Setangkai Layu

Setangkai Layu
Pakai Hati


__ADS_3

Menatap kosong ruang sepi yang kini hanya di tempatinya seorang diri. Berdebu dan berantakan, tak tersentuh sepasang tangan lembut yang telaten membersihkan dan merapikannya. Sunyi..tak ada lagi suara langkah kaki yang riwa-riwi kesana kemari, tak ada lagi aroma masakan yang membuatnya selalu merasa lapar meski telah terisi penuh sebelumnya.


Berhari-hari rasa bersalah menggerogoti jiwa dan raganya. Mengutuki diri yang begitu mudahnya terombang-ambing oleh bisikan iblis, hingga menggores makin dalam perasaan orang lain.


Perkerjaan yang makin menumpuk hanya dilihatnya, terbengkalai karena pikirannya yang kusut tak terurai. Tubuhnya kian lemah, setelah beberapa hari ini dia biarkan kosong. Enggan mengunyah meski hanya sesuap.


Dengan wajahnya yang memucat, Roman memaksakan langkahnya, menyiapkan hati menemui Kinara. Melajukan mobilnya dengan sisa tenaga yang dia miliki.


Berdiam menunggu sekitar empat puluh lima menit. Kinara muncul, raut wajah lelah nampak terlukis jelas di wajah polosnya. Melangkah pelan ke arahnya. Tak buang waktu, Roman keluar dari mobilnya seketika.


"Mas...?" mata Kinara membelalak, melihat sosok yang tiba-tiba berdiri di depannya.


"Temani aku makan," kalimat itu yang meluncur dari mulutnya. Dengan tatapan datar namun menyiratkan sebuah pengharapan besar.


Melihat wajah Roman yang memucat membuatnya hatinya luluh, memenuhi permintaan tersebut. Melangkah masuk ke dalam mobil.


"Di sana saja," tunjuk Kinara pada sebuah tenda di pinggir jalan, setelah baratus meter dari hotel tempatnya kerja. Roman menurut, menepikan mobilnya di dekat tenda tersebut. Tepatnya sebuah tenda angkringan yang cukup ramai di kerumuni pengunjung.


Duduk beralaskan tikar, di bawah temaramnya suasana yang minim pencahayaan. Beberapa menu yang Kinara pilih pun mulai berdatangan. Dan tentu menu utamanya adalah nasi kucing khasnya.


Satu bungkus tak berarti, membuka bungkusan kedua belum mengganjal juga. Di tambah lagi sate ati ampela lima tusuk, masih belum mengisi penuh perutnya. Hingga bungkusan ketiga ke empat dan ke lima akhirnya membuat Roman mengelus perutnya. Terasa kenyang bukan main.


Melihat nafsu makan Roman yang menggila membuat Kinar tertegun. Mengerutkan keningnya, terheran-heran.


"Memangnya berapa hari kamu nggak makan Mas?" tanya Kinara.


"Sejak kamu pergi," jawabnya masih mengunyah satu gorengan di mulutnya padahal sudah lebih dari sekedar kenyang.


"Satu.. dua..tiga.. empat hari? selama itu kamu nggak makan? Pantes...agak kurusan," ucapnya.


"Lalu kenapa kamu diemin makanan itu? Apa harus aku yang ngabisin lagi?" melihat Kinara hanya mengaduk-ngaduk nasinya.


"Lihat kamu makan, aku udah kenyang," balasnya.

__ADS_1


"Makanlah...kamu juga kurusan," suruh Roman menatap lekat wajah Kinara.


"Oya...besok aku baru bisa nicil utangnya. Maaf lama..." Kata Kinar mengalihkan pembicaraan, mulai tak nyaman dengan tatapan Roman.


"Kenapa masih bahas soal hutang. Habiskan dulu makannya," Roman terlihat begitu perhatian.


Kinara kembali menyuapkan nasi, hingga habis tak tersisa.


"Tolong kirimi aku nomor rekeningnya. Besok aku transfer cicilan pertama," masih membahas soal hutang.


"Aku minta kes," jawab Roman.


"Terserah Mas aja..." kata Kinar seraya mengumpulkan sampah bungkus nasi di satu tempat.


"Ojek pesenanku udah dateng, aku duluan," pamit Kinara seraya bangkit. Namun Roman menahan tangannya bahkan sebelum sempat Kinara berdiri tegak. Membuat Kinar terhenyak, buru-buru menepisnya.


"Maaf..." Roman menyadari Kinara tak nyaman. "Mulai besok, buatkan bekal untukku. Sarapan dan makan siang. Aku akan menghitung harganya, mengurangi hutang kamu," ujar Roman serius dengan ucapannya.


