Setangkai Layu

Setangkai Layu
Adikku Kinara


__ADS_3

Sejuknya pendingin ruangan sedikit meredam panasnya suhu udara di luar sana, Roman tengah duduk menunggu seseorang dengan tekad yang bulat, dengan keyakinan yang sulit tergoyahkan. Hingga terdengar ketukan langkah kaki mengarah pada tempatnya sekarang.


Anin dengan anggunnya melangkah ke arahnya, dengan pancaran percaya diri yang selalu melekat pada raut wajahnya.


"Maaf bikin lama nunggu," sapanya sembari meletakan tas jinjing brandednya.


"Ada apa? Aku pikir Mas amnesia," sindirnya.


"Kamu mau pesen apa?" Roman masih berbasa-basi.


"Mas mau ngomong apa sebenernya. Nggak usah basa-basi, aku bukan kenal sama Mas satu atau dua hari," kata Anin yang mulai meraba ada sesuatu yang aneh pada Roman.


"Hubungan kita, aku nggak bisa nerusin lagi...maaf," ucap Roman tanpa keraguan.


"Dari awal aku berjuang sepihak, hanya untuk membuatmu melihat diriku. Itu melelahkan, tapi aku bisa tahan. Tapi hari ini setelah semua yang aku lakukan akhirnya hanya seperti ini, terlalu menyakitkan," mata Anin mulai berkaca-kaca.


"Apa karena perempuan lain? Kinara?" tambahnya mencoba menerka-nerka.


"Ada bagian dari masa laluku yang belum kamu ketahui. Aku memiliki anak yang selama ini tak pernah aku ketahui, bahkan aku sempat tak mengakuinya. Dia butuh kasih sayang seorang ayah yang belum pernah aku berikan selama ini," jawab Roman.


"Maksudnya, Mas berniat menjalankan hubungan baru dengan ibu dari anak itu?" tanya Anin menajam.


"Ya...aku akan memperjuangkan itu demi kebahagiaan anakku."


"Anakmu atau kebahagiaan Mas sendiri. Mas mencintai perempuan itu?" kalimat-kalimat tanya itu terus mencecar Roman.


"Apa perempuan itu juga yang membuat Mas selama itu begitu susah membuka hati untukku?"


"Aku hidup dengan kasih sayang penuh orang tuaku, tapi justru aku telah melewatkan waktu untuk memberinya kasih sayang untuk anakku sendiri. Aku nggak akan buang kesempatan ini lagi. Aku harap kamu bisa ngerti," tutur Roman dengan lembut, berharap Anin bisa menerima keputusanya.


"Terserah... aku nggak bisa ngatur hati Mas harus buat siapa, tapi Mas juga nggak bisa ngatur perasaan ini untuk berhenti begitu saja. Terimakasih..." tandas Anin yang kemudian menyambar tas jinjingnya, melenggang pergi meninggalkan Roman yang masih terpaku menatap kepergiannya.


Ini lebih baik dari pada mengulur waktu hanya untuk terluka...maafkan aku...lirihnya dalam hati.


Di kediaman Pak Ilham suara tawa riang Evan menggema, mengisi ruang yang tadinya sepi tanpa ekspresi.


"Bapak kayanya seneng banget deh...coba kalau Mas Angga dah nikah, terus kasih cucu. Pasti Bapak bakalan bahagia banget," kata Mbok Narti, asisten rumah tangga yang telah puluhan tahun bekerja di keluarga itu.

__ADS_1


"Masih dalam pendekatan kayanya deh Mbok," jawab Kinara tersenyum.


"Mba Kinara kenal ya sama orangnya. Jangan-jangan malah Mba sendiri," tebaknya cengengesan.


"Bukan Mbok, kebetulan aku bekerja di hotelnya Mas Angga," Kinara menanggapinya dengan santai.


"Kalo sama Mba Kinara juga nggak papa kok, pasti Bapak setuju banget. Apalagi udah langsung dapet bonus cucu," Mbok Narti menutup mulutnya merasa ngomongnya kebablasan, "maaf Mba, Mbok nggak maksud..."


"Nggak papa kok Mbok," Kinara hanya tersenyum tak merasa tersinggung sama sekali.


"Ya udah...Mbok mau ke belakang dulu siapin sirup sama buah buat Bapak sama Den Evan," pamit Mbok Narti.


"Biar aku bantu Mbok," Kinara mengekor di belakang Mbok Narti yang menuju ke arah dapur.


