
Acara sakral berlangsung hikmat, penuh keharuan saat Kinara mencium tangan lelaki yang kini resmi berstatus sebagai suaminya, yang kemudian d balas dengan satu kecupan di keningnya penuh kasih. Lalu mereka berdua beranjak, menghampiri kedua orang tua mereka. Tangis Kinara pun pecah saat memeluk erat Bu Ira.
"Jadilah istri yang baik, abdikan dirimu sepenuh hati pada suamimu. Kamu harus bahagia" bisik Bu Ira yang juga tak sanggup menahan tangisnya. Ada kecemasan yang terselip dalam bahagianya saat ini. Evan pun turut melebur dalam suasana itu.
"Ibu... " panggilnya yang terisak, menangis melihat ibu dan neneknya banjir air mata.
"Evan jangan nangis sayang.. " kinara memeluknya.
"Evan sedih lihat Ibu nangis, " rengek bocah itu.
"Ibu sama nenek nangis karena bahagia, Evan nggak boleh sedih," bujukan Kinara seketika membuat Evan bisa tersenyum.
"Bener kan Ibu nggak bohong? "
Kinara mengangguk, "Iya sayang."
"Ibu nggak bohong, beneran bahagia sayang, " timpal Bu Ira sembari mendekap tubuh Evan.
Pak Ilham pun mengusap lembut pucuk kepala cucunya yang makin pintar itu, Romam sangat ayah pun dengan seulas senyumnya yang merkah bahagia menularkan ketenangan di batin Evan.
Kini Kinara beralih pada sang ayah, "anak ayah sudah jadi milik orang, lukislah lembaran baru ini dengan indah, " ucap Pak Ilham sembari memeluk erat sang putri.
Sama halnya dengan Roman yang juga tak sanggup menahan air matanya saat memeluk sang Ibu, "jaga anak istrimu dengan baik," Arini tak mampu lagi berkata banyak, hanya terisak dalam pelukan Roman.
"Jadilah lelaki yang bertanggungjawab, jangan pernah membuat perempuanmu terluka. Jangan sia-siakan Kinara, " wejangan Doni untuk anak bungsunya sembari menepuk bahunya.
Kinara dan Roman pun bertukar tempat. Kinara mencium punggung tangan ayah mertuanya, yang kemudian juga memeluknya hangat.
"Terimakasih sudah mau menerima Roman dengan segala kekurangan dan kesalahannya selama ini, " ucap Doni dengan tatapan penuh rasa syukur. Berganti Arini yang kemudian juga memeluknya dengan sangat erat, yang juga kembali tak bisa berkata apapun selain terimakasih.
"Ibu nggak bisa ngomong apa-apa, makasih sayang, " ucap Arini.
Begitu juga dengan Pak Ilham dan Bu Ira yang memeluk serta memberi Roman wejangan secara bergantian.
__ADS_1
Pemandangan tersebut makin menambah haru acara yang tergelar dengan sederhana itu. Tak sedikit tamu undangan yang berurai air mata menyaksikan keharuan itu, tak terkecuali seorang perempuan paruh baya yang hanya berdiri di salah satu sudut, menatap dengan tangisnya.
Serasa batinnya terpanggil, Kinara tiba-tiba menoleh ke arah sosok perempuan itu.
"Ibu... " ucapnya lirih.
Mendengar ucapan Kinara, Roman pun menoleh ke arah yang sama. Sementara Andini sang Ibu hanya terdiam menikmati kepedihannya, tak ada keberanian untuk mengejar lalu memeluk anak yang telah diterlantarkannya itu.
Bu Ira yang begitu peka segera menyadari keadaan itu, "Dini... " batinnya berkata. Kemudian menoleh ke Kinara, menganggukkan kepalanya yang artinya mengizinkan Kinara untuk menghampiri Ibu kandungnya.
Roman menuntun Kinara menuju tempat sang Ibu berdiri. Namun baru beberapa langkah, dari arah yang lain seorang pria dengan wajah panik berlari gugup menghampirinya. Kemudian menubruk tubuh Kinara, dan memeluknya sangat erat berbarengan dengan suara tembakan yang tiba-tiba memenuhi seisi ruangan. Sontak membuat semua orang yang berada di sana dalam kepanikan, beberapa hanya menganga dan yang lain menjerit histeris melihat adegan berdarah itu.
Kinara tersentak kedua matanya membeliak kaget, raut sendu berubah penuh kepanikan, mendapati sosok yang memeluknya perlahan merosot jatuh.
