Setangkai Layu

Setangkai Layu
Om Ayah


__ADS_3

Berjalan menyusuri lorong sempit yang terasa begitu sunyi meski malam belum beranjak larut. Satu tangan mendekap tubuh bocah kecil dalam gendongannya, satu tangan lainya mencoba meraih tangan seorang perempuan yang berjalan persis di sebelahnya.


Kinara pun membelalak, saat satu tangan bertaut di jemarinya. Masih terasa asing, meski bukan dengan orang asing yang baru dia kenal. Sekian detik, tatapan matanya tertuju pada raut wajah datar yang berjalan tegap di sebelahnya. Seolah mempertanyakan apa maksudnya, namun raut wajah Jay tetaplah datar seolah dia tak melakukan apapun. Walau dalam hatinya tau, gadis itu belum terbiasa dengan perlakuannya.


"Sebaiknya kamu pertimbangkan buat pindah rumah," ucapnya tanpa menatap Kinara, sedang tangannya masih tertaut mengunci jemarinya.


"Iya...tapi mungkin belum dalam waktu dekat, pindah rumah kan butuh biaya lagi. Evan juga sekolahnya deket sini," jawab Kinara.


"Nggak usah mikirin soal biaya, aku memang nggak punya banyak uang. Tapi aku bisa mengupayakannya."


Kinara berhenti sesaat, kembali menatap Jay dengan lekat, "hutangku sudah terlalu banyak Mas..." lirihnya.


"Biarlah terus bertumpuk, menjadi beban yang akan membuat kamu sulit meninggalkanku," jawabnya tanpa menatap wajah Kinara.


"Mas..."


"Kenapa? Apa terlalu berat untuk tetap disisiku."


"Bukan...aku hanya takut takdir tak membawa kita berakhir bersama," kecemasan yang terus menjalar dalam batin Kinara.


"Baiklah...kita nikah besok," jawab Jay singkat dan tandas.


"Mas..." panggilan Kinara penuh penekanan.


"Kenapa lagi? Apa kamu berharap ayah kandung Evan yang berada di sisimu," tegas Jay.


"Kenapa harus menyebutnya," Kinara nampak sangat tak suka dengan pembahasan perihal ayah biologis Jay.


"Nggak usah dibahas lagi, aku tunggu sampai kamu siap," pungkas Jay tak mau membuat suasana malah semakin rumit.


Memutuskan kembali melangkah, dengan melepas tuatan jemari masing-masing. Berjalan sendiri-sendiri dengan pemikiran yang mungkin tak seirama dan setujuan.


_______________________________


Bias-bias cahaya mentari menerobos celah-celah tirai putih yang nampak anggun. Menyengat tubuh yang masih terbius dalam lamunannya. Menyadarkanya untuk segera bangkit menatap lalu menata kembali hidupnya. permasalahan tak akan habis hanya dengan lamunan.


Roman menatap ke arah jam dinding, pukul sembilan lebih sepuluh menit. Ingatanya kembali terkumpul penuh, kerinduan akan sosok kecil darah dagingnya menyeruak tak mampu ditahannya.


Segera masuk ke kamar mandi, entah hanya membasuh muka atau menyiram tubuhnya, yang pasti bersiap untuk mengobati kerinduanya.


Jalanan cukup lengang, tak sepadat jam-jam masuk kerja. Hanya butuh empat puluh menit untuk sampai di depan gedung sekolahan yang belum bisa dikategorikan sekolah favorit. Apalagi sekolah elit seperti yang dia pikirkan untuk anaknya kelak.


Dering bel berbunyi nyaring, pertanda jam sekolah usai. Roman bersiap menjemput Evan dari depan pintu gerbang, tak adaBu Ira di sana.

__ADS_1


"Om... ayah?" Evan nampak terkejut dengan kehadiran Evan. Masih merasa orang yang dihadapannya sekarang mirip dengannya.


Roman tak bisa menjawab apapun, rasanya ingin dia katakan "aku memang ayahmu nak..." tapi belum memungkinkan. Kinara harus terlebih dulu menyetujuinya. Dia tak mungkin melukai gadis itu untuk kesekian kalinya.


"Apa boleh Om peluk kamu?" Roman sebisa mungkin menahan perasaanya, menahan air mata yang mungkin memang telah menitik. Menangisi kenyataan, bahkan setelah hampir lima tahun baru bisa memeluk darah dagingnya sendiri. Seorang anak yang hadir dari kesalahannya.


Begitu erat pekukan itu, sampai membuat Evan terdiam heran. Bartanya-tanya dalam hati, pikirannya tak sesederhana anak lain seusianya.


Dari kejauhan Bu Ira yang sedikit terlambat menjemput hanya terpaku melihat pemandangan itu. Dia tak mungkin secara langsung meminta Roman menjauhi cucunya. Mempertimbangkan dampak psikis Evan sendiri, di sisi lain dia adalah ayah kandungnya. Dia berhak untuk itu.


"Om kenapa peluk Evan kenceng banget?" tanya Evan dengan polosnya.


