Setangkai Layu

Setangkai Layu
Celah masa lalu


__ADS_3

Seorang anak kecil terlepas dari pantauan penjaganya, berlari melintasi padatnya jalanan sore itu. Membuat teriakan klakson mobil juga motor terdengar bising, mengacaukan jalanan. Evan pun menangis ketakutan, hingga seseorang memilih menepikan mobilnya, turun menghampirinya.


Namun dari arah depan, sepeda motor melaju kencang tak mampu mengendalikan lajunya. Hanya berjarak sekian meter nyaris menabrak Evan hanya terpaku dengan tangisnya, beruntung seseorang tiba-tiba mendekap lalu membawanya ke pinggir. Hingga dia sendiri terjatuh menahan beban tubuh Evan di atasnya.


Arrghhh...jerit seorang perempuan yang melihat ngerinya kejadian itu. Kemudian segera berlari menghampirinya penuh rasa khawatir.


"Evan..kamu nggak papa sayang?" Hana langsung meraih tubuh bocah kecil itu ke dalam pelukannya. Sementara Evan masih menangis dalam takutnya, balas memeluk erat Hana.


"Maafin Tante ya, tadi Tante nggak lihat kamu lari," ucapnya sesal akan keteledorannya. Usapan lembut Hana perlahan buat Evan tenang, menyisakan isakan yang tampak sangat menyedihkan.


"Makasih Mas...udah nolongin keponakan saya," kata Hana menatap raut kesal di wajah pria tersebut. Wajah yang memang pernah dilihatnya beberapa hari yang lalu.


"Lain kali jaga baik-baik," ucapnya tandas dengan wajah dinginya.


"Tadi aku bener-bener teledor," balasnya masih menyalahkan diri. Pria itu pun bangkit tanpa melihat lengannya yang terluka.


"Lengan Mas terluka, sebaiknya diobati dulu," kata Hana melihat luka gores yang cukup lebar itu.


"Tidak perlu," jawab pria itu ngeloyor pergi begitu saja.


Bukankah dia laki-laki yang diajak ngobrol oleh Mas Roman di pesta kemarin... Hana mulai mengingat dengan jelas, menatap langkahnya yang makin jauh menghilang dari pandangan.


"Evan....kamu nggak papa sayang?" teriak Kinar menghampirinya, baru mendengar berita kejadian tersebut sekeluarnya dari sebuah toko membeli air mineral.


"Maaf Mba, tadi kakakku telepon. Evan terlepas dari tanganku, langsung lari. Aku yang teledor Mba," ucap Hana merasa bersalah.


"Evan nggak papa ini..." jawab Kinara seraya meraih tubuh Evan.


"Untung ada orang itu yang tadi nolong," tunjuk Hana ke arah Jay menghilang.


"Aku juga salah, ninggalin Evan terlalu lama tadi," Kinar memeluk hangat tubuh anaknya itu, bersyukur atas perlindungan Tuhan.


"Evan udah lelah, aku mau bawa dia balik," pamit Kinar.


"Iya Mba...Mba hati-hati. Sekali lagi aku minta maaf, tapi jangan kapok ajak Evan main sama aku lagi ya mba," pinta Hana.


"Ya enggak lah, aku malah seneng ada yang sayang banget sama Evan."


Kinar pun melangkah dengan Evan dalam gendongannya, menuju halte bis untuk segera pulang.


Dan tak berselang lama, sebuah mobil menepi menghampiri Hana.


"Kenapa pucat begitu?" wajah Hana yang menyisakan pucat dari kepanikan tadi tak luput dari penglihatan Roman.


"Tadi panik banget, anak temenku hampir ketabrak motor. Gara-gara aku teledor, dapet telepon dari Mas malah lupa lagi jagain anak kecil," kata Hana menceritakan.


"Terus gimana keadaanya?"


"Nggak papa, ada yang nolongin tadi," jawab Hana masih nampak murung.

__ADS_1


"Oya...kemarin, orang yang Mas Roman ajak bicara pas di hotel itu siapa?"


"Dia temenku, udah lama. Jay namanya. Memang kenapa?"


"Dia tadi yang nolongin Evan."


Roman mengernyitkan alisnya, "Evan...?"


"Ya..anak temenku itu namanya Evan."


"Temen kamu udah punya anak?"


"Iya..seusia dengan ku, mungkin dia nikah muda. Evan udah hampir empat tahun."


"Ooo..."


Percakapan mereka pun berhenti, Roman tak begitu tertarik dengan pembahasan tentang Evan.


_______________________


Langkah kaki Hana tergopoh-gopoh menuju gedung menjulang tinggi tempat Angga bekerja. Menenteng paper bag mini berisi obat-obat luka luar.


"Permisi Mba...di sini ada kan karyawan yang namanya Jay?" tanyanya pada resepsionis.


"Jay yang mana ya mba, setahuku nggak ada."


"Yang kemarin sama Pak Angga," Hana bingung, dia tak tau menau siapa Jay.


