Setangkai Layu

Setangkai Layu
Jay siuman?


__ADS_3

Menutupi keresahan batinnya dengan senyum palsu, menjalani hari berat seolah baik-baik saja. Tapi Roman sangat paham, bagaimana perasaan Kinara yang sesungguhnya. Yang berada di sisinya saat ini hanyalah raganya, hati dan pikirannya berada di tempat lain dan untuk orang lain.


Sementara di rumah sakit Jay bergelut dengan maut seorang diri, sudah dua hari masih belum ada perubahan yang berarti. Hana begitu setia berada di sisinya, menjaganya dengan doa berharap segera datang keajaiban.


Ditatapnya dengan lekat tubuh yang terbaring lemah tak berdaya itu, air matanya luruh tanpa dia sadari. Sepahit inikah mencintai, sesakit inikah mencintai.


"Cepatlah bangun... kamu berhak merengkuh cintamu," ucapnya lirih di sisi Jay. Tiba-tiba matanya terbelalak, melihat bibir Jay mengucapkan sesuatu. Hana memperhatikan dengan seksama, kata Kinara terucap beberapa kali dari bibir Jay.


"Kinara...aku akan membawanya ke sini Mas, " ucap Hana berkaca-kaca, tetaplah Kinara yang ada di hati pria yang dicintainya itu.


"Bagaimana keadaanya?" tanya Angga yang baru saja sampai, sekeluarnya Hana dari ruangan Jay.


"Kinara, ada apa dengan adikmu itu. Apa dia akan membiarkan Jay mati seperti ini, tidakkah dia sadar seberapa pentingnya dia buat Jay, " ucapnya dengan nada meninggi.


"Aku tidak pernah bisa membayangkan bagaimana perasaan Kinara saat ini. Jangan salahkan dia, " Angga tetap membela sang adik.


"Egois, sangat egois... dia hanya melindungi hatinya sendiri, tak peduli bagaimana Jay menghadapi semua ini, " jawab Hana penuh penekanan, membungkam mulut Angga untuk kembali menjawab.


****


Kinara tengah membereskan pakaian ke dalam lemari, beberapa lembar milik Roman yang membuatnya makin sadar bahwa dia kini berstatus istri yang tak selayaknya memikirkan pria lain terlalu dalam. Lalu bagaimana dengan Jay, tak mudah mengesampingkan semua pengorbanannya di atas rasa bersalah yang semakin menyiksanya.


"Apa yang kamu lakukan di sini, kenapa kamu masih betah seperti ini? Jay mungkin saja akan putus asa nungguin kamu," Hana terlihat sangat emosi ketika sampai di kamar Kinara.


"Hana? "


"Jay nungguin kamu Kinara... " ucap Hana sarat penekanan.


"Jay akan bertahan tanpa aku," jawab Kinara menunduk.


"Iya... lalu dia putus asa dan mati begitu saja, itu yang kamu mau kan?" gertak Hana.

__ADS_1


"Dan bahkan kamu tak sempat sekedar mengucapkan kata maaf dan terimakasih," imbuh Hana menyeringai.


"Kalau aku tidak memutuskan menikah, semuanya tidak akan terjadi. Tidak akan ada yang menjadi korban, tidak akan ada yang tersakiti seperti ini. Semua ini karena salahku, salahku yang tidak peka dengan sikap Jay, salahku yang begitu cepat mengambil keputusan. Dan akhirnya membuat banyak orang tersakiti. "


"Yang Jay butuhkan adalah kamu, bukan rasa bersalah kamu. Cepatlah temui dia, " kata Hana mengakhiri pembicaraan. Dia sadar keadaan ini memang sangat sulit bukan hanya bagi Kinara, Roman sang kakak pun pasti merasakan hal yang sama.


"Bawa istrimu temui Jay, " tegasnya pada Roman yang tengah berada di balik pintu saat dua keluar. Dan sepertinya mendengar semua pembicaraan tadi.


Roman mengurungkan niatnya masuk ke dalam kamar, keberadaanya hanya semakin membuat sangat istri gamang. Yang di satu sisi ingin menjadi istri yang baik namun di sisi lain ada sebongkah beban berat menindihnya dalam tekanan.


Lama...cukup lama Kinara terdiam beku memikirkan ucapan Hana yang terus terngiang di telinganya. Terkunci dalam kegamangan yang membuatnya terus berada dalam lingkar keraguan. Menekan seluruh perasaannya karena sebuah ketakutan, ketakutan tentang banyak hal. Bagaimana jika Jay pergi selamanya atau bahkan sekalipun dia sembuh. Tapi bagaimanapun Kinara tetap berharap Jay selamat. Hingga akhirnya setelah menepikan keraguannya, Kinara beranjak bangkit.


