Setangkai Layu

Setangkai Layu
Keputusan Roman


__ADS_3

Merindukan sosok yang selama ini selalu dia pungkiri keberadaanya. Panggilan ayah yang pernah terlontar dari mulut mungilnya sungguh kenyataan. Rasa berdosa menghimpit dadanya, terasa sesak. Belum pernah memberinya kasih sayang yang semestinya, padahal dirinya sejak kecil hidup di tengah masih sayang berlimpah.


Berdiam di dalam mobil di bawah kilau mentari yang mulai menghangat, bersinar cerah pagi itu. Berharap sosok kecil itu muncul. Dan benar, nampak Kinara berjalan menuntun anaknya tersenyum riang mendengarkan celotehan bocah itu, yang tak terdengar dari arahnya. Diikuti Bu Ira yang menenteng tas punggung yang sepertinya milik Evan.


"Ibu berangkat dulu ya, tuh bisnya udah dateng. Evan sekolah yang pinter, jangan nakal," pamit Kinara sembari mencium kedua pipi Cubi Evan, penuh rasa sayang.


"Kata nenek kalau aku jadi anak pinter sama nurut, ayah bakalan pulang. Iya kan Nek?" celetuk polosnya membuat Kinara terhenyak. Terdiam sejenak, lidahnya kelu untuk menjawabnya.


"I-iya...," jawabnya terbata, memaksakan senyumnya. Sungguh tak siap batinnya, mendengar kata "ayah" tersemat untuk laki-laki itu. Kecemasan mulai menjalar, Jika Roman menuntut pengakuan itu dan lebih jauh meminta haknya.


Bu Ira yang tau perasaan Kinara, menepuk bahunya tersenyum menenangkannya, "Iya sayang...yuk kita berangkat sekolah," beralih menatap Evan.


Evan pun lanasung mencium punggung tangan Kinara, diikuti lambaian tangan penuh semangat. Ayahnya akan segera pulang batinnya.


Percakapan itu sedikit banyak bisa Roman dengar, jaraknya yang memang tak terlalu jauh.


Ayah akan berjuang untukmu, memberi kebahagiaan yang sesungguhnya. Batinnya yang merasa yakin, Evan yang begitu merindukan sosok ayah akan dengan mudah bisa menerimanya.


_________________________


"Kinara..." panggilan seseorang membuat langkah Kinara terhenti, menoleh ke arah asal suara tersebut.


"Iya Pak," sahutnya.


"Nanti siang ayah pengin ketemu kamu, bawa Evan," ucap Angga.


"Terus kerjaan saya gimana Pak?"


"Apa kamu lupa, aku kan bosnya," dengan gaya sombongnya.


"Maaf Pak.." balas Kinara tersenyum melihat tingkah bosnya itu.


"Nanti biar sopir yang jemput Evan, kamu tinggal kabari saja orang rumah. Aku masih ada kerjaan darurat soalnya," kata Angga lagi.


Kinara mengangguk, "baik Pak." Dia nggak mungkin berani nolak perintah bosnya yang kadang tengil itu.


"Ya udah sampai ketemu sore nanti. Aku bagian anterin kamu pulang," kemudian melenggang meninggalkan tempat tersebut.


___________________________

__ADS_1


Entah karena apa, rasanya waktu terasa berjalan begitu singkat. Tanpa disadari ternyata sudah siang saja, gumam Kinara dalam hati. Sesuai janjinya, di mulai berkemas. Mengganti seragamnya dengan pakaian biasa, pakaian yang dia kenakan saat berangkat tadi. Kemudian melangkah ke pelataran parkir, mobil sedan mewah baru saja berhenti.


"Ibu..." teriak Evan memanggilnya, begitu keluar dari mobil. Kinara pun tersenyum, menghampiri bocah kecil itu.


"Kita mau kemana si Bu...kok di jemput pake mobil bagus banget," tanya Evan dengan lugunya.


"Ke rumah bosnya Ibu sayang."


"Ngapain ke sana Bu, apa mau ketemu ayah," lagi-lagi kata itu keluar dengan lancarnya.


Kinara nampak gagu sesaat, mencoba bersikap biasa, "Bukan sayang...nanti kita ketemu kakek di sana," hiburnya mencoba mengalihkan pikiran Evan.


"Kakek...kok Ibu nggak pernah bilang, Evan punya kakek," pertanyaannya makin kritis.


"Sekarang masuk mobil dulu aja, nanti Ibu ceritakan ya," bujuk Kinara khawatir Pak Ilham menunggu terlalu lama.


Evan nampak ceria, meminta membuka sedikit kaca jendela mobil. Ingin melihat apapun yang dilewatinya. Sungguh pengalaman baru baginya.


