
Ribuan bintang berkelip riang, namun tak satu pun menyapa. Mendiamkan perempuan yang terpaku dalam pilu, menatap diri yang mempertanyakan nasib. Tidakkah ada bahagia untuknya? Hingga sentuhan lembut sang ibu membuatnya bergeming, menggeser resahnya.
"Langit begitu cerah malam ini, bintang-bintang saling menyapa dan bercanda bahagia. Tidakkah kamu ingin seperti salah satu diantara mereka?Kamu berhak bahagia Kinara," kata Bu Ira menatap ke atas jauh sana.
"Mungkin, suatu saat," jawab Kinara lirih penuh ragu.
"Kenapa harus suatu saat, bahagia itu nggak perlu kamu cari jauh-jauh. Bahagia itu ada di sini, di tempat terdekat, ada di hati," ujar Bu Ira sembari menepuk pelan dadanya sendiri.
"Kalahkan diri kamu sendiri! Evan butuh itu, Evan butuh hak sebagai seorang anak. lambat laun dia akan mengerti tentang statusnya yang berbeda dari yang lain. Dia yang paling tersakiti jika kamu bertahan dengan ego kamu. Pikirkanlah baik-baik sebelum semuanya terjadi, ambillah keputusan yang tepat Kinara," imbuh Bu Ira panjang lebar.
Kinara hanya terdiam, mencerna setiap kata yang Bu Ira ucapkan. Haruskah dia belajar membuka hati untuk Roman, lalu Jay...? batinnya gamang.
Aku butuh kejelasan tentang kita, bukan bayangan samar seperti ini, mencoba mengumpulkan tekad demi suatu kepastian.
******
Pagi itu, meski mendung menggulung cerahnya mentari, tak meredupkan niat Kinara menemui Jay. Dia berhak tau, bahkan harus tau apa sebenernya maksud Jay mendiamkannya. Beberapa pesan yang dia kirimkan tak pernah tercentang biru, dihubungi berkali-kali pun hanya sia-sia.
Menembus rintik gerimis yang menderas, Kinara berlarian menuju proyek tempat Jay bekerja. Namun nihil, dia tak berada di sana. Dingin makin menusuk tulang dengan baju basah kuyupnya, tak urung juga menghentikan langkahnya mendatangi beberapa tempat yang sering Jay singgahi.Tak ada hasil juga. Hingga akhirnya dia putuskan menuju apartemen Anin, meski dengan konsekuensi harus menghadapi perlakuan yang bisa ditebak seberapa kasarnya.
Beberapa kali dia ketuk pintu hingga akhirnya seseorang membukanya. Sungguh mengejutkan, sosok perempuan yang di hadapannya sekarang adalah perempuan yang kemarin dia lihat bersama Jay.
"Ngapain lu hujan-hujan gini ke sini?" tanya perempuan itu ketus.
"Aku mau ketemu Mas Jay," jawabnya singkat.
Perempuan itu lantas membuka pintu lebar-lebar, "dia ada di dalam masih tertidur, apa perlu aku membangunkannya? Tapi sepertinya dia masih kelelahan," ujar Renata dengan ekspresi penuh makna.
"Nggak perlu, bilang saja kalau aku datang mencarinya," jawab Kinara dengan muka memerah, menahan genangan air matanya. Setelah netranya melihat sebuah kenyataan penuh simpulan yang tak pasti.
Segera dia beranjak meninggalkan tempat itu, membawa prasangka yang menyayat hatinya. Berjalan gontai dengan sisa asa yang dia punya.
*****
"Dia tadi ke sini, nyari kamu," ucap Renata saat melihat Jay telah terbangun.
__ADS_1
"Sepertinya dia sangat kecewa," imbuhnya lagi dengan sinis.
Jay tidak bergeming, hanya tatapannya yang tajam seketika mengarah pada Renata.
Renata sangat paham akan reaksi mantan kekasihnya itu, "ooh...sepertinya kamu yang lebih kecewa. Belum jauh kalau mau ngejar dia," ucapnya meledek.
Jay beranjak dari ranjangnya, menatap rintik hujan dari balik jendela kaca. Pilihan yang sulit, semuanya menyakitkan. Tapi dia rasa inilah yang terbaik, karena setidaknya ada Roman yang akan menjaganya. Bukan membawanya menjadi pesakitan di balik jeruji besi.
Di tempat lain, Kinara bersembunyi di balik selimut menikmati sakit hati juga raganya. Biasanya menggigil, sementara suhu tubuhnya semakin panas.
"Kamu sakit Kinara? badan kamu panas banget," Bu Ira begitu kaget mendapati sang anak terbaring lemas dengan wajah memucat.
