
Lebih dari satu jam akhirnya Dokter keluar dari ruang gawat darurat.
"Bagaimana keadaan teman saya Dok, " cecar Angga yang langsung menghampirinya.
"Beruntung peluru tidak mengenai organ vital pasien, tapi pasien masih dalam kondisi kritis. Do'akan saja yang terbaik, " ucap Dokter tersebut.
"Tapi dia akan segera sadar kan Dok? " tanya Angga khawatir.
"Kita do'akan saja, beberapa kali dalam keadaan tidak sadar pasien memanggil nama Kinara. Mungkin dia sedang menunggunya, " kata Dokter lagi.
Kinara menoleh ke arah pintu dimana Jay berada, ketakutan menjalar di benaknya. Jay menunggunya hanya untuk meninggalkannya, pikirnya.
"Masuk lah.. dia butuh kamu, " ujar Hana.
"Aku nggak bisa... dia akan bertahan jika aku nggak ada di sisinya," pikirannya mulai kacau.
"Kinara, apa maksud kamu? " seru Angga.
Kinara hanya menggeleng, lalu berlari meninggalkan tempat itu. Hana berniat mengejarnya, tapi Roman menahannya.
"Biarkan dia sendiri dulu, " cegah Roman.
Mengenakan kebaya putih penuh noda darah Kinara berjalan di bawah guyuran deras air hujan yang seolah turut berduka kala itu. Menyamarkan air mata Kinara yang tak hentinya mengalir, menangisi keadaan.
Kinara terus melangkah tanpa tujuan, mengikuti langkah kaki yang dibiarkan bebas dari perintah otaknya. Suatu tempat membuatnya tersadar, matanya terbuka menyapu sekeliling, tempat pertama kali dia bertemu dengan Jay setelah dia memutuskan meninggalkan Jay beberapa tahun lalu.
Harusnya kita tak pernah saling menyapa
jika hanya membuat luka
Harusnya aku tetap berlari
jika hanya menjadi duri
Bisiknya dalam hati, menyalahkan diri yang selalu membuat orang yang dicintainya justru sengsara. Membayangkan hal itu Kinara tak mampu bertahan, tubuhnya lemas dan akhirnya merosot jatuh.
Di tempat lain Anin tengah mencaci maki seseorang yang telah gagal mencelakai Kinara.
"Bodoh... bodoh.. bodoh.. aku udah kasih apa mau kamu, tapi kamu malah nyelakain abang gue, " bentaknya.
"Lu pikir kalau Kinara mati, Roman mau sama elu. Sadar Anin, lu itu juga bekas orang. Lu gadein kehormatan lu cuma buat obsesi gila lu. Lu nggak pernah menghargai seseorang yang bener-bener tulus sama lu, " kata si penembak itu yang adalah teman tapi mesranya si Anin.
__ADS_1
"Diam.... " teriak Anin.
"Setelah ini, mari kita masuk bui bareng-bareng," ucap pria itu menyeringai.
"Dasar baji****... nggak akan aku biarin itu terjadi, " panik Anin.
"Tapi itu bakalan tetep terjadi.. " jawabnya lagi.
"Pergi.... " jerit Anin histeris, dia nggak bisa nerima keadaan.
****
Angga nampak sangat gelisah mengkhawatirkan keadaan Kinara, "lu nggak susul istri lu? " ucapnya ragu, tahu benar bagaimana perasaan Jay saat ini.
"Dia akan lebih tenang tanpa kehadiran gue saat ini," jawab Roman yang nampak muram. Dia sadar kehadirannya saat ini hanya menambah beban batin untuk Kinara.
"Biar gue yang susul dia," putus Angga.
"Gue titip istri gue, jaga dia," pinta Roman.
Angga mengangguk seraya menepuk bahu sahabatnya itu, "jangan khawatir. "
Setelah hampir dua puluh menit Angga mengemudikan mobilnya dengan pelan, akhirnya dia menemukan seorang perempuan mengenakan kebaya putih tengah duduk mematung seorang diri. Dia yakin itu Kinara. Angga menepikan mobilnya, bergegas turun menghampirinya.
"Semua akan baik-baik saja, jangan sia-siakan pengorbanan Jay selama ini. Kuatkan dirimu, " Angga berusaha menenangkannya.
Kinara mengangkat wajahnya, lalu meluapkan tangisnya di pelukan Angga.
"Ayo kita pulang, " Angga memapah dan menuntunnya.