"Tumben kamu kemari sepagi ini, ada apa?"sela Angga tersenyum-senyum bahagia.


"Aku nyari Mas Jay, tolong kasihkan ini ke dia," Hana menyodorkan paper bag di tangannya, yakin kalau Angga mengenalnya.


"Apa ini?" raut wajah Angga berubah seketika.


"Obat..kemarin Mas Jay nolongin anak temen aku, dia terluka lumayan lebar," sedikit Hana menjelaskan.


"Kok bisa?" Angga mencoba mengulik lebih jauh.


"Ceritanya nanti aja, aku buru-buru mau ke kampus," jawab Hana melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, gugup.


"Tunggu..!" Angga menahan Hana dengan cepat.


"Mas...aku udah telat nih," rengek Hana.


"Cerita sekarang, ada apa kamu sama Jay?" desaknya.


"Nggak ada apa-apa, cuma kebetulan dia yang nolongin Evan, anak temenku itu," wajah Hana nampak kesal.


"Tak biasanya kamu begitu perhatian," penuh curiga.

__ADS_1


"Dia kan terluka gara-gara aku yang salah. Lagian kalau pun ada apa-apa, apa urusannya sama kamu?" tatapan Hana menajam, kesal dengan sikap Angga. Lalu melangkah pergi meninggalkannya yang menggeram dalam hati.


Kanapa kamu nggak ngerti juga Hana...


"Aku ke resort sekarang?" ucap Jay yang tiba-tiba muncul di tengah emosi Angga.


"Ni..obat buat lu," memberikan obat tersebut dengan kasar ke tangan Jay.


"Obat siapa?" Jay merasa heran dengan sikap bosnya itu.


"Obat dari cewe yang perhatian banget sama lu," sahut Angga sambil melenggang pergi.


Jay terdiam, mencoba mencari jawabnya sendiri. Hingga muncul ingatan gadis itu, gadis yang sama di pesta kemarin. Gadis cantik yang datang dengan Roman.


"Ooh...rupanya dia," gumamnya tersenyum.


______________________


Di tempat lain Kinar bersiap dengan pekerjaan barunya. Setelah perundinganya dengan Bu Ira, dia memutuskan menerima pekerjaan itu. Hanya saja dia tak membawa pindah Bu Ira dan Evan bersamanya. Karena Evan baru saja di daftarkan ke sebuah sekolah.


"Kamu hati-hati...jaga diri kamu baik-baik," pesan Bu Ira.


"Iya Bu...setelah pekerjaan selesai, aku langsung pulang," Kinar merasa berat meninggalkan Evan. Waktunya untuk menemaninya makin sedikit.


"Kalau kamu lelah menginap di sana saja. Toh cuma sementara. Setelah proyek selesai kamu balik lagi ke hotel," kata Bu Ira.


"Iya Bu..." Kinar mencium punggung tangan Bu Ira kemudian memeluk dan mencium Evan penuh rasa sayang.


"Sayang Ibu...jangan nakal ya. Nurut sama nenek, Ibu pulangnya malam. Tapi Ibu pasti akan sering video call, ok...?" Kinar mencoba tegar di depan anaknya, meski hatinya terasa begitu berat.


"Ibu jangan lama-lama peginya..." rengek Evan yang sebenarnya juga tak mau berpisah lama dengan sang Ibu. Namun bujukan sang nenek dengan berbagai cara membuatnya luluh.


Langkah berat Kinar membawanya ke parkiran hotel, menuju mobil yang akan membawanya ke proyek resort tempat barunya bekerja. Tanpa pernah mengira akan ke sana satu mobil dengan laki-laki itu.


"Masuklah..." ucap Roman yang telah menunggu Kinar cukup lama.


"Maaf...lama menunggu," kata Kinar.


"Nggak papa.." jawab Roman datar.


Tak ada percakapan berarti selama dalam perjalanan, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hingga akhirnya Kinar membuka obrolan.


"Hutangku...mungkin baru bisa aku cicil bulan besok," satu alasan yang membuat Kinar mengiyakan pekerjaan tersebut.


"Terserah kamu saja, aku nggak ngasih batas waktu," jawab Roman.


"Terimakasih.." percakapan yang tak sampai lima menit, Kinar kali fokus dengan layar gawainya. Menggeser-nggeser isi galeri. Memandangi potret lucu anaknya. Roman yang fokus dengan kemudinya, sempat melirik. Dilihatnya foto anak kecil tersebut.


"Siapa bocah kecil itu? Apa mungkin anaknya? Apa dia sudah menikah, atau...? kalimat-kalimat tanya itu berjejal di kepalanya. Menuntut untuk menelisik lebih jauh.

__ADS_1


Dan di lokasi proyek sana, Jay sudah sibuk dengan pekerjaannya. Mengawasi setiap aktifitas para pekerjanya, terutama bagian logistik yang rawan kecurangan.


__ADS_2