Setangkai Layu

Setangkai Layu
Angga lebih peka


__ADS_3

Segala terkaan yang mungkin memang nyata terus mengobrak-abrik pikiranya. Terombang-ambing oleh bisikan dari telinga kanan dan kirinya, yang berlomba untuk menjadi pemenang. Menguasai jalan pikirnya.


Satu sisi berbisik menyuruhnya mencari jawab atas dugaan yang membuatnya resah gelisah. Di sisi lain berbisik lembut terus merayu, untuk melupakan semuanya. Membuang dugaan yang kebenarannya hanya nol koma nol lima persen. Menyanggah nurani yang sesungguhnya selalu berkata bijak dan benar.


Entah sisi mana yang akhirnya berjingkrak puas menjadi pemenang. Belum terlihat dari guratan gundah Roman yang memilih memejamkan matanya meski malam belum larut.


______________________________


Di lain tempat Angga menjemput Hana untuk menemaninya belanja kebutuhan dapur. Suatu hal yang belum pernah Angga lakukan sebelumnya.


"Makanya buruan nikah, jadi kalau belanja gini ada yang nemenin," Hana ngedumel, saat terpaksa menemani Angga belanja kebutuhan dapur. gegara di tinggal pembantu pulang kampung.


"Gimana mau cepet-cepet nikah, orang yang dilamar aja nolak terus," celetuk Angga datar tetap fokus memilih barang yang dia butuhkan.


Mendengar ucapan itu Hana melirik ke arah Angga, "yang udah nempel-nempel, bergelayut manja kan banyak. Tinggal tunjuk atu, bawa ke KUA, ngadep penghulu ada wali, saksi...SYAH..beres kan? Gampang nggak pake ribet," cerocos Hana tanpa jeda. Kemudian ngeloyor pergi mencari barang lainya, tanpa memperhatikan Angga yang tengah menatapnya tajam. Seolah ingin menerkamnya hidup-hidup sekarang juga.


Namun dengan cepat Angga menyusulnya, meraih kemudian menarik tangan Hana hingga tersudut, menguncinya pada rak yang berisi penuh berbagai merek detergen. Membuat Hana panik, nyalinya menciut saat tatapan Angga tak seperti biasanya.


"Mas Angga apaan sih? Jangan kaya gini, cepet lepasin!" Hana berusaha mendorong tubuh Angga namun sia-sia.


"Kenapa? Kamu takut?" tanyanya menajam, namun diakhiri dengan senyum, terkekeh melihat raut wajah Hana yang menurutnya makin menggemaskan.


"Iiihhh...apaan sih," gumam Hana mengerucutkan bibirnya, serayaendirkng kuat tubuh Angga.


"Berapa kali udah aku bilang, aku cuma mau kamu," seru Angga karena Hana sudah mlangkah jauh ke depan sana.


"Ogah..." sahut Hana asal.


"Emang kenapa?" Angga berhasil menyusulnya.


"Cinta nggak bisa dipaksakan," jawab Hana asal yang memang dari hatinya.


Kalimat itu sontak membuat gurat kecewa bergaris di wajah Angga, sangat tak enak didengar menurutnya.


"Maksud kamu?"


"Udah ahhh...buruan..nih masih banyak yang belum kebeli," ujar Hana enggan membahas masalah itu lagi.


Angga hanya membuntutinya, membiarkan Hana yang memilih semua barang sendiri. Terdiam dengan otak yang berjejal oleh satu pertanyaan besar, apa sudah ada orang lain di hati Hana, batinnya.


"Aku lapar...makan dulu ya!" rengek Hana memegangi perut kosongnya, yang rasanya telah terkuras oleh belanjaan yang bejibun banyaknya.


Tak ada jawaban dari Angga, dia hanya mengikuti langkah gadis.

__ADS_1


"Mas Angga kenapa si, kok jadi diem gitu?" Hana merasa aneh.


"Apa kamu mencintai orang lain?" akhirnya jatuhlah kalimat itu, keluar dengan lugas dari mulut Angga.


"Aku paling nggak suka kalau bahas beginian. Apa musti aku jawab IYA biar Mas puas? ada atau nggak ada orang lain yang bersemayam di hatiku, aku tetep sayang sama Mas Angga. Tapi itu tak lebih dari rasa sayang seorang adik sama kakaknya. Aku nggak mau hubungan kita malah jadi rusak, hanya karena perasaan seperti itu," Hana berharap Angga bisa mengerti hal itu.