Sementara Evan tengah bermain di kolam renang dengan Pak Ilham. Kecipak-kecipuk bermain air dengan bahagianya. Pasangan Opa dan cucu yang memang sangat pas.


Lama mereka berdua bermain, karena setelah puas di air, Pak IIlham mengajak Evan ke taman belakang. Sepasang kelinci putih yang sangat menggemaskan ada di sana. Tentunya membuat Evan makin betah berlama-lama di tempat itu.


"Yuk kasih makan kelincinya, biar tambah gemuk" kata Pak Ilham yang membawa seikat kangkung dan satu kresek wortel kesukaan peliharaanya itu.


"Berani dong," jawab Evan yakin, langsung menyodorkan dua tangkai kangkung pada kelinci tersebut.


"Kalau aku punya ayah, punya kakek kaya Opa pasti seneng banget," ucapnya tiba-tiba, seolah tengah meratapi nasib.


"Kok Evan ngomongnya gitu, Opa kan juga Kakek Evan. Opa malah pengin Evan tinggal di sini aja," Pak Ilham mencoba menghiburnya.


"Beneran Opa? Tapi kasian Ibu kalau Evan tinggal di sini," ucapnya menahan kecewa.


"Opa...apa Opa bisa bantuin Evan cari Ayah," pintanya dengan polos.


Pak Ilham mengusap pucuk kepala Evan dengan lembut, "suatu saat kamu pasti ketemu sama ayah kamu, Opa bantu doa," tuturnya.


"Makasih Opa."


"Dah mulai gelap tuh...yuk masuk nanti kita makan malem bareng," ajaknya.


Sementara di pelataran Parkir hotel, nampak Jay tengah berdiri seperti menunggu seseorang.

__ADS_1


"Lu ngapain di sini, kaya patung?" sapa Angga yang tiba-tiba muncul.


"Kinara di rumah gue, lu tungguin ampe besok pagi juga kagak bakal nongol," ucapnya sekedar tebakan asal.


Namun mendengar nama Kinara, ekspresi wajah Jay langsung berubah. Ada tanda tanya besar di sana.


"Nggak usah panik gitu kali gue nggak ikut-ikutan berebut. Kinara udah kaya adek gue nggak usah lu punya prasangka yang enggak-enggak. Mending lu ikut mobil gue aja, entar lu yang anterin Kinara sama Evan balik," ujar Angga ngomong langsung.


Jay hanya tersenyum, ada kelegaan di hatinya. Dia tak harus bersaing dengan bosnya. Yang sempat membuatnya beberapa hari lalu terpantik cemburu.


"Jangan pernah mainin perasaanya, dia sudah banyak menderita selama ini," tutur Angga yang masih fokus dengan kemudinya.Jay pun menoleh ke arahnya.


"Nggak usah lu jawab, gue udah yakin seberapa besar cinta lu ke dia. Pengorbanan lu luar biasa, gue mungkin nggak akan bisa ngelakuin itu meski buat orang yang gue cintai," cerocos Angga panjang lebar.


"Sayangi Evan seperti kamu menyayangi Kinara. Bocah kecil itu butuh sosok ayah," kata Angga lagi.


"Gue akan berjuang untuk memenangkan hati Kinara kembali," ucap Jay dengan yakin. Dia nggak akan membuang kesempatan begitu saja. Nggak ingin kehilangan Kinara untuk kesekian kalinya lagi.


____________________________


Pak Ilham asik menemani Evan bermain puzzle yang baru di belinya siang tadi. Sementara Kinara membantu Mbok Narti menyiapkan makan malam. Terselip rasa penasaran sejak siang tadi yang membuatnya ingin segera tau jawabnya.


"Mbok...foto yang di depan itu foto siapa?" tanya Kinara.


"Yang mana Mbak?"


"Yang anak kecil sama anak bayi."


"Oo..yang itu. Itu Mas Angga waktu masih umur tujuh tahunan, yang satunya lagi itu Mba Kinara," kata Kinara membuat Kinara terhenyak.


"Kinara?" penuh tanya.


"Iya Mbak, adeknya Mas Angga yang sekarang nggak tau dimana. Mbok juga nggak tau pasti ceritanya gimana," kata Mbok Narti.


Entah kenapa cerita Mbok Narti itu membuat Kinara gusar. Ada perasaan yang dia sendiri tak mengerti.U


Yang jelas dia tidak merasa Kinara yang dimaksud itu adalah dirinya. Rasanya nggak mungkin, pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2