
Anin dengan raut wajahnya yang suram, melangkah gugup menemui seorang wanita di sebuah cafe.
"Kenapa lu nggak bikin dia masuk penjara, lu dah janji kan bakal nyingkirin dia," gertaknya pada Renata.
Renata membalasnya dengan senyum sinis, "gue cuma bilang mau nyingkirin dia kan," jawabnya teramat santai.
"Brengsek lu ya.. setalah lu bisa balik sama abang gue, lu mau ingkar begitu saja. Gue nggak akan biarin," ancam Anin dengan wajah sadisnya.
"Lu mau apa? gue nggak takut," Renata menantang.
"Jadi lu mihak perempuan sialan itu?"
"Gue nggak mihak siapa-siapa. Bodo amat sama urusan elu, gue kan cuma bilang mau nyingkirin dia. Dan gue udah berhasil nyingkirin dia dari Jay," ucap Renata menyeringai.
"Elu bakal nyesel, " ancam Anin mendelik, menyambar tas jinjingnya dengan kasar lalu pergi begitu saja.
Jay yang memang berniat menemui Renata siang itu, terdiam mengamati apa yang dua orang itu bicarakan. Terselip rasa kecurigaan yang mengusik batinnya.
"Apa yang kalian rencanakan? " tanyanya menajam.
Renata hanya tersenyum sinis, "kamu yang lebih tau tentang adik kamu, ajari dia untuk tidak tamak," ucap Renata yang juga kemudian berlalu pergi begitu saja. Melupakan niatnya berbicara beberapa hal dengan Jay.
Rasa curiga berdesakan di benak Jay, kenapa dua perempuan itu saling kenal dan apa yang sebenarnya telah mereka berdua rencanakan.
Malamnya Jay memutuskan pulang ke apartemen Anin, menyelidik apa yang sebenarnya tengah direncanakan adiknya itu yang menurutnya tidak akan membiarkan Roman lepas begitu saja. Dan benar... setibanya di sana, terdengar Anin yang tengah berbicara dari ponselnya dengan kalimat-kalimat yang makin membuat kecurigaannya meluap.
"Siapa yang kamu hubungi? " selidiknya dengan dingin.
"Bukan urusan Abang," jawab Anin ketus.
"Jangan berulah, kalau kamu nggak mau nyesel," Jay mencoba memperingatkannya.
Anin tersenyum dengan seringainya, " sejak kapan Abang peduli sama aku, eh bukan ding... Abang kan cuma peduli sama Kinara. Cewe murahan bekas orang," ucap Anin berapi-api namun terhenti ketika tangan Jay dengan keras mendarat di pipinya.
__ADS_1
Plakkkk...
Anin memegangi pipinya yang teras panas perih, "kalo Abang nggak bisa nanganin dia, aku akan tangani sendiri. Aku nggak akan biarin dia merebut Roman atau Abang sekalipun, " tandasnya dengan mata berkaca-kaca berlari ke kamar, dan membanting pintu.
Jay hanya terdiam, merasa dirinya sudah terlalu kejam pada sang adik.
Malam yang kelam tanpa satupun kerlip sinar dari langit atas sana. Sunyi, sepi... Jay tersudut dalam kehampaan, tak pernah terbayangkan olehnya pada akhirnya harus melepaskan Kinara dengan cara seperti itu. Meski rela, tapi tetap saja hatinya terluka, batinnya mengaduh, jiwanya mengerang sakit.
Bayang-bayang wajah itu harus segera dilupakannya, karena esok tak pantas lagi dia memikirkan milik orang.
Dan di bawah langit yang sama, Kinara juga terhanyut dalam lamunannya. Mengenang yang masih bisa dia kenang, karena mulai besok dia juga harus membenamkan semua itu jauh-jauh. Sebisa mungkin bersaha agar hati tak menyelingkuhi laki-laki yang esok resmi menjadi pendamping hidupnya.
"Maafin keluargaku yang udah maksa kamu nerima kakakku," ujar Hana yang nampaknya sangat paham bagaimana perasaan Kinara saat ini.
"Nggak ada yang maksa, ini udah keputusanku. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik. "
Mendengar jawaban itu, Hana langsung memeluk Kinara dengan erat, "kita mencintai pria yang sama, dan buat kamu pasti lebih menyesakkan, " bisiknya dengan parau, tak bisa menahan tangisnya.
