
menghempas kegamangannya, Kinara melangkah pelan menghampiri sosok pria yang tengah menatapnya, mengharap-harap pertemuan itu.
"Ini cicilan pertamaku, sisanya akan segera aku lunasi," ucapnya masih dalam posisi berdiri tanpa basa-basi, menyodorkan amplop putih yang dia ambil dari dalam slingbagnya.
"Permisi..." pamitnya tegas segera melenggang pergi, tak ingin bersitatap dengan pria itu lebih lama lagi.
Roman terhenyak...di luar dugaannya Kinara datang hanya untuk sebuah amplop yang tak pernah lagi dia pikirkan. Sirna harapannya yang menginginkan duduk saling bersitatap mengakhiri beban penyesalan yang masih mengganjal berat di hatinya.
Dengan gugup meraih satu lembar warna merah dari dalam dompetnya, di letakanya untuk secangkir kopi yang bahkan masih berkebul panas tanpa tersentuh sedikitpun. Kemudian dengan segera Roman menyusul Kinara, yang begitu cepat langkahnya.
"Tunggu...!" serunya sembari meraih pergelangan tangan Kinara yang telah sampai di tepian jalan raya.
"Beri aku kesempatan sebentar!" ucapnya penuh harap. Masih mencengkeram kuat pergelangan tangan Kinara.
"Lepas...lepaskan aku!" jerit Kinara yang terlihat panik, trauma yang kembali menjalar.
"Beri aku kesempatan untuk mempertanggungjawabkan perbuatanku..." mohon Roman mulai melonggarkan cengkeramannya.
"Terimakasih...telah membuatnya hadir di hidupku. Aku mohon cukupi sampai di sini. Cukup kamu tau dia adalah darah dagingmu. Kami telah terbiasa dengan semua keadaan ini," Kinara menunduk dengan air mata yang mengalir deras dari kedua sudut matanya. Tak sanggup menatap mata Roman, yang membuatnya mengingat sorot mata penuh nafsu saat mengungkung tubuhnya saat itu.
"Bagaimana bisa seperti itu? Evan berhak tau siapa ayahnya. Atau kamu sudah memutuskan laki-laki lain yang akan kamu aku sebagai ayahnya?" sorot mata Roman begitu tajam, menuntut haknya.
Kinara hanya terdiam dalam kondisi tertekan, tak sanggup menjawab apapun.
"Aku adalah ayahnya dan akan menjalankan tugasku sebagaimana layaknya," pungkas Roman yang membuat Kinara membisu sesaat.
"Ayah yang sempat tak mengakuinya," sarkasnya, memaksa tersenyum. Sebuah terkaan yang muncul secara tiba-tiba dari dalam benaknya membuat Roman terbungkam. Sadar, memang dirinya sempat meragukan kenyataan tersebut.
Kini dirinya hanya bisa menatap kepergian gadis yang sejak awal pertemuan sempat membuat hatinya tergetar. Hanya saja takdir justru mempertemukannya dalam keadaan yang rumit ini.
Masihkah ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya...beri aku kesempatan Kinara...lirihnya dalam hati, menangisi kebodohannya selama ini.
Dari beberapa menit lalu hingga Kinara pergi dengan dengan raut penuh amarah sekaligus kepanikan, seseorang memperhatikanya dengan lekat dari dalam mobilnya. Mencoba menerka dan mengira apa yang telah terjadi dengan kedua orang yang dilihatnya itu. Hingga memaksanya turun untuk menemukan jawabnya.
"Apa yang lakukan sama dia?" tanya Angga dengan sorot menajam.
"Gue ingin hak atas Evan?" jawab Roman datar, pikirannya masih kacau.
"Maksud Lu?" seraya mengerutkan alisnya.
"Gue udah akuin semuanya."
__ADS_1
"Jadi Kinara udah tau semuanya. Dan lu udah yakin kalau Evan darah daging lu?" Angga mencoba mempertegas.
"Apa yang akan lu lakuin sekarang?" tanyanya lagi.
Roman masih terdiam, menoleh sejenak ke arah Angga yang menatapnya tajam. Sulit untuk menjawab pertanyaan itu, yang ada malah terbesit keinginan untuk mengikat Kinara dengan hubungan resmi. Tapi seketika itu juga dia sadar, tak semudah itu. Apalagi dengan keberadaan Jay yang memang tulus mencintai Kinara.
"Jangan buat dia tertekan. Kehidupan di masa lalu sudah cukup membuat beban berat hingga saat ini," tak ubahnya Roman, Angga pun saat ini sama menyesalnya. Jika obat itu tidak dia campurkan pada minuman Roman, mungkin akan lain cerita. Tak ada gadis yang yang menderita hidupnya bertahun-tahun sebagai korbannya.
