Setangkai Layu

Setangkai Layu
Cobaan berat 2


__ADS_3

"Jagoan Om udah sehat?" sapa Jay dengan seulas senyum yang makin membuatnya terlihat tampan.


Evan menyunggingkan bibirnya, "Om Jay..Sehat dong Om," jawabnya masih dengan suara serak.


"Harus sehat biar bisa jaga Ibu, Evan kan pernah bilang gitu," kata Jay.


Evan menganggukan kepalanya, "Iya Om, Evan pasti cepet sehat."


"Kamu sarapan dulu biar Evan sama aku," ujar Jay menyodorkan bungkusan berisi nasi kotak untuk Kinara tangah duduk di sisi Evan.


"Aku belum lapar," kejadian malam tadi membuat nafsu makannya lenyap.


"Tapi kamu harus makan, kasian Evan kalau kamu juga sakit," paksa Jay.


Terpaksa Kinara pun mengambil bungkusan itu, "iya, aku makan," melangkah menuju sofa kecil di sudut ruangan itu.


Tak lama Roman kembali, suasana berubah kaku. Ketiga orang dewasa dalam ruangan itu memilih berbicara dalam hati masing-masing. Hanya Evan yang tak terpengaruh, dia belum sepeka itu mengerti urusan dan perasaan orang di sekelilingnya.


"Evan juga harus makan, biar cepet sehat," Roman melirik ke arah Kinara.


"Ayah yang suapin ya, biarin ibu sarapan juga," ucapnya lagi seraya mengambil nampan berisi jatah makan pagi Evan.


Sementara Jay memilih duduk di sisi Kinara. Rasa cemburu menyelinap melihat kedekatan ayah dan anak tersebut.


"Ayah..aku nggak papa sakit terus asal ayah sama ibu bisa bareng-bareng kaya sekarang," celetukan Evan membuat seisi ruangan tersentak. Apalagi Jay yang hatinya serasa dihujam peluru bertubi-tubi.


"Evan nggak boleh bilang gitu, Evan harus sehat. Ayah pasti selalu di sisi Evan," jawab Roman mencoba tenang, berusaha menyembunyikan keterkejutannya.


"Ayah janji? pokoknya Evan mau sama ayah ibu terus," rengekan Evan membuat Roman menunduk dalam kebimbangan. Dia benar-benar bahagia Evan bisa menerimanya, tapi bagaimana dengan perasaan Kinara yang tak juga mau membuka hati untuknya.


Sementara di sudut sana, raut wajah Jay terlihat begitu muram. Nampak kesedihan yang rasanya tak pantas dia luapkan. Bangkit beranjak meninggalkan ruangan itu adalah pilihannya, ketimbang bertahan untuk melihat keadaan yang makin membuatnya teriris. Kinara yang paham betul akan perasaan Jay, meninggalkan kotak nasi yang baru dia buka, bangkit menyusul Jay keluar.


"Perutku rasanya kurang enak, aku mau sarapan bubur saja," ucapan Kinara membuat Jay menoleh.


"Biar aku yang carikan, kamu masuk saja. Kasian Evan," jawabnya dingin.


"Lalu gimana sama aku," mata Kinara mulai memerah panas.


"Roman ayah yang baik. Dia bisa membahagiakan Evan juga kamu. Dia punya banyak yang aku tidak punya, kamu dan Evan akan lebih bahagia dengan dia ketimbang denganku."


Kinara menunduk, mencoba menyembunyikan tangisnya. "Apa hanya sampai di sini perjuanganmu Mas. Maaf jika membuat kamu lelah selama ini," Kinara berbalik gugup sembari menyeka air matanya yang tak mampu dia tahan lagi.

__ADS_1


Jay dengan cepat menahan pergelangan tangannya, menarik ke dalam pelukannya, "sampai kapanpun aku nggak akan pernah lelah, tapi haruskah kita menjadi orang dewasa yang egois? Mengorbankan kan apapun demi kebahagiaan kita?"


"Evan akan sangat bahagia jika suatu saat dia tahu ada dua ayah yang sangat menyayanginya," nukan karena egois Kinara bertahan untuk Jay. Begitu besar pengorbanan Jay selama ini yang tak mungkin dikesampingkan begitu saja. Hanya hati dan perasaanya lah yang bisa dia berikan untuknya. Rasanya tak adil jika diberikan pada orang lain, Roman sekalipun.


Dari sudut lain, sepasang mata terbelalak melihat kedekatan pasangan itu. Matanya terlihat memerah, mendorong buliran bening menitik, mengalir di pipinya.


"Jadi gadis itu adalah Kinara. Kenapa serumit ini...?" ucap Hana dalam hati menangisi keadaan. Jika saja bisa bertukar tempat, pikirnya.


"Hana...kok malah berhenti di sini, ngelamun lagi. Ada apa?" Cilla menepuk punggung Hana, membuatnya terkejut.


