Setangkai Layu

Setangkai Layu
Kesengsem Om


__ADS_3

Hana mematut diri duduk di depan cermin, menyapukan riasan tipis di wajahnya. Nampak sedikit luka di bibirnya akibat ulah Jay kemarin. Hadiah ciuman yang tak pernah diinginkannya, meski terasa berbeda dari ciuman pertama Jay dulu, yang sama sekali tanpa rasa.


"Tante kenapa, kok bibirnya lecet? " pertanyaan Alira yang masuk tiba-tiba membuatnya terkejut.


"Oo.. enggak, cuma kegigit aja, " jawabnya sedikit gugup.


"kok bisa si, kegigit gitu, " pertanyaan lugu yang makin membuatnya bingung melontarkan jawaban.


"Iya kemarin pas makan apa agak ketusuk gitu, barengan sama bagian dalemnya kegigit. Jadi pedih banget gini deh, " keluh nya yang cuma alasan belaka.


"Oo... " Alira cuma melongo saja.


"Ya udah ayuk turun, katanya pengin ditemeni jalan, " ujar Hana.


"Siap tanteku tercintah, " dengan girangnya, akhirnya si tante yang super sibuk itu mau menemaninya berkeliling Jogja.


"Kamu udah order taksi belum, " tanya Hana sambil melangkah menuruni anak tangga.


"Oh my God, lupa Tan... bentar Tan, " menggeragapi isi tasnya.


"Oalah HP ku di atas Tan, aku ambil dulu, " balik lagi AAlirake atas.


"Masih bocah aja udah pelupa kamu ya, " gumam Hana.


Begitu sampai di ruang tamu, Hana dibuat terkejut lagu dengan seseorang yang tengah duduk dengan secangkir kopi di ruang tamu.


"Lho, Mas Angga di sini? Kok nggak ngabarin dulu?Ibu juga nggak bilang."


"Sengaja biar kamu kaget, " jawab Angga dengan senyumnya yang makin menawan.


"Udah rapi aja, mau kemana emang? "


"Itu si Alira minta ditemeni jalan, " menunjuk ke arah Alira yang melangkah gugup ke arahnya.


"Ayuk Tan, " teriaknya dengan tergopoh-gopoh.


"Ups.., ada tamu ya, " ucapnya mendadak canggung.


"Ini Om Angga Ra, kamu lupa ya? " tanya Hana. Alira nampak berpikir keras mengingatnya.


"Mas Angga juga pasti pangling ya? " tersenyum menatap Angga yang nampaknya memendam rasa penasaran.


"Masih kecil, natapnya jangan gitu kali. Ini Alira, anaknya Mba Cila loh Mas. Masa lupa si, " Hana memberengut manja.


"Ya ampun, dulu masih segini. Sekarang udah gadis aja, " dengan tangan membandingkan tinggi rendah.


"Udah kelas berapa kamu sekarang? " tanya Angga.


"Kelas 1 Om, " jawab Alira singkat.


"SMA? " tegas Angga.


"Iya Om. "


"Di luar udah mulai panas banget tuh, aku mau jalan dulu sama Alira. Sory ya Mas, " ucap Hana.

__ADS_1


"Biar aku anterin kalian aja, kebenaran hari ini aku senggang, " ujar Angga.


"Yeahh, akhirnya nggak usah pesen taksi dong, " celetuk Alira girang.


"Tapi ada upahnya loh, " Angga tersenyum syarat makna.


"Apaan tuh? " balas Hana.


"Ada deh, masih rahasia, " jawab Angga.


"Asal jangan minta yang aneh-aneh aja tuh, " kata Hana.


"Kamu tuh yang mikirnya aneh-aneh, " sahut lagi.


"Awas loh ya, " ancam Hana. Sementara Alira cuma melongo melihat kedua orang dewasa di depannya ribut sendiri.


"Kalo Om om sama tante tante emang suka ribut gitu ya... hemmm kapan dong jalannya, " celetuk Alira mendengus kesal.


"Yuk biarin aja Tante kamu itu, kita pergi saja, " ledek Angga sembari menarik pergelangan tangan Alira. Dan entah kenapa seperti ada sengatan listrik di hatinya, bergetar, berdebar tak menentu. Hingga membuat wajah Alira merona merah seketika.


"Aku di belakang aja Om, " pinta Alira yang tiba-tiba hatinya merasa tak nyaman.


"Anak baik, " Angga malah mengelus lembut kepala bocah itu.


"Udah kamu depan aja, " suruh Hana.


"Tante aja, aku mau selonjoran santai di belakang, " kilahnya.


Hanya ada percakapan ringan selama dalam perjalanan, Hana nampak ceria berada di sisi orang yang sampai saat ini masih dianggapnya kakak itu. Sementara Alira entah kenapa nampak canggung, apalagi saat tatapan mata Angga sesekali memperhatikannya dari kaca spion. Makin membuatnya salah tingkah. Debat jantungnya menggelora, suatu hal yang baru dia alami.


