
Bermain seharian membuat tubuh Evan lelah, dua terlelap di pangkuan sang Ibu.
"Evan kayanya cape banget. Kamu juga istirahat aja, perjalanan nggak jauh, aku nggak bakalan ngantuk," ujar Jay tetap fokus dengan kemudinya.
"Iya Mas..." jawab Kinara.
Seulas senyum tersungging di wajah Jay saat sesekali dia menoleh melihat dua orang di sisinya terlelap. Wajah ayu Kinara tetap mempesona meski matanya terpejam. Tak sabar rasanya ingin segera menghalalkan hubungan mereka, menjadi pelindung untuknya.
Di tengah perjalanan, Kinara seketika terbangun saat dering ponsel berteriak memanggilnya.
"Iya...," jawabnya parau belum sepenuhnya tersadar.
"Ayah nungguin Evan dari pagi, kalian pergi kemana?" suara dari ujung sana.
"Aku sama Evan pergi sama Mas Jay, ini lagi pulang. Nanti aku mampir ke situ," Kinara merasa bersalah, melupakan janjinya bertemu Pak Ilham.
"Baiklah, nanti aku bilang ayah," Angga menutup teleponnya.
"Siapa? Angga?" tanya Jay.
"Iya..sebenarnya kemarin rencananya mau ngajak Evan ke rumah Pak Ilham," ucap Kinara.
"Nanti kita mampir saja, ini juga masih sore," ujar Jay.
"Makasih Mas."
Tak sampai satu jam, mobil telah memasuki halaman luas kediaman Pak Ilham. Sebuah hunian megah dengan nuansa Jawa kental di setiap ornamennya. Dengan halaman depan belakang yang asri di tumbuhi berbagai pohon dan tanaman hias yang menambah kesan cantiknya. Suasana yang memang selalu Evan rindukan, apalagi kolam renang di samping sana.
"Kita dimana Bu, apa udah sampai rumah," tanya Evan sembari mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Kita sampai di rumahnya Opa, Opa kangen banget sama kamu."
Evan langsung bangkit, melihat sekitar. Memastikan apa yang ibunya katakan.
"Hore...akhirnya bisa ketemu Opa juga," soraknya bahagia.
"Ya udah yuk kita turun," tutur Jay.
Kedatangan mereka tentu di sambut hangat oleh Pak Ilham juga Angga yang setia menemani untuk hari ini.
"Opa..." teriak Evan, berhamburan lari ke pelukan Pak Ilham.
__ADS_1
"Cucu Opa akhirnya dateng. Kamu dari mana saja, Opa udah kangen banget," seraya memeluk hangat sang cucu. Atau tepatnya dia anggap cucu.
"Evan habis main di pantai seru banget Opa," cerita Evan antusias.
"Kok nggak ngajak Opa si, Opa kan juga pengin ke sana," timpal Pak Ilham.
"Gimana kalau Minggu besok aja Opa, nanti aku bilang sama ayah buat nganterin kita," celetuk Evan kembali mengingat Roman. Yang sontak mbuat raut wajah Jay sedikit berubah.
Kinara yang sadar akan hal itu, langsung menautkan tangannya menggenggam hangat telapak tangan Jay. Menggantikan kalimat-kalimat menenangkan yang tak pandai dia rangkai untuk diucapkan.
"Kalian pasti cape. Ayo Jay, Kinara..masuk," ajak Pak Ilham setelah dua orang di depannya mencium punggung tangannya.
"Iya Pak, terimakasih," tutur Jay.
"Si Mbok udah siapin makanan di meja, kita makan dulu. Habis itu kita ngobrol santai," ujar Pak Ilham.
"Iya Om, maaf malah bikin repot," Kinara merasa sungkan.
"Nggak usah sungkan, kalian udah seperti anaku sendiri. Aku malah seneng banget kalian bawa Evan hari ini, kengenku akhirnya terobati."
"Iya tuh, ayah dari siang gelisah nungguin kalian" timpal Angga.
"Maaf ya Om..."
Setelah acara makan malam sederhana itu usai, Pak Ilham langsung menemani Evan bermain. Menuruti apa maunya, bahkan berbagai jenis mainan telah di sediakan khusus untuk sang cucu. Sementara Jay, Kinara dan Angga memilih duduk di ruang tengah mengobrol ringan.
"Aku seneng lihat wajah kalian berseri-seri sekarang," goda Angga.
"Emang kelihatan gitu?" balas Kinara.
