
Menatap langit-langit plafon kamarnya, kejadian tadi terus tertayang di atas sana. Satu sisi Hana merasa senang setidaknya ada waktu seakrab itu dengan pria kaku yang telah membuat jantungnya dag dig dug melompat-lompat sejak lama, tapi di sisi lain terselip kekecewaan mengetahui sedalam itu perasaan Jay untuk perempuan lain.
"Perasaan yang salah meski pada orang yang tepat," batin Hana tersenyum getir. Bertanya-tanya perempuan mana yang begitu beruntung sanggup memenangkan hati pria dingin itu.
Belum usai meratapi nasib perasaannya, ponselnya berkelip-kelip terus memanggil. Ada nama Angga di sana.
"Ya..ada apa?" tanyanya cuek.
"Aku di luar sekarang, keluarlah..." pinta Angga terdengar mendesak.
"Ini sudah jam berapa, aku ngantuk.." Hana mencoba beralasan.
"Aku tunggu kamu sampai keluar," kekeh Angga.
"Dasar keras kepala," gumam Hana sembari mematikan panggilan tersebut. Beringsut menurunkan kakinya dengan malas beranjak keluar.
"Aku lapar... bikinkan sesuatu," kata Angga menyerobot masuk ke dalam tanpa basa-basi.
Hana mengerutkan kedua alisnya, "kenapa semua orang mendadak lapar batinnya."
"Kalo lapar kan masih banyak cafe yang buka, ngapain malah ke sini. Aku nggak ada makanan," gumam Hana mendengus kesal.
"Ya udah makan kamu aja," dengan tatapan nakalnya.
"Apaan si...pulang gih sana, abangku pulang marah entar dia," usir Hana.
"Temenin aku makan dulu!"
"Aku nggak laper."
"Lihat saja..."
"Nggak ada makanan juga."
"Mi instan?"
Hana berpikir sejenak, "habis makan kamu langsung pulang!"
"Ya..."
Hanya sekitar sepuluh menit, Hana telah kembali dengan semangkuk mie rebus dengan kebulan uap panas di atasnya.
Dalam sekejap Angga menghabiskan mi itu tanpa sisa. "terimakasih untuk malam ini," ucap Angga.
"Besok, besok lagi ataupun besoknya lagi jangan menemani makan laki-laki lain. Aku tidak suka," ujar Angga dengan raut wajah yang nampak beda.
Hana tercekat dengan pernyataan itu, "sudah malem pulanglah," jawabnya dingin.
"Kamu begitu nggak betah berada di sisiku. Apa kamu suka sama dia?"
__ADS_1
Hana membelalak, "maksud kamu?"
"Nggak ada, lupakan saja," Angga memilih bangkit ketimbang membahas masalah itu. Lebih karena dia tidak mau mengetahui kenyataan yang akan membuatnya kecewa.
"Perasaan itu datang tanpa bisa kita arahkan pada siapa. Walau mungkin pada akhirnya arah itu akan berubah karena suatu keadaan," lirih Hana.
"Lalu apakah arah itu akan tertuju padaku?" sambung Angga.
"Jalani saja apa yang ada," balas Hana.
"Sampai kapan?"
Hana hanya menggeleng tanpa satu katapun. Berkali-kali menggantung perasaan Angga.
"Jangan terlalu lama menunggu laki-laki yang hanya membuang waktumu," ucap Angga sembari melangkah keluar dari pintu. Kenyataan bahwa perempuan yang sangat dia dambakan justru memikirkan pria lain membuat hatinya serasa teriris, ngilu.
******
Waktu berjalan terasa lamban, penuh harap sekaligus kejutan. Penuh tebak sekaligus jawaban, meski tak sedikit menggiring kekecewaan, penyesalan dan sekelumit permasalahan.
Hampir satu Minggu ini Kinara pasrah menunggu kabar dari Jay yang tiba-tiba menghilang. Nomor ponselnya tak bisa dihubungi sama sekali. Yang nampak hanya halusinasi, melihat bayangan semu sosoknya.
Memang pilihan Jay menghilang, mencoba meredam rasa kecewanya. Berharap perasaanya perlahan terkikis, ketimbang harus menunggu waktu hanya untuk merelakanya bersama orang lain. Entahlah pikirannya begitu sempit kali ini.
Namun waktu masih memihak mereka untuk saling menyapa. Melebur rindu yang terpendam di relung masing-masing.
"Pekerjaanku sedang banyak," jawab Jay menutupi rasa gugupnya.
"Syukurlah jika hanya karena itu, aku lega melihat kamu baik-baik saja."
