Setangkai Layu

Setangkai Layu
Bertahan atau lepaskan


__ADS_3

Berdiam memandangi kerlip pemandangan lampu kota, merenung diantara pekatnya malam, menyendiri di lantai atas bangunan setengah jadi tempatnya mengabdi diri. Bahkan suara langkah kaki tak membuatnya menoleh.


"Gue nggak akan hancurin untuk kedua kali apa yang telah lu perjuangkan selama ini," ucap Angga yang kali ini membuat Jay menoleh, menatap penuh pertanyaan.


"Kedua kali?" tanya Jay penuh penekanan.


"Perempuan yang telah lu jaga dan lindungi selama ini dia adalah adik kandung gue, adik yang telah gue rampas kebahagiaanya. Membuatnya menderita sekian lama.


Jay makin membulatkan kedua bola matanya, menuntut penjelasan lebih.


"Roman melakukan semua itu, karena ulahku," meski tak secara jelas Angga menceritakanya, sepertinya Jay sudah cukup paham. Kedua tangannya mengepal, batinnya menggeram marah.


"Lu boleh pukul gue sepuasnya," kata Angga.


"Apapun tidak akan pernah mengembalikan keadaan. Penderitaan Kinara nggak bakal bisa kalian tebus dengan apapun," ucap Jay menajam.


"Gue tahu itu, apa yang harus gue lakukan saat ini?" tanya Angga dengan mata memerah.


"Kembalikan kebahagiaannya," singkat Jay.


Angga mengangguk, dengan air mata yang perlahan menetes. Penyesalan membuat hatinya remuk redam.


"Terimakasih buat semua yang telah lu lakuin buat adik gue," ucap Angga yang tak diindahkan oleh Jay, melenggang pergi begitu saja. Meninggalkan Angga yang masih mengutuki perbuatanya di masa lalu.


*****


Jay mengayunkan langkahnya menuju kamar Evan, batinnya bergejolak membayangkan betapa kecewanya Kinara jika mengetahui kakak kandungnya terlibat dalam kejadian itu. Mungkin dia akan makin terluka.


Dibukanya pintu kamar perlahan, terlihat Roman tengah mengusap lembut wajah Kinara yang tengah terlelap menunduk di sisi Evan. Jay menutup kembali pintu tersebut, memilih melihat dari balik kaca kecil pintu tersebut. Roman kemudian perlahan mengangkat tubuh Kinara memindahkanya ke sofa, membaringkannya dengan lembut bahkan menyelimutinya.


Ketulusan terpancar jelas dari wajah Roman, menyelipkan rasa cemburu yang harus Jay tekan dalam-dalam. Entahlah, ada kegamangan yang menusuk batinnya.


"Apa bisa kita bicara sebentar," ucap Hana yang tiba-tiba sudah berada dibelakangnya. Seolah paham kenapa Jay memilih hanya berdiri diam.


Jay menoleh, beranjak mengikuti langkah Hana.


"Perlahan Kinara akan bisa menerima ketulusan kakakku, berilah jalan untuk mereka bersama. Aku tahu permintaanku pasti sangat berat," ujar Hana datar namun mendalam.


"Kebahagiaan bukan tentang apa yang kita lihat, tapi apa yang kita rasa," jawab Jay dengan jelas, tanpa membuang waktu untuk berdiri lebih lama di depan orang yang terus memaksanya kembali mengubur perasaannya. Meski kenyataanya dia bimbang.


Hana pun terdiam, demi sang kakak atau justru demi dirinya sendiri dia bersikap seperti itu. Mungkinkah dia masih mengharapkan Jay. Betapa ti

__ADS_1


egois dirinya, batinnya menyalahkan diri.


******


Tak terdengar suara Kokok ayam, ataupun kicauan burung yang bersenandung riang di pagi ini. Kinara terpejam dengan lelapnya semalaman. Tak menyadari semalaman Roman yang berada di sisinya, menjaganya yang terlelap.


Kinara mulai mengerjap-ngerjapkan matanya, matanya kemudian berkeliling menyapu ruangan hingga terhenti pada sosok yang tengah telaten menyuapi Evan.


"Ibu udah bangun," ujar Evan menoleh pada Kinara.


"Maafin Ibu, Ibu ketiduran," jawab Kinara terbata merasa bersalah.


"Kan ada Ayah yang jagain Evan, biar Ibu bisa istirahat."


Kinara tersenyum, beranjak masuk ke kamar mandi membasuh mukanya.


"Sekarang Ibu yang suapi ya, ayah kan mau kerja," bujuk Kinara.


