Setangkai Layu

Setangkai Layu
Degup Cinta


__ADS_3

"Aku...aku yang melakukanya...lima tahun lalu," pengakuan itu akhirnya meluncur dari mulut Roman, setelah mengangkat keberanian yang tersembunyi dalam jiwa pengecutnya. Sorot matanya redup, melukiskan rasa sesal yang teramat dalam.


Mendengar kalimat pengakuan tersebut sontak membuat amarah Jay memuncak, matanya memerah, membelalak tajam ke arah Roman siap menghujamkan pukulan sekuat tenaganya.


Buuugghh...pukulan pertama langsung membuat Roman terhuyung, mengucurkan darah segar di sudut bibirnya.


Bughhhhh...pukulan kedua kembali mendarat saat Roman masih bisa bangkit.


"Kenapa...kenapa lu lakuin ini hah...?" menggeram seraya kembali menghujamkan pukulan bertubi-tubi, Roman hanya pasrah sama sekali tak membalasnya.


"Pukulah sepuasmu!" ujar Roman yang makin membuat Jay kalap. Terus memukulinya sampai dia terbaring lemah.


"Cukup...apa-apaan ini?" gertak Bu Ira yang langsung keluar ketika mendengar keributan tersebut, di ikuti Kinara di belakangnya.


Jay menghentikan pukulannya. Sementara Roman tertatih-tatih berusaha bangkit saat melihat wajah Kinara.


"Maafkan aku...maafkan aku Kinara," ucapnya memelan berlutut di hadapan Kinara. Air mata tak terasa luruh, menguringi rasa bersalahnya.


"Pergi dari sini..." usirnya dengan tegas penuh emosi, air mata menggenang di pelupuknya. Sorot kebencian nampak jelas dari kedua matanya. Tak pernah menduganya, lelaki itu kini berada di depannya. Lelaki yang merenggut kebahagiaanya justru adalah lelaki yang selama ini telah dia kenal. Tak sanggup mengendalikan dirinya Kinar memilih berbalik, menutup pintu kamarnya.


"Maafkan aku..." lirih Roman seraya menunduk lemas.


"Cepatlah pergi dari sini, jangan ganggu kehidupan kami lagi," Bu Ira pun mengusirnya dengan tegas.


Roman akhirnya memaksa tubuh lemahnya untuk bengkit, melangkah tersuruk-suruk meninggalkan tempat itu. Dan Jay hanya menatapnya dengan tangan mengepal, rasanya belum puas menghajarnya.


Arrghhh...geram Roman ketika telah berada di dalam mobilnya. Memukul-mukulkan kepalanya pada kaca jendela di sisinya. Mengutuki dirinya atas kesalahan yang telah menumpuk-numpuk, melukai banyak orang. Melupakan luka diwajahnya yang sangat perih bila dirasa.


______________________________


Rengekan Evan memaksa Kinar bangkit, menepikan ratapan kelam nasib dirinya. Ditengoknya ke arah jendela, hari begitu cerah. Menyemangati dirinya untuk lepas dari kungkungan hitam masa lalu.


Ditatapnya wajah Evan, membuat hatinya gusar. Karena di sana begitu jelas tercetak wajah Roman, yang tak pernah dia sadari sebelumnya. Segera ditepisnya perasaan tersebut, karena justru dengan kehadirannya dia mampu bangkit sampai berada di titik ini.


"Kata nenek, Ibu nggak kerja hari ini. Aku pengin jalan-jalan," rengek bocah kecil polos itu. Belum bisa mengerti kegundahan yang sang Ibu tengah rasakan.

__ADS_1


"Ibu mau kan?" tegasnya lagi.


"Iya sayang..sebentar ibu mandi dulu ya," mengabulkan permintaan Evan.


Evan mengangguk senang, berhasil meluluhkan sang ibu.


Kurang dari tiga puluh menit, Kinar bersiap. Wajah pucatnya tersamarkan polesan tipis make up sederhana yang dia miliki. Terlihat merona lebih segar. Menuntun Evan yang sudah tak sabar, berjingkrak bahagia.


"Mas...? Sejak kapan di sini?" tanya Kinar yang terkejut dengan keberadaan Jay yang berdiri di depan pintu.


"Baru saja sampai," jawabnya.


"Om siapa?" Evan menatapnya penasaran.


"Panggil aku Om Jay...," balas Jay tersenyum seraya mensejajarkan tinggi badannya. Mengusap gemas kepala bocah lucu itu.


"Aku mau jalan-jalan sama Ibu. Om mau ikut?" dengan polosnya mengajak Jay.


"Hemmm...boleh, kalau dibolehin sama ibu kamu," tersenyum menatap Kinara, berharap memperbolehkannya.


