Setangkai Layu

Setangkai Layu
Kebenaran mulai terungkap


__ADS_3

Jay berdiri di area parkir, menunggu Kinara untuk memperjelas semuanya. Tak mau lebih tandas menyimpulkan sesuatu yang samar, yang justru memicu salah paham.


Tiga puluh menit dia menunggu, hingga Kinara terlihat melangkah keluar. Baru saja Jay berniat menghampirinya, tiba-tiba Hana mendekat bercakap sebentar meminta pertolongan.


"Kebetulan ada Mas Jay bolehkan minta tolong," ucapnya.


"Ada apa?" tanya Jay dengan tatapan ke arah Kinara, yang juga membalas balik tatapannya.


"Motorku nggak bisa di starter," jawab Hana yang tak memperhatikan Kinara tengah melihat ke arahnya.


"Dimana motor kamu?" melewatkan satu kesempatan, membiarkan Kinara berlalu begitu saja. Yang merasa tak enak mengganggu percakapan mereka yang nampak akrab.


"Di sana Mas..." tunjuk Hana. Segara Jay melangkah ke arah tersebut. Mengutak utik sebentar, tanpa kesulitan motor itu kembali normal.


"Makasih Mas, dapet pinjem dari temen jadi kurang paham gitu," kata Hana.


"Udah jadi ini, aku duluan. Ada perlu," Jay terburu-buru meninggalkan Hana, langsung mengejar Kinara. Sayangnya Hana keburu menghilang juga, setelah Rita mengabarkan kalau nggak bisa balik bareng. Kinara langsung menuju halte.


Sementara di tempat yang tak berjauhan, Roman juga terlihat tengah menunggu seseorang dari dalam mobilnya, menunggu Kinara mungkin. Mengembalikan kotak nasi yang tergelatak di sebelahnya sebagai alasan. Ketika terlihat Kinara tengah melangkah ke arahnya, Roman segera keluar. Hanya saja lagi-lagi Anin juga muncul bersamaan.


"Mas jemput aku?" membuat Roman terkejut, Anin telah berada di depannya.


Melihat kotak nasi yang Roman tenteng mbuay Anin mengernyitkan alisnya, "kok bawa kotak nasi kaya segala?" telisiknya.


"Ooh..nggak ini cuma mau di buang saja," jawab Roman gelagapan.


"Ya udah yuk buruan jalan!" Anin begitu percaya diri Roman datang untuknya.


"Mas...! Ngeliat apa sih?" Anin ikut menoleh ke arah pandangan Roman.


"Nggak...cuma kaya kenal saja. Ya udah yuk jalan," ajak Roman tak mau membuat Anin curiga. Belum waktunya menceritakan semuanya.


Melihat Roman masuk ke mobil bersama Anin, membuat Kinara terdiam sejenak. Dia sudah menyiapkan cicilan pertamanya dalam bentuk cash. Niatnya menemui Roman diurungkannya, karena Anin pasti tak suka.


Turun di depan gang sempit menuju rumahnya. Entah kenapa suasana sepi kali ini membuatnya merinding, muncul firasat tak baik.

__ADS_1


"Neng...kok sendirian aja malem-malem gini," sapa seorang pria mabuk, di ikuti satu pria lagi di belakangnya.


Firasatnya benar, ada yang tak beres untuk malam ini. Kemunculan dua sosok itu membuat jantungnya menderu tak karuan. Wajahnya memucat penuh ketakutan.


"Kok diem aja sih neng...sariawan yah," goda pria itu seraya menghimpit tubuh Kinara, mencolek mesum.


"Saya harus buru-buru balik bang," menghindar dengan gugup.


"Ayolah neng kita temeni, lagian dingin banget nih malem," si pria mabuk itu mencengkeram tangah Kinara dengan kuat.


"Lepasin Bang...lepas..." gertak Kinara.


"Nggak usah sok suci deh lu, kalau udah ngerasain aja merem melek," sela pria yang satunya.


"Sikat aja Bang," kedua pria itu langsung menyeret Kinara ke belakang suatu bangunan.


Jeritannya tiada berarti, seperti tak seorang pun mendengar. Rontaannya pun sia-sia, raga dan tenaganya tak sebanding. Kinara hanya bisa menangis, tubuhnya gemetaran dengan cucuran keringat dingin saat kedua orang itu makin menyudutkanya. Merobek dengan kasar blouse yang dia kenakan.


"Nggak usah banyak ngelawan kalau nggak mau sakit, nikmati saja," sergah pria itu.


