Setangkai Layu

Setangkai Layu
Galau galau


__ADS_3

Mengenakan pakaian rapi tak seperti biasa, menunggu penuh ketenangan ditemani musik syahdu yang menggema seisi ruangan. Mengalun indah melabuhkan jiwa dalam muara keromantisan yang sulit terjelaskan dalam sebaris kalimat. Beberapa pasang di sana saling beradu pandang penuh gelora asmara.


Namun Jay masih beku dalam kesendirian, merindu perempuannya yang bahkan tanpa kabar. Setangkai mawar yang seharusnya berada dalam genggaman tangan lembut Kinara, kini hanya teronggok begitu saja menunggu waktu membawanya layu. Cincin yang masih berdiam betah di balik saku jasnya, mungkin sedang menangis, tak urung juga bertemu jemari manis sang pemilik.


Wajah tenang Jay perlahan terlihat lusuh penuh resah, gawai yang sedari tadi dia biarkan gelap diraihnya perlahan. Satu kontak dia tuju, namun kosong tak ada jawab sama sekali. Beberapa kali dia ulangi, tetap sama hasilnya. Akhirnya dia putuskan beranjak cepat meninggalkan tempat itu, membawa perasaan kecewa bercampur khawatir yang makin membuatnya gundah gulana.


Jalanan yang masih cukup padat makin menyulut emosi. Berkali-kali membunyikan klakson panjang tetap saja nggak guna. Hingga setelah sekian puluh menit akhirnya lepas dari jebakan kemacetan itu. Memperlancar laju mobilnya yang makin dia percepat.


Dengan gugup Jay berlari menyusuri gelapnya lorong menuju rumah Kinara, begitu khawatir sesuatu yang tak diinginkan menimpanya atau anaknya. Namun yang terlihat di depannya, justru pemandangan hangat keluarga kecil yang begitu harmonis. Pria yang sudah pasti adalah Roman tengah menggendong seorang anak kecil yang tak lain adalah Evan, sementara Kinara sibuk membukakan pintu untuk dua pria di sebelahnya itu.


Jay memilih diam, matanya memerah menahan perih luka yang tak berdarah di hatinya. Apakah dia harus mundur, pikirnya berkali-kali. Cincin yang berdiam di sakunya ingin rasanya dia lempar sejauh-jauhnya.


"Kenapa nggak mau pindah rumah, puas anak kita yang jadi korban," Roman sangat marah dengan kejadian Evan yang tertimpa genteng runtuh saat sedang bermain membuat luka yang cukup parah di bagian kepalanya.


Kinara hanya terdiam, dia mengaku salah tidak bisa menjaga Evan dengan baik.


"Besok pindah ke rumahku, aku nggak mau ada penolakan," tegas Roman.


"Besok aku akan cari kontrakan baru, nggak perlu repot-repot," jawab Kinara reflek.


"Aku adalah ayahnya Evan, aku berhak memberi yang terbaik untuk anakku.Atau aku akan mengambilnya kalau kamu tetap keras kepala," kata Roman berbau ancaman.


Kinara tersenyum kecut menaggapinya, "jangan buat aku tertawa. Apa hak kamu mau ngambil Evan?"


Roman berjalan makin dekat ke arah Kinar, membuatnya makin tersudut. Wajahnya semakin mendekat nyaris tak berjarak, "Aku nggak main-main. Aku adalah satu-satunya ayah untuk Evan," ucapan Roman terdengar mengerikan.


Sementara Kinara hanya bisa memejamkan mata, tubuhnya mendadak gemetar ketakutan, wajahnya memucat penuh air mata. Trauma yang menahun kembali menyerangnya.


Roman pun sadar akan hal itu, dia melonggarkan tubuhnya. Mengurungkan niatnya yang telah ditempeli setan, sebisa mungkin menahan hasrat untuk kembali menikmati bibir yang selalu dia rindukan sejak saat itu.


"Maafkan aku udah nyakitin kamu," ucapnya panik, baru kali ini dia melihat efek trauma yang Kinara alami.


Roman dengan cepat menangkap tubuh Kinara yang hampir merosot kebawah, meraihnya ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku...maaf..maafkan aku," ucapnya lembut makin mengeratkan pelukannya. Kinara hanya bisa menangis, tubuhnya yang mendadak lemah tak kuasa melakukan penolakan.


Roman akhirnya membopong tubuh lemah Kinara masuk ke dalam kamar, membaringkannya di atas ranjang bersebalahan dengan Evan yang tengah terlelap.

__ADS_1


Meringkuk masih dengan tubuh gemetar, ketakutan tengah menguasai seluruh tubuhnya.


"Aku nggak akan lakuin itu lagi, jangan takut.. tidurlah..." Roman mengusap lembut rambut hitam yang tergerai acak-acakan itu. Dia sangat tau dialah penyebab kondisi Kinara saat ini, tapi dia tak tega meninggalkannya begitu saja dalam keadaan seperti ini.


