Setangkai Layu

Setangkai Layu
Jalan menyatu


__ADS_3

Roman menyeret tangan Kinara dengan paksa, sementara pandangan Kinara masih terkunci pada Jay yang tak menatapnya sama sekali, berlalu begitu saja menghilang di pekatnya malam.


"Aku mau pulang sendiri, tolong lepaskan!" pinta Kinara dengan pelan namun penuh penekanan.


"Aku cuma mau anterin kamu pulang, itu saja," balas Roman.


"Jangan seperti ini, hubungan diantara kita hanyalah karena sebuah kesalahan. Dan tidak untuk diteruskan. Lebih baik kita berada pada jalan masing-masing. Keberadaan Evan bukanlah menjadi alasan untuk kita memaksa memilih bersama. Jangan saling menyiksa, aku lelah.." lirih Kinara dengan mata berkaca-kaca.


Mendengar penuturan itu membuat Roman perlahan melonggarkan cengkeraman tanganya. Ada guratan kecewa yang tergambar jelas di wajah tegasnya. Berbagai upaya telah dia coba hanya untuk meluluhkan hati Kinara, namun nyatanya hingga saat ini hanya sia-sia.


"Maaf jika selama ini aku membuat kamu tersiksa. Terlepas karena kejadian itu maupun keberadaan Evan, aku mencintaimu Kinara... Apa aku salah jika menginginkan hubungan diantara kita ini terjalin resmi dalam ikatan pernikahan yang syah. Membesarkan anak kita bersama-sama. Aku tahu, kamu masih sulit menerimanya. Semua akan berjalan biasa jika kita telah terbiasa. Jikapun kamu tidak pernah bisa membalas perasaanku, luapkanlah semua rasa cinta kamu hanya untuk Evan. Cukup dengan rasa cinta yang aku miliki, aku bisa membuat kalian bahagia," kalimat Roman terdengar begitu menyentuh. Dan rupanya berlaku juga untuk Kinara, yang kini memilih diam dengan titikan air mata yang perlahan mengalir membasahi pipinya.


"Tapi jika kamu lebih bahagia dengan orang lain, aku bisa apa. Hanya punya hak berusaha, menunggu kesempatan datang memihakku. Aku bukan Jay yang telah banyak berkorban, aku justru orang yang telah menghancurkan kehidupan kamu. Tapi kamu perlu tau, aku mencintai kamu dari awal sampai akhir," pungkas Roman meluapkan semua isi hatinya.


"Pembicaraan kalian sangat serius, tapi ini sudah malem. Ayo pulang Kinara," sela Angga yang tiba-tiba menghampirinya. Kinara yang masih menunduk perlahan melangkah mengikutinya. Sementara Roman masih diam mematung, seolah tak mengikhlaskan kepergian Kinara.


"Sepertinya kalian ada masalah, kamu dan Jay. Apa karena Roman?" tanya Angga saat telah berada di dalam mobil.


"Entahlah, Mas Jay berubah akhir-akhir ini. Mungkin banyak kesalahan pahaman. Seperti tadi," jawab Kinara pasrah.


"Dulu... aku pernah menyuruh Roman buat deketin kamu. Dia begitu menutup diri dari yang namanya perempuan. Ternyata dia bener-bener jatuh cinta sama kamu. Dia laki-laki yang baik, bahkan mungkin idaman untuk sebagian perempuan. Terlepas dari kesalahan yang fatal sama kamu, dia layak untuk mendapatkan kesempatan. Tapi Jay, apa yang telah dia lakukan buat kamu begitu besar, begitu banyak. Cintanya sangat tulus sama kamu, nggak adil rasanya jika hanya menanggung derita," Kinara hanya terdiam mendengar kalimat demi kalimat yang Angga ucapkan.


"Turutilah kata hatimu, jangan hanya diam menunggu tersiksa. Melangkahlah untuk merengkuh bahagia," sambung Angga yang kali ini terdengar sangat serius tak sekonyol pembawaan biasanya.


"Terimakasih Pak," jawab Kinara menunduk. Muncul secercah cahaya yang menuntun hatinya untuk menentukan arah mana dia melangkah.


Sementara Angga hanya tersenyum penuh makna, menyembunyikan getirnya rasa bersalah yang belum sempat dia sematkan kata maaf di sana.

__ADS_1


"Akulah penyebab penderitaan kalian...tidak akan pernah serumit ini jika itu tidak pernah terjadi. Maafkan aku yang bahkan belum bisa menjelaskan semuanya," batin Angga yang masih fokus dengan kemudinya. Ada alasan kuat baginya menyembunyikan kebenaran itu, dia tak ingin kebahagiaan ayahnya lenyap begitu saja. Karena jika Kinara tau semuanya, dia pasti akan sangat membencinya. Dan akan menjauhkan Evan dari ayahnya.