Namun tiba-tiba tubuh pria brengsek itu terangkat, ada yang menariknya paksa. Menghujaninya dengan pukulan keras bertubi-tubi tanpa ampun. Hingga kedua pria itu menggelepar tak berdaya.


Kinara mendekap kedua lututnya, menutupi tubuhnya yang setengah telanjang. Rasa gemetar masih menderanya, tubuhnya kian lemas, penglihatannya mulai buram. Dan tepat saat seseorang menutupi tubuhnya dengan jaket yang dikenakannya, Kinara ambruk tak sadarkan diri.


Tanpa tanya lagi, Jay langsung mengangkat tubuh itu. Seolah bisa merasakan apa yang tengah gadis itu rasakan.


Apa yang telah terjadi selama ini Kinara...kenapa kamu begitu rapuh...dimana gertakan mu yang dulu. Kata hati Jay.


"Kinara...apa yang terjadi?" betapa terkejutnya Bu Ira melihat putrinya dalam kondisi seperti itu.


"Ada pria brengsek yang mengganggunya," jawab Jay.


"Masuklah..." Bu Ira menunjukan kamar Kinara. Dengan lembut Jay menggelatakan tubuh lemah itu di atas kasur.


Bu Ira menitikan air mata, merasa prihatin dengan nasib gadis itu seraya mengusap lembut rambutnya. Menempelkan minyak kayu putih di dekat hidungnya, berharap segera sadarkan diri.

__ADS_1


"Gadis malang...bangunlah Nak...beruntung ada seseorang yang menolongmu. Lupakan kejadian itu, sembuhkan traumaku Nak.."lirih Bu Ira.


"Trauma apa yang Ibu maksud?" Jay bertanya-tanya, sesuai terkaanya, memang ada sesuatu yang besar telah Kinara sembunyikan darinya.


"Kehormatannya direnggut paksa sekitar lima tahun lalu. Kamu lihat anak kecil itu kan, dia adalah buah dari perbuatan bejat orang itu," Bu Ira menceritakanya dengan mata berkaca-kaca.


Jay terdiam, sebilah pedang serasa menghunus hatinya. Nyeri, sakit tak terkira mendengar kenyataan itu. Marasa dirinya tak berguna tak mampu menjaga perempuan yang sangat dia cintai.


"Siapa laki-laki itu Bu?" tanya Jay mengepalkan kedua tangannya.


"Ibu tidak tau, bahkan Kinara juga tidak bisa melihat wajahnya saat itu."


"Trauma itu benar-benar menyiksanya, dia tidak bisa lagi membuka hatinya. Bahkan memilih meninggalkan laki-laki yang dia cintai, karena merasa dirinya hanyalah perempuan kotor," cerita Bu Ira mulai membuka kebenaran yang selama ini Jay cari.


Jay masih terdiam, entah apa yang harus dia katakan. Batinnya menangis, begitu berat hidup Kinara selama ini. Dan dirinya justru tak tau apapun, malah menghakiminya dengan prasangka buruk.


Nampak Kinara mengerjap-ngerjapkan matanya, kesadarannya perlahan kembali.


"Dimana aku Bu?" tanyanya lirih, matanya mulai menoleh ke beberapa arah.


"Kamu sudah aman sayang, jangan takut," kata Bu Ira membelai lembut wajahnya.


"Mas Jay..." sebutnya lirih. Jay menatapnya dengan seulas senyum, menyiratkan bahwa dirinya telah aman. Meski sebenarnya ingin sekali dia memeluk tubuh lemah gadis itu.


"Jay? Maksud kamu Jay....?" Bu Ira terkejut, tak menyangka dia adalah Jay yang telah menggantikan hukuman Kinara.


"Iya Bu...," jawab Kinar memelan, teringat kembali akan rasa bersalahnya.


"Berulang kali kamu menyelamatkan anakku...aku tidak tau lagi bagaimana cara untuk berterimakasih," Bu Ira mulai terisak.


"Aku hanya melakukan yang aku bisa, Ibu jangan seperti itu," tutur Jay lembut.


Sementara dari balik pintu, Roman telah berdiri beberapa menit. Wajahnya terlihat begitu lesu, menggambarkan rasa sesal yang teramat. Agaknya sedikit atau banyak mendengar penuturan Bu Ira.


******

__ADS_1


Biar otor makin cemunguttt nulisnya...yuk ramein kolom komentarnya.


__ADS_2