"Ya lah...orang kalau lagi jatuh cinta tuh keliatan tau. Ada lope-lopenya di pipi kalian tuh..." Angga tak mau kalah.
"Masa sih..." balas Kinara cemberut.
"Jangan pernah lu sakiti Kinara, dia udah kaya adikku sendiri. Sampai itu terjadi, gue adalah orang pertama yang bakal pisahin kalian," ancam Angga setengah menggoda.
"Nggak akan gue biarin lu lakuin itu," jawab Jay santai.
"Lihat Kinara bahagia, gue berkali lipat turut bahagia, tapi lihat dia sedih gue berkali lipat turut hancur. Kamu harus bahagia Kinara, apa pun pilihan kamu," kali ini Angga berkata dengan serius.
"Makasih untuk perhatian Bapak selama ini," ucap Kinara.
__ADS_1
"Jangan panggil gue Bapak," protes Angga.
"Terus panggil apa, Mas?"
"Jangan di samain sama makhluk di sisi lu juga kali," masih saja protes.
"Baiklah Kakak..." Kinara tersenyum.
"Itu kedengarannya lebih enak."
Sementara Jay hanya tersenyum kecut melihat tingkah polah sahabat sekaligus bosnya itu.
Satu setengah jam telah berlalu, Evan beberapa kali menguap. Semangatnya masih menggebu untuk lanjut bermain, tapi tubuhnya menolak. Matanya menuntut untuk segera terpejam rapat.
"Evan ngantuk ya, kalau gitu kita mainannya udahan ya. Besok-besok lagi kita terusin," kata Pak Ilham peka melihat keadaan tersebut.
"Iya Opa, Evan cape" keluhnya diiringi uapan yang kesekian kalinya.
Setelah berpamitan, Jay segera melajukan mobilnya dengan kecepatatan sedang. Jalanan lengang tanpa banyak hambatan membuat mereka dalam waktu singkat telah sampai di ujung gang masuk rumah kecil Kinara.
Jay bergegas turun, membukakan pintu di sebuah kiri Kinara. Kemudian mengangkat tubuh kecil yang tengah terbuai mimpi indah itu. Berjalan menyusuri lorong sempit berdampingan. Layaknya sepasang suami istri dengan seorang anak laki-lakinya.
Namun ketika sampai, sosok di depan yang terlihat gelisah membuat mereka terkejut. Saling bersitatap dalam kediaman dengan pancaran raut yang tak suka.
"Kamu dari mana saja? berkali-kali aku hubungi, nggak sekalipun kamu angkat. Membawa anaku pergi entah kemana. Apa kamu tahu betapa khawatirnya aku?" gertak Roman penuh penekanan, terlihat sangat emosi.
"Maaf..." satu kata yang terucap datar dari mulut Kinara.
"Untuk apa kamu minta maaf, dia nggak berhak menggertakmu seperti itu," geram Jay.
"Apa kamu lupa Jay, siapa bocah dalam gendonganmu itu? Dia darah dagingku, aku berhak atas dia," tegas Roman.
"Dan satu hal lagi, mulai detik ini kemanapun kamu bawa Evan pergi harus dengan seizinku," imbuh Roman menatap tajam ke arah Kinara.
Jay tersenyum sinis mendengar kalimat dari mulut Roman, tanganya sudah gatal ingin menghajarnya. Tapi dia tahan.
"Jangan merasa paling memiliki, darahmu mu yang mengalir dalam tubuh Evan hanya sebatas pelengkap. Selebihnya adalah perjuangan Kinara. Dimana kamu saat itu? Meninggalkanya tanpa pernah berfikir apa akibat perbuatan bejatmu," Jay mulai tak bisa mengontrol emosinya.
"Cukup..." gertak Kinara, "evan butuh istirahat. Pergi dari sini!" usir Kinara pada Roman.
Roman tercengang dengan ucapan Kinara yang begitu tajam tanpa perasaan. Hatinya remuk seketika, mendapati kenyataan perempua yang dia cintai tak pernah bisa melihatnya sebagai laki-laki baik meski segala upaya telah dia coba untuk memperbaiki kesalahannya.
__ADS_1
"Apapun keadaanya dia adalah anakku, jangan menjadi egois karena perasaanmu terhadap laki-laki lain," lirih Roman seraya melangkah meninggalkan tempat itu. Pergi dengan rasa kecewanya yang lelah mengubun.
Kinara yang teriris dengan kalimat itu, memilih membawa masuk Evan. Mengunci pintu rapat bahkan membiarkan Jay berdiri terpaku di luar sana.