Evan mengangguk, "tapi Evan minta satu lagi" ucapnya seraya meraih tangan keduanya kemudian menyatukannya. "Evan mau sama ayah dan ibu selamanya," lirihnya penuh harap.


Gelagapan Kinara menjawabnya, perlahan menarik tangannya dari genggaman Roman. "Ayah dan Ibu akan ada untuk Evan selamanya," kalimat itu akhirnya terucap penuh ketenangan meski batinnya berkata lain. "Ayah dan Ibu akan selalu ada buat kamu, meski tak harus bersama."


"Ayah pergi dulu, ada urusan mendadak. Ayah segera jemput Evan setelah Dokter izinkan Evan pulang," pamit Roman sembari mengusap lembut puncak kepala bocah kecil itu.


"Iya Ayah.." Evan pun mengerti, kemudian menyalami sang ayah dan mencium punggung tangannya.


"Ayah pergi sekarang," Evan pun tersenyum.


"Jangan lupa makan, aku udah beli sarapan buat kamu. Aku pergi dulu," beralih pada Kinara.


Kinara pun mengangguk, "terimakasih," ucapnya terdengar terlalu resmi.


"Ibu, kenapa Ibu nggak nyalamin Ayah," protes Evan yang sontak membuat keduanya canggung.


"Hati-hati," dengan gugup Kinara menyalami Roman yang kemudian juga mencium punggung tanganya seperti yang Evan lakukan. Evan terlihat sangat bahagia melihat pemandangan tersebut.


Sementara Roman berharap dalam hatinya, jika ini nyata bukan kepuraan semata.


****


Hari itu pun Dokter memperbolehkan Evan pulang. Roman yang dihubungi langsung oleh Evan segara kembali ke rumah sakit mengurus semua administrasinya lalu mengantarkan Evan kembali k rumahnya.

__ADS_1


Celotehan riang memenuhi suasana selama perjalanan pulang. Evan terlihat sangat bahagia, beranda gurou dengan sang ayah. Sementara Kinara lebih banyak diam, sekedar menyunggingkan senyum saat Evan mulai berceloteh lagi.


Tak seberapa lama, Roman menepikan mobilnya mereka sudah sampai. Membopong tubuh Evan yang telah tertidur, sementara Kinara menenteng semua barang bawaan yang lain.


"Biar aku yang bawa," pinta Roman meraih tas besar yang terlihat berat.


"Nggak usah, Evan juga sudah berat," namun Roman tetap mengambilnya.


Sementara di dalam rumah sana, Bu Ira telah merapikan kamar Kinara. Bersiap menunggu kepulangan sang cucu.


"Syukurlah, Evan bisa pulang secepatnya," ucapnya saat mereka bertiga sampai.


"Iya Bu, sekarang kondisi Evan sudah mulai membaik," jawab Kinara.


"Kelihatanya nyenyak banget tidurnya, langsung dibawa ke kamar saja," Bu Ira melangkah lebih dulu, menunjukan kamar yang dia maksud.


"Saking senangnya mau pulang, Evan nggak mau tidur siang tadi. Baru sekarang dia mau tidur," kata Roman setelah membaringkan tubuh Evan.


"Terimakasih banyak Nak Roman," ucap Bu Ira.


"Kenapa Ibu berterimakasih, ini tugasku, aku ayahnya," jawab Roman tersenyum.


Bu Ira pun balas tersenyum, "Ibu siapin makanannya dulu, kalian pasti lelah juga lapar," ujar Bu Ira.


"Biar aku bantu Bu," sela Kinara.


"Nggak usah, kamu temenin Roman aja. Ibu cuma tinggal nata aja kok," tolak Bu Ira.


Ruangan rapi yang sebenarnya terlihat cukup nyaman itu berubah pengap bagi Kinara saat harus berbagi udara dengan Roman.


"Apa boleh aku minta satu hal sama kamu," tanya Roman membuka pembicaraan.


"Ya.." jawab Kinara lirih tanpa ekspresi.


"Demi anak kita, berpura-puralah bahagia saat berada di sisiku," pinta Roman penuh harap.


"Setidaknya sampai dia bisa menerima kenyataan," imbuh Roman.


Kinara pun mengangguk, "maaf..." hanya itu yang terucap dari mulutnya.


"Meski aku tak pernah berhenti berharap, jika takdir akan menyatukan kita bertiga untuk bersama selamanya," ucap Roman penuh perasaan yang kemudian melangkah keluar dari kamar itu. Dia sadar Kinara tidak nyaman berada bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2