Setangkai Layu

Setangkai Layu
Lembar baru Kinara


__ADS_3

"Kenapa wajah Mas Roman sampai luka kaya gini? Udah dong jangan betantem-berantem terus. Ayah sama Ibu pasti sedih lihat Mas kaya gini," ujar Hana prihatin sekaligus kesal dengan ulah kakaknya itu, sembari mengoleskan obat lebam mesti agak terlambat.


Roman masih terlarut dalam diamnya, tatapannya kosong. Sesal atas perbuatannya makin menyiksa batinnya.


"Mas...kenapa diem, bengong kaya gitu? Sebenarnya kamu kenapa?" Hana curiga, tak seperti biasanya kakaknya bersikap seperti itu.


"Aku cape, pengin istirahat..," nyelonong masuk ke kamarnya. Membiarkan Hana yang diam penuh tanya.


"Aneh banget tuh orang, nggak mungkin lagi dapet kan..." gumamnya lirih, komat kamit mulutnya.


_______________________________


Aroma pagi kembali hadir, dengan sejuknya udara yang tak pernah lupa mengiringi. Menyingkirkan lelah raga setelah semalaman dibiarkan terbaring dalam lelap. Mengumpulkan energi baru untuk memulai mengisi lembaran hari ini. Tentunya dengan goresan tinta indah penuh semangat.


Seperti halnya Kinara yang hari ini mulai nampak berseri, menghempas segala kesedihannya. Terlalu sayang membuang waktu, karena bumi tetap berputar tak mempedulikan kesedihannya. Hidup masih berjalan, dan dirinya berhak bahagia.


Mentari begitu cerah, seolah tersenyum manis menyapanya. Kicau burung bernyanyi saling bersahutan, seolah turut merayakan keceriaannya. Mengiringi langkahnya menuju tempatnya mengais Rizki.


Rita yang merasa bersalah karena kemarin lusa tak menepati janjinya, tiba-tiba menepi sengaja menjemput Kinara.


"Ki..." teriaknya saat Kinara hampir masuk bis. Kinara pun menoleh, segera mendekat ke arah sahabatnya itu.


"Untung aja pas...ngos-ngosan gue ngejar lu," kata Rita.


"Ngapain juga ngejar aku, orang aku biasa naik bis," balas Kinara.


"Ngelunasi janji gue lusa kemarin, gue pergi ama Chef cuby itu. Jadi kagak jadi anterin lu balik. Lu kagak kenapa-napa kan. Cemas gue, nggak biasanya," katanya lagi.


Kinara terdiam sejenak mengingat kejadian itu, tak ingin menceritakannya pada Rita. "Aman kok..lu jadian ya sama Bang Joni?" kilahnya diiringi senyum meledek.


"Iiihhh...apaan sih, jangan kejauhan deh. Orang gue cuma nemenin dia nyari alamat temennya. Kebetulan gue tau," sanggahnya cemberut.


"Itu namanya bukan kejauhan kali...tapi makin Deket," Kinara terkekeh sendiri melihat bibir manyun Rita. Merasa puas meledeknya.


"Udah kagak usah bahas lagi, kelamaan nongkrong dimari keburu telat elunya," masih dengan mode kesalnya, Rita menyodorkan helm yang sengaja dia bawa dobel.

__ADS_1


"Iya..iya...duh yang lagi ngembekan bgt, atuuut..." seraya duduk di jok belakang. Membiarkan Rita ngedumel entah apa lagi.


"Gue sumpahin lu dihadang cowok entar, biar merinding disko ditempat baru tau rasa," balas Rita sembari melajukan sepeda motornya. Dibalas Kinara dengan tabokan keras dibahunya.


"Sembarangan tabok aja, oleng nih..gue belum pengin mati, belum kawin," selorohnya membuat pecah tawa diantara keduanya.


Tiba di area parkir karyawan, terlihat Jay sedang bersiap dengan mobil kantor, mungkin akan pergi ke proyek. Melihat Kinara yang tak lagi seperti kemarin membuatnya tersenyum tenang. Melangkah menghampirinya.


"Wahhh...siapa tuh...kok jadi beneran si ada cowok ngadang elu," terkejut Rita. Namun Kinara malah tersenyum, tak seperti dugaanya.


"Lu kesambet setan mana, kok malah senyum gitu," Rita terheran-heran dengan sikap temannya itu yang biasanya selalu menghindar dari makhluk yang namanya laki-laki.


"Aku suka melihatmu seperti ini," sapa Jay saat telah berada di hadapan Kinara. Membuatnya merona dibuatnya. Tesenyum malu, tanpa balas menyapanya.


