Setangkai Layu

Setangkai Layu
Fakta Baru


__ADS_3

Getar ponsel Kinara sejak sore terus memanggil untuk segera diusap, sayangnya dia terlalu sibuk hingga mengabaikannya. Padahal Bu Ira saat itu tengah panik tidak terkira mendapati Evan yang demam, lewat empat puluh derajat.


Baru ketika berada dalam bis, Kinar merogoh tasnya. Di usap layar pipih tersebut, emapt belas panggilan tak terjawab, ada nama Ibu juga Hana tertera di sana. Puluhan chat masuk pun, menunggu untuk segera di buka.


"*Kinar...kamu dimana...Evan sakit..."


"Demam...panas banget..."


"Evan masuk rumah sakit, dia terus saja nyari kamu. Buruan pulang*..."


Dan masih banyak lagi pesan yang lain, tak dilanjtkan lagi oleh Kinar. Kepanikan sekaligus kecemasan menggerayangi hati dan pikirannya. Merasa sangat bodoh mengabaikan gawainya, hingga kabar darurat terlewatkan ya begitu saja. Sembari menyambungkan panggilan pada kontak sang Ibu.


"Bagaimana keadaan Evan Bu...maaf.." air matanya meluncur dengan ringannya.


"Evan udah mendingan, kamu buruan kesini saja. Nanti ibu kirim alamatnya," jawab Bu Ira.


"Iya Bu...aku langsung ke rumah sakit," Kinar menyeka air matanya. Turun di halte bis terdekat, memesan kegiatan online untuk segera menuju alamat rumah sakit yang Bu Ira kirimkan.


Evan kini tengah terbaring lemah, dengan mata terpejam lelap. Mungkin efek obat yang diberikan dokter tadi. Suhu tubuhnya sedikit menurun tak sepanas beberapa jam tadi. Meredakan kepanikan yang melanda Bu Ira juga Hana, yang sedari tadi penuh ketegangan. Kini mereka sedikit merasa lega.


"Maaf Bu.., kalau boleh saya tanya, dimana ayahnya Evan?" dengan gamang, Hana memberanikan untuk menanyakan hal tersebut.


Bu Ira terdiam sejenak, ada keraguan yang nampak jelas untuk menjawabnya. Menarik nafas panjang, selalu sedang menghempas ragu tesebut.


"Ibu nggak pernah tau, dimana laki-laki itu. Seperti apa wajahnya pun Ibu nggak tau. Begitu juga dengan Kinar," jawab Bu Ira dengan berat.


Hana menautkan kedua alisnya, tak mengerti kondisi tersebut, "maksudnya Bu?" mencoba menelisik lebih jauh.


"Kinar korban perkosaan, laki-laki itu menghilang. Tanpa memikirkan akibat buruk dari perbuatan bejatnya," Bu Ira terlihat penuh emosi mengatakanya.


"Maaf Bu...aku nggak bermaksud membuka luka lama itu," Hana merasa sangat prihatin dengan kemalangan yang menimpa Kinar. Gadis yang seharusnya menikmati masa remajanya dengan indah.Harus menanggung beban seberat itu.


"Mimpi-mimpinya akhirnya karam begitu saja. Tapi setelah kelahiran Evan, dia lebih bersemangat. Raut cerianya mulai menghias wajah cantiknya," kata Bu Ira menitikkan air mata.


Namun pembicaraan mereka terhenti, saat terlihat Kinar berlari tergopoh-gopoh mendekat ke arah mereka.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Evan Bu?" tanyanya panik, dengan nafas masih ngos-ngosan.


"Dia sedang tidur, tadi sudah ditangani Dokter. Panasnya sudah mulai turun," jawab Bu Ira.


Kinar segera masuk, meghampiri Evan yang tengah terbaring lemah di atas brankar.


"Maafin Ibu ya nak, Ibu lalai Ibu nggak bisa jagain kamu. Bahkan nggak bisa berada di sisi kamu saa kamu butuh Ibu. Ibu bukan ibu yang baik..." ucapnya lirih diiringi Isak tangis sembari menggenggam lembut tangan Evan.


Bu Ira pun mendekat, mengusap lembut bahunya. Mencoba menguatkannya, "jangan salahkan diri kamu sendiri, meski Evan masih kecil. Dia sudah paham keadaan kita, dia tau ibunya sibuk kerja. Yang penting Evan cepet sehat."


"Maaf ya Bu...selama ini aku selalu merepotkan Ibu."


"Jangan bilang begitu," Bu Ira memeluk hangat Kinar yang masih tenggelam dalam kesedihannya.


Sementara Hana menatap penuh iba, air matanya turut lirih dalam suasana sendu tersebut.


