
"Ayah...!" panggilan itu membuat Roman menoleh. Menatap wajah bocah kecil itu penuh tanya.
"Adek kecil...kamu nyari ayah kamu ya?" tanyanya lembut seraya mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi badan Evan. Evan hanya mengangguk.
"Ayah kamu tadi dimana, biar Om bantu anterin kamu ke ayah kamu," bujuk Roman.
Evan malah menggeleng, "kata Ibu, ayah kerja jauuuuh banget...kata ibu juga wajahnya mirip sama aku," jawabnya polos, merasa dirinya mirip dengan Roman. Mungkin memang naluri seorang anak yang melihat bapak kandungnya.
Roman terhenyak, "kalau dilihat-lihat wajah bocah ini memang mirip denganku...tapi mana mungkin aku ayahnya," batinnya bergolak.
"Evan...!" panggil Bu Ira yang menghampirinya.
"Maaf.., cucu saya udah ganggu Mas. Dia emang kadang usil," ujar Bu Ira tak enak hati.
"Nggak kok Bu, dia cuma ngira aku ayahnya," balas Roman tersenyum.
"Sekarang Om tanya, kamu namanya siapa?" beralih pada Evan.
"Evan Om."
"Nama yang bagus, Om doain semoga ayah kamu cepet pulang," seraya mengusap puncak kepala Evan dengan lembut.
"Om pamit dulu, ponakan Om udah minta pulang," Roman kemudian bangkit, beranjak meninggalkan bocah yang masih terus menatapnya.
"Kenapa Bu?" Kinar pun menyusulnya.
"Ini.. Evan tadi manggil ayah sama orang nggak tau siapa."
"Evan...nggak boleh gitu lagi ya," kata Kinar lembut, memperingatkan.
"Kata Ibu ayah mirip aku, tadi Om itu mirip sama aku," tunjuknya pada mobil yang mulai melaju.
"Masa si..." goda Kinar, tak terlalu menanggapi serius ucapan anaknya.
__ADS_1
"Bener Bu ..mirip," kekeh Evan dengan pendapatnya.
"Iya..iya..tapi mungkin cuma sedikit miripnya," balas Kinar sekedar untuk menghiburnya.
"Sekarang kita duduk di sana, makan terus nanti pulang deh...kasian nenek tuh udah cape," bujuk Kinar, sembari menunjuk ke arah Bu Ira. Evan pun tersenyum, menuruti apa kata sang Ibu.
Apa benar cuma kebetulan, memang wajah laki-laki tadi mirip Evan. Terlihat seperti orang baik...masa iya melakukan hal sebejat itu. Walau sebenarnya aku berharap ayahnya Evan memang pria baik-baik...kata hati Bu Ira yang tak berniat untuk dia utarakan pada Kinar.
Akhirnya hari itu berakhir menyenangkan, Evan terlelap dengan gurat wajah bahagianya. Namun bagi Bu Ira, hari itu terlewati dengan sekelebat pemikiran tentang sosok laki-laki siang tadi, yang Evan panggil dengan sebutan ayah.
_________________________
Menghempas rasa malasnya untuk kembali mengahadapi kenyataan hidup dengan berbagai beban, Kinar memaksa langkahnya kembali ke tempat kerjanya. Meninggalkan sang buah hati, yang selalu memanggilnya manja minta ditemani bermain, memang dilema.
Berjalan di bawah terik matahari yang mulai menghangat, menyusuri jalanan sibuk pagi hari menuju tempat pemberhentian bus. Namun tiba-tiba sebuah mobil menepi, membunyikan klakson yang membuatnya menoleh.
"Masuk...!" seru Angga dari dalam.
Kinar tanya terdiam, terkejut dengan kemunculan bosnya itu.
Kinar yang masih dalam mode gagu itu akhirnya tersadar, beranjak masuk sesuai perintah Angga.
"Makasih tumpangannya Pak..." ucapnya mengikis rasa canggung.
"Sekalian aku mau ke proyek, hari ini Roman nggak kerja. Nanti kamu aku kasih tugas tambahan ya," kata Angga.
"Tapi apa aku bisa Pak, takutnya malah bikin kacau," Kinar merasa tak percaya diri.
"Belum apa-apa udah takut dulu, payah kamu. Aku yakin kamu pasti bisa kok. Nanti aku jelaskan tugasnya, kalau udah sampai," kata Angga.
Kinar pun mengangguk pasrah, "Iya Pak.."