Sekarang adalah giliranku untuk mengakuinya, aku yang punya andil besar dalam kejadian itu, dalam penderitaannya ...
______________________________
Suasana caffe yang mulai surut pengunjung. Alunan musik jazz menggema merdu mengisi ruangan, mampu membuat pikiran lebih rileks dan nyaman. Menyingkirkam segala kegundahan Daan beban pikiran meski mungkin hanya sesaat.
Angga termenung, terbawa dalam alunan yang begitu menghanyutkan. Berharap setelahnya pikiran mampu Bali bekerja lebih baik, lebih bijak dalam menyikapi masalah.
Hana yang pekerjaannya mulai lengang, berjalan menghampirinya. Duduk persis di depannya, namun Angga tak bergeming. Seolah tak melihatnya.
"Lesu amat..kenapa?" tanyanya menatap Angga lekat. Namun Angga masih terdiam, seperti tak mendengarnya.
"Mas...!" panggilnya lagi, kali ini Angga nampak terkejut.
"Oooh...kamu di sini?"
Angga terdiam, berpikir sejenak. Bisakah dia menceritakannya, batinya ragu.
"Apa kamu bisa maafin seseorang yang telah merusak harga diri kamu?" Angga mulai buka suara.
"Maksudnya apa? Aku nggak ngerti deh.."kata Hana.
"Kesucian yang diambil paksa, apa kamu bisa kamu maafkan?" raut wajah Angga tanpa ekspresi.
"Maksudnya kamu habis perkosa cewek gitu?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Sudahlah...nggak usah dibahas," Angga terlihat tak yakin.
"Anehnya...orang yang ngebahas duluan juga Mas Angga kok," Hana mendengus kesal.
__ADS_1
"Kalau gue nggak bakal maafin tuh orang. Karena keadaan nggak akan balik kaya semula. Tapi kalau dia bener-bener tulus mengakui kesalahannya. Dan berniat tanggungjawab, mungkin bisa jadi pertimbangan. Dan bentuk tanggungjawab itu nggak harus terikat dalam hubungan pernikahan. anehnya kenapa, kok Mas Angga tanya kaya gitu?" Hana makin penasaran.
"Gue yang bikin orang itu ngerusak seorang gadis. Dan malangnya gadis itu hamil tanpa kami ketahui. Setalah hampir lima tahun kamu baru tau soal itu."
"Keterlaluan...kenapa Mas sampe ngelakuin hal kaya gitu?" Hana mulai terlihat emosi.
"Iseng...awalnya cuma itu," tutur Angga sarat penyesalan.
"Iseng...? sungguh miris...hal kaya gitu hanya karena iseng. Aku nggak ngebayangin betapa hancurnya gadis itu. Keterlaluan kamu Mas..."
Angga hanya menunduk, sadar akan kesalahannya.
"Gue nyesel..." tuturnya memilukan.
"Kali gitu kenapa nggak Mas aja yang tanggungjawab?"
"Kalo saja gue bisa..."
"Kenapa nggak bisa? Nggak harus nikahin dia kan? Ngajak nikah pun belum tentu dia mau."
"Apa aku kenal sama gadis itu? Terus siapa juga yang minumnya Mas kasih obat?" tatapan Hana menyelidik.
Belum sempat Angga menjawab, tiba-tiba seseorang menyapa mereka.
"Mas Angga di sini juga?" sapa Anin yang sudah berada di sebelahnya.
"Ngapain lu kemari?" sinis Angga.
"Bunek aja di rumah, Mas Roman juga nggak bisa dihubungi," kata Anin seraya menarik satu kursi untuknya duduk.
"Mau minum apa? Biar aku panggilin pelayan," tawar Hana.
"Orange soda aja, panas banget nih hawa," sambil mengipas-ngipas tanganya.
Hana kemudian bangkit, beranjak ke belakang mengambil pesanan Anin. Entah kenapa diaemang nggak suka sama yang ngakunya pacar kakaknya ini. Bahkan dia punya niatan buat ngenalin Roman sama Kinara, tapi belum kesampaian.
Sementara di tempat lain Roman tengah menyepi di gelapnya kamar yang sengaja dia matikan lampunya. Mendinginkan kepala, meraba-raba tindakannya besok. Yang pastinya dimulai denganengakhuri hubungwnya dengan Anin.
*****
Alhamdulillah...rampung juga ini part...maafken othir yang telat update. Udah mulai kesulitan bagi waktu di dunia nyata nih...
__ADS_1
Moga puas sama part ini yuup..😘