Namun Kinara malah menggeleng, "cuma kehujanan," jawabnya lirih mencoba menenangkan.
Meski mendengar itu tak lantas Bu Ira berdiam, segera dia beranjak mengambil obat.
"Minum ini!" satu tablet obat berwarna putih juga segala air putih telah ada di tangannya. Kinara pun perlahan bangkit, menerima obat tersebut lalu memasukkannya ke dalam mulut.
"Istirahatlah!" ucap Bu Ira yang begitu khawatir.
"Ayah lama banget sih, Evan nggak mau telat," rengek bocah kecil itu.
"Maaf tadi ayah kesiangan, jadi kena macet," jawab Roman.
"Mestinya Ayah tinggal di sini saja, biar nggak telat lagi. Biar bisa juga jaga Ibu kalo sakit," ucapnya dengan polos.
"Ibu kamu sakit?" wajah penuh kecemasan seketika tergambar di sana.
"Iya, Kinara demam dari kemarin," jawab Bu Ira menyela.
Mendengar itu, Roman langsung beranjak menuju kamar Kinara. Dilihatnya perempuan yang sangat dia cintai terbaring dengan mata terpejam. Roman duduk di tepi ranjang, menyentuh dahi Kinara dengan lembut.
Kinara membuka matanya, "aku nggak papa," seraya menghindari sentuhan tangan itu.
"Seberapa lama kamu menghindar, selama itu aku juga akan bersabar. Selama kamu nggak bahagia, aku nggak akan lepasin kamu. Jangan paksa aku menyingkir, karena percuma itu nggak akan merubah tekadku," ujar Roman yang kemudian menggenggam lembut tangan Kinara. Kali ini Kinara membiarkannya. Ketulusan memang terpancar begitu nyata dari mata Roman.
__ADS_1
"Evan biar Ibu yang anter, titip Kinara ya," seru Bu Ira dari balik pintu. Sepertinya beliau memang tengah memberi kesempatan dua insan itu lebih lama bersama.
"Baik Bu," jawab Roman dengan senyum mengembang.
"Beri aku kesempatan untuk sekedar mengetuk pintu hati kamu dengan sopan. Tak mengapa jika pada akhirnya kamu tidak membiarkanku masuk, cukup membuka lalu menyapa itu sudah cukup," ucap Roman yang penuh pengharapan.
Dan kali ini Kinara mengangguk, mungkin dia telah memilih berdamai dengan dirinya sendiri. Mencoba menyingkirkan bayangan duri-duri tajam yang selama ini selalu dia takuti.
"Terimakasih," ucap Roman penuh haru. Ini kali pertamanya dia merasa begitu dekat dengan Kinara.
"Pulanglah, aku udah nggak papa," tiba-tiba Kinara merasa gugup.
"Aku bakal pulang, setelah lihat kamu makan. Ibu dari anakku harus sehat," meraih semangkuk bubur yang telah Bu Ira letakkan di atas nakas.
Kinara segera bangkit, kemudian menerima mangkuk itu, "aku bisa makan sendiri," ucapnya enteng.
Roman kembali tersenyum, harapan baru kembali membumbung. Takan lagi melewatkan kesempatan yang susah payah dia dapatkan kembali.
*****
Pagi ini, cerahnya mentari pagi menemani wajah-wajah berseri penuh asa baru. Kinara yang mulai berdamai pasrah dengan keadaan, Roman yang menemukan harapan baru, juga Evan yang terlihat paling ceria melihat senyuman sang Ayah dan Ibu. Berada dalam satu mobil menuju tempat Evan sekolah.
"Ayah titip Ibu ya, Evan nggak mau Ibu sakit lagi," bisik Evan di telinga sang ayah.
"Siap...Ayah pasti jagain Ibu," jawab Roman yang berbisik pula.
"Kalian ini main rahasiaan apa coba sama Ibu?" ujar Kinara penasaran.
"Ada deh..." jawab Evan sembari berlalu pergi, setelah berpamitan dan mencium punggung tangan ayah ibunya bergantian.
Senyum merekah tersungging dari bibir Roman, "ayo masuk, nanti kamu telat," suruhnya pada Kinara.
Meski tak ada percakapan yang berarti selama perjalanan, kali ini Roman terlihat bahagia, setidaknya tak ada lagi raut kebencian yang tersuguh di wajah cantik itu.
****
__ADS_1
Hallo temen2 semua, apa kabar nih? maafin othor yang masih timbul tenggelam lanjutin cerita ini yah. Kesibukan dunia nyata mengalihkan perhatian othor dari bang Jay...🙏🙏😘