
Indahnya senja menghantarkan sang mentari untuk kembali ke peraduannya. Mulai meredup menyimpan cahyanya. Di bawah indah rona senja sore itu pemandangan pria gagah menggendong seorang nenek renta menguras empati setiap mata yang melihat.
Hana memperhatikanya, dari sang nenek yang tersuruk-suruk menyeberangi padatnya jalanan hingga hampir saja tertunduk pengendara yang melintas.
"Nenek...nenek tidak apa-apa?" tanyanya khawatir, gurat lelah dengan peluh berlinangan di wajah renta itu membuat hatinya makin mengiba.
Sang nenek hanya menggeleng, seolah tak ada lagi daya sekedar untuk berucap. Hana mencoba memapahnya, namun tubuh sang nenek sepertinya memang sudah terlalu letih, tak mampu untuk menopang raga tuanya.
Hendak meminta bantuan, namun orang-orang yang melintas sepertinya tergesa-gesa dengan tujuannya masing-masing. Membuatnya hanya celingukan dalam bingung.
"Naiklah Nek..." tawar seorang pria yang sudah berjongkok di depan sang nenek. Menyiapkan punggungnya untuk menggendongnya.
"Bantu nenek naik ke punggungku," suruh Jay pada Hana.
"Iya..." segara Hana laksanakan, meski sedikit terkejut.
"Dimana rumah nenek?" tanya Hana pelan. Sang nenek hanya menunjuk ke arah depan. Melewati sebuah gang sempit yang hanya cukup untuk pejalan kaki.
Dengan gagahnya, Jay terus melangkah menggendong tubuh renta itu hingga sampai ke tujuan. Sebuah rumah kecil di pemukiman padat.
Melihat pemandangan tersebut membuat hati Hana merasa ada yang lain, lebih dari sekedar kata empati. Jantungnya berdegup tak beraturan saat ditatapnya wajah tegas dengan kesan kasar tapi perlakuanya begitu lembut.
Aku nggak nyangka di balik penampilannya yang sangar hatinya sungguh lembut. Seulas senyum tersungging di bibir manisnya, menatap perlakuan Jay saat menurunkan sang nenek dari gendonganya. Menuntunnya untuk beristirahat.
"Makasih Mas...udah nolongin," ucapnya sembari melangkah, menjauh dari rumah sang nenek tersebut.
"Nggak usah berterima kasih, siapapun akan melakukan hal itu," jawab Jay.
"Tapi kalau Mas Jay tadi nggak ada, aku bingung minta tolong sama siapa. Nggak bisa gendong nenek kaya tadi," balasnya tersenyum
"Kamu mau kemana?" tanya Jay.
"Aku mau pulang, kebetulan resto milik ayah ada di deket sini."
"Oo..." hanya dua huruf itu yang keluar dari mulut Jay, kemudian meneruskan langkah cepatnya. Hingga Hana tertinggal jauh di belakang.
Hiiih...cueknya minta ampun nih orang," Hana memberengut manja seraya mempercepat langkahnya.
__ADS_1
"Oya...luka yang kemarin gimana?" Sudah sembuh?" tanya Hana lagi, setelah bisa mengejarnya.
"Sudah.. bukan luka serius, sembuh sendiri. Tapi makasih obatnya," balas Jay.
"Syukurlah kalau gitu..." Hana berhenti. Sementara Jay terus saja melangkah, namun sempat menoleh saat merasa tak ada yang membuntutinya lagi.
"Kemana gadis itu?" celingukan dia mencari Hana yang sudah duduk di bangku panjang halte bis.
"Oooo..." mulutnya membuat kecil, setelah bola matanya menemukan sosok itu.
Bahkan dia nggak nyari sama sekali... hemmm....ada apa dengan ku, kenapa berharap lebih...sadar Hana... Hana memukul ringan kedua pipinya.
___________________________
"Bang...besok aku nyusul kamu, Mas Angga nyuruh kerja. Nggak enak kan diem-diem terus, dia yang udah biayai kuliah ku," isi sebuah pesan di ponsel Jay.
"Aku akan balik..." balasnya singkat, tanpa mengiyakan atau melarangnya. Membuat Anin mencebik kesal.
Esoknya yang kebetulan hari libur, Jay memutuskan kembali ke Jogja. Melihat dan memastikan sendiri kondisi sang ibu jika terpaksa Anin tinggalkan.
Menapaki jalanan yang menyimpan sedikit kenangan dengan Kinara beberapa tahun silam. Tak banyak berubah, hanya samping kanan kiri yang terlihat semakin padat oleh bangunan-bangunan baru.