"Dihargai berapa setiap menunya?"


"Baiklah..aku setuju," Kinara tersenyum, setidaknya dia bisa cepat mengurangi tanggungannya.


Kemudian beranjak, menuju ojek yang setia menunggunya. Meninggalkan Roman yang masih terpaku, menatapnya hingga lenyap di pekatnya malam.


Ada gelenyar-gelenyar rasa yang bersemayam di relung hatinya, yang dia sendiri belum bisa memaknainya. Mungkin rasa yang dia ingkari, karena menginginkan sosok perempuan tanpa cacat. Tanpa dia sadari dialah satu-satunya laki-laki yang telah mencederai kesucian gadis itu. Tidak ada orang lain lagi, seperti sangkaannya selama ini.


Di tempat lain, Angga menemui Jay mencoba menelisik sosok gadis yang tengah dicari sahabatnya tersebut. Turut duduk di sebelah Jay yang tengah melamun sepi di balkon setengah jadi bangunan tersebut.


"Tumben lu kesini?" sapa Jay yang tak beranjak dari tempatnya.


Angga memejamkan mata, meraup dalam-dalam udara malam itu. Terasa dingin, menyejukkan panas hatinya beberapa hari ini.


"Cuma pengin nenangin diri," jawabnya asal.

__ADS_1


"Lu udah temuin gadis itu?" telisiknya tanpa basa-basi.


"Dia sudah berada di sekitar gue, namun sulit menjangkaunya," jawab Jay.


"Siapa gadis itu?" desak Angga.


"Kinara.." jawabnya jelas. Membuat Angga terhenyak, matanya membelalak, jantungnya menderu hebat, menyisakan nyeri yang menghujam batinnya. Sesal tak berguna menghimpit dadanya, tak mampu menghirup udara yang tersedia melimpah tak terbatas...sesak.


"Kinara...? gadis itu?" mencoba menegaskan, berharap ada yang salah dengan pendengarannya.


"Dia menyembunyikan banyak hal. Gue bakal membukanya satu persatu, dengan atau tanpa keinginannya," jawab Roman.


Menyadari betapa berartinya sosok Kinara untuk Jay, dan dirinya adalah orang yang turut andil dalam hancurnya harga dirinya. Angga memilih pergi, tanpa satu kata pun. Belum ada kesiapan dan keberanian untuknya mengatakan kebenaranya saat ini. Memilih waktu yang tepat untukngakui semuanya.


Maafkan aku...yang begitu kerdil tak mempunyai keberanian untuk menyatakan kebenaran. Tapi aku janji...aku akan menemukan jalan keluarnya.


Sementara Jay hanya menatap bingung kepergian Jay. Datang hanya untuk menanyakan satu hal, lalu pergi begitu saja. Apa kaitannya tentang semua ini, batin Jay bertanya-tanya, merasa aneh.


__________________________


Sebelum matahari mulai mengintip, menggantikan pekatnya malam. Kinara telah berkutat di dapur, menyiapkan bahan makanan yang akan di olahnya. Satu persatu di masukan ya ke dalam wajan yang telah berisi minyak panas, menciptakan aroma yang menggugah selera. Setelah selesai, ditatanya pada tiga kotak nasi terpisah. Satu untuk bekal Evan sekolah. Dua lainya untuk Roman, sesuai permintaanya. Tentu dengan menu yang berlainan.


Setelah berpamitan, peluk cium pada sang anak, Kinara melangkah keluar menenteng paper bag berisi penuh bekal untuk Roman. Setelah sampai di pelataran tempatnya bekerja, Kinara berjalan menuju pos security, menitipkan paper bag itu di sana. Roman akan mengambilnya nanti.


Dari jarak beberapa meter, nampak seseorang tengah memperhatikanya. Senyum ramahnya membuat Jay merasa geram. Tak rela Kinara membaginya pada orang lain.


Kinara menunduk hormat saat akhirnya mereka berpapasan. Empat hari kembali ke hotel, membuatnya paham betapa pentingnya posisi Jay untuk Angga bosnya.


"Apa kamu selalu begitu pada setiap orang?" tanya Jay tiba-tiba.


Kinara menautkan kedua alisnya, tak mengerti, "maksudnya?"


"Aku tidak suka kamu membagi senyum itu pada orang lain," jawab Jay datar, terselip kekesalan di sana. Yang kemudian ngeloyor pergi begitu saja.

__ADS_1


Meninggalkan Kinara yang masih terpaku bingung. Menerka-nerka sikap Jay. Apakah cemburu padanya, tersungging senyum manis di bibirnya, namun kemudian lenyap seketika. Saat merasa pantaskah kecemburuan itu tertuju padanya.


__ADS_2