Setangkai Layu

Setangkai Layu
Evan Milikku


__ADS_3

"Apa gara-gara aku nakal, jadi ayah dari tadi nggak bilang," Evan mulai menanyakan kediaman Roman yang tak berani berterus terang.


"Bukan sayang...justru karena ayah takut kamu marah. Ayah udah sering bikin kamu sedih," tutur Roman beralibi.


"Ayah jangan pergi lagi... Aku mau tetep sama Ayah," desis Evan seraya memeluk kembali sang ayah.


"Iya...Ayah nggak akan pergi lagi."


"Ayah nggak akan pernah bikin kamu sedih lagi...bantu ayah buat menangin hati Ibu kamu..." kalimat yang tertahan dalam hati. Tak sanggup Roman ucapkan.


______________________________


Udara pagi memang selalu membawa kesejukan, sesejuk hati Roman kali ini setelah memenangkan pengakuan sang anak. Kini begitu bersemangat, untuk segera menemui bocah kecil yang serasa ada di pelupuk matanya, setiap saat selalu membuatnya rindu. Bertekad untuk mulai memperjuangkan hatinya, yang telah dibiarkan beku sekian tahun.


Mengenakan celana berwarna hitam dengan kemeja soft blue membuat tampilannya makin terlihat fresh, menunjukan pesona seorang ayah yang gagah dan bertanggungjawab. Senyum kecil senantiasa tersungging di bibirnya, sembari bersiul sembari tetap fokus pada kemudinya. Entahlah, rindu sang anak atau ibunya sang anak.


Suara ketukan pintu terdengar kala Kinara tengah menyuapi Evan makan pagi.


"Bentar sayang, kayanya ada tamu," meletakan piring diatas meja, kemudian beranjak ke depan.


Metanya membelalak kaget saat dibuka pintu, nampak sosok yang selalu dia hindari. Hendak menutup pintu kembali, namun Roman lebih dulu menahannya. Bersamaan dengan Evan yang juga turut keluar.


"Ayah...!" dengan riangnya Evan melengkingkan panggilan itu. Yang makin membuat Kinara mendelik tak mengerti. Jantungnya berpacu melompat tak karuan, kenyataan yang sampai saat ini belum siap diterimanya sepenuhnya, terbuka dengan begitu cepat.


"Ayah udah sarapan belum?" tanya Evan yang telah berada persis sejajar dengan Roman.


"Belum sayang, Ayah tadi buru-buru ke sini. Udah kangen banget sama jagoan ayah ini," sembari mengacak gemas rambut Evan.


"Yuk Yah..."Evan menuntun Roman ke arah belakang. Sementara Kinara hanya terdiam gagu, masih belum bisa menerima itu. Kenapa Evan bisa tau, pikirnya.


"Maaf...Ibu yang kasih tahu Evan. Ibu salah..Ibu minta maaf," lirih Bu Ira. Dia baru menyadari, Kinara memang belum siap.


"Sudah lah Bu...sudah terlanjur juga," nampak Kinara kecewa, tapi dia tak mungkin marah dengan Bu Ira.


"Ibu..." panggilan Evan dari arah belakang. Kinara masih terdiam, enggan beranjak menyusulnya.


"mau tak mau, sial tak siap...kenyataan itu akhirnya akan terbuka juga. Berdamailah dengan hatimu sendiri," tutur Bu Ira mencoba menguatkan Kinara.


Kinara hanya mengangguk lemah, kemudian mengayunkam langkah menuju Evan.


"Ibu kan tadi belum makan, sekarang temani ayah makan ya," kata Evan yang dituruti oleh Kinara

__ADS_1


meski tanpa ekspresi.


"Ayah mau makan pake apa?"


"Ayah mau perkedel sama sayur labu siamnya," jawab Roman yang tatapannya terarah pada Kinara.


"Ayo Bu, ambilin buat ayah, kok Ibu diem aja. Ibu nggak seneng ayah pulang ya?" Evan merasa aman dengan sikap ibunya.


"Enggak kok, ini Ibu ambilkan buat ayah," memaksakan senyum, sembari meletakan lauk yang Roman minta ke piringnya.


"Terimakasih.." ucap Roman.


Mungkin lain waktu...suasana bisa lebih hangat, aku akan berusaha untuk itu...Kinara... tatapan Roman tak henti menatap wajah Kinara yang begitu dingin menanggapi keberadaanya.


"Ayah..." panggilan Evan pelan.


"Kata Ibu, ayah nggak pernah pulang gara-gara kerja. Nyari uang yang banyak banget. Sekarang kan ayah udah pulang. Ibu nggak usah kerja ya!" rengek Evan memelas.


Kinara yang sedari tadi hanya mengaduk-aduk isi piringnya seketika mengehentikan sendok di tangannya. Bingung mencari jawaban apa.


"Punya uang banyak pun kalau kita nggak kerja lama-lama habis dong," jawab Kinara yang sempat gelagapan.


"Jadi Ibu harus tetep kerja," tambahnya lagi masih dengan senyum yang dibuat-buat.


"Evan...Ibu punya pekerjaan yang bagus. Sayang kan kalau ditinggalin," Roman mencoba agar Evan mengerti.


"Tapi kan Evan pengin dijagain sama Ibu, pengin main sama Ibu," rengeknya manja.


"Kan sekarang udah ada Ayah, Evan bisa ikut Ayah."


"Nggak..." mendengar hal itu sontak membuat Kinara terhenyak. Spontan melarangnya.


"Maksudku...Evan nggak boleh ganggu ayah kerja," takut Evan kecewa, kemudian mempertanyakan lagi.


"Ibu boleh kerja tapi... tapi... aku mau Ayah tinggal di sini sama kita," permintaan bocah kecil yang memang sangat merindukan sosok Ayah.


Kinara yang tengah meneguk air putih, seketika tersedak.


uhuk..uhuk...


"Ibu kenapa?"

__ADS_1


"Pelan-pelan..." Roman langsung menghampirinya, menepuk-nepuk punggungnya.


"Aku__aku nggak papa," jawab Kinara masih terbatuk sembari menepis tangan Roman yang masih di punggungnya.


"Maaf..." menyadari respon Kinara yang tak nyaman dengan perlakuannya.


Waktu yang ternyata sudah cukup siang, membuat mereka bertiga bangkit. Evan melenggang dengan cerianya saat kedua tangannya digandeng oleh ayah Ibunya bersamaan. Bertengger bangga memperlihatkan pada temanya bahwa dia punya Ayah. Ayah yang sangat hebat menurutnya.


"Nanti anterin Ibu berangkat kerja ya Yah.." pintanya sebelum berpamitan masuk ke kelas. Roman pun mengangguk menyetujuinya sekedar untuk menghiburnya saja. Tak yakin Kinara akan mau diantarnya.


"Pokoknya Evan pengin lihat Ayah anterin Ibu," tegas Evan memperingatkan.


"Iya sayang...sana masuk dulu," bujuk Kinara.


Namun ternyata Evan masih berada di luar kelas saja menunggu janji ayah ibunya itu. Dengan terpaksa Kinara pun melangkah masuk ke dalam mobil Roman. Melaju pergi dengan kecepatan standard.


Roman terlihat bahagia, serasa menjadi suami yang siap sedia mengantar kemanapun sang istri pergi. Hanya saja sikap Kinara masih begitu dingin dan acuh. Tapi dia paham tak semudah itu mengobati luka yang terlanjur dalam dan menganga.


"Terimakasih sudah memberikan kesan baik sosok Ayah pada Evan," kata Roman mulai membuka obrolan. Menggerus suasana sepi di mobil itu.


"Aku hanya nggak ingin Evan kecewa jika tahu yang sebenarnya. Itu saja," balas Kinara.


"Dia sudah terbiasa hidup tanpa sosok itu, aku harap kamu nggak membuatnya ketergantungan," imbuhnya dengan ucapan menajam.


"Maksud kamu? Dia adalah anakku, aku nggak akan biarin dia hidup kekurangan apapun," Roman mulai terpantik emosi.


"Anak yang tak pernah kamu inginkan, anak yang mungkin kamu ingkari keberadaanya," balas Kinara sinis.


"Bukankah sama dengan kamu, kamu juga nggak pernah menginginkan kehadirannya bukan? Dia ada karena kita, karena kesalahanku. Dia juga milikku. Aku berhak melakukan apapun yang terbaik untuknya," Roman tak mau kalah.


"Turunkan aku di sini," pinta Kinara dengan nada menajam.


"Kenapa? Apa karena kamu ingin mengisi sosok ayah dengan laki-laku lain? Apa karena kamu ingin kembali dengan cinta lama kamu itu?" Roman tak mengindahkan permintaan Kinara.


"Tidak ada hubungannya dengan itu, jika pun iya itu bukan urusan kamu. Turunkan aku!"


"Kenapa tidak ada? Aku nggak akan pernah rela, laki-laki lain menggantikan posisiku," gertak Roman.


"Turunkan aku atau aku melompat paksa," ancam Kinara yang akhirnya dituruti Roman, yang kemudian menepikan mobilnya.


"Beri aku kesempatan untuk bisa menjadi sosok ayah yang baik untuk Evan," tutur Roman yang mencoba mengendalikan emosinya. Namun Kinara tak menjawab apapun dia beringsut keluar dari mobil begitu saja.

__ADS_1


****


akhirnya kelar juga ini part, setelah berjuang dengan kantuk. Semoga syukaaaa ya...jangan lupa banterin komen biar akunya makin semangat nerusin nih cerita...😍


__ADS_2