
"Ayah kenapa?" tanya Angga setelah menyelesaikan panggilan teleponnya.
"Apa yang ayah lihat?" kedua alisnnya mengerut, raut sang ayah terlihat tak biasa.
"Seseorang yang ayah kenal. Sudahlah, ayah udah ingin lihat Evan," jawab Pak Ilham merubah raut wajahnya, seolah tak ada yang berarti.
"Ya.." Angga mencoba menghempas rasa ingin tahunya, meski tanya masih mengganjal di hatinya.
Suara ketukan pintu mengejutkan Kinara yang tengah terpejam mengobati kantuknya. Segera dia beranjak membuka pintu.
"Pak Angga..Om..." sebutnya satu persatu.
"Evan mana?" tanya Pak Ilham yang tak mendapati Evan di kamar itu.
"Tadi dia minta main di luar, sama Mas Roman," jawab Kinara.
"Bukankah dia masih sakit? Kenapa kamu biarin main di luar?" cemas Pak Ilham.
"Evan sudah lebih baik, Om nggak usah khawatir," ucap Kinara menyunggingkan kedua bibirnya, pertanda Evan baik-baik saja.
"Syukurlah kalau begitu."
"Terimakasih Om sama Pak Angga udah repot-repot dateng kemari," ujar Kinara.
"Aku adalah kakeknya, aku turut sakit melihat Evan sakit. Terimakasih sudah menjaganya dengan baik," kalimat itu keluar dengan lancarnya, seolah Evan adalah cucu kandungnya.
Kinara hanya mengangguk, mndengar pernyataan Pak Ilham yang seolah menyiratkan maksud lain.
Di tempat lain, Bu Ira yang tengah kebingungan mencari ruangan Evan dikejutkan dengan lengkingan suara yang sangat dia kenali.
"Nenek..." teriak Evan memanggilnya.
Bu Ira seketika langsung menoleh, "Evan..." seraya berlari menghampirinya. Memeluknya penuh sesal, karena beberapa minggu ini tlah meninggalkanya.
"Maafin Nenek, nggak bisa jagain Evan," tangisnya.
"Evan kangen Nenek," ucap Evan bahagia berada di pelukan sang Nenek.
"Kondisi Evan sudah lebih baik, Ibu jangan khawatir," kata Roman menyela adagan hangat tersebut.
"Terimakasih sudah menjaga cucuku."
__ADS_1
"Evan anakku Bu, ini sudah menjadi kewajiban ku sebagai seorang ayah."
Setelah menemani Evan bermain beberapa menit, Bu Ira membawa Evan kembali ke kamarnya. Khawatir udara luar akan membuat kondisi tubuhnya malah melemah lagi.
"Ini Nek, kamarku," tunjuk Evan.
"Evan harus istirahat ya, biar besok udah boleh pulang," kata Bu Ira, sembari membuka pintu kamar tersebut.
Betapa terkejutnya saat pintu terbuka lebar, seseorang yang tak ingin dia temui saat ini justru berdiri tepat di depannya.
"Opa..."seru Evan kegirangan melihat Pak Ilham, seketika pula memutus pandanganya pada sosok perempuan yang lebih dari sekedar kenal. Sementara Bu Ira memilih menunduk, membawa Evan menuju brankarnya. Berpura-pura tak ada apapun.
Pemandangan yang begitu mengharukan bagi Bu Ira, melihat Evan begitu dekat dengan laki-laki itu.
"Aku keluar sebentar," pamit Bu Ira pada Kinara seraya menggenggam tangannya.
"Ibu mau kemana?" panggilan Ibu membuat Pak Ilham menoleh. Menatap dua perempuan itu bergantian penuh makna.
"Ibu mau nyari kopi," jawab Bu Ira lantas beranjak keluar. Dan hampir bersamaan Pak Ilham pun beranjak, setelah berpamitan pada Evan.
Dua orang saling susul, memunculkan tanya seisi ruangan tersebut. Tanya yang hanya mereka ajukan dalam batin masing-masing.
Bu Ira pun menghentikan langkahnya. Air matanya mulai menggenang, hampir jatuh menitik.
"Dia Kinara anakku bukan?" satu tanya yang sedari tadi mendesak menuntut jawaban pasti. Bu Ira tak bergeming, diam seolah tak merelakan kenyataan tersebut.
"Jika kamu tetap diam, maka aku anggap itu benar. Aku akan membawa anak dan cucuku pulang," begitu teriris saat kalimat itu terucap. Seorang ayah yang seharusnya ada melindungi anak perempuannya, justru tak mampu berkutik melawan keadaan. Membayangkan penderitaan sang anak yang harus menanggung semua beban berat itu sendiri.