"Ohh...nggak kok Mba," jawabnya gugup, buru-buru menyeka air matanya.


"Kamu nangis?"


"Tadi kelilipan, makanya aku berhenti," dalihnya.


"Ya udah, yuk ke kamar Evan!"


"Iya Mba, Mas Agam mana?"


"Lagi nerima telepon tadi di belakang. Nanti nyusul dia."


Kakak beradik itu berjalan beriringan, menyusul langkah Kinara yang lebih dulu masuk.


"Kamu pasti Kinara, kenalin aku Cilla kakaknya Roman," sapa Cilla memecah raut bingung Kinara.


"Oo..masuk Mba," jawab Kinara lirih.


"Makasih," Cila segera menuju Evan, gak sabar melihat keponakannya itu.


"Halo sayang... udah sembuh?" sapa Cilla dengan ceria.


Evan hanya memutar bola matanya, bingung dengan siapa yang menyapanya.


"Evan, ini Bude Cila. Kakaknya ayah," ujar Roman memperkenalkan.


"Bude?"


"Iya sayang, panggil Bude ya. Maaf Bude baru bisa kunjungin kamu," Cila mengusap lembut kepala Evan, melihatnya membuat ingatanya kembali pada masa kecilnya sendiri.


Hana pun mendekat, memeluk hangat keponakanya itu. Menghujaninya dengan ciuman penuh kasih sayang. "Tante nggak tahan kalau lihat kamu sakit," ucapnya.

__ADS_1


"Evan udah sembuh kok Tante, Bude," Evan terlihat begitu bahagia merasakan kasih sayang dari banyak orang sekarang. Apalagi ditambah dengan kedatangan Agam yang juga langsung memeluknya.


Roman menoleh, menatap Kinara yang hanya menunduk diam. Tatapan penuh keyakinan, jika dirinya bisa membuatnya bahagia.


Suasana hangat penuh canda tawa di ruangan itu benar-benar mampu menghibur Evan. Dia terlihat lebih ceria sekarang.


Cila memilih duduk di samping Kinara yang menyendiri di sofa.


"Evan sangat tampan, perpaduan wajah kalian membuat wajahnya terpahat begitu indah," puji Cila.


"Aku mungkin bisa mengerti bagaimana perasaan kamu Kinara. Adiku sudah banyak membuat kamu menderita. Tapi sekarang dia tulus mencintai kamu bukalah hati untuknya sedikit saja, beri dia kesempatan. Karena Evan bahagia dengan keberadaannya," ujar Cila.


Lagi-lagi Kinara menunduk dalam diamnya, kenapa semua orang bahkan keadaan turut mendesaknya untuk menerima Roman. Lalu siapa yang saat ini memperdulikan perasaan Jay.


"Biar waktu yang jawab Mba," hanya kalimat itu yang terucap dari bibir Kinara.


Bayangan pertemuan pertamanya dengan Roman kala itu, berseteru dengan bayangan setiap pengorbanan Jay, dan bayangan apa yang dilakukan Roman terhadapnya hingga semua kejadian menimpanya menjadi akhir slide. Terlalu sulit baginya, menerima pria yang telah menghamilinya, menghancurkan hidupnya kak itu. Meski awal pertemuan sempat ada debaran yang tak mampu dia artikan.


"Maafkan Mba, udah turut campur. Kamu berhak bahagia, apapun keputusan kamu," ucap Cila, menggenggam erat tangan Kinara.


"Nggak papa Mba."


"Kamu dari tadi belum makan," sela Roman yang turut mendekat.


"Iya, nanti saja."


"Ada Hana sama Mba Cila, aku keluar sebentar," pamit Roman.


Kinara mengangguk, "ya..."


Di tempat lain Bu Ira yang baru tiba dari Jogja tergopoh-gopoh menyusuri koridor rumah sakit, wajahnya terlihat sangat mengkhawatirkan sang cucu. Hingga tanpa sengaja menabrak seseorang.


"Maaf, saya nggak sengaja," ucapnya reflek.


"Nggak papa," jawab pria paruh baya masih dalam posisi menunduk.


"Ira..?" Pak Ilham terkejut melihat wajah yang sangat dia kenali.


Begitu pula Bu Ira yang juga sangat keget dengan penglihatannya.


"Maaf, aku ada urusan," ucapnya gugup berusaha menghindar.

__ADS_1


******


Alhamdulillah setelah sekian hari bisa lanjutin si jabang Jay yang makin galau..cobaan makin berat rupanya. Maafin daku yang ngilang lama bgt, kondisi yang butuh istirahat banyak d tambah ada beberapa masalah yang cukup pelik memaksa daku that sejenak dari dunia halu...eitzzz tapi jangan kuatir mulai hari ini yuk kita ngehalu bareng-bareng.


__ADS_2