Setelah dijelaskan oleh Angga, memang bukan hal yang sulit hanya membutuhkan ketelitian. Mudah bagi Kinar untuk mempelajarinya. Yang sebenarnya merupakan tugas Roman selain pekerjaan utamanya sebagai arsitek yang merancang, merencanakan anggaran hingga pengontrolan pembangunan bangunan resort tesebut.
__ADS_1
Berkutat dengan bilangan-bilangan, membuatnya lupa waktu. Tak terasa senja telah menjelma, membisikan kalimat indah "jam kerja habis, waktunya pulang."
Namun pekerjaan yang nanggung memaksanya bertahan beberapa menit, hingga mulur satu jam labih. Dan saat semuanya kelar, ditolehnya ke arah luar, hari telah menggelap.
Melangkah ke belakang menjalankan kewajibannya sebagai muslim, setelah selesai disambarnya sweater rajut yang selalu menghangatkan tubuhnya kala berangkat dan pulang kerja, dengan Sling bag tak bermerk terkenal tersampir di pundaknya, dia tetap cantik. Siap berkemas, membuka pintu dan pulang.
Melenggang dengan perasaan lega, apalagi setelah ojeg online yang dia cari merespon pesanannya. Namun di pintu masuk kawasan proyek di depan sana, nampak dua orang sedang berbincang serius. Diiringi senyum yang tersungging di bibir manis perempuan yang dia kenal.
Hana..? Itu memang Hana, dia kenal dengan Mas Jay? terselip rasa cemburu saat melihat tatapan dua orang itu yang terlihat mendalam.
Khawatir keberadaanya menganggu keasyikan mereka ngobrol, Kinar memilih mundur. Memilih jalan lain, menghindar dari mereka. Melangkah pelan menembus gelapnya malam yang membuatnya bergidik, terlalu sepi.
"Kenapa kamu lewat sini? Apa kamu menghindar?" suara tegas seorang laki-laki membuatnya tersentak.
"En_engggak...tadi ada yang ketinggalan, jadi biar cepet aku lewat sini. Ojek yang aku pesen nunggunya di situ," kilahnya dengan terbata.
"Maaf...aku duluan," pamitnya melewati Jay yang berdiri persis di hadapannya.
"Tunggu..." Jay menyambar pergelangan tangan Kinar, menahannya untuk tidak kembali melangkah. Menariknya kuat hingga posisi mereka kembali saling berhadapan, bersitatap satu sama lain.
"Apa sebenarnya yang terjadi waktu itu?" tanyanya menajam.
"Aku nggak ngerti maksud kamu? Bukankah sudah aku bilang, aku menikah. Pernikahan yang aku jalani awalnya memang untuk melunasi hutang. Laki-laki itu memperlakukanku dengan baik, dia sangat mencintaiku. Jadi dengan mudah aku juga bisa menerimanya, kami bahagia," kebohongan yang lancar terucap tapi tetap tak membuat Jay percaya begitu saja.
"Baiklah...jika kamu tetap dengan jawaban itu, aku akan mencari tahu sendiri kebenarannya."
"Terserah...aku perempuan bersuami, tak pantas jika Mas terus seperti ini," ujar Kinar berusaha membuat Jay percaya.
"Jika saat itu tiba, jangan pernah memaksaku lagi untuk menjauh," pungkas Jay dengan terus menatap wajah Kinar. Terlihat air matanya menggenang, siap mengalir jatuh. Namun dengan cepat Kinar menoleh ke arah lain. Menyembunyikan raut wajah sesungguhnya.
Mencoba menarik tangannya dari cekalan tangan Jay yang memang sudah melonggar, "aku harus balik secepatnya," melangkah cepat meninggalkan Jay yang hanya diam mematung, tatapanya mengiringi langkah Kinar hingga lenyap di kejauhan bersama ojeg yang melaju kencang.
Aku pasti akan mencari tau sendiri, sesuatu yang kamu sembunyikan Kinara...matamu tidak pernah bisa berbohong. Tekad Jay dalam hati.
__ADS_1
Aku bukan lagi Kinara yang dulu Mas...aku tidak layak mendapatkan ketulusanmu. Biarlah masa lalu kita cukup menjadi cerita hiburan di masa mendatang, tak lagi menjadi beban hati yang hanya menyiksa. Walau aku... mencintaimu...
luruhlah air matanya mengalir jatuh dengan derasnya.