Beberapa tempat mereka singgahi, mencari kain batik, souvenir hingga bakpia khas Jogja yang akan dia bawa ke Jakarta beberapa hari lagi.


"Nih mending tadi bawa karung sekalian, biar gue jadi kuli panggul, " celetuk Angga mengerutu kesal.


"Nggak ikhlas banget si, kan Mas Angga yang minta ikut tadi, " jawab Hana dengan mimik dibuatnya selembut mungkin.


"Entar gue traktir deh, " imbuhnya merayu.


"Bayaranya musti lebih mahal, " tandas Angga.


"Oke deh, " Hana pasrah.


"Semangat Om, biar Tante Hananya luluh, " entah kenapa Alira merasa Angga memiliki perasaan khusus pada tantenya itu.


Angga hanya tersenyum masam, "dia itu lebih keras dari batu, susah luluhnya, " sambungnya.


"Tuh kalau orang laper ngomongnya makin ngelantur, " balas Hana.


"Aku juga laper Tan, " rengek Alira.


"Ya elah kamu ini, laperan banget si. Yuk makan di depan sono, " menunjuk sebuah cafe depan sana.


"Siap Tan, " dengan girangnya Alira melangkah lebih dulu. Bukan karena lapar sebenarnya, makin lama dia gak sanggup menahan debaran saat berada di sebelah Angga. Pria yang selisih usianya terbilang jauh itu.


Alira nampak sekali menjaga jarak dengan Angga, dan sepertinya Angga merasakan hal itu.

__ADS_1


"Kamu mau pesen apa?" tanya Angga dengan tatapan yang makin membuat Alira gemetar. Membuatnya mendadak gagu.


"Emm... emm.. apa ya, bingung... " kalimat alibi menutupi kegugupannya.


"Tumben bangeg kamu pilihnya lama, biasanya aja langsung pesen ini itu, " kata Hana.


"Aku mau yang ini aja, " dengan asal dia memilih salah satu menu tersebut.


"Yakin mau yang ini? " Hana gak yakin keponakanya mau makan itu, sandwich telur. Jenis makanan yang selalu dia hindari.


"Iya Tan... "


"Oke lah kalau begitu, habisin sendiri loh ya," tersenyum penuh arti.


Setelah menu terhidang, Alira mendelik kaget dengan isi piring di depannya, "kok ini si Tan? " protesnya.


"Tadi kan aku dah tanya lagi, kayanya iya. Ya udah ayo habisin, " jawab Hana tersenyum-senyum.


"Memang kenapa? " Angga penasaran.


"Alira tuh nggak suka sama yang namanya riti dan teman-temannya," jawab Hana.


"Lha kok bisa pesennya itu? "


"Ngelamun kali dia, mikirin apa si. Sampai nggak fokus gitu? " tanya Hana.


"Mikirin yang nggak keliatan, " sela Angga.


"Iihhh... ngeledekin mulu, tadi tuh gambar sama tulisanya nggak jelas. gak kira makanan apa, pengen coba, " pandai juga beralasan.


"Ni punya Om buat kamu, " Angga menyodorkan spaghetti bolognese yang membuat Alira seketika tersenyum gembira.


"Makasih ya Om, " ucapnya memandang sepintas.


"Kamu tuh ada-ada aja si, " gumam Hana.


"Pesen lagi aja Mas," ujar Hana.


"Kelamaan... udah gerah banget oengjn pulang, " jawab Angga dengan mulut penuh mengunyah makanan yang tak disukai Alira itu.


Belum juga separo crispy chicken Hana habiskan, satu pemandangan membuatnya membelakak tak percaya. Wajahnya berubah muram seketika.


"Tante kenapa? Kaya liat hantu aja? " pertanyaan Hana membuat Angga turut menatap ke arah pandangan Hana.


"Habisin dulu makanan kamu, " ucapnya setelah melihat apa yang ada di sana.


"Itu Om yang kita ketemu di bandara kan? " tanya Alira yang makin penasaran.


"Iya, " singkat Hana yang kemudian kembali menghabiskan makanannya. Meski hatinya mengaduh, baru kemarin Jay memperlakukannya seolah mengejarnya. Hari ini bersanding dengan perempuan cantik cinta pertamanya, Renata.


Jay yang merasa ada yang memperhatikannya pun balas menatap ke arah Hana, seolah ada yang menyuruhnya. Terpampang senyum manis di wajah sendu itu, senyuman manis yang kini jarang sekali terpampang untuk dirinya.


"Hana, apa kamu udah lupa sama Kinara? " tanya Renata setelah melihat apa yang Jay tengah perhatikan.


Namun Jay hanya tersenyum datar, tak menanggapi ucapan Renata.

__ADS_1


"Jangan sampai kamu kehilangan cinta kamu untuk yang kedua kalinya, " kata Renata yang sebenarnya menyesal pernah mencampakan Jay.


Jay masih tetap menatap Hana, hingga tatapan mereka bertemu namun saling diam dan berlaga acuh.


__ADS_2