Perlahan mata Kinara terpejam lelap, Roman masih saja mengusapnya lembut. Kali ini dia makin merasa berdosa. Gadis yang dia cintai justru begitu takut dengan dirinya.


"Aku yang telah membuat kamu seperti ini, aku pasti akan menyembuhkanya," ucap Roman penuh keyakinan suatu saat bisa memenangkan hati Kinara.


Jay yang menunggu puluhan menit, akhirnya melangkah pergi dengan raut datarnya. Menutupi remuknya hati yang tak bisa dia lampiaskan dengan apapun.


Baiklah...jika kamu bahagia, aku mundur...


Kepercayaannya yang rapuh pada ketulusan Kinara sejak dulu, membuatnya begitu mudah menyimpulkan kenyataan yang belum tentu nyata adanya.


Berjalan gontai menuju apartemennya, tatapanya yang kosong membuatnya linglung tak tau arah.


"Mas mau kemana? Bukanya itu apartemen Mas?" sapa Hana yang memang tinggal di unit yang sama.


Jay terus saja melangkah tak peduli, membuat Hana makin khawatir.


"Mas mau kemana?" sembari meraih pergelangan tangan Jay. Namun Jay malah balik mencengkeram kuat pergelangan tangan Hana, membuatnya terkesiap.


"Sebaiknya Mas Jay istirahat, besok pasti beban pikiram Mas bakalan berkurang," kata Hana lagi.


"Jawab?" desak Jay.


Seketika Hana menatap ke arah wajah Jay, "tidak, cinta berlabuh sesuka hati dia mau tanpa memandang harta ataupun kasta," jawab Hana seolah mengungkapkan isi hatinya.


Jay menarik kasar pergelangan tangan Hana, "ikut aku," membawanya entah kemana.


Meski panik, Hana tetap diam mengikuti kemana jalan cerita ini. Tak di sangkanya sebuah rumah makan kecil, Jay menyeretnya.


"Temani aku makan," kata Jay.


Hana hanya tersenyum, sosok yang selalu dipandangnya begitu kaku kini layaknya anak kecil yang sedang bertingkah.


"Kamu menertawaiku?"

__ADS_1


Hana menggeleng, "enggak."


"Lalu..?"


"Nggak ada lalu lalu.." jawabnya ringan.


Tak sampai sepuluh menit, dua piring nasi dan semangkok besar SOP iga telah tersaji, lengkap dengan sambal tentunya. Tak ada menu lain, karena memang hanya itu yang tersisa.


Dengan lahap Jay menyantapnya, beberapa sendok sambal telah dia tambahkan tapi belum terasa menyengat lidahnya, mati rasa mungkin.


"Sudah kebanyakan nanti perut Mas sakit," ujar Hana mengehentikan tangan Jay.


"Makanlah!" suruh Jay.


Hanya hanya mencicipi sedikit apa yang ada di depannya, dia layaknya perempuan lain yang menjaga pola makanya agar tubuhnya tetap ideal.


"Apa nggak enak?" tanya Jay tanpa menatapnya.


"Cuma nggak biasa makan selarut ini," jawabnya sembari melihat nafsu makan Jay yang begitu luar biasa. Di balik itu, terselip tanya ada apa dengan pria itu sebenarnya. Tingkahnya aneh diluar kebiasaan.


Semua habis tanpa sisa, Jay menyandarkan tubuhnya merasakan kenyang bukan main. Getaran ponsel dari sakunya terus berteriak minta disentuh. Hanya saja dia kesusahan mengambilnya karena berada satu tempat dengan kotak cincin yang masih dia simpan.


Ditariknya paksa gawai itu membuat kotak cincin terlempar begitu saja. Mengalihkan pandangan Hana yang kemudian beranjak memungut cincin itu.


Benda cantik itu membuatnya mengerti, pria di depannya mungkin tengah patah hati.


"Ini cantik sekali Mas, beruntung perempuan yang bisa memilikinya," ucapnya sembari menunjukan cincin tersebut.


"Ambil kalau kamu mau," kata Jay tak peduli.


Hana malah meraih telapak tangan Jay dengan lembut, "ini akan semakin cantik jika melingkar di jari lentik pemilik sesungguhnya, berjuanglah. Semoga beruntung," di akhiri dengan senyum manis yang merekah menyejukkan hati.


Mendengar kalimat itu Jay menatap lekat wajah Hana, ini kali pertamanya menatap lekat gadis sekalian Kinara.


Senyum ikhlas dan wajah polosnya memberi Jay energi baru untuk bisa menata lagi hatinya. Meski dirinya tak yakin akan melangkah ke arah mana.


*****

__ADS_1


Ini mah telatnya udah kebangeten...🙏🙏🙏


Makasih buat yang masih stay tune ya...mg2 bisa balik rajin up lagi...


__ADS_2