"Baiklah gue terima...tapi jangan paksa gue berhenti buat berusaha bikin kamu Mandang gue sebagai LELAKI," ada penekanan pada kata terakhir itu.


"Serah deh...yang jelas aku lapar...mau makan dulu..." cicit Hana.


Tak berselang lama, nampak anak kecil berlari ke arah mereka diikuti seorang perempuan muda dan cantik dibelakangnya.


"Evan...!" panggil Hana saat terlihat jelas wajah bocah itu.


"Tante...!" Evan langsung berhamburan ke pelukan Hana, terlihat sangat senang.


Sementara Angga terlihat begitu terkejut, menatap Kinara dan bocah kecil itu bergantian. membuat otaknya memutar kebelakang, sebaris tanya langsung bergaris bawah, bergerak tebal, menjadi hal utama yang perlu dia temukan jawabnya.


"Kalian saling kenal?" kalimat tanya pembuka.


"Iya Mas..ini Evan, yang sempet aku ceritain sama Mas Angga itu loh. Dan Kinara ini ibunya," Kinara memilih diam, hanya senyum tipis sebagai tanggapannya.


Deg... jantung Angga serasa terhenti seketika, betapa besar dosanya, menyebabkan gadis sebaik itu mempunyai anak tanpa ayah.


"Kalian juga saling kenal?" tanya balik Hana.


"Evan maem sekalian ya! Yuk mau pilih yang mana?" seraya menunjukan gambar beberapa makanan favorit Evan.


"Ini aja Tante," tunjuknya pada gambar chicken katsu yang membuat bocah kecil itu tertarik, penasaran.


"Oke..tunggu sebentar ya."


"Mba Kinara mau pesan apa?" beralih pada Kinara.


"Aku ini aja," memilih rice bowl untuk mengganjal perutnya.


Setelah pesenan tiba di meja makan, Hana langsung menyuapi Evan dengan telaten sesuap demi sesuap sampai habis. Memberi kesempatan pada Kinara untuk menikmati makannya, karena terlihat begitu lelah.


Evan mungkin keponakan kamu Hana... batin Angga. Rasa bersalah menggerogoti ruang nyamannya.


"Malem-malem gini Evan nyari apa sih?" tanya Hana.


"Aku beli ini, sama kaya punya temenku," jawab Evan dengan polosnya.

__ADS_1


"Iya, dia tuh ngiri temenya punya mainan itu. Katanya biar besok bisa ikut main bareng," timpal Kinara.


"Berarti pulang kerja Mba Kinar langsung ke sini ya?"


"Iya.."


"Ya udah..Evan kan udah dapet mainannya, udah kenyang juga. Yuk kita pulang, kasian ibu kamu pasti cepe banget," bujuk Hana yang tentunya berhasil.


"Mas...anterin Evan sama Mba Kinara balik dulu ya," pinta Hana.


Angga hanya mengangguk, kemudian beranjak keluar menuju mobil terparkir.


Selama dalam perjalanan, hanya tiga orang itu yang bercanda dengan asyiknya. Angga hanya membisu dengan lamunannya. Ingin segera menyudahi rasa penasarannya.


"Nah...sampai deh," kata Hana. Kinara menuntun Evan pelan turun dari mobil.


"Ayak bilang makasih sama On dan Tante," suruh Kinara.


"Makacih Om, Tante," ucap Evan dengan suara lucunya.


"Sama-sama sayang, besok kita main lagi ya," seraya memeluk dan mencium bocah mengemaskan itu.


"Sekali lagi makasih udah merepotkan," kata Kinara.


"Sama-sama, nggak merepotkan kok, iya kan Mas," ke arah Angga yang masih saja terbengong.


"Mas..." Hana memanggilnya lagi.


"Ooh.. iya," jawabnya tergagap.


Mobil mulai melaju, meninggalkan dua orang itu yang kemudian berderap masuk ke dalam rumah mungil mereka.


"Apa Evan anak kandungnya Kinara?" tanya Angga tetap fokus dengan kemudinya.


"Iya..." jawab Hana singkat.


"Dia punya suami?"


Hana menggeleng.


"Kamu tau siapa ayahnya?"


Hana menggeleng lagi "enggak."

__ADS_1


Hanya itu yang bisa Hana jawab, teringat pesan Bu Ira yang memintanya untuk merahasiakan kebenaran yang pernah diceritakanya itu.


Kita musti bikin perhitungan...Kamu harus tanggung jawab Roman.. menggeram dalam hati. Merasa yakin bahwa anak itu adalah darah daging Roman meski tanpa bukti dan data yang nyata.


__ADS_2