Maafin Ibu ya nak...Ibu sibuk kerja sampai nggak sempet ajak kamu jalan-jalan... rasa bersalah menyembul ke permukaan, melihat Evan yang begitu antusias melihat sesuatu yang baru.


Di tempat lain Roman tengah duduk menunggu seseorang. Sejuknya ruang pendingin mampu meredam panasnya udara di luaran sana, menepikan sejenak semua beban yang bertumpuk di kepalanya. Yang secepatnya memang harus di urai satu persatu satu.


"Maaf, Mas udah lama nunggu ya?" sembari meletakan tas jinjing mahalnya di atas meja.


"Iya sudah tiga puluh menit," jawab Roman dingin.


"Tumben ngajak aku ketemuan. Aku pikir udah lupa," kata Anin terdengar menyindir.


"Ada yang pengin aku omongin."


Anin menatap Roman penuh tanya, mulai menerka-nerka dari raut wajahnya.


"Ada apa?" dengan cepat Anin mulai bisa membaca keadaan.


"Hubungan kita, aku nggak bisa melanjutkannya," ucap Raman dengan lugas dan lancar, penuh keyakinan.


Anjn tersenyum kecut," heh...semudah itu? Setelah setelah aku mempertaruhkan semuanya?" mata Anin mulai berkaca-kaca.


"Maaf..., aku rasa ini lebih baik untuk kita," lirih Roman namun masih terdengar tegas.

__ADS_1


"Untuk kita? atau untuk Mas sendiri? Berjuang sepihak memang melelahkan, tapi kenapa ini balasannya?" Anin meninggikan nada bicaranya, terdengar emosi.


"Keadaannya sekarang lain, aku memiliki seorang anak. Aku harus tanggungjawab. Aku harap kamu bisa ngerti," Roman memilih untuk mengatakan apa adanya. Walau dia tau perasaan Anin akan sangat hancur.


"Anak...?" mendelik tak percaya.


"Jauh sebelum kita berhubungan, aku melakukan kesalahan yang besar hingga anak itu lahir tanpa sepengetahuanku. Dia butuh sosok ayah, aku kan berjuang untuk itu," Roman masih berupaya agar Anin bisa menerima keadaan ini.


"Baiklah...aku ngerti. Hanya saja aku belum bisa mengerti perasaanku sendiri, semoga saja aku bisa menerimanya dengan cepat," Anin menyambar tasnya, melenggang dengan cepat meninggalkan ruangan sejuk yang justru membuat hatinya terbakar. Sementara Roman hanya terdiam memandangi kepergian Anin.


Ini lebih baik dari pada aku bertahan dengan kebohongan... batinya bicara.


__________________________


Mobil yang membawa Kinara dan Evan telah berhenti di halaman rumah mewah bergaya klasik, halaman luas dengan pandangan hijau rerumputan dan pepohonan yang terawat rapi, sungguh asri.


Seorang pria paruh baya tengah berdiri seorang diri, mungkin memang tangah menunggu kedatangan tamu yang sudah dirindukannya.Fan pria itu tersenyum lebar saat melihat Kinara dan seorang bocah kecil keluar dari sebuah mobil.


Akhirnya kalian sampai juga," abunya penuh kehangatan.


"Ooh...ini cucu Opa ya, ganteng banget kamu," pujinya seraya menolong gemas Evan. Sementara Evan masih terlihat bingung, matanya terus menatap sang Ibu.


"Evan...ini kakek yang Ibu bicarakan tadi," ujar Kinara melihat raut wajah Evan yang terlihat agak kebingungan.


"Nama yang ganteng juga... panggil aja aku Opa. Anggap Opa kamu sendiri ya," kata Pak Ilham dengan lembut.


"Maaf Pak, tadi jalanan agak macet jadi lumayan lama," ujar Kinara.


"Nggak papa, ayo masuk dulu. Kita makan dulu, habis itu Bapak mau main sama Evan boleh kan?"


"Iya Pak, maaf udah banyak merepotkan."


"Jangan bilang begitu. Anggap aku ayah kamu sendiri," pungkas Pak Olahan yang kemudian segwraenunu meja makan. Berbagai menu makanan telah tersaji di atasnya, Mbok Narti asisten rumah tangganya sudah mempersiapkannya sejak pagi.


Memasuki rumah yang mewah dengan dengan nuansa klasik membuatnya takjub. Karya seni yang luar biasa, menurutnya. Sebuah bingkai dengan pajangan foto lawas dua anak kecil menyita fokusnya. Seketika otak kecilnya bertanya-tanya, siapakah mereka.


***


Maafken othor yang dia hari ngilang. Pengin up ben hari...apalah daya kerjaan di dunia nyata tumplek seabreg...kedepannya othor usahain buat lebih rajin lagi...thanks all..😘

__ADS_1


__ADS_2