Setangkai Layu

Setangkai Layu
Jalan Masing-masing


__ADS_3

Aku tunggu di tempat biasa...


Satu pesan Kinara buka, telah masuk tiga puluh menit yang lalu dari seseorang yang tak pernah dia duga. Tak dua balas satu huruf pun, namun langkah kakinya bergerak menuju tempat itu.


Langkahnya yang gamang penuh tanya apa yang akan terjadi setelahnya. Tanpa dia sadari seseorang perlahan mengikutinya, ya Roman yang memang berniat menjemputnya terpaksa menahan diri. Memilih mengikuti dari kejauhan, mengikutiku rasa penasarannya, mengamati dengan jantung berdegup menyesakkan. Karena dari lubuk hatinya terdalam, dia tak menginginkan Pria itu hadir menghempas harapannya lagi.


Sosok itu telah duduk diam di salah satu sudut ruangan, mengurai kegamangan untuk memastikan satu kenyataan dari sebuah kebohongan yang terlalu pahit dia kecap.


"Maaf udah menunggu lama," ucap Kinara mengejutkan Jay yang tadinya tengah termenung.


"Aku juga baru saja sampai," jawabnya sedikit terbata.


"Apa kabarmu Mas, menghilang cukup lama, sepertinya sudah lupa semuanya," semampunya terlihat biasa.


"Seperti biasa," jawab Jay singkat menutupi hatinya yang tidak baik-baik saja.


"Aku udah nggak ngerti biasanya itu seperti apa," jawaban Kinara terdengar sinis.


"Bagaimana kabar Evan?" Jay mengalihkan pembicaraan.


"Dia baik, sangat baik."


Jay tersenyum tipis, "ada orang tua yang sangat menyayanginya, dia pasti sangat bahagia."


"Apa Mas meminta ku kesini untuk membicarakan Evan? Sepertinya bukan. Kinara terdiam sesaat, "Aku lihat dia, perempuan itu. Sepertinya kalian sangat dekat," ujar Kinara.


"Dia seseorang yang ada sebelum kamu."


"Yang nggak bisa Mas lupain, yang sangat berarti buat Mas. Bukan begitu?" sela Kinara dengan cepat.


Tak mengelak maupun mengiyakan, Roman memilih diam.


"Kita akhiri saja semuanya," ucap Jay dengan lancarnya, membuat Kinara tersentak. Semudah dan secepat itu semuanya lenyap.


Buliran bening menggenang di pelupuk matanya, berharap tak sempat menetes saat itu.


"Aku bisa apa, jika itu pilihan kamu. Jika itu yang terbaik, aku hanya bisa berdoa semoga kalian bahagia," sebuah kalimat yang penuh kepuraan, seolah ikhlas. Membohongi diri.


"Buka hati kamu untuk orang lain, Roman tulus mencintai kamu. Dia adalah ayah kandung, sekaligus ayah yang Evan harapkan. Buka hati kamu buat dia," ucap Jay yang hanya menunduk tak mampu menatap mata jernih Kinara.

__ADS_1


"Semua sudah ada skenarionya, aku hanya mengikuti alurnya saja. Jika pada akhirnya cuma sampai di sini, aku coba mengerti. Meski sulit, sangat sulit," terdengar begitu miris ucapan Kinara.


"Maaf..." hanya satu kata itu yang terucap dari bibir Jay yang kelu.


Kinara menunduk mendengar kata itu, "Terimakasih untuk semua yang telah kamu berikan, Pada akhirnya mungkin aku tidak akan pernah sanggup membayarnya."


Dengan ragu tangan Jay bergerak menggenggam tangan Kinara. Ada bongkahan rasa bersalah yang mengganjal batinnya.


"Bayarlah dengan kebahagiaanmu Kinara, itu cukup bagiku. Batin Jay berkata, sebelum Kinara menarik tangannya, melepas genggaman Jay di iringi titik air mata yang tak mampu lagi dia tahan.


Tak sanggup pula bertahan dalam kondisi seperti itu, Jay pun memilih beranjak. Mengayunkan langkahnya tanpa menoleh lagi ke belakang. Mengekang keinginannya untuk berbalik lari, mengusap air mata itu, memeluk cintanya. Karena jika itu terjadi, dia yakin Takan mampu melepasnya lagi.


kamu harus membayarnya Kinara... dengan senyummu.


Langkah itu telah menjauh, tak lagi dalam jangkauan mata sembab yang belum bisa sepenuh hati merelakannya.


*******


Pagi ini masih sama seperti pagi kemarin, mentari tersenyum ceria disambut nyanyian burung yang terdengar merdu mendamaikan telinga. tetesan jernih embun berkilau di dedaunan, menambah sejuk udara yang menyajikan aroma pagi yang khas.


