ucap Jay mengusap pucuk kepala Kinara. Menunjukan bahwa dirinya baik-baik saja.
Tak kuasa menahan tangis harunya, Kinara memeluk Jay begitu erat, begitupun sebaliknya. Perasaan mendalam yang selama ini tumbuh berganti perasaan saling melindungi.
"Udah jangan nangis lagi, " ujar Jay mulai melonggarkan pelukannya.
"Kalau suami kamu jahat, langsung panggil aku. Aku bakalan jemput kamu dan bawa kamu pergub jauh, biar dua tau rasa, " di iringi tawa ketiganya.
"gue nggak bakal biarin lu bawa istri gue, susah-suah dapetinya tau, " balas Roman berkelakar.
Kini mereka melangkah beriringan dengan beban hati yang perlahan memudar, berganti senyum tulus penuh kelegaan.
Kalau bilang ikhlas mungkin bohong, karena semua berawal dari terpaksa lalu terbiasa. Tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baru, menggali rasa baru dengan untaian harapan dan doa terbaik.
Cinta yang sebenarnya adalah saat kita juga bahagia melihat cinta kita tersenyum merekah bahagia. Melangkah beriringan merajut mimpi-mimpi indah yang penuh kejutan.
*****
__ADS_1
maapkan othor yang akhirnya satuin kinara Roman. Bang Jay biar nyari cintanya lagi yak...