Jika saja tak pernah terjadi peristiwa tersebut mungkin jalanan yang dilewatinya dan beberapa tempat lain bukanlah hanya menjadi kenangan. Karena dia yakin bisa terus berada di sisi Kinar untuk menjaga dan melindunginya.
"Bang Jay..!" sapa seorang perempuan seusia adiknya.
"Bang Jay kenapa berhenti di sini? Apa nyari Kinara?"
"Enggak...cuma berhenti saja," jawabnya tanpa ekspresi.
"Setelah kejadian itu katanya dia tinggal sama Bu Denya, ibunya kabur entah kemana. Tapi setelah ketauan dia hamil, dia pindah lagi entah kemana. Nggak pernah keliatan lagi," sedikit cerita yang Rina tau, kebetulan memang satu sekolah dulu.
"Hamil?" Jay membelalak kaget.
"Lho...Abang nggak tau ya? Dulu sempet pada mikir itu anaknya Abang loh. Tapi kata Anin nggak mungkin, dia hamil setelah Bang Jay di penjara," katanya lagi.
"Apa dia nggak cerita ke Abang? Kasian si...tapi mestinya kan dia jaga diri, jangan hianati Bang Jay gitu kan? Mending lupain aja dia Bang...masih banyak perempuan baik di luaran sana kok," cerocosnya panjang.
__ADS_1
"Makasih...saya harus balik," pamit Jay yang ngeloyor pergi. Membawa tumpukan pertanyaan lagi, yang makin mendesak untuk menemukan jawabnya.
Melihat kondisi sang Ibu yang jauh membaik membuat hatinya lega.
"Bagaimana keadaan Ibu?" tanyanya begitu melihat sang ibu duduk di teras rumahnya.
"Ibu udah sehat...kamu nggak usah khawatir. Lagi pula, Asih mau tinggal di sini. Jadi kalau Anin juga ikut ke pergi, Ibu nggak papa," kata sang Ibu.
"Ibu cuma minta sama kamu. Lupakan Kinar, lupakan semuanya. Mulailah hidupmu yang baru," pesan sang Ibu dengan air mata menggenang.
Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya Bu...dia sudah kembali hadir dalam hidup ku. Jawabnya yang hanya dalam hati.
"Ibu nggak usah banyak pikiran, yang penting Ibu sehat," jawab Jay tanpa menyanggah.
"Aku harap Abang lakukan sesuai pesen Ibu," sela Anin sinis. Membuat pertanyaan Jay tenang Kinar yang sudah di ujung lidahnya, tertahan. Urung dia tanyakan pada Anin. Yang pastinya hanya akan menambah keributan.
"Aku izinkan kamu kerja bareng Angga," ucapnya, mengalihkan pembicaraan. Anin tak terkejut dengan ucapan Jay, karena tanpa atau seizinya dia tetap berniat berangkat ke Jakarta.
___________________________________
Di tempat lain, Kinar tidak menyia-nyiakan liburnya hari ini. Membawa Evan ditemani Bu Ira keluar, menikmati cuaca cerah dengan bermain di sebuah taman yang jaraknya sedikit jauh dari rumahnya. Sedikit memberikan Evan pengalaman baru.
Dan betapa bahagianya Evan saat itu, berlarian ke sana kesini di padang rumput hijau menjajal semua wahana yang tersedia gratis di sana.
"Seandainya kamu lebih banyak punya waktu seperti ini, pasti Evan sangat bahagia," kata Bu Ira sembari memandang dari kejauhan, wajah Evan yang berseri ceria.
"Penginnya begitu Bu..," balas Kinar yang pandanganya juga pada arah yang sama.
"Carilah seseorang untukmu bersandar Kinar, jangan bertahan dengan kungkungan masa lalumu," kata Bu Kinar lirih namun sarat penekanan.
"Kalau memang waktunya tiba pasti akan terjadi Bu, nggak mungkin bisa aku elak," jawab Kinar diplomatis, tanpa sanggahan maupun persetujuan.
"Aku cari makan dulu Bu..." Kinar Bangkit beranjak mencari sesuatu yang bisa untuk mengganti asupan energi buat Evan yang seharian pasti sudah terkuras.
Evan yang berlari sedikit lebih jauh namun masih dalam jangkauan mata Bu Ira, perlahan mendekati seorang laki-laki yang sedang bermain bola dengan anak seusianya.
"Ayah...!" panggilnya lirih persis di sebelahnya.
__ADS_1
*****
Maaf ya temen-temen semua...dua hari ngilang nggak ada kabar. Sunyi sepi tanpa cerita baru...😄🙏