"Ke rumah Ibu saja," pinta Kinara lirih, setelah mobil melaju.
Angga hanya mengangguk menuruti kemauan sangat adik itu.
Ketika sampai di rumahnya, Bu Ira dan Andini tengah kerepotan menenangkan Evan yang terus saja menangis mencari ibunya. Dua pasti trauma dengan kejadian tadi.
"Kinara! " panggil Bu Andini seraya menghampiri anak kandungnya itu. Evan pun langsung mengejar sangat ibu.
"Ibu... " teriaknya sambil menangis memanggil ibunya. Kinara langsung membalasnya dengan pelukan erat diiringi lelehan air mata yang berkali-kali tak bisa dia bendung.
"Sayang.. baju ibu basah kuyup tuh, biar ibu ganti dulu ya. Nanti Evan nyusul ke kamar, " bujuk Bu Ira yang sangat paham bagaimana kacaunya perasaan Kinara saat ini.
__ADS_1
Setelah mengganti pakaiannya, Kinara meringkuk tanpa selimut. Tubuhnya menggigil, wajahnya memucat, tatapannya kosong, teramat menyedihkan.
"Kinara.. makanlah sedikit, " bujuk Bu Andini dengan pelan, Kinara hanya menggeleng. Membuat sangat ibu kandung putus asa.
Sementara di rumah sakit sana Romantis hanya terdiam frustasi menunggu kabar kondisi Jay yang tak banyak berubah. Batinnya berselimut gelisah melewati malam yang semestinya begitu indah.
Haruskah mengalah, melepas semua, entahlah.. teramat berat untuknya. Roman bangkit beranjak, dia harus memastikan keadaan istrinya saat ini.
Sesampainya di rumah Bu Ira, dilihatnya Kinara telah terpejam dengan titik air mata yang masih membekas. Roman mendekat penuh rasa sesal.
"Maafkan aku, " ucapnya lirih sembari mengusap lembut wajah Kinara, air matanya luruh menangisi keadaan yang teramat miris. Menangisi kesalahan yang percuma untuk disesalinya.
****
Dinginnya udara pagi menusuk hingga ke tulang, Kinara terbangun, pahit getirnya kenyataan masih terecap tajam dihatinya. Berniat bangun, namun sosok yang masih mengenakan kemeja putih membuatnya tertegun. Ya... Roman tengah terlelap di bawah tempatnya tidur, tanpa beralaskan apapun. Kinara menarik selimut lalu ditutupinya tubuh Roman. Disangganya kepala suaminya dengan bantal. kemudian ditatapnya teduh wajah itu, wajah yang juga sangat tersiksa dengan kenyataan ini.
Roman pun terbangun, dia memegang erat tangan Kinara yang tengahengusap lembut wajahnya.
"Akan ada pelangi setelah hujan ini," ucapnya dengan seulas senyum, berusaha menunjukan hatinya baik-baik saja.
"Apakah semua akan tersenyum indah setelah pelangi itu muncul?" tanya Kinara berkaca-kaca.
"Ya.. pasti, jangan khawatirkan apa yang belum terjadi. Mari kita lalui semua ini dengan kuat."
"Jay menunggu kamu, temui dia! " ucap Roman menambahi. Namun lagi-lagi Kinara menggeleng.
"Aku suamimu, aku telah mengijinkannya," ucap Roman tersenyum, sembari mengusap lembut pucuk kepala Kinara. Sekuat hati berusaha menutupi resah batinnya.
Kinara hanya menunduk, bayang-bayang Jay pergi untuk selamanya masih terus menghantuinya.
"Mas Jay akan bertahan tanpa aku datang, dia akan sembuh, " balas Kinara sembari menyapu air matanya sendiri.
"Sudah pagi, Mas mau sarapan apa? " Kinara mengalihkan pembicaraan.
"Apa saja, " singkat Roman.
Secangkir seduhan teh manis hangat Kinara lega kan di nakas sebelah tempat tidurnya, tempat Roman tengah duduk.
"Makasih, repot-repot dibawa masuk. Apa Evan udah bangun? "
"Evan masih tidur, aku keluar dulu? " pamit Kinara.
__ADS_1
Setelah Evan bangun, Roman menyibukan dirinya bermain dengan Evan. Hanya itu obat untuk semua resahnya. Evan adalah miliknya yang paling berharga, mungkin terlalu serakah jika dia menginginkan semuanya. Sementara ada yang telah berkorban jauh melebihi dirinya, dia mulai menyadari hal itu.