"Nanti pulangnya aku jemput," kata Jay. Khawatir akan kejadian kemarin.


"Nggak usah Mas, nanti aku sama Rita. Ada urusan juga," jawabnya.


"Baiklah...hati-hati."


"Ya..." kembali melangkah menuju tempat kerjanya. Meninggalkan Jay yang masih menatapnya.


"Iiihhh...apaan sih kamu," Kinara berusaha menghindar. Tak mau ratu kepo itu makin mencecarnya.


"Akhirnya lu bisa juga jatuh cinta," serunya seraya mengejar.


"Nggak gue duga selera lu...wuiiih...mantep sis. Gantengmya gimana... gitu. Cariin dung...atu ajja, yang kek gitu," merengek-rengek manja.


"Noh cari di depan sana..." tunjuk Kinara ke arah jalan.


"Gila lu...itu mah dapetnya sama si Abang parkir mesum itu. Hiiih...ogah gue," balas Rita yang kemudian melenggang masuk. Mereka berpisah ke tempat kerja masing-masing.


Kembali melakoni pekerjaannya, tersenyum ramah pada setiap pengunjung. Bersikap manis meski sering mendapati pengunjung yang rewel. Minat ini itu nggak jelas..tapi itulah pekerjaannya. Meredam emosinya, demi nama baik hotel tempatnya kerja.


Disela jam istirahat, dia ingat akan tanggungan hutangnya pada Roman yang sama sekali belum sepeserpun dibayarkan. Hutang tetaplah hutang yang harus dilunasi. Dengan gamang, jemarinya mengetikan pesan.

__ADS_1


"Hari ini jika ada waktu, temui aku di cafe depan hotel. Aku mau mencicil hutangku..."isi pesan Kinara, yang akhirnya dia kirimkan pada Roman meski ragu awalnya.


Roman yang masih lesu dan terlihat pucat dengan pikiran yang masih kacau meraih ponsel yang sedari tadi tak ingin dia sentuh.


"Aku akan datang." Sedikit senyum tersungging dari bibirnya. Ada sedikit celah yang akan mengurai benang kusut di kepalanya. Walau tak pernah bisa di prediksi apa hasilnya.


Duduk meluruskan kaki sembari mimijit betisnya, terasa ngilu seharian ke sana ke sini demi pada pengunjung yang bagai raja dan ratu.


"Kenapa? Cape?" tanya Angga yang tiba-tiba muncul.


"Pak Angga...maaf," jawabnya terkejut. Angga kemudian duduk di sebelahnya. Entah kenapa, sosok gadis itu selalu menggungahnya rasa untuk melindunginya. Tapi rasa itu berbeda dari perasaanya pada Hana. Entahlah...dia pun tak tau apa alasannya.


"Maaf.. pekerjaanmu begitu melelahkan," ucapnya terdengar tak enak hati.


"Ini kan sudah jadi tugas saya Pak.. lagian saya kan di gaji. Kalau nggak mau cape mending nganggur saja," balas Kinar tersenyum.


"Entar kalau ada posisi yang lebih baik, aku pindahin bagian kamu," tanahnya.


"Nggak perlu Pak...pekerjaan ini sudah lebih dari cukup buat saya. Rasanya nggak enak kalau dapet posisi yang lebih bagus semudah itu."


"Aku kan bosnya...berani kamu menyangka aku," ucapnya tegas namun diiringi senyuman.


"Iya Pak Bos," balas Kinara membalas senyumnya.


"Pulang hati-hati..." pesan Angga yang kemudian melenggang pergi.


Satu amplop putih agak tebal terselip rapi dalam tasnya. Mengingatkanya pada pesatnya tadi siang. Kinara pun bangkit, menguatkan hatinya untuk akhirnya menemui dan bicara dengan pria itu. Pria yang meninggalkan truama mendalam pada dirinya.


Makin memelankan langkahnya saat kakinya menapak plataran cafe sesuai janjinya. Maju mundur tekadnya untuk memutuskan arah langkahnya. Yang akhirnya dengan menggenggam tali Sling bagnya dia mengakhiri kegamangannya. Melangkah maju menemui Roman.


Melewati pintu masuk, bola matanya menyelingi sekitar. Memilih tempat yang dirasanya nyaman untuk hati yang masih terjerat rasa trauma. Namun tatapannya terhenti pada satu sosok yang tengah menatapnya balik, entah dari kapan telahenunggunya di kursi itu.


*****


Akhirnya setelah gulang guling, tulis delete...rampung juga ini part. Hufft...lega jadinya.

__ADS_1


Semoga syukaaaa yah...


Buruan sogok otor pake komen biar semangatnya makin berapi-api😂


__ADS_2