
Bukan hal yang mudah bagi Kinara maupun Roman menjalani masa-masa awal pernikahan mereka. Bagaimana Kinara menata hati, menyiapkan diri menggali cintanya lagi untuk orang lain. Menyimpan cinta lalunya di dasar hati, karena tak mungkin baginya melupakan Jay dengan kepahitan dan kepedihan yang telah dia jalani karena pengorbanannya.
Bukan usaha yang mudah pula bagi Roman untuk bisa memenangkan dirinya dari bayang-bayang Jay, sang legenda yang tak akan pernah tergantikan di hati Kinara. Wujud nyata perhatian, kasih sayang, juga kesabaran yang dia harapkan sanggup membuatnya bertahta di hati perempuan yang dia cintai.
Tak ada yang salah dari sikap Kinara sebagai seorang istri, menjalankan tugasnya, menunaikan kewajibannya dengan baik. Namun di balik senyum yang tersuguh manis, masih ada sesuatu yang dia sembunyikan dan Roman sepertinya paham akan itu.
Mungkin inilah hukuman untuknya, yang sulit memiliki Kinara seutuhnya. Walau mungkin waktu mampu merubah segalanya.
"Besok pekerjaanku lumayan senggang, sore kita cek ke dokter ya, " bujuknya pada yang istri saat mereka tengah duduk di ruang