Setangkai Layu

Setangkai Layu
Tahap Baru


__ADS_3

"Nanti aku ceritakan?" kata Angga pada sang ayah, paham akan tanya yang tertampil di raut wajahnya.


"Ya sudah, hati-hati,' balas Pak Ilham mengerti, meski tanya tentang Kinara dan Roman telah begitu mendesak untuk segera terlampiaskan oleh jawaban gamblang.


Di luar sana, dengan berat Roman berpamitan pada Evan. Begitu menyayangkan momen untuk bersama layaknya sebuah keluarga kecil yang bahagia, terlebih terpaksa membiarkannya bersama Jay, rival beratnya untuk memenangkan hati Kinara.


"Besok pagi Ayah jemput Evan, kita berangkat sekolah bareng lagi. Evan jangan nakal, titip Ibu," bisiknya seraya tersenyum menatap Kinara. Namun Kinara justru menghindar dari tatapan tersebut.


"Janji loh...Ayah harus jemput Evan," tengkuknya Evan manja."


"Tentu sayang...sekarang Ayah berangkat dulu," Roman kemudian beranjak mengikuti Angga, menuju mobilnya.


Dan sedari tadi Jay hanya menatap jengah pemandangan itu, hingga akhirnya Roman menjauh.


"Udah malem, yuk kita balik. Kasian Evan udah ngantuk," kata Hana seraya menuntun Evan.


"Tante di depan aja sama Om Jay, aku yang di belakang sama ibu," celetuk polos bocah kecil itu.


"Iya sayang," Hana menurutinya.


Suasana dalam mobil berubah hening, saat Evan berhenti berceloteh ngalor ngidul. Tertidur rupanya. Beberapa kali Jay melirik ke arah kaca di bagian atasnya, menatap Kinara yang juga membisu dengan raut yang memunculkan tanya yang mendesak.


"Rumahku lebih deket, kelewatan juga. Aku yang duluan ya Ki?" pinta Hana.


Kinara mengangguk, "iya nggak papa."


Hana bukanlah sosok yang tak peka, gelagat aneh diantara dua orang di dekatnya itu dengan mudah tercium olehnya.


Tatapanmu padaku dan pada dia begitu nyata berbeda. Ada apa sebenarnya..kenapa aku tak tahu menahu...lirih Hana dalam hati.


Sampai akhirnya mobil telah berhenti di depan apartemen Hana. Dia pun beringsut keluar membawa setumpuk tanya yang entah kapan akan terurai satu per satu jawabnya.


Semoga aku bisa secepatnya tau, sebelum aku terhanyut terlalu jauh dengan perasaan ini...ucapnya membatin, mengiringi laju mobil tersebut. Hingga lenyap terkikis jarak dan kegelapan.


Jalanan lengang tanpa hambatan berarti, tak mengulur waktu yang terlalu lama untuk sampai di tujuan. Dengan kerepotan Kinara beringsut, membawa Evan keluar dari mobil.


"Berikan Evan padaku," ujar Jay mengagetkan. Langsung mengangkat tubuh bocah kecil itu.


Kinara hanya membuntuti langkah Jay yang lebar. Sikap Jay yang begitu dingin mengingatkannya pada awal pertemuan mereka.


"Terimakasih.." ucapnya setelah Jay membaringkan Evan di atas kasurnya.

__ADS_1


"Haruskan aku menyerah saat ini juga?" ujar Jay menatap tajam ke arah Kinara.


"Jawab..!" desak Jay.


"Kenapa masih diam?" tanya Jay penuh tekanan. Namun Kinara hanya menunduk, lidahnya Kelu untuk berucap.


"Baiklah, aku ngerti... kalian adalah keluarga. Sudah sepantasnya untuk bersatu. Berjanjilah untuk bahagia, itu sudah cukup buatku. Dan jika laki-laki itu menyakitimu, aku tidak akan segan-segan membunuhnya," ucap Jay, kemudian beranjak pergi. Namun Kinara dengan cepat mengejarnya. Memeluknya erat dari belakang.


"Kenapa secepat itu menyerah. Setelah mengambil hatiku, sekarang giliran kamu berusaha mengambil hati Evan. Apa kita tidak layak untuk menjadi keluarga," lirih Kinara tak mampu menahan air matanya.


Mendengar penuturan itu, tentu membuat Jay tersenyum bahagia. Kini dengan gamblang perempuan yang dia cintai telah terang-terangan memberikan hatinya. Perlahan Jay berbalik, menatap dua bola mata yang masih menitik butiran bening. Kedua tangannya menelungkup wajah sendu itu, menghapus perlahan air mata itu.


Suasana yang sepi makin menambah keromantisan kala itu, hasrat lelakinya mulai merasuk. Bibirnya perlahan mendekat pada bibir ranum yang membuatnya tergoda tak mampu hanya diam bertahan. Namun Kinara justru terlihat begitu gugup, bayangan beberapa tahun silam itu terus berkelebat mengingatkan luka lama. Akhirnya dia hanya menunduk tepat saat bibir Jay hampir mendarat menutup bibirnya.


