Setangkai Layu

Setangkai Layu
Tukar Tempat


__ADS_3

Riuh ramai, orang berdatangan sekedar singgah lalu menghilang. Hana masih berdiam menempati satu kursi diantara deretan kursi panjang di sebuah stasiun. Cukup lama menunggu hingga sosok ceria berparas cantik berlarian menghampirinya dengan ruangnya.


"Tante... " teriak Alira melambaikan tanganya saat menemukan Hana tengah asyik dengan gawainya.


Hana pun menoleh dengan tersenyum melihat keponakan tersayangnya yang sudah tumbuh remaja.


"Kangennn... " Alira bergelayut manja memeluk tantenya itu.


"Kamu bikin tante lama nunggu," keluh Hana dengan bibir mengerucut.


"Maaf deh, " tadi ada yang ketinggalan di kereta, terpaksa kan balik lagi.


"Dasar pelupa. "


"Yah kan itu nurun dari tante, " balas Alira tak mau kalah.


"Kok aku lagi si yang kena. Yuk ah jalan, tante dah pengin rebahan, " Hana menggandeng Alira keluar.


"Gimana kabar Ibu sama Ayah kamu? " tanya Hana sembari melangkah.


"Alhamdulillah sehat Tan. Kok yang di tanya yang jauh si, yang di depan mata nggak di anggap, " Alira memberengut.


"Ngapain juga nanyain kamu yang sehat bugar gitu, " Hana terkikik.


"Kan nggak tau di dalam sini sehat apa nggak, " Alira menunjuk ke arah dadanya sendiri.


"Penyakit dalam gitu maksudnya, " ledek Hana.


"Iihh... Tante... hatinya tau, " Alira makin kesal.


"Bocah aja udah main hati, " kembali Hana menggodanya.


"Tante jahat... "


Di sela percandaan mereka berdua, Hana dikejutkan dengan saat seorang perempuan paruh baya menenteng tas besar tiba-tiba menghampirinya.


"Ibu? Ibu mau kemana? " tanya Hana pada sosok yang cukup dikenalnya.


"Ibu kangen sama Anin, Ibu pengin ketemu dia, " jawab perempuan itu nelangsa.


"Ibu sendirian? Kenapa nggak sama Mas Jay, " Hana nampak cemas melihat kondisi Ibunya Jay itu seperti kurang sehat.


Namun beliau malah menangis, "Kinara, maafin Ibu ya. Kalau saja ibu restui kalian sejak dulu pasti kejadiannya nggak seperti ini. Anin nggak akan di penjara, dan Jay nggak akan sesakit ini. Jay selalu saja menyendiri, dia nggak bisa lupain kamu Nak, " rupanya yang terlihat di mata ibunya Jay adalah Kinara bukan Hana. Penglihatan dan kondisi psikisnya memang akhir-akhir ini menurun.


Ucapan tersebut sontak membuat hati Hana terasa nyeri, dulu dia begitu egois menginginkan Romantis sangat kakak bisa bersama Kinara.


"Ibu nggak usah mikirin itu, duduk dulu di sana. Biar aku temani, " ujar Hana menuntunya ke sebuah kursi. Tak memasukan ke hati ucapan tersebut. Sementara Alira hanya melongo bingung, tak tau apa-apa.


"Kita di sini dulu sambil nunggu kereta, " bujuknya dengan lembut.


"Ra, beliin teh manis ya, " pintanya pada Alira. Yang langsung Alira turuti.


"Sebentar ya bu, " jarinya dengan cepat mengetikkan sebuah pesan pada Vino.


"Tolong kabari Mas Jay, ibunya ada di stasiun. Katanya mau ke Jakarta ketemu Anin, " isi pesan tersebut yang langsung terkirim ke Vino.

__ADS_1


Vino langsung membaca pesan tersebut. Langsung menghubungi Jay, mengesampingkan deretan pertanyaan yang berjejal di kepalanya. Kenapa Hana kenal dengan semua keluarganya.


Begitu mendengar kabar tersebut, Jay bergegas menyusul ke stasiun. Tak sulit menemukan keberadaan Hana dan sang Ibu yang memang tengah duduk di dekat pintu keluar.


"Kita pulang dulu Bu, besok kita temui Anin, " bujuk Jay pada ibunya dengan sangat halus.


"Janji Ya... " jawab sangat Ibu lirih.


"Tunggu sebentar!" ucapnya lagi tiba-tiba.


"Jay, Ibu sudah merestui kamu sama Kinara. Kamu juga harus bahagia, " menatap sendu ke arah Hana dan Jay secara bergantian. kemudian menyatukan kedua tangan mereka.


Hana hanya menunduk, memendam beban rasa bersalahnya sendiri. Menyimpan raut sedihnya.


Jay menarik tanganya dengan perlahan, "kita pulang dulu, itu urusan nanti, " bujuk Jay, dia sangat memahami bagaimana perasaan Hana saat ini.


"Baiklah.. " sang ibu pun perlahan bangkit berdiri.


"Terima kasih, " ucap Jay dingin. Hana hanya mengangguk, menahan matanya yang mulai nampak menggenang.


Vino dan Alira berdiri mematung di tempat masing-masing melihat pemandangan tersebut. Pertanyaan kian berderet panjang menuntut kejelasan. Ada apa diantara mereka.