"Makasih..udah merepotkan Bapak. Hati-hati di jalan," kata Kinara sebelum beranjak keluar.


"Aku kangen Evan, liburan besok ajak dia ke rumah."


"Iya Pak, saya usahakan. Evan juga pasti kangen sama Opa," balas Kinara tersenyum.


******


Mentari pagi ini memancarkan sinar hangat yang bukan hanya menghangatkan asa, tapi juga menjadi sebuah warna ceria yang mengantarkan setiap insan dengan harapan-harapan barunya.


Begitu halnya Kinara yang kali ini nampak semakin mempesona dengan rona penuh asa. Sebuah keyakinan untuk sesuatu yang ingin diperjuangkannya. Tak lagi memilih diam dalam muram, menyiksa hati sendiri.


Satu pesan dia kirimkan, "pulang kerja, aku menunggu di tempat biasa."


Hingga berjam-jam, beberapa kali dia tengok gawainya tetap sunyi. Jay tak sekalipun membaca pesan tersebut. Bahkan sampai jam kerja habis, tak ada tanda-tanda dia membalasnya.


Kinara tetap melangkah dengan yakin menuju tempat tersebut, cafe sederhana yang memang menjadi tempat favoritnya sekedar untuk mengobrol ringan melepas penat. Memilih duduk di pinggiran jendela kaca menjulang ke atas, berharap bisa melihat sosok yang di tunggunya dari kejauhan.


Lima belas menit hingga hampir satu jam, Jay belum ada kabar. Entah apa yang sedang dia lakukan. Kinara masih tenang menunggunya, meski terselip gusar memikirkan sang anak yang mungkin juga tengah menunggunya pulang.


"Baiklah..tiga puluh menit lagi," ucap pada dirinya sendiri, tersenyum menghibur diri.


Tiga puluh menit pun berlalu, Jay masih tak ada kabar beritanya. Kinara pun beranjak, bukan karena putus asa. Tapi ada sang anak yang tentunya lebih dia pentingkan.


Kinara berjalan keluar mengabaikan rintik hujan yang seolah berlomba-lomba turun membasahi gersangnya tanah. Terus berlari menyembunyikan air mata yang sebenarnya perlahan menitik.

__ADS_1


Sementara di tempat tadi, seseorang tergopoh-gopoh masuk dengan pandangan ke kanan kiri mencari sesuatu yang nyatanya tidak dia temukan.


"Mba...apa tadi ada seorang perempuan muda yang duduk sendiri, seperti menunggu seseorang?" tanyanya pada seorang pelayan cafe tersebut.


"Iya ada Mas, tadi duduk di sini. Dia menunggu hampir dua jam. Baru saja keluar, belum ada lima menit mungkin," jawab pelayan tersebut.


"Makasih Mba.." ucap Jay yang langsung berlari ke arah luar, celingukan ke sana kemari berharap menemukanya.


"Apa kamu begitu bodoh, sampai hujan-hujanan kaya gini," seru Jay saat yakin yang berada di depanya saat ini adalah Kinara.


"Apa kamu nggak sayang sama diri kamu sendiri, bagaimana kalau sampai kamu sakit," gertaknya lagi seraya mendekat, menyeretnya berteduh.


"Apa kamu nggak bisa pesan taksi?" Jay masih dengan nada kesalnya. Namun Kinara hanya tersenyum tipis terus menatapnya.


"Kalau aku naik taksi, kita nggak akan ketemu sekarang," jawab Kinara dengan entengnya.


"Kamu tunggu di sini, aku carikan taksi," ucap Jay beranjak tak mempedulikan sikap Kinara.


Namun Kinara menahannya, "kenapa tidak kamu yang anterin aku pulang?" Jay hanya diam.


"Kenapa? Tidak bisa? Apa tidak mau?" desak Kinara terus menatap dua mata pria gagah di depannya itu.


"Seenaknya menghilang tanpa alasan, apa itu kebiasaan baru kamu?" ucapan Kinara makin menajam.


"Sudah ada orang yang lebih tepat berada di sisi kamu dan Evan. Aku bukanlah siapa-siapa, bukan orang yang kalian butuhkan," jawab Jay datar.


Kinara tersenyum menanggapinya, "tapi aku ingin kamu menjadi siapa-siapa, menjadi orang yang aku dan Evan butuhkan," kata Kinara tanpa sedikitpun melepaskan tatapanya, seraya melangkah perlahan memeluk hangat sosok bertubuh kekar itu.

__ADS_1


"Aku butuh kamu Mas," lirih Kinara dalam pelukan Jay, yang akhirnya mampu meluluhkan kerasnya sikap Jay. Kini berbalas memeluk Kinara dengan erat, tak ingin dia lepaskan lagi.


__ADS_2