"Kangen....kangen banget sama Evan," jawab Evan seraya mengusap lembut pucuk kepalanya.


"Hei...siapa itu, bukanya kamu nggak punya ayah?" tanya teman nakal di kelasnya, menyela pembicaraan mereka.


"Siapa bilang aku nggak punya ayah? Ayahku kan kerja dan sekarang baru balik, iya kan Yah..." beralih menatap Roman, tak terima selalu di ejek tak punya ayah.


Roman pun tersenyum, mengangguk mengiyakan pernyataan itu, "ayo kita pulang nanti Evan mau mempir kemana?" semakin memperlihatkan jiwa seorang ayah.


"Ok Yah..." jawab Evan dengan bangganya sembari tersenyum menatap ke arah temanya tersebut. Membuat temanya itu memilih menggandeng ibunya langsung pergi.


Dari pandangan itu, Bu Ira semakin iba. Malangnya Evan yang di ejek hanya karena tak ada sosok ayah di sisinya. Evan bukan hanya butuh pengakuan, tapi dia juga butuh kasih sayang seorang ayah.


"Nenek.." panggil Evan saat melihat Bu Ira.


"Nenek masih inget nggak? Ini Om Ayah, yang mirip sama aku," dua kata panggilan itu membuat Bu Ira terhenyak.


Naluri seorang anak memang tak keliru, berdosa baginya jika menyembunyikan kenyataan itu semakin lama. Membiarkan ayah dan anak terpisah dalam ketidaktahuan.


"Maaf Bu...aku nggak minta izin dulu sama Ibu," ujar Roman.


"Nggak papa," jawabnya singkat.


"Yuk..kita pulang sekarang," baralih ke arah Evan.


"Nek..boleh nggak kalau Om ayah nganterin kita pulang," pintanya.


"Rumah kita kan deket kan sayang..."


"Tapi aku masih pengin amin sama Om Ayah," rengek Evan mbuat Bu Ira tak mampu menolak.


"Baiklah...tapi kalau Omnya setuju," kata Bu Ira menyetujui.

__ADS_1


"Tentu Om siap..." jawab Roman terlihat sangat senang.


Begitu sampai di rumah, Roman menggulung kemeja lengan panjangnya, bersiap menemani Evan yang mengajaknya bermain bola di samping rumah.


Mereka berdua terlihat sangat bahagia, bermain layaknya ayah dan anak yang lain. Sesuatu yang memang selalu Evan minta.


Setengah jam berlalu, berlarian di bawah terik yang sedang panas-panasnya membuat keringat mereka bercucuran.


"Evan... suruh Omnya minum dulu," teriak Bu Ira setelah meletakan dua gelas air putih dingin dan satu piring semangka merah menggoda.


"Iya Nek.." sahut Evan.


Dan kembali, pandangan Roman yang begitu telaten menyuapi Evan membuat hati Bu Ira perlahan luluh, dia yakin Roman memang berniat baik.


"Istirahat dulu...mainnya nanti lagi kasian Omnya cape," ujar Bu Ira.


"Iya Nek," jawabnya nurut.


"Om...besok Om jemput Evan lagi ya, Evan pengin main lagi sama Om," pintanya manja.


"Omnya kan kerja sayang..." sela Bu Ira.


"Iya..tapi Om janji, kalau Om libur apa punya waktu senggang Om bakalan jemput Evan lagi. Kita main lagi," timpal Roman.


"Om...gimana kalau Om yang jadi ayahnya Evan aja," rengekan bocah polos itu membuat dua orang dewasa di sisinya tercekat membisu tanpa jawaban.


"Kenapa? Om nggak mau ya?" terdengar penuh kekecewaan.


"Bukan begitu sayang__"


"Evan...apa Evan ingin banget ketemu sama ayahnya Evan?" tanya Bu Ira dengan lembut namun mengisyaratkan sesuatu.


"Iya Nek...tapi kenapa ayah nggak pulang-pulang," jawabnya mulai terisak.


"Ayah kerja tapi lama benget, ayah nggak sayang sama Evan," tangisnya mulai pecah yangmembuat Roman tak mampu menahan emosinya, matanya mulai menggenang.


Bu Ira pun langsung memeluk Evan, "Ayah Evan sudah pulang sayang," bisiknya.


"Apa Nenek nggak bohong? Mana Nek?"


Pandangan Bu Ira beralih ke arah Roman, "dia__ dia ayah__ayah Evan," tutur Bu Ira diiringi Isak tangisnya, akhirnya tak mampu menahan untuk menyimpan kenyataan itu lebih lama lagi.


"Ayah..." meski terkejut Evan langsung berhamburan memeluk Roman. Dia sangat bahagia, meski akan ada banyak pertanyaan yang akan di cecar nantinya.

__ADS_1


*****


Beribu maaf buat semuanya...masih belum bisa up Ben hari... moga masih tetep setia nungguin. Jangan lupa banterin komen biar othor makin cemungutttt...😍


__ADS_2