
Memilih menepi, menghindar dari kecanggungan saat harus bersitatap dengan Jay. Yang sorot matanya selalu saja dingin. Mengingat sentuhan bibir kemarin malam tak lantas membuatnya melayang, merasa itu cinta. Karena bagi Hana itu hanya sebuah pelampiasan dari amarah Jay yang telah memuncak.
"Evan mau bakar yang mana dulu? Udang, sosis apa jagung?" tunjuk Hana satu persatu, yang telah siap terpanggang di atas panasnya bara.
"Evan mau udang sama sosis Tante," Evan mengambil dua pilihan tersebut, meletakkannya sendiri di atas pemanggang.
"Awas panas..ati-ati loh.."
"Iya Tante."
Yang lain pun menyusul, membenamkan sesaat permasalahan yang terselip di benak masing-masing. Saatnya bersenang-senang.
Kinara yang telah bergabung dengan Hana dan Evan, dengan telaten mengolesi ikan dan udang bakar dengan bumbu agar meresap. Sementara Roman berada di sebelahnya mengibit-ngibit dengan kipas kecil sembari lirikannya berkali-kali tertuju pada Kinara.
"Aku boleh ambil yang itu? Udah mateng kan?"
"Ya.." jawab Kinara singkat.
"Bisa tolong ambilin, tanganku nggak nyampe," ujarnya beralasan.
"Ini.."
"Makasih.."
Sembari mencicipi udang bakar yang baru saja matang, tatapan Roman semakin lekat ke arah Kinara. Membuat suasana makin canggung, nampak sekali Kinara tak nyaman, sadar akan tatapan tersebut.
Hana yang juga sadar sang kakak tengah menarik perhatian Kinara memaksanya segera beranjak. Tak mau membuat suasana makin aneh.
"Aku ke sana dulu ya, bantuin si Mbok nyiapin yang lain," alasan yang cukup tepat.
Memang benar Hana menuju dapur, lagi-lagi dia harus berpapasan dengan Jay. Mata mereka saling bertemu, terlalu kikuk bagi Hana dalam situasi demikian.
"Maaf untuk yang kemarin, aku terlalu emosi," tutur Jay menyadari tindakannya salah.
"Anggap aja nggak pernah terjadi, aku juga salah," Hana masih tak berani menatap Jay lebih lama.
Hana segera melenggang ke arah dapur. Sementara Jay yang melihat kehangatan ayah, ibu dan anak itu terpaku sesaat. Terlalu sesak nafasnya melihat pemandangan itu, Evan sangat nyaman berada di sisi Roman. Hal yang belum bisa dia dapatkan.
Hingga akhirnya dia mencoba menghibur diri bergabung dengan Angga dan Pak Ilham. Walau sebebarnya posisinya saat ini berada dalam satu deret yang sama dengan Kinara dan Roman.
__ADS_1
Melihat sikap dan raut wajah Jay, Angga bisa mengerti ada kecemburuan di sana.
"Sabar bro...itu PR buat lu, buat knagin hati Evan," ujar Angga sedikit menenangkannya. Jay hanya tersenyum masam menanggapinya.
"Evan...mana Tante Hana, kok ngilang sih," seru Angga pada Evan, mengalihkan perhatian Evan yang sejak tadi asyik bercanda dengan Roman.
"Kesana Om," tunjuknya ke arah perginya Hana.
"Oo...sini dong main sama Om, asyik banget di situ aja," katanya.
"Yuk main petak umpet, ajak Tante Hana!"
"Mau Om...," Evan begitu antusias dengan iming-iming Angga.
"Kita panggil Tante Hana di belakang," seraya menuntun bocah kecil tersebut.
Kini di taman tersebut tinggal diam berempat termasuk Pak Ilham.
"Om kelihatanya cape, istirahat aja. Biar aku yang siapin," ujar Jay mendapati wajah lelah Pak Ilham.
"Sebenarnya cuma kepanasan, nggak biasa aja panggang-panggang kaya gini. Ya udah kamu beresin semuanya ya," tutur Pak Ilham, kemudian beranjak istirahat ke dalam.
Suasana makin terasa canggung, udara yang tersedia tak terhingga tak bisa dihirup dengan baik oleh Kinara. Dadanya terhimpit sesak harus berada di satu tempat dengan dua orang yang menerima dampak besar di hidupnya.
