Setangkai Layu

Setangkai Layu
Adu emosi


__ADS_3

Evan terlelap tenang di pangkuan Kinara, wajah tegang masih terukir jelas meski matanya terpejam rapat. Kejadian tadi membuat hatinya tak nyaman, meski tak menau banyak permasalahan orang dewasa itu.


Sementara Roman dengan gundah mencoba fokus dengan kemudinya, matanya berkali-kali terarah pada Kinara yang memilih diam.


"Aku lapar, bisa temani aku makan?" ujar Roman semena-mena, tak peduli keadaan.


"Aku mau pulang," jawab Kinara singkat.


"Apa karena Jay?" kalimat tanya Roman kali ini terdengar begitu dingin.


"Nggak ada kaitannya sama dia."


"Apa tidak pernah sedikitpun perasaan itu untukku?" terdengar mendesak.


"Bahkan kemeja yang tertumpahi siraman kopi waktu itu masih aku simpan, berharap ada kesempatan lagi dan lagi," mencoba mengutarakan isi hatinya yang dia biarkan terbenam dalam-dalam selama bertahun ini.


Kinara tercekat mendengar hal itu, ingatanya berlari pada kejadian yang memang sempat membuat jantungnya bergemuruh tak mampu dia kendalikan. Gemuruh yang hanya sesaat, yang pada akhirnya karam ditengah badai ujian hidup yang harus dia hadapi.


"Kenapa diam, apa kamu juga merasakan hal yang sama saat itu?" tatap Roman penuh curiga.


Kinara hanya tersenyum kecut menanggapi kecurigaan Roman, "jangan berpikir kejauhan."


"Sekarang aku cuma ingin fokus untuk Evan," tambahnya.


"Evan akan bahagia jika kita bersama, menjadi sebuah keluarga utuh yang syah. Itu yang Evan inginkan, jangan menjadi Ibu yang egois. Aku memang pernah dan bahkan masih menjadi trauma dalam hidup kamu. Beri aku kesempatan untuk membayar perbuatanku."


"Maaf, aku nggak bisa," lirih Kinara.


"Karena pengorbanan Jay selama ini, yang bahkan rela menggadaikan kebebasannya selama bertahun-tahun demi kamu, karena itu kan?"


Kinara lagi-lagi hanya menunduk, tak menyangka cecaran Roman makin menghujam relung hatinya.


"Jika saja aku yang melakukan hal itu, apa kamu juga akan memilih aku? Jujurlah pada diri kamu sendiri, bahwa sebenarnya perasaan yang kamu berikan ke Jay tak lebih dari luapan terimakasih," ucap Roman panjang lebar, makin menyudutkan Kinara.


"Cukup...jangan merasa paling mengerti hati orang lain. Lebih baik turunkan aku di sini," jawab Kinara dengan sorot matanya yang begitu tajam.


"Terserah kamu, bertindaklah sesuai nuraninya. Jangan menyiksa batinmu makin dalam," ujar Roman masih bertahan dengan keyakinannya bahwa terselip perasaan mendalam dalam hati Kinara untuknya.

__ADS_1


Kinara menggeram dalam hati, begitu kesal dengan sikap kekeh Roman yang makin membuat hatinya bimbang.


Mungkin jika tak banyak drama dalam kehidupanku, degub jantung itu akan mengantarkan ku dalam jebakan ruang rindu yang membuat ku terperangkap dalam buaian cinta yang enggan ku sapa. Hanya saja kenyataan justru menariku dari ruang penuh harap itu, membawa kita terperangkap dalam drama luka dan kebencian yang enggan mereda. Diantara kita telah tergaris untuk tidak menguntai rasa...


Heningnya suasana yang disuguhkan malam yang berangsur melarut tak membuat Jay mengizinkan lelahnya raga mengalahkan niatnya untuk menemui Kinara. Dia tetap menunggu dengan tenang, hingga langkah kaki terdengar samar. Dilihatnya dua sosok berjalan beriringan mendekat ke arahnya. Orang yang dia tunggu ternyata membuang waktunya bersama laki-laki lain.


"Mas..." lirih Kinara merasa begitu canggung dengan keadaan tersebut.


"Mana kuncinya, aku mau bawa masuk Evan," pinta Roman dengan ekspresi yang begitu dingin. Kinara menyodorkan kunci itu tanpa berucap apapun. Dia terdiam gagu di depan Jay, serasa tertangkap basah ketahuan selingkuh.