"Tante nggak papa? " cemas Alira melihat air mata Hana yang akhirnya meleleh jatuh.


"Kita pulang sekarang, " ujar Hana melangkahkan kaki.


Vino yang berdiri di depannya hanya menatap tajam, menahan rasa ingin tahu yang belum tepat waktu untuk dia gali.


*****


Malam nampak makin murung tanpa satu kerlip pun bintang berhias di atas sana. Berkawan dengan jiwa sepi yang dengan nyaman bersembunyi di balik tegarnya diri.


"Ada hubungan apa antara kamu dan Hana? " tanya Vino menajam.


"Tidak ada apa-apa, " jawab Jay tanpa menoleh sama sekali.


Vino tersenyum getir, "Hana nggak akan nangis kalo nggak ada apa-apa diantara kalian, " kata Vino.


"Gue nggak akan biarin siapapun nyakitin dia, termasuk kamu Bang, " imbuhnya dengan tegas.


Mendengar ucapan tersebut membuat Jay tersadar, teringat akan bagaimana dirinya melindungi Kinara.


"Jangan terlalu mencinta, akan sangat sakit setelahnya, " jawabnya datar.


"Sepertinya Abang sudah berpengalaman, jadi seharusnya Abang bisa merasakan apa yang Hana rasakan. Awas menyesal, karena sekali kehilangan belum tentu akan ada kesempatan kedua, " ucap Vino memperingatkan. Sepertinya dia bisa menebak hubungan seperti apa di antara mereka.


Jay termenung, Kehilangan Kinara juga berawal dari kesalahannya.


"Ingat itu Bang, aku nggak bakalan nyerah buat ngejar Hana. Kecuali Abang mencintainya tulus. Aku akan berhenti saat ini juga, " tegas Vino, tapi Jay masih terdiam. Entah apa yang di pikirannya.


Sementara di tempat lain, Hana menyeka air matanya. Beringsut dari tempat tidur, menguatkan tekad untuk menghempas jauh beban di hatinya. Memilih beranjak pergi dari masa lalu. Dan hidup dengan hati yang baru.


******


Hari baru berganti, nampak mentari tersenyum ceria menyambut pagi. Menemani hari baru dengan harapan-harapan yang baru. Hana dengan gugup menuruni anak tangga, telat kesiangan.

__ADS_1


"Tante mau kemana, gugup gitu? " tanya Alira.


"Kerja dong, masa tidur. Udah rapi gini kan, " godanya.


Alira lagi-lagi cemberut, "kali aja mau berkebun, " balasnya.


"Udah ah, kesiangan ni. Yah... Bu... aku berangkat dulu ya, " serunya berpamitan.


"Sarapan dulu! " sahut sang Ibu.


"Nanti di cafe aja bu, " jawabnya sembari memakai flat shoes nya dengan gugup.


"Ya udah ati-ati. "


"Iya Bu.. " lalu melangkah lebar keluar rumah.


"Tunggu Tan! "


"Kenapa lagi? " Hana menghela nafas kasar.


Alira menatap wajah Hana dengan seksama, "udah nggak keruh ternyata, dramanya udah usai ya Tan? " kepo aja tuh bocah kecil.


"Bocah... kepo banget si... " Hana balik badan, maju jalan.


****


Pekerjaan adalah alat yang paling tepat untuk membuatnya berpaling. Menyibukan diri sampai lupa yang namanya sakit hati. Namun disela kesibukannya itu, Mia mengetuk pintu kantornya.


"Masuk.. "


"Mbak, di luar ada yang nyariin Mbak, " Mia memberi tau.


"Siapa? Vino? " tebaknya.


"Vino yang sering ke sini itu kan mbak? kayanya bukan deh, aku baru kali ini ngelihat dia, " ujar Mia.


"Ada kepentingan apa si? "


"Nggak tau Mbak, aku tanya jawabnya cuma ada urusan sama Mbak. "


"Baiklah... sebentar lagi, tanggung.


Akhirnya Hana melangkah keluar dengan enggan, baru beberapa langkah matanya dibuat terbelalak melihat pria itu. Dia lanjut melenggang dengan percaya diri menemui pria tersebut.


" Mas Jay nyariin aku, ada apa? " tanyanya sembari duduk persis di depannya.


"Soal kemarin, aku minta maaf. Kondisi ibuku akhir-akhir ini memang kurang baik, " ucap Jay.


"Nggak usah dipikirin, aku nggak papa kok. Aku cuma ngerasa salah aja udah ikut andil misahin Mas sama Kinara. Aku yang harusnya minta maaf, " jawab Hana.


"Nggak ada yang misahin aku sama Kinara. Kita memang nggak berjodoh. Mau diperjuangkan bagaimana pun nggak akan ketemu jadi satu, " tukas Jay.


"Semua rahasia Yang di atas, kita hanya berjalan menuju titik akhirnya, " ujar Kinara.


"Oya, Mas mau pesen apa? " melihat di meja itu nggak ada satu pun hidangan.

__ADS_1


"Aku pesen makan ditemani kamu, " kata Jay membuat Hana mengernyitkan alisnya.


"Baiklah... sekali-kali nggak papa, " jawab Hana.


__ADS_2