"Aku harus pergi sekarang, lain kali mungkin bisa ketemu lagi," pamit Jay sambil berlalu.
"Mungkin?" lirih Kinara berkata pada dirinya sendiri. Kata mungkin membuatnya berpikir keras. Suatu ketidak pastian yang dijanjikan, yang tersirat pada kata itu.
Matanya berkaca-kaca memandangi langkah Jay yang semakin menjauh. Entah keberanian dari mana dua justru berlari mengejarnya.
"Kenapa? Katakan kenapa?" seru Kinara yang masih menahan air matanya.
Jay pun menoleh, "kita bicarakan nanti," ucapnya datar membuat Kinara tak mampu berkata apapun lagi. Hanya air mata yang perlahan menitik tak sanggup dibendungnya lagi. Meski telah mencoba sekuat hati menahannya.
"Ada apa?" tanya Angga mengejutkan, muncul tiba-tiba di belakangnya.
"Eng...enggak..nggak papa," jawabnya tergagap.
"Sepertinya kalian ada masalah?"
Kinara memaksakan senyumnya, "hidup memang lebih masalah kan?" jawabnya getir.
"Kinara...aku minta maaf," penataan itu muncul tiba-tiba dari mulut Angga buat Kinara tak mengerti.
__ADS_1
"Untuk apa?" tatapnya bingung.
"Enggak, cuma rasanya aku punya salah besar sama kamu," jawab Angga merasa bukan waktu yang tepat untuk membuka kebenaran itu saat ini
"Bapak ini aneh," balas Kinara.
"Ayahku kangen sama Evan, akhir pekan kamu bisa kan bawa ke rumah?"
"Iya Pak, aku usahakan. Kalau begitu aku masuk duluan," pamit Kinara yang melenggang masuk.
Lelah batin dan raganya seharian ini membuatnya nampak lesu, berkali-kali membuka gawainya berharap ada pesan spesial masuk di sana. Nyatanya kosong. Sampai akhirnya Kinara melepas harapannya, memilih mengalihkan pikirannya ketimbang menguras hati.
Getaran dari gawainya membuat Kinara tersenyum, itu Jay tebaknya.
"Apa kamu lembur? Jam segini belum keluar?" suara tak asing tapi bukan yang dia harapkan.
"Iya, mungkin masih agak lama," jawab Kinara enggan.
"Aku tunggu di sini."
"Nggak usah.."
"Terserah kamu," jawab Roman kesal.
Kinara menghela nafas kasar, menyandarkan tubuhnya di dinding kokoh ruangan tempatnya berada. Dia sadar, Roman sebenarnya laki-laki yang baik. Namun bukan berarti dia bisa dengan mudah bersamanya, ada trauma yang terus menyiksanya.
Lima belas menit Kinara berdiam menunggu, akhirnya memutuskan beranjak keluar. Roman sudah pergi pikirnya. Melangkah lesu menuju ojek online yang telah di pesan sebelumnya.
"Nggak jadi lembur?" suara itu membuat Kinara terkejut bukan main.
"Ke..ke..keoanoa masih di sini?" rautnya nampak tegang.
"Masih ada urusan."
"Ya sudah, aku duluan," pamit Kinara gugup pergi.
"Tunggu!" Roman mencekal pergelangan tangan Kinara dengan erat.
"Sampai kapan kamu akan terus menghindar seperti ini? Apa aku tidak layak untuk di maafkan? Apa aku tidak pantas menjadi seorang ayah yang baik?" tanya Roman penuh tekanan.
"Apa tidak bisa kamu sedikit saja membuka hatimu, bukan hanya demi aku tapi demi anak kita," imbuh Roman.
"Aku harus pulang sekarang," Kinara berusaha melepaskan tangannya.
"Karena trauma atau karena kamu memutuskan untuk memilih laki-laki lain? Ya..., seharusnya aku mengerti, jika aku tak pernah hadir di hidupmu tentu kamu sudah bahagia bersamanya," roman tersenyum getir.
"Aku mau pulang sekarang, tolong lepaskan!" pinta Kinara yang seperti ling lung.
Bukanya melepaskan, Roman malah semakin menarik tubuhnya. Kedua telapak tangannya dengan cepat menelungkup wajah Kinara. Kemudian dengan paksa mengecup bibir yang bukan haknya. Kinara berusaha mendorong tubuh Roman, terlalu kuat di banding tenaganya.Sampai akhirnya terlepas, dan saat dia menoleh, sosok Jay entah sejak kapan berdiri di sana. Lalu berbalik melangkah meninggalkanya, salah paham.
__ADS_1