Sementara Angga masih saja sibuk dengan gawainya, menunggu kabar dari orang suruhanya yang dia perintahkan untuk menyelidiki Jay.
"Selidiki asal-usulnya, aku masih nggak yakin kalau hanya karena alasan itu," jawab Angga yang menurutnya masih ada kejanggalan.
"Aku sedang mencari semua info tentang dia, tapi sepertinya tidak gampang."
"Cari secepatnya, kabarin segera! "
"Baik.."
Angga beralih melangkah ke arah Roman yang tengah duduk dengan tatapan kosong.
"Jaga adik gue dengan baik, terima dia yang mungkin belum mampu nerima lu dengan sepenuh hati,"
Roman menarik nafas panjang, "perlahan dia akan bisa nerima gue. Lu nggak usah khawatir, apapun gue cuma pengin dia bahagia, " ucapnya.
__ADS_1
Angga menepuk bahu sahabatnya itu, dia paham akan perasaanya. Perasaan yang tak berbalas, seperti halnya dirinya dengan Hana yang entah akan kemana akan bermuara.
****
Hari itu pun tiba, hari dimana satu kalimat akan merubah hidup Roman juga Kinara. Hari yang mungkin memang telah lama Roman impikan, tapi tidak dengan Kinara.
Termenung di depan cermin, memandangi gambar dirinya yang telah mengenakan kebaya putih, tatanan sanggul yang sederhana mempercantik riasan tipis di wajahnya. Menguatkan hati untuk sebuah prosesi yang akan membawanya pada babak baru kehidupan.
"Kamu sudah siap Nak," salam Bu Ira masuk ke ruangan itu.
Kinara mengangguk, "iya bu, " jawabnya lirih.
"Kamu sangat cantik, " ucap Bu Ira sembari membelai rambutnya, dengan perasaan yang dia sendiri tak mengerti. Terselip rasa iba, diantara kebahagiaan itu.
"Kuatkan hati kamu," kata Bu Ira lagi yang kali ini tak sanggup menahan rintik air matanya.
"Ibu jangan nangis," Kinara menyapu air mata Bu Ira.
Sementara Pak Ilham yang sedari tadi juga sudah masuk, hanya terdiam beku menatap pemandangan itu.
Perlahan dia pun mendekat, "ayo kita turun sayang, penghulu sudah siap, tamu undangan pun sudah berdatangan. "
Kinara pun bangkit, melangkah di apit oleh ayah dan Ibunya itu, tepatnya yang di anggapnya ibu. Dengan langkah sedikit gemetar mereka melangkah menuruni anak tangga secara perlahan. Rangkaian dekorasi bunga, telah berjajar rapi memenuhi setiap sudut di ruang tamu kediaman Pak Ilham, nampak begitu indah.
Kerabat dan saudara telah hadir, menempati tempatnya masing-masing. Dan Roman telah berdiri di hadapan penghulu, menunggu sangat bidadari tiba. Senyumnya pun merekah ketika Kinara melangkah perlahan ke arahnya, cantik sangat cantik batinnya mengagumi.
Pak Ilham dan Bu Ira mengantar Kinara duduk di sisi Roman, kemudian Pak Ilham sebagai wali nikah duduk bersebelahan dengan penghulu. Siap menikahkan putrinya. Di samping mereka juga telah siap dua orang saksi pernikahan.
Dan akhirnya dengan lantang Roman melafalkan ijab qobul yang diiringi kata syah dari kedua saksi.
Alhamdulillah...
Dan di waktu bersamaan, ponsel Angga bergetar. Di langsung mengangkat panggilan tersebut.
__ADS_1
"Renata adalah anak kandung dari ayah tiri Kinara. Dan sepertinya dia mengetahui bahwa bukan Jay yang membunuh ayahnya melainkan Kinara. Ku rasa dia menekan Jay untuk meninggalkan Kinara, " laporan dari salah satu orang suruhan angga.
Mendengar kabar tersebut sontak membuat Angga sangat kaget. Ingin rasanya dia berlari, memberitahukan pada Kinara uang tengah mencium punggung tangan suaminya. Tapi tidak mungkin, sudah terhambat. Kinara telah syah menjadi milih Roman.