"Maaf..." Jay tersadar, bukan itu seharusnya.


"Aku yang minta maaf, aku belum bisa," lirih Kinara.


"Aku akan menunggunya, hingga saat kamu bisa," seraya mengecup kening Kinara.


"Jaga diri kamu juga Evan. Aku pamit," kata Jay, melangkah dengan lega meninggalkan tempat itu.


Semoga keputusan ini adalah yang terbaik, aku mencintainya ...


____________________________


Di tempat lain, memikirkan Kinara membuat Pak Ilham kesulitan mengistirahatkan matanya. Layaknya resah memikirkan anak kandungnya. Dirinya terus terjaga, menunggu Angga yang akan mengurai semua pertanyaan yang berjejal dalam otaknya.


"Sudah beres urusannya?" tanyanya saat Angga telah tiba di rumah.


"Kenapa ayah belum tidur. Ini udah hampir pagi," jawab Angga.


"Roman dan Kinara, ada apa?" pertanyaan singkat yang menuntut jawab pasti.


"Karena itu, ayah nggak bisa tidur rupanya," kesimpulan Angga.


"Roman adalah ayah kandung Evan. Semua terjadi karena satu kesalahan, Roman merenggut paksa kehormatan Kinara. Namun Kinara menghilang begitu lama, baik roman ataupun aku baru mengetahui beberapa bulan ini tentang Evan," jawab Angga cukup rinci.


"Apa mereka akan menikah?"


"Nggak semudah itu, Kinara tak mungkin bisa menerima Roman semudah itu. Sementara ada Jay yang selama ini berkorban begitu banyak untuk dirinya."

__ADS_1


"Sebelia itu harus menanggung beban seberat itu. Ayah nggak bisa bayangin jika itu terjadi pada Kinara anak Ayah."


"Yah istirahat saja, nggak baik buat kesehatan ayah," ujar Angga menuntun sang ayah menuju kamarnya. Angga masih belum bisa berterus terang jika dia ikut andil dalam kejadian itu, dia khawatir ayahnya akan shock. Sadar begitu sayangnya sang ayah sama Kinara.


"Ayah sempet ingin menjodohkan kalian, tapi selalu ayah urungkan. Entah karena apa, semoga Kinara bisa bersama dengan laki-laki yang tulus padanya. Sudah terlalu banyak dia menderita."


"Iya...yang terbaik saja buat dia sama Evan. Dulu awalnya aku sempet juga ingin jodohkan dia sama Roman sebelum kejadian itu. Tapi sekarang aku lebih berharap Kinara bersama Jay, dia benar-benar mencintai Kinara. Tapi Evan terlanjur deket sama Roman. Ayah istirahat aja dulu."


"Iya...apapun asal keduanya bahagia," pungkas Pak Ilham hingga akhirnya bisa memejamkan matanya.


________________________________


Hangatnya mentari mulai menerpa tubuh yang lelah setelah kemarin seharian berjibaku dengan tumpukan pekerjaan. Roman menggeliat, meregangkan otot tubuhnya yang masih tersisa pegal dan kaku. Diraihnya gawai dari atas nakas, sudah jam tujuh pas. Tergopoh-gopoh menyingkirkan selimut, berlari masuk ke kamar mandi. Sudah kesiangan.


Tanpa acara makan pagi, dia langsung berlari ke arah tempat parkir, melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Tak mau melewatkan kesempatan mengantar Sanga anak ke sekolah.


Dan benar di rumahnya, Evan tengah merajuk gegara sang ayah yang tak kunjung datang. Dia mogok nggak mau diantar siapapun. Sampai akhirnya terlihat Roman berlarian ke arahnya.


"Ayah...kenapa ayah lama banget," protesnya.


"Maaf sayang, ayah bangun kesiangan," tersenyum penuh rayu.


"Makanya ayah tinggal aja bareng kita, biar ada yang bangunin. Iya kan Bu?" seketika Kinara tercekat tak mampu menjawab kalimat tanya yang terlontar dari mulut mungil itu.


"Besok tiap pagi Evan telepon ayah aja...biar ayah cepet bangun," mencoba mengalihkan permintaan Evan.


"Baik Yah.."


"Ya udah yuk berangkat!" seraya menuntun tangan mungil itu, dan Kinara mengekor di belakang.


"Pulang sekolah, boleh aku bawa Evan pergi? sebentar saja," pinta Roman.


"Terserah Evan," jawab Kinara setelah sekian detik terdiam.


"Terimakasih," kembali Roman fokus dengan kemudinya.


Sementara di tempat lain sang Ibu, Arini tengah bersiap menata barang bawaannya berniat bersama Doni berangkat ke Jakarta. Ada acara keluarga di sana.


******


Akhirnya part yang berat bisa rampung juga...maaf buat semua yang udah lama nungguin ya. Seminggu ni akunya sibuk banget di dunia nyata...semoga bis lebaran bisa up normal lagi. Dan pada masih setia di sini...jangan kemana-mana ya...😘🙏

__ADS_1


__ADS_2