"Aku mau temui Mas Jay, " pamitnya lirih pada sang suami yang tengah duduk memainkan gawainya sambil menemani Evan bermain.


"Aku anter, " jawabnya datar.


Kinara tak berani menyanggah perkataan suaminya itu. Roman pun kemudian, menuntun tangan sang istri setelah berpamitan dengan Evan dan Bu Ira.


Tak ada satu kata pun yang terucap selama dalam perjalanan, mereka memilih diam dengan pikirannya masing-masing. Bahkan Kinara masih saja terdiam ketika mobil telah berada di halaman parkir rumah sakit.


"Ayo kita masuk, "ajak Roman dengan lembut sembari menuntun tangannya.


Kinara menatap wajah suaminya, seolah meminta izin lagi. Roman pun mengangguk, paham akan maksudnya.


Melangkah beriringan menelusuri lorong rumah sakit. Namun tiba-tiba Kinara berhenti. Roman langsung menggenggam erat tangan istrinya itu, memberinya kekuatan bahwa semua akan baik-baik saja.


"Jangan saling membebani, aku hanya ingin akhir bahagia, " ucap Roman dalam hatinya.


Dan di ruangan itu terbaring dengan posisi sedikit miring seorang pria yang terluka parah di bagian punggungnya. Roman melepas perlahan genggaman tangannya, dengan ikhlas merelakan sang istri berada di sisi laki-laki lain.


Kinara terpaku dengan mata berkaca-kaca menatap sendu sosok itu, yang selama ini telah begitu banyak berkorban untuknya. Di genggamnya jemari yang lemah itu.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, kenapa kamu masih diam?" ucap Kinara tersedu.


"Maafkan aku... "ucapnya makin parau seraya menunduk, air matanya tak mampu dia tahan. Menetesi tangan Jay yang masih larut dalam mimpi buruknya.


Roman yang tak kuasa menahan rasa hatinya yang dia sendiri tak mengerti, memilih beranjak keluar. Membiarkan sang istri meluapkan semua perasaanya.


Begitu dia keluar, seorang perempuan paruh baya berdiri di luar seolah menunggunya.


"Dulu, demi Kinara anakku menggadaikan masa depannya. Mencari dan menunggunya sekian tahun, dan sekarang dia menggadaikan nyawanya demi perempuan yang sama, istrimu.. " ucapnya dengan terisak.


"Apa yang dia dapat, kemalangan... adilkah untuk anakku? katakan adilkah?" tangisnya pun pecah seraya mendorong lemah tubuh Roman.


"Bisakah kamu merelakan istrimu untuk Jay, " desaknya. Roman hanya diam, linikah keputusan terbaik batinnya.


"Aku mohon, beri anakku sedikit kebahagiaan, " pinta perempuan tersebut dengan memelas.


"Tante nggak usah khawatir, semuanya akan berakhir bahagia, " satu kalimat itu uang Roman ucapkan, kemudian melangkah pergi membawa beban yang seperti bongkahan batu besar menghimpit hatinya. Sesak, sakit...


Di dalam ruangan sana, setelah hampir tiga puluh menit, betapa terkejutnya Kinara mendapati jemari Jay yang bergerak. Sempat tak yakin, tapi itu memang benar. Perlahan Jay membuka matanya.


"Kamu bangun Mas? Kamu udah sadar?" Mata Kinara membeliak penuh haru.


"Aku panggil Dokter dulu, " seraya berbalik hendak melangkah keluar. Seketika itu juga terlihat gelengan kepala Jay.


Kinara mengurungkan niatnya, dia kembali berada di samping Jay. Tangan Jay mengenggamnya erat seolah menahanya pergi.


Namun Tak lama, Dokter seorang perawat masuk. Mereka pun terkejut dengan kondisi Jay saat ini. Segera mereka memeriksa semuanya, dan hasilnya memang cukup baik.


"Bersyukurlah, ini benar-benar keajaiban Tuhan, " ucap sang Dokter dengan lega.


"Apa anda Kinara?" tanya perawat itu.

__ADS_1


Kinara mengangguk, "dia sangat merindukanmu Mba, " ucap perawat tersebut tersenyum manis.


"Di jaga baik-naik ya.. " pesan perawat tersebut turut merasa bahagia.


__ADS_2