"Sejak kapan kamu menunggu di sini?" Kinara mencoba meluluhkan suasana.


"Masuklah...sudah larut, setidaknya aku melihat kamu aman," ucapnya melirik ke arah Roman, terdengar sarat sindiran.


"Maaf...," Kinara berjalan masuk, kemudian mengunci rapat pintu itu. Membiarkan dua orang tersebut mengadu emosi dengan cara mereka sendiri.


"Terimakasih untuk semua yang telah kamu lakukan pada Kinara, aku belum lama tau tentang cerita kalian. Tapi bukan berarti aku menyerah begitu saja, aku akan memperjuangkanya untuk berada di sisiku. Karena Evan lebih butuh aku dan dia bersama," tandas Roman yang membuat Jay terdiam, menyadari keadaan.


"Bukan Evan yang membutuhkan kalian bersama, kamu yang membutuhkan Evan untuk untuk bisa bersama Kinara. Yang Evan butuhkan adalah kasih sayang. Aku bisa memberinya itu, banyak bahkan mungkin lebih banyak dari pemberianmu," balas Jay yang akhirnya tak memilih menerima begitu saja keadaan.


Sedang Jay hanya menatap kepergian Roman penuh kebencian.


*****


Di sebuah club malam, lagi dan lagi minuman beralkohol menjadi pelarian bagi Anin untuk melupakan kekecewaannya pada Roman.


"Anin...?" sapa Ario yang baru saja masuk.


"Siapa lu?" pandangan Anin samar-samar.


"Lu nggak inget gue? Napa lu minum ampe mabuk kaya gini, diputusin lu ya sama si Roman?"


Anin tersenyum sinis, "ya..."


"Kenapa?"


"Dia ketemu lagi sama cewek sialan yang ngakunya punya anak darinya," jawab Anin.

__ADS_1


"Kinara? Apa mungkin Kinara yang waktu itu hamil anak Roman?" Ario bergumam sendiri mencoba menerka-nerka.


Nama Kinara membuat mata Anin membelalak seketika, "apa? Kinara?"


"Lu kenal sama dia? kejadian itu sekitar lima tahun lalu, Roman memperkosa Kinara. Gue nggak nyangka sampai bikin Kinara hamil."


Anin meraih ponselnya, mencari sesuatu di sana. "Apa ini yang kamu maksud?" menunjukan salah satu foto dari ponselnya tersebut.


"Hemmm....iya bener itu orangnya."


Anin memejamkan matanya, begitu geramnya dia pada sosok perempuan itu yang telah mengambil apa yang menjadi miliknya.


"Lagi-lagi kamu," gumamnya kesal seraya bangkit, berjalan terhuyung meninggalkan tempat itu.


"Mau kemana lu?" seru Ario yang tak digubris sama sekali olehnya.


Gue nggak akan tinggal diam, gue nggak akan biarin ja**** itu merebut cinta gue, hancurin hidup gue lagi...batinnya penuh umpatan.


Dengan gugup Anin mbuak pintu apartemennya, berharap Jay ada di sana. Dan benar sang kakak tengah berdiam di depan televisi.


"Jauhkan Kinara dari Mas Roman," ucapnya tegas. Jay hanya menoleh sepintas, seolah tak menggubrisnya.


"Bukankah Kakak cinta sama dia. Mari kita bekerja sama untuk dapetin cinta kita," ujarnya lagi.


"Gue nggak harus kerja sama sama lu," jawab Jay ringan.


"Bang..." Geram Anin.


"Gue akan dapatin Kinara dengan cara gue. Dan Roman itu urusan lu," kata Jay seraya melangkah ke dalam kamar. Dia sedikit paham bagaimana liciknya sang adik, yang mungkin setelah ini akan berusaha buat misahin dirinya dari Kinara.


"Baiklah, kalau begitu gue. Jangan salahin buat kejadian nanti," ancam Anin lirih, sangat kakak emang sulit dibujuk.


"Gue bakalan singkirin dia dengan cara gue. Dia nggak pantes bahagia degan siapapun," tekadnya begitu yakin.


****


Akhirnya bisa up lagi....makasih yang udah setia nungguin ya...🙏

__ADS_1


__ADS_2