"Ayolah Bu, cepetan bilang boleh," rengek Evan saat Ibunya hanya terdiam.


"Iya sayang..boleh," jawaban yang makin membuat Evan berjingkrak bahagia, di ikuti senyum Jay yang mengembang penuh kemenangan.


"Yuk sayang, sama Om saja," ajak Jay, menuntun tangan mungil itu. Membawanya menuju mobil yang telah disewanya. Kenapa dari tadi hatinya terus menuntunnya ke rental mobil, ternyata ini jawabnya.


Untung ikuti kata hati...kalian nggak kepanasan di bawah terik yang menyengat ini, ujarnya dalam hati sembari fokus dengan kemudinya.


Meski bukan tempat bermain yang mewah, Evan terlihat sangat bahagia. Tertawa lepas menikmati setiap permainan, dengan Jay yang sangat bisa mengemong. Membaur akrab dengan bocah kecil yang sudah pantas menjadi anaknya.


Kinar turut bahagia, melihat sang anak begitu bahagia. Memilih berdiam mengabadikan momen itu dalam memori ingatanya. Sesekali ikut bermain jika Evan mulai memaksanya, selebihnya cukup menjadi penonton.


Apa sebahagia itu, jika dia memiliki ayah? Maafkan Ibu Nak... membiarkanmu lahir tanpa sosok ayah. Terbesit pemikiran tersebut.


Hari yang melelahkan sekaligus membahagiakan bagi Evan. Terpuaskan dengan kegembiraan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

__ADS_1


"Makasih Mas...Evan sangat senang hari ini," kata Kinar saat Evan terlelap dalam pangkuannya, berada dalam mobil yang melaju dengan kecepatan standard menuju arah pulang.


"Jangan pernah sembunyikan apapun lagi dariku...sepahit apapun kenyataan," ujar Jay menatap lekat Kinara, meski sesaat karena ada kemudi di tanganya.


Kinara mengangguk pelan, "maaf..."


Mobil telah menepi di depan gang sempit menuju rumah Kinara. Jay segera turun membukakan pintu di sebelah kiri Kinara, mengangkat tubuh Evan dari pangkuannya. Menggendongnya menuju rumah. Sementara Kinara hanya mengekor di belakangnya, mengikuti langkah lebar pria bertubuh atletis itu.


Kekaguman kembali menyeruak, membangkitkan rasa yang dia paksa mati suri untuk beberapa tahun. Meski pada akhirnya dia tak sanggup memungkiri kenyataan. Rasa itu masih bertahta kokoh dalam benaknya.


"Sekali lagi makasih Mas..." ucap Kinara canggung, debaran jantungnya kembali menderu dag..dig..dug membuat gelenyar dalam hati.


"Istirahatlah...kamu pasti lelah," kata Jay lembut, begitu perhatian.


Jay pun berderap keluar, baginya tak perlu lama-lama berbasa-basi untuk menarik perhatian Kinara. Karena dia yakin, jika memang dia miliknya akan ada jalan untuk tetap bersama saling memiliki.


Begitu dia melangkah keluar melewati pintu depan. Sosok yang paling tak ingin dia lihat kini berdiri dengan wajah lesunya, berhiaskan biru lebam di beberapa sisi makin membuatnya terlihat memilukan.


"Buat apa lagi lu dateng ke sini?" sergah Jay dengan tajamnya.


"Aku ingin ketemu anakku," jawabnya lirih.


"Dia sudah tidur. Jangan dateng lagi ke sini sementara waktu. Tunggu Kinara menyiapkan hatinya untuk membicarakan semuanya," ujar Jay dengan hati yang begitu lapang. Bagaimanapun Roman adalah ayah biologis Evan.


"Gue ngerti...gue pengin mempertanggungjawabin perbuatan gue," tuturnya membuat Jay tersenyum sinis.


"Cukup dengan tidak mengusik dan mengganggu kehidupan mereka," balas Jay yang kemudian nyelonong pergi. Dia yakin Roman masih punya hati nurani. Tak akan mengganggu Kinara saat ini.


Roman hanya menatap kosong pintu rumah itu. Berharap suatu saat terbuka lebar menerima kehadirannya. Membaur bahagia dengan anak yang sempat tak diakuinya.


Sementara di dalam sana Kinara menatap langit-langit atap rumahnya. Memegangi dadanya yang masih bergemuruh saat mengingat semua tentang Jay. Walau masih saja terbesit satu tanya pada dirinya sendiri, pantaskah dia untuknya.


*****


jangan lupa diramein lagi komenya yuupp...😂 duuh jadi ketularan molynya kak HeniNur nih...🤣 pantengin juga karyanya kak HeniNur...seru bingitzzz sumpah..😍

__ADS_1


__ADS_2