Setangkai Layu

Setangkai Layu
Ingin Kamu


__ADS_3

Tumpukan berkas yang terbengkalai hampir dua minggu kebelakang menuntutnya kerja ekstra meneliti satu persatu. Membuatnya lupa waktu, hari telah larut. Ditengoknya jam di pergelangan tangannya, jarum pendek berada di angka sebelas. Waktu yang beresiko untuk seorang perempuan berada di luaran seorang diri ketika keluar cafe nanti.


Ditutupnya berkas terakhir, lalu disambarnya sling bag yang tersampir di kursi kerja. Berderap dengan gugup menyusuri seluruh ruangan menuju pintu keluar. Sementara mata dan jemarinya fokus pada gawai memesan ojeg online yang mungkin msih ada yang berkeliaran sekitar area tersebut.


Setelah mengunci pintu, pandangan Hana menyapu sekitar, sepi. Hanya beberapa kendaraan yang melintas dengan cepat. Dilihatnya kembali aplikasi dari gawainya. Belum ada yang merespon. Dia pun memutuskan menuju minimarket terdekat. Namun bulu kuduknya terasa merinding, jantungnya dag dig dug berdebar takut seperti ada yang mengikutinya. Dengan ragu dia menoleh ke belakang, tak ada siapa pun. Kembali Hana melanjutkan langkahnya, makin gugup.


Diantara rasa takut yang mendera, seseorang meraih tanganya, menahan langkahnya. Sontak dengan sekuat tenaga Hana mencoba lepas dari cengkeraman tangan tersebut, namun tak berhasil.


"Lepaskan aku... " jeritnya sembari membalikkan badan, tangan lainya siap melayangkan satu tamparan ke arah wajah orang tersebut.


Dan betapa terkejutnya saat sosok itu terlihat dengan jelas, "Mas Angga... " terperangah kaget.


"Makin hebat sekarang, " Angga tersenyum.


Hana memberengut kesal, "keterlaluan... " ucapnya dengan tatapan tajam, lalu melangkah membiarkan Angga begitu saja.


"Sorry.. sorry.. aku nggak maksud buat bikin kamu takut. Hana... " Angga berhasil meraih tangan Hana kembali.


"Setahun nggak ada kabar, ada apa Mas ke sini? " jawabnya dengan ketus.


"Ternyata ada yang rindu, " Angga tersenyum puas.


"Iya rindu... rindu pengin nabok, " balas Hana.


"Aku juga rindu, sangat rindu, " tatapan Angga begitu dalam.


"Udah malem, yuk balik, " ajak Hana, mengalihkan pembicaraan.


"Aku anterin, " kata Angga.


Hana mengangguk, dan berjalan mengikuti Angga.


Tanpa mereka sadari, Jay melihat pemandangan tersebut dari awal sampai akhir. Wajahnya berubah keruh menyadari Hana begitu bahagia saat bersama Angga.


*****


Meski hari berganti, tak lantas membuat suasana hati Jay berubah. Masih semrawut kacau, masih saja uring-uringan kesal sendiri. Hana dan kejadian semalam selalu saja muncul mengusik pikirannya, membuatnya tak fokus dengan pekerjaan.


Dengan gugup dia melangkah keluar dengan kunci mobil di tangannya. Hanya butuh tiga puluh menit untuk sampai di cafe Hana.


"Aku mau ketemu dengan Hana, " ucapnya datar pada salah seorang pagawai.


"Sebentar Pak, " jawab pegawai tersebut lalu melangkah ke arah belakang.


Lima menit kemudian pegawai itu kembali, "maaf Pak, Mba Hananya lagi meeting. Sekitar lima belas menit lagi baru selesai, " ucapnya mengabarkan.


"Baik, aku akan tunggu di sini, " jawabnya dengan tegas.


Dua puluh menit kemudian, mulur lima menit Hana keluar.


"Mas Jay, ada apa? " sapanya.

__ADS_1


Entah kenapa tingkah Jay terlihat gugup, "ummm... ini aku bawakan desain cafe baru kamu. Sesuai detail yang kamu inginkan kemarin.


Hana menerima gulungan kertas itu, lalu membukanya. Memilih duduk persis di sebelah Jay, mengamati desain tersebut.


" Iya.. bener, ini udah sesuai dengan yang aku pengin, " jaga Hana.


"Oalah meja masih kosong, Mas mau minum apa? "


"Espresso saja, " jawabnya.


"Sebentar ya.. Boim," panggilnya pada salah seorang karyawan.


"Jangan... " larang Jay tiba-tiba.


"Kenapa? Mas Jay mau ganti menu? "


"Aku mau espresso seduhan tangan kamu, " permintaan yang membuat Hana mengerutkan dahinya.


"Aku nggak pinter bikin kopi, " Hana ragu.


"Tapi aku mau itu, kamu yang bikin, " kekeh Jay.


"Baiklah... sebentar, " Hana melangkah ke belakang.


Tatapan Hana yang dulu, sikap gugupnya yang dulu, tak lagi Jay rasakan. Sikapnya sekarang seolah tak ada lagi perasaan spesial di hatinya terhadap Jay. Itu membuat Jay resah.