"Mas Jay... " luruh lah air matanya, saat menyadari siapa sosok itu. Berusaha menahan tubuh itu, namun dia hanya bisa turut merosot jatuh.
"Mas Jay... bangun Mas..bangun..." teriaknya menggoncang-nggoncang tubuh pria yang kini berada dalam pangkuannya tak bergeming sama sekali. Seperti mimpi buruk yang tak pernah diinginkannya.
Suasana berubah mencekam, Angga yang langsung mengejar si penembak nampaknya tak menemukannya. Telah lenyap nak siluman.
"Bangun Jay... " Mendapati tubuh Jay yang sudah sama sekali tak bergerak, bersimbah darah yang masih mengalir segar dari bagian punggungnya. Roman langsung memapah dan menggendongnya. Mbawa lari menuju mobil.
"Siapkan mobilnya cepat... " serunya pada Angga.
Sementara mereka yang tersisa dalam ruangan itu hanya terdiam bingung, tak percaya jika ini nyata. Arini juga Bu Ira makin berurai air mata.
"Semuanya akan baik-baik saja, kita do'akan saja, " Doni mencoba menenangkan istrinya.
Sementara Evan yang ketakutan, menangis dalam pelukan Bu Ira.
"Do'akan Om Jay biar baik-baik saja, " ucap Pak Ilham mencoba meredam tangis Evan.
Andini yang ragu akhirnya turut mendekat, dia lah satu-satunya orang yang tidak mengerti apa-apa bahkan tentang putri kandungnya sendiri.
__ADS_1
"Maafkan aku Mas... " ucapnya saat berhadapan dengan Ilham ayah dari kedua anaknya itu.
"Aku sedang tidak ingin membicarakan kata maaf, hanya Kinara yang ada di kepalaku saat ini, " jawab Pak Ilham dingin.
****
Jay langsung mendapatkan penanganan dari tenaga medis, sementara yang lain berdiam menunggu di luar dengan doa yang tak hentinya terucap untuk kesembuhan Jay. Tak terkecuali Kinara yang diam terpaku yang tak mampu menangis lagi, serasa kering sudah air matanya.
"Dia akan baik-baik saja bukan?" ucapnya lirih dengan bibir gemetar.
Hana memeluknya erat, memegangi tangannya yang terasa dingin, "ya.. dia pasti baik-baik saja, dia nggak akan biarin kamu menjadi orang yang paling sedih, " kata Hana mencoba menenangkan Kinara. Sementara Roman hanya menatapnya penuh rasa bersalah.
Dirinya bahkan belum pernah berbuat apapun untuk Kinara. Merasa kalah dari Jay yang selalu ada untuk istrinya, dan mungkin akan terus ada di hati Kinara.
"Lagi lagi demi kamu, harus berapa kali lagi Jay berkorban buat kamu hah," bentak Renata yang baru saja tiba, mendelik penuh emosi.
Kinara menatap balik, tanpa jawaban apapun.
"Kenapa diem...? kemana kamu saat Jay di penjara, kemana kamu saat Jay terpuruk? Bahkan kamu sama sekali nggak peka sama perasaan Jay, memilih menikahi laki-laki lain membiarkan Jay menanggung kesalahanmu."
Kinara membelalak mendengar kalimat terakhir itu.
"Kenapa? Kamu nggak pernah tau kan, Jay memilih menyingkir cuma demi kamu. Dia nggak mau aku nyerahin bukti kasus pembunuhan itu, dia nggak mau kamu di penjara. Kalau saja kamu mau berusaha nyari tau alasannya, pasti lain cerita. Kalau saja kamu lebih peka, aku rela nglepasin dia. Tapi nyatanya apa, kamu egois Kinara, kamu hanya mentingin diri kamu sendiri. Dalam waktu begitu singkat dengan mudahnya memutuskan menikahi pria lain. Nggak pernah ada usaha untuk mengejarnya, "Renata tak mampu lagi menahan air matanya.
" Cukup, mending lu pergi dari sini, " usir Angga.
"Gue lebih pantas berada di sini ketimbang dia, meski Jay nggak pernah ngarepin gue, " sinis Renata.
Seperti tercekik, serasa begitu sesak itulah yang dirasakan Kinara saat ini. Semua yang dikatakan Renata benar adanya. Cintanya memang lemah, begitu mudah goyah.
*********
Harus berapa kali lagi sih Bang Jay berkorban, gemes akoh... nggak rela banget kalau Bang Jay harus mati kan. Authornya tega banget nggak mau liat Bang Jay seneng kyanya deh..😌
__ADS_1
Yuk mana timnya Jay-Kinara... Mana juga timnya Roman-Kinara😘