Tak sepantasnya berdiam dalam kekalutan, bumi masih berputar, hidup harus terus berlanjut. Seperti itulah tekad Kinara yang susah payah mencoba bangkit. Menganggap semua hanya hal biasa.


Apalagi ditambah senyum bocah kecil yang telah lebih dari 5 tahun ini berada di sisinya, tak mungkin dia kesampingkan, tak bisa dia kecewakan.


Kinara lagi-lagi terdiam, enggan menjawab apapun. Masih sangat berat untuknya.


BuvIra memegang kedua bahu Kinara, "Temani lah Evan ketemu neneknya, jauh-jauh dia datang dari Jogja," ujar Bu Ira menyuruhnya menemui Arini.


"Ibu... Ayah udah dateng," teriak Evan yang sedari tadi nungguin sang Ayah.


"Ibu ikut kan? Aku nggak mau sendirian," rengek Evan sembari menarik-narik tangan Kinara.


"Kan sama Ayah," jawab Kinara lembut. Ibu kan kau kerja.


"Ibu nggak boleh kerja, pokoknya Ibu harus ikut," Evan terus saja merajuk.


"Iya sayang, kan udah sama Ayah. Nanti pulangnya kita jemput Ibu," sela Roman yang tak mau makin menyudutkan Kinara.


"Enggak...pokoknya ibu harus ikut..." kekeh Evan dengan muka marahnya.

__ADS_1


Terpaksa Kinara menuruti kemauan anaknya, bertemu dengan kakek nenek Evan yang adalah orang tua Roman.


Membutuhkan waktu sekitar empat puluh lima menit untuk sampai di rumah Roman, Doni dan Arini tinggal di sana.


Dengan senyum mengembang penuh bahagia, Arini juga Doni menyambut kedatangan sang cucu.


Arini langsung menghampiri Evan,"Cucu nenek, udah makin besar aja," seraya memeluknya dengan sangat erat. Begitu pula dengan Doni yang bergantian memeluk bocah lucu itu.


"Kakek kangen banget sama Evan," ujar Doni.


Evan juga kangen banget sama Kakek Nenek, kenapa si tinggalnya jauh," celetuknya.


"Biar nggak jauh, Evan aja yang ikut ke Jogja ya. Biar bisa bareng terus sama kakek nenek," kata Doni tersenyum.


"Apa kabarmu Kinara?" tanya Arini


Kinara segera mendekat, menyalami dan mencium punggung tangan nenek dari Evan itu, "Baik Bu... Ibu sehat?"


"Iya...Ibu, Ayah juga sehat," jawaban Arini membuat Kinara terdiam, terdengar canggung di telinganya. Sebutan itu seolah mereka juga orang tuanya.


"Evan sayang, yuk kita masuk," seru Roman mencoba mencairkan kecanggungan tersebut.


"Ayo masuk dulu," ucapnya lagi pada Kinara.


"Iya sayang ayo masuk dulu," ucap Arini tersenyum begitu manis. Sementara Doni asik mengejar Evan yang sudah berlarian ke sana kemari.


Mereka bercengkerama asik di taman belakang, Doni dan Roman dengan antusias menemani Evan bermain. Sementara Kinara melihatnya, sesekali menginginkan senyum melihat keceriaan sang anak.


"Maaf sayang, bisa bantuin ibu siapin makanan d dapur?" tanya Arini lembut.


"Iya Bu," langsung Kinara bangkit mengikuti langkah Arini menuju dapur.


Beberapa menu memang telah di siapkan, hanya tinggal sop buah kesukaan Doni dan Roman yang baru mau dibuatnya.


"Roman dari kecil nggak pemilih soal makanan, apa aja dia mau. Katanya yang penting masakannya enak. Nggak repot buat ngelayaninya, apalagi katanya kamu juga pinter masak," ujar Arini.


Kinara kembali tersentak dengan ucapan Ibunya Roman itu, seolah dirinya memang CALON ISTRI dari anaknya itu.


"Cuma bisa aja Bu, nggak pinter," jawabnya dengan setengah senyum.

__ADS_1


"Kinara, selama ini..dari roman kecil hingga sampai saat ini, perempuan yang dia kenalkan dan bahkan dia sering ceritakan sama Ibu cuma kamu. Kamu yang pertama, dan ibu harap kamu juga yang terakhir. Beri kesempatan buat deketin sama kamu sebagaimana mestinya. Kesalahannya sama kamu memang bukanlah sepele, tapi dia tulus," ucapan Arini membuat Kinara menelan salivanya. Dia tak tau harus menjawab Apa.


"Haus Bu..udah jadi belum esnya," beruntung teriakan Roman mengalihkan pembicaraan itu. Arini langsung fokus menyiapkan sop buah yang Roman minta.


__ADS_2