"Ini... tapi maaf kalau nggak enak, " segelas espresso Hana suguhkan untuk Jay.


"Sama-sama Mas, " balasnya tersenyum begitu manis.


"Pas, aku suka, " kata Jay.


"Syukurlah... "


"Lain kali jangan pulang terlalu malam, " ucapnya mengingatkan. Membuat mata Hana membelalak, dari mana dia tau, tanyanya dalam hati.


"Iya Mas.. aku masuk dulu, " pamitnya kembali ruangannya.


Hampir berbarengan dengan Hana yang masuk ke ruangannya, Angga masuk ke cafe tersebut. Langkahnya tertuju pada tempat dimana Jay duduk dengan secangkir kopinya.


"Rupanya kamu di sini, " ucapnya sembari menarik kursi lalu duduk di depan Jay.


"Aku ada urusan dengan Hana, " jawab Jay datar.


"Aku juga ada urusan dengan Hana, urusan rindu, " kalimat itu terdengar penuh makna. Yang membuat Jay hanya menatapnya tajam tanpa ekspresi.


"Aku tidak bisa hidup tanpa dia, sudah ku putuskan untuk memperjuangkannya kembali. Sesulit apa pun, " terang Angga.


"Bukankah kamu sama sekali tidak tertarik dengannya? " pertanyaan Angga membuat Jay tersudut. Haruskah dia melepaskan kembali cinta yang bahkan belum dimulai.


"Bagaimana kalau aku juga tertarik padanya? " kalimat itu akhirnya terucap juga, mengakui perasaannya.

__ADS_1


"Jangan jadikan dia pelarian atau bahan percobaan, maka mari kita bersaing secara sehat, " tantang Angga.


Jay tercekat mendengar tantangan Angga, apakah saat ini perasaanya pada kinara telah benar-benar punah. Entahlah dia sendiri tak yakin. Tapi menyadari sikap Hana yang berubah juga membuatnya kecewa, benarkah dia mulai mencintai Hana atau sekedar rasa cemburu karena tersisihkan.


"Kenapa diam, kamu nggak yakin sama perasaan kamu sendiri? " desak Angga.


"Aku hanya tak ingin Hana hanya kamu jadikan bayangan Kinara saja, " imbuh Angga.


"Jika tak yakin, jangan dekati dia lagi, " pungkas Angga yang kemudian bangkit, meninggalkan Jay yang masih tenggelam dalam kegamangannya.


****


Seminggu telah berlalu, Jay sama sekali tak menemui Hana atau bahkan sekedar menghubungi nya. Merenungi isi hatinya sendiri, karena benar apa kata Angga. Akan sangat melukai Hana, jika hanya dijadikan pelampiasan.


Namun selama masa itu, dua benar-benar tersiksa. Terkungkung dalam resah yang membuat setiap waktunya terasa sangat lama dan membosankan. Sampai akhirnya dia tidak bisa menahannya lagi, berlari serampangan menemui Hana.


Sialnya setibanya di sana justru di suguhi pemandangan yang membuat otaknya mendidih. Hana nampak begitu bahagia bersenda gurau dengan seseorang yang pastinya laki-laki. Tanpa pikir panjang, Jay menghampiri mereka.


"Ada yang ingin aku bicarakan, " ucapnya dingin, dengan tatapan tajam. Tanpa basa-basi.


"Ada apa Mas? " tanya Hana yang terkejut dengan kedatangan Jay.


Jay menarik pergelangan tangan Hana, menyeretnya keluar.


"Hei Bang, lepasin tangan Hana, " sergah pria yang tengah bersama Hana itu.


"Aku ada urusan dengannya bukan dengan kamu, " tegas Jay.


"Memang ada apa Mas, kita bisa bicarakan di sini, " selamat Hana.


"Mas...! " Hana nampak sangat kesal, Jay tak menggubris ucapannya.


Jay menyeret Hana masuk ke dalam mobilnya.


"Apa sebenarnya yang mau Mas bicarakan? " tanya Hana menajam.


"Siapa pria tadi? " balas Jay tak kalah tajam.


"Siapa dia nggak ada urusannya sama kamu, " jawab Hana dengan ketus, sembari memegangi pergelangan tangannya yang terasa sakit.


"Aku nggak suka liat kamu sama pria lain, " ucap Jay lagi.


Hana tersenyum getir, "Kenapa mesti nggak suka, kita nggak hubungan apa-apa? "


Jay terdiam, memang sejauh ini tak ada hubungan apapun.


"Turunkan aku di sini! aku harus kerja, " pinta Hana. Namun Jay tetap melajukan mobilnya dengan cepat.


"Kamu mau bawa aku kemana? Aku bilang turun!" kali ini Hana sudah tak tahan dengan sikap Jay.


Menuruti kemauan Hana, Jay menginjak pedal rem dengan kuatnya.

__ADS_1


Dengan kesal Hana membuka pintu di sisi kirinya, tapi Jay lagi-lagi menarik tangannya, dibawanya tubuh Hana ke pelukannya. Diikuti satu ciuman agresif yang membuat Hana tersentak, mencoba meronta namun sia-sia. Ciuman yang berlangsung beberapa menit, hingga Hana hampir kehabisan oksigen.


__ADS_2