"Sebegitu dalamnya perasaan kamu ke dia, aku salah telah merampas kebahagiaan kalian. Kinara, bisakah kamu menatapku seperti kamu menatapnya," batin Angga meratapi perasaanya yang hanya sepihak.
Tiga piring menu seafood bakar telah siap ditata dalam piring cantik, yang pastinya bakal menggugah selera. Tak lama Si Mbok pun muncul dengan menu lain.
"Udah mateng semua ya Den?" tanyanya pada Roman.
"Udah Mbok, tinggal di tata aja," jawab Roman.
"Biar aku bantu ya Mbok," sela Kinara.
"Iya Mba Kin," balasnya tersenyum sumringah, tugasnya berkurang juga.
"Wah...Mas Jay pinter masak juga ternyata, ini kelihatanya enak banget," takjub Simbok pada kemampuan Jay.
Akhirnya semua telah tertata rapi di meja, beberapa menu pelengkap yang pasti nggak kalah nikmatnya siap tersantap hingga ludes tak tersisa.
__ADS_1
Terdengar tawa riang dari halaman depan, Kinara segera menujunya. Terlihat Angga dan Hana tertawa-tawa bermain dengan Evan. Begitu pula dengan Evan. Dia berlarian kesana-kemari sangat bahagia. Tak ketinggalan juga Pak Ilham yang memilih duduk, bibirnya sekali tersungging. Dia sangat bahagia dengan suasana hangat saat itu.
Jika saja, dia adalah cucu kandungku. Lengkap sudah hidup ini...ucapnya dalam hati, miris saat mengingat anak gadisnya yang belum diketahui keberadaanya hingga saat ini.
"Om...makan malamnya udah siap," ucap Kinara dengan lembut.
"Iya Nak...suruh mereka juga makan dulu. Kita makan bareng."
"Iya Om," jawab Kinara seraya memanggil mereka.
Mereka semua telah duduk berkumpul dalam satu meja. Roman pastinya memilih duduk di sebelah Evan dan Kinara di sebelahnya lagi, persis berhadapan dengan Jay.
"Om seneng banget, hari ini kita bisa ngumpul kaya gini. Semoga secepatnya anak Om yang saat ini entah dimana keberadaanya bisa segera kembali, berkumpul d Ngan kita seperti ini. Dimana pun dia berada semoga selalu dilindungi, dan hidup dengan bahagia," tutur Pak Ilham mbuka acara tersebut.
"Aamiin..." kata itu diucapkan kompak berbarengan.
"Iya Om..semoga Mba Kinaranya Om cepet kembali. Aku pasti akan daftar jadi temenya," ujar Hana tersenyum.
"Siapa juga yang mau temenan sama lu Han..galak gitu," sela Angga.
"Hiiih..galak dari mana coba. Masa aku di bilang galak si Om," adunya pada Pak Ilham.
"Galak tapi kamu kejar terus," vmcibir Pak Ilham pada Angga.
"Iya lah, aku kejar ampe tanduknya ilang tuh, biar nggak galak lagi."
"Apaan Si.."
"Udah nggak usah ribut kalian, yuk makan dulu," ajak Pak Ilham.
Masing-masing piring kosong dihadapan mereka terisi penuh, Jay menikmati makanan itu. Labuh tepatnya berpura-pura menikmatinya, menghibur diri dari pandangan yang membuat hatinya terbakar panas.
Tapi tidak untuk Kinara, selain memikirkan Jay terselip kegundahan yang membuat jantungnya berdegup kencang tiap kali mendengar nama Kinara disebut. Sebenarnya apa hubunganya, pertanyaan yang mungkin sulit terjawab.
"Evan..entar pulangnya sama Om Jay ya, Om mau pinjem ayah kamu bentaran. Ada kerajaan mendadak," ujar Angga.
"Yahhh...padahal aku pengin balik sama ayah," gumamnya manja, merasa kecewa.
"Iya sayang...lain kali kita pergi bareng lagi, ayah harus kerja dulu," kata Roman meski dalam hati bertanya-tanya apa benar-benar ada pekerjaan atau sekedar alasan Angga.
__ADS_1
*****
Maaf buat semuanya ya...masih belum bisa up normal...semoga tetep ngikutin ampe habis teka tersisa ..😂😅