"Untuk apa kamu masih mencarinya? Bukankah kamu tak menginginkannya, membuangnya bersama adikku?" jawaban Bu Ira terdengar begitu tajam.
"Sekian lama aku mencarinya, Dini begitu pandai menyembunyikan jejaknya," sanggah Pak Ilham.
Bu Ira tersenyum getir, "rupanya uangmu tidak bisa menemukannya.
"Beri aku kesempatan untuk berlaku selayaknya seorang ayah. Hal yang telah kulewatkan selama ini," pinta Pak Ilham penuh penyesalan. Bagaimana pun apa yang terjadi ada Kinara, secara tidak langsung adalah karena tindakan bodohnya yang membuat sang istri pergi membawa Kibarraa yang masih begitu kecil. Hanya karena fitnah yang telah menghasutnya.
Dari satu sudut yang lain, wajah Angga terlihat begitu menyedihkan ketika mendengar semua pembicaraan itu. bagai dihantam gada, dadanya mendadak sesak. Berjalan linglung tanpa arah, tertimpa penyesalan yang tak sanggup dia elakan.
Melihat wajah sendu Kinara, dan wajah polos Evan membuatnya ingin bersimpuh meminta maaf. Gadis muda yang ceria, bocah kecil yang tak berdosa harus bersimbah air mata karena kelakuannya.
Duduk diam menunggu waktu. yang tepat untuk mengakui barakah pilihannya. Yang pasti dia siap menerima apapun konsekuensinya.
__ADS_1
"Lu nggak masuk?" tanya Roman membuatnya mengangkat wajah.
"Evan?"
"Dia suudah tidur?" jawab Roman yang tau maksud pertanyaan Angga.
"Kinara jga sedang istirahat, dia sudah terlalu lelah," tambah Roman.
"Seberapa besar perasaan lu sama adikku?" tatapan Angga begitu tajam.
Roman mengernyitkan alisnya, "maksud lu?"
"Dia adalah adikku, orang yang kamu hamili adalah adikku. Dia cantik bukan, bahkan aku hampir menyukainya. Aku hampir menikahinya saat kamu lari dari tanggung jawab," teriak Angga penuh penekanan.
"Aku yang telah membuatnya semenderita ini. Membuat semuanya serumit ini. Aku tidak layak untuk dimaafkan," ucap Angga terisak.
"Aku mencintai Kinara bahkan sebelum kejadian itu. Semuanya sudah terjadi, menangis darah pun nggak ada gunanya. Kita sama-sama punya kesalahan yang begitu besar. Membuatnya bahagia adalah pilihanku saat ini. Jikapun tak harus bersamaku," ucap Roman.
"Kinara?" Angga tertegun melihat Kinara yangvt lah berdiri di belakang mereka.
"Aku sudah dengar semuanya. Terimakasih untuk semua yang telah kalian lakukan untukku," menahan air matanya.
Seketika Angga bersimpuh, "maafin kakak..." lirihnya menunduk penuh dosa. Namun Kinara memilih berbalik, menutup pintu rapat-rapat.
Dia mulai tak mengerti dengan keadaan ini, banyak hal yang belum dia ketahui tentang dirinya sendiri.
Pak Ilham perlahan membuka pintu ruangan itu, dilihatnya Kinara yang hanya duduk terpaku dengan tatapan kosong. Matanya sembab, begitu menyedihkan.
"Maafin ayah.." lirih Pak Ilham seraya memeluknya, namun Kinara masih diam. Tak tau harus menerima kenyataan itu atau tidak. Tanpa kasih sayang seorang ayah sejak lahir membuat hatinya beku untuk menerima hal tersebut t secara tiba-tiba.
Pak Ilham memegang kedua bahu Kinara, "berjalan kesempatan ayah kali ini, untuk berlaku s layaknya sebuah seorang ayah. Maafkan ayah yang baru sekarang menemukanmu," kembali pak Ilham memeluknya.
Sementara tatapan Kinara mengunci pada Bu Ira, menuntut jawab kebenaran. Bu Ira hanya mengangguk, membenarkan pernyataan Pak Ilham.
Pada akhirnya Bu Ira memutuskan untuk berdamai dengan kenyataan. Kinara membutuhkan sosok ayah yang bisa dijadikanya tempat berlindung. Bukan bergantung pada dua laki-laki yang hanya membuatnya bingung.
Sementara Angga memutuskan menemui Jay, dia harus mengakui kesalahannya.
******
Memaksa diri menyentuh batas kesanggupan benar-benar menguras hati. Emosi di bikin labil, naik turun sama pembuat ribut.. duh malah curhat.. maap ya gaess, up nya lama lagi. Akoh masih dalam proses penyembuhan luka hati yang mendalam 😂
__ADS_1