"Aku nggak bisa bayangin, jika itu terjadi sama aku...aku mungkin nggak bisa setengah dia. Semoga laki-laki itu mendapatkan balasan setimpal, dan kamu kebahagiaan pasti akan datang Kinara..." ucapnya dalam hati.


____________________________


Evan pun pulang dengan ceria. Karena dia tak betah berlama-lama di ruangan bernuansa putih dengan aroma obat tersebut. Dan hari-hari berikutnya kondisi tumbuhnya makin pulih, nafsu makannya pun juga sudah kembali. Mengikis wajah pucat pasi, menjadi tuna merah penuh ceria. Tepat seminggu, akhirnya Kinar siap untuk kembali dengan rutinitas kerjanya.


"Anak ibu sayang...Ibu kerja dulu ya. Evan nggak boleh nakal, baik-baik sama nenek," pamit Kinar yang du bala dengan anggukan yang dibarengi senyum tipis wajah tampan pria kecil itu.


"Tapi Ibu jangan pulang kemalaman," syaratnya.


"Iya Ibu janji...Ibu akan pulang cepat," seraya mendaratkan pelukan dan ciuman hangat pada bocah kecil itu. Evan pun melepaskan kepergian ibunya dengan bahagia. Bujukan dan rayuan sang nenek memang selalu membuatnya luluh, menurut.


_____________________________


Langkah Kinar mulai menapaki lokasi proyek, tumpukan material bangunan, alat berat dan para pekerja yang lalu lalang sudah menjadi pemandangan khas di sana.


"Maaf...aku baru bisa berangkat," katanya saat masuki ruang kerja Roman, terlihat dia sedang sibuk dengan pekerjaannya.


"Bahasa kondisi anakmu, sudah sehat?"

__ADS_1


"Iya.., sudah lebih baik," jawab Kinar singkat.


"Aku lapar, tolong bikinin makanan?" jatuh Roman yang memang sedari tadi tak sempat mencari sarapan pagi, dan ini sudah lebih jam delapan.


"Sebentar.." Kinar membuka lemari pendingin. Hanya ada beberapa Frozen food dan daging ayam yang dia simpan di freezer. Segera diambilnya daging ayam tersebut ke dapur. Siap maracik bumbu yang anggun Mash lengkap tersimpan di sana.


Dan kurang dari satu jam, makanan sudah siap. Sepiring rendang ayam dengan tampilan dan aroma yang memggugah selera tersaji menggoda.


"Sudah siap Pak..tapi maaf cuma ada ini di kulkas," katanya.


"Nggak papa, itu sudah cukup," Roman yang mang sudah lapar segera meraih piring dengan kehilangan nasi panas, mengambil tiga potong rendang ayam tersebut. Dan langsung memasukannya ke mulutnya.


"Enak...dia bisa masak juga rupanya," gumamnya lirih.


Belum habis nasi yang ada di piringnya, Jay pun muncul dengan beberapa lembar berkas di tangannya. Dilihatnya Roman yang tengah menikmati sarapannya. Piring yang masih menyisakan dua potong rendang ayam kini menjadi perhatiannya. Masakan yang memang selalu dia rindukan, yang diolah oleh gadis yang dicintainya.


"Kalau mau makan, ini masih ada," tawar Roman.


"Aku sudah sarapan," jawabnya singkat.


"Sudah selesai Pak?" tanya Kinar yang baru muncul dari arah dalam. Melangkah membereskan sisi piring kotor, bekas makan Roman. Mata Jay manayapntajam ke arahnya membuat Kinar gelagapan, canggung setelah menyadarinya.


"Iya sudah, terimakasih..masakanmu enak," jawab Roman yang kemudian bangkit keluar.emjnggalkan dua orang itu.


"Tunggu..." Jay menahan tangan Kinar yang melangkah balik ke belakang.


"Apa tidak ada yang ingin kamu bicarakan dengan ku?" tanya Jay menajam.


"Soal apa?" dengan suara lirih Kinar malah balik bertanya.


"Pernikahanmu, suamimu, dan kehidupanmu," jawab Jay.


Kinar terdiam sejenak, mencari-cari jawaban yang pas, "suamiku kerja di luar kota, kehidupan kami cukup bahagia," bohongnya, menahan air mata untuk tak menggenang apalagi menetes.


"Setelah Mas menemukan perempuan yang tepat, Mas juga akan merasakan kebahagiaan itu," ucap Kinar menambahi, seraya mengayunkan langkahnya ke arah belakang. Meninggalkan Jay yang masih menatapnya penuh rasa curiga, tak yakin dengan jawaban Kinar.

__ADS_1


__ADS_2