Setangkai Layu

Setangkai Layu
Doa Evan


__ADS_3

Dengan gugup Hana melangkah cepat meninggalkan ruangan itu, membawa rasa kecewa akan sikap Jay terhadapnya. Sesekali menyeka air mata yang luruh begitu saja, menyusuri jalanan yang tak pernah sepi dari lalu-lalang kendaraan yang tiada henti bergantian melewatinya.


Tanpa dia sadari langkahnya semakin menjauh. kejadian tadi membuatnya kacau, linglung seketika. Bahkan tak menyadari sebuah kendaraan menepi.


"Kenapa kamu di sini?" tanya Angga membuka kaca jendela mobilnya. Hana pun menoleh, terdiam tanpa ekspresi menatapnya.


"Masuk!" suruh Angga.


Hana menuruti perkataan Angga, meski sebenarnya dia tak berharap bertemu seseorang yang dia kenal di saat seperti ini.


"Dari mana kamu?" selidik Angga, yang heran menemukan Hana di tempat itu.


"Ketemu Bang Jay," jawabnya jujur.


"Ada urusan apa?"


"Cuma mau ngelurusin kejadian semalem. Udah lah nggak penting juga. Nggak usah dibahas."


Angga pun terdiam, tak ingin mengorek perihal kejadian semalam yang Hana maksud. Kembali fokus dengan kemudinya, meski sesekali melirik ke arah Hana yang sikapnya terlihat aneh.


"Kamu diapain sama Jay?" pertanyaan yang membuat Hana langsung menoleh, terhenyak, dan membuat otaknya blank seketika.


"Kenapa diem?" desak Angga.


"Lu di bentak, apa cuma di diemi?" tebaknya.


Pertanyaan Angga kali ini membuatnya lega, tak seperti dugaannya. Angga tak berfikir ke arah itu.


"Ya...gitu deh.." jawabnya ogah-ogahan.


"Ya udah biarin, emang dari orok kali udah kaya itu," balas Angga.


"Dia tuh cuma bisa bersikap hangat sama___" kalimat Angga terhenti saat Hana menerima panggilan masuk dari gawainya.


"Iya Mas, aku sama Mas Angga. Bentar lagi pulang," ucap Hana dari ujung ponselnya


"Besok ayahku ada acara kecil-kecilan di rumah, kamu diminta dateng," kata Angga tanpa membahas kalimat yang terhenti tadi.


"Acara apa?"


"Besok tanggal lahir Kinara adikku. Tiap tahun ayah selalu mengingatnya, berharap segera menemukanya kembali," ucap Angga lirih.


"Apa nggak dan petunjuk sama sekali?"

__ADS_1


Angga menggeleng, "rumah yang dia tempati dulu sudah kosong setelah ayah tirinya dibunuh, kata orang sekitar. Nggak ada yang tau mereka pindah kemana," gurat-gurat sedih nampak jelas di raut wajah Angga.


"Dia pasti akan segera balik. Sabar..." Hana mengusap bahu Angga, mencoba menguatkannya.


Tak berselang lama, mobil telah terparkir di depan apartemen Hana tinggal.


"Jangan lupa besok dandan yang cantik," ujar Angga mencoba ceria.


"Ya..." jawab Hana dengan malas. Kemudian menarik handle pintu berniat keluar.


"Tunggu..!"


"Apa lagi?"


"Apa kamu menyukai pria lain?" kalimat tanya yang begitu lugas terucap dari mulut Angga.


Hana terdiam sejenak, "kenapa bahas soal itu? Kamu sendiri masih bergelayutan sama gadis-gadis lain."


"Aku nggak pernah pake hati sama mereka, nggak lebih dari sekedar mainan," balas Angga.


"Semua perempuan buat Mas Angga mungkin hanya permainan. Aku nggak mau jadi bagian itu."


"Kalo gitu besok aku pergi ke Jogja?"


"Ngapain?"


"Buat?"


"Ngelamar kamu, biar kamu yakin aku nggak main-main sama kamu," jelas Angga.


"Kalau udah di dapetin, bosen, lalu di buang. Cari lagi mainan baru yang lebih mengasyikan. Aku nggak bisa," jawab Hana.


"Apa bener cuma karena itu, kamu enggan berada dia sisiku," tanya Angga.


"Aku cuma pengin hidup biasa, aku nggak sanggup hadepin semua cewe yang selama ini bermanja- manja disisi kamu. Kalo aku terima kamu, bisa-bisa aku di ulek sama mereka semua."


"Gue bakal patahin tuh ulekannya," balas Angga diiringi tawa.


"Nggak usah bahas lagi, kita lihat saja kedepanya. Kemana jalan takdir akan membawa kita bermuara," pungkas Hana yang kemudian beringsut keluar dari mobil tersebut. Meninggalkan Angga yang terdiam penuh kekecewaan, meski tak pernah menyurutkan niatnya untuk terus mengejar Hana.


__________________________________


Terliha Roman tengah fokus memandangi foto Evan dari layar gawainya, yang membuatnya selalu rindu tak sabar ingin tinggal bersamanya selamanya.

__ADS_1


"Kapan Mas akan kasih tau ayah ibu soal Evan?" tanya Hana yang baru saja masuk, sepintas melihat foto yang tengah Roman pandangi.


"Nanti...setelah aku bisa membawanya bersama Kinara."


"Apa itu cuma bentuk rasa tanggung jawab Mas?"


"Jauh sebelum kejadian itu, aku menyimpan perasaan yang tak pernah aku sadari waktu itu. Hingga kejadian itu merusak semuanya, beberapa kali aku nyari dia, tapi nihil. Aku menginginkan dia bukan karena dia telah melahirkan anakku, aku mencintai dia," memilih jujur memang lebih baik.


"Semoga Mas bisa.." ucap Hana sembari melangkah menuju kamarnya.


Hana membanting tubuhnya di atas kasur, menghempas lelah yang mengungkung raga dan hatinya hari ini. Bayangan kejadian tadi terus menari-nari di pikirannya. Ciuman pertamanya di rampas begitu saja tanpa perasaan, tanpa degub gelora cinta yang mengiringinya. Batinnya kualitas bertanya-tanya, apa maksud Jay melakukan itu. Sampai akhirnya dia memilih memejamkan matanya, membuang jauh pikiran rumit yang terus bergentayangan mengusiknya. Berharap esok menjadi biasa.


______________________________


Matahari mengintip malu di balik awan yang mengenyahkan cerah ceria pagi. Mendukung pendudu bumi untuk asik bermanja-manja di dalam rumah, menghabiskan akhir pekan. tapi tidak untuk Hana, entah kenapa hari ini dia sangat merindukan Evan. Apalagi setelah dia tau, bahwa dia adalah keponakannya. Sesuatu yang tak pernah sedikitpun dia duga.


Suara ketukan pintu memaksa Kinara beranjak menujunya. Menghentikan keasikannya bercengkerama dengan sang anak.


"Maaf ganggu, aku kangen banget sama Evan. *** h nggak aku main sama dia," kata Hana.


Kinara terdiam sejenak, sedikit terkejut dengan kedatangan Hana yang kini dia tau adalah adik dari seseorang yang telah merampas harga dirinya.


"Masuklah, Evan di dalam," ucapnya.


"Makasih.." Hana segera melangkah masuk, menghampiri Evan.


"Apa kabar sayang, Tante kangen banget deh..," sapanya pada Evan yang sedang asik bermain.


"Baik Tante...Evan juga kangen Tante cantik. Temenin Evan main ya," pinta Evan.


"Tentu sayang..." Hana memang begitu pandai mengambil hati anak kecil, membuatnya nyaman berlama-lama bermain dengannya.


"Tante tau nggak, Evan udah ketemu sama ayah Evan. Ayah Evan tuh ganteng banget, dia juga baik banget," kata Evan di sela bermainya.


"Oooh..benarkah, Evan pasti seneng kan?"


Evan mengangguk semangat, "Iya Tante. Evan seneng banget. Evan lebih seneng lagi kalau ayah Evan tinggal bareng sama Evan," cicit bocah kecil lugu itu.


Hana terdiam sejenak, bingung untuk menjawabnya. "Evan berdoa saja, supaya ayah sama ibu Evan bersama-sama terus selamanya," ujar Hana.


"Iya Tante."


Evan tiba-tiba menengadahkan tangannya, "ya Alloh, Evan mau ayah dan ibu Evan bisa sama-sama terus di sini, buat Evan nggak kesepian lagi," diakhiri dengan mengusapkan kedua tangan ke wajahnya.

__ADS_1


"Aamiin.." Hana mengamini doa bocah kecil itu seraya mengusap gemas pucuk kepalanya.


Semoga dia kamu terkabul sayang...nanti kita ketemu sama kakek dan nenek di Jogja...batin Hana.


__ADS_2