
"Aku pengin ngomong bentar," ujar Hana di saat Evan tak ada di dekat mereka.
"Apa bisa kamu pertimbangkan buat nerima kakakku. Demi Evan, dia akan sangat bahagia jika orang tuanya bersama. Maaf...anggaplah aku nggak punya perasaan. Beri kesempatan pada kakakku, untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang ayah," pinta Hana dengan wajah yang begitu serius.
Sulit bagi Kinara untuk menjawab permintaan itu saat itu juga. Bagaimana trauma yang masih meraja di hatinya saat melihat wajah Roman, ingatan buruk itu terus saja muncul. Membuat berat kata maaf terlontar ikhlas dari mulut dan sanubarinya.
"Maaf...aku belum bisa," jawabnya pelan.
"Demi Evan..." lirih Hana. "Dia sangat mengharapkan sosok ayah," ucapnya lagi.
"Sebelum Mas Roman muncul. Kami terbiasa seperti ini. Evan bisa menerimanya. Seterusnya pun, aku rasa dia bisa ngerti, kalau ayah dan ibunya tak harus bersama."
"Kakakku sudah bikin kehidupan kamu berantakan, sudah seharusnya dia bisa mengumpulkan serpihan yang dia hancurkan itu. Kakakku pasti bisa menyayangi kalian dengan tulus," tutur Hana masih berharap Kinara bisa menerima kehadiran Roman dalam kehidupannya.
"Kakakku juga mungkin telah merampas kisah cinta kamu. Dia harus mengembalikan semuanya," kata Hana menambahi.
"Ada Anin yang sangat mencintai Mas Roman, bukankah berdosa jika merampas pula kisah cinta mereka."
"Siapa orang itu?" tak menanggapi nama Anin, pertanyaan Hana membuat Kinara tak mengerti.
"Maksudnya?"
"Pasti ada kan orang yang dulu kamu cintai," jawab Hana.
"Sudah lama berakhir, aku nggak pantas buat dia. Dia berhak mendapatkan perempuan yang baik. Aku hanyalah perempuan yang nggak utuh. Yang hanya membebaninya," ujar Kinara.
"Oya.. bagaimana kamu dengan Pak Angga, kamu beruntung Pak Angga sangat baik, dia sepertinya juga sangat mencintai kamu."
Hana mebgheka nafas panjang, "entahlah..aku juga nggak tau."
"Kenapa? ada orang lain yang kamu sukai atau memang ada hal lain?"
"Aku juga nggak yakin soal itu,hanya tertarik atau q memang telah jatuh pada seseorang yang nggak bisa ku tebak jalan pikirnya. Seseorang yang bahkan sangat dingin," jawab Hana lirih, membayangkan wajah dan sikap Jay.
"Cinta memang pilihan. Hanya hati kita yang bisa memilih," kata Kinara.
"Kok jadi ngobrolnya tambah ngalir ngidul sih. Jadi lupa, aku udah janji sama Mas Angga mau nemenin dia belanja buat keperluan entar malem. Aku pamit dulu ya. Pamitin juga sama Evan dan Bu Ira."
"Iya.. hati-hati," Kinara mengantarnya sampai depan pintu.
_______________________________
Indahnya senja menghantar mentari ke peraduan, membuat takjub akan kuasa Sang Maha Pencipta. Menggugah semangat jiwa, tak redup meski sinar mentari perlahan menyurut. Berganti gelap yang menjadi bukti pergantian waktu.
__ADS_1
Setelah mendapat pesan dari Angga bahwa supir akan segera menjemputnya, Kinara bersiap, memoles tipis wajahnya. Juga mendandani Evan dengan pakain yang dirasanya terbaik.
"Bu, kok supirnya belum jemput-jemput si...aku kan udah kangen sama kakek," gumam Evan yang tak sabar.
"Sebentar lagi juga dateng, sabar sayang."
"Itu Bu ada yang ngetik pintu. Ayuk buruan..." rengeknya sembari menarik tangan Kinara.
"Iya sayang... bentar, pamit dulu sama nenek," ujarnya.
"Nek, Evan pergi dulu," teriak Evan dengan gugup.
"Iya sayang...hati-hati ya," sahut Bu Ira dari arah belakang.
"Ayo Bu.. kan udah pamit," Evan kembali menarik tangan sang Ibu.
"Iya..iya.."
Namun sepertinya bukan supir Angga yang datang, justru sosok lain yang membuat Kinara terkejut, tapi Evan malah sangat girang.
"Ayah..." teriaknya seraya berlari memeluk Roman.
Roman langsung menangkapnya, menghujaninya dengan ciuman pelepas rindu. "Anak ayah ganteng banget malam ini emang mau kemana?" tanyanya pura-pura nggak tau.
"Boleh...tapi bilang dulu sama Ibu kamu, ayah boleh ikut nggak."
"Boleh kan Bu..." serunya meminta persetujuan.
Kinara menunduk, bukan mengangguk namun Evan artikan sebagai tanda setuju.
"Tuh kan sama Ibu di bolehin," polosnya.
"Ya udah yuk ke mobil, buruan kita ke rumah kakek Evan" ajak Roman, namun tatapan matanya terarah pada Kinara yang masih terdiam.
Dengan terpaksa Kinara mengikuti permintaan Evan, dia melangkah pelan memilih posisi dibelakang Roman yang menuntun Evan. Dan saat mereka telah berada persis di sisi mobil Roman. Seseorang memanggilnya.
"Mba Kinara...saya disuruh Pak Angga jemput Mba," kata seseorang itu dengan sopan.
"Yuk sayang ..kita ikut mobilnya Om Angga," bujuk Kinara.
"Evan nggak mau, Evan maunya pergi sama ayah," rengeknya merajuk.
"Bilang saja sama Angga, Kinara sama Evan ikut aku," kata Roman tanpa menunggu tanggapan Kinara.
__ADS_1
Kinara pun kalah, dia terpaksa menuruti keinginan Evan. Tak ada percakapan berarti antara keduanya, hanya celotehan Evan yang membuat suasana hangat. Roman memang sepertinya sudah mampu menjadi seorang ayah yang baik.
Hingga akhirnya mobil telah berada di halaman luas kediaman Pak Ilham. Dan yang makin mengejutkan adalah kedatangan mereka bersamaan dengan kedatangan Jay.
"Om Jay...!" seru Evan memanggilnya, sosok yang memang dia kenal baik.
Betapa terkejutnya Jay saat itu, wajahnya makin terlihat kaku mendapati perempuan yang dia cintai justru bersama pria lain, ayah dari anaknya. Sebuah kenyataan yang membuatnya bisa saja mundur perlahan.
"Om Jay ikut ke sini juga?" tanya bocah kecil itu, membuatnya terpaksa menahan gemuruh kemarahannya.
"Iya, Evan sama siapa?" hanya pertanyaan basa-basi.
"Evan sama Ayah Ibu," jawab Evan dengan bangganya, makin membuat keresahan di hati Jay.
"Ya udah ayo masuk," bukanya mengikuti Jay masuk. Evan malah kembali ke belakang menuju sang Ibu yang masih terdiam dalam kecanggungan, serasa maling yang tertangkap basah.
"Ayo Bu..." ajaknya sembari menarik tangan Kinara, bersamaan pula meraih tangan Roman. Alhasil dia kini berjalan dengan ayah dan ibu yang menuntunnya di kanan kirinya.
Begitu masuk mereka telah di sambut oleh Pak Ilham yang begitu merindukan Evan.
"Katanya mau sering main...hayuhh bohongin Opa ya," ledek Pak Ilham.
"Maaf Opa, Evan kan nggak berani ke sini sendirian," jawabnya memanyunkan bibir.
"Ya udah besok-besok biar Opa yang jemput ya, nggak kuat Opa nahan rindu," mencubit hidung mancungnya.
"Sakit Opa.." rengek Evan mengaduh kesakitan.
"Iya Opa..sekarang ayah Evan udah kembali," katanya memberitahu dengan bahagia.
"Oh ya...mana coba ayah kamu, ikutan ke sini nggak?"
"Ayah..." teriak Evan pada Roman yang tengah berbincang dengan Angga.
"Iya sayang..." mendengar jawaban Roman membuat Pak Ilham terhenyak seketika. Dia tak pernah menyangkanya sama sekali.
"Itu ayah Evan, Opa," tunjuknya dengan bangga.
"Opa turut seneng akhirnya kamu ketemu sama ayah kamu," berjejal tanya yang tertahan. Ingin segera terpuaskan dengan jawaban yang gamblang. Matanya menyorot pada Roman dan Angga bergantian. Di sanalah jawab itu akan segera dia dapat.
"Evan udah dateng ya..." sapa Hana yang memecah keheningan sesaat itu. Segera menghampiri Evan mengajaknya ke taman belakang.
"Yuk..ikut Tante. Kita kelakang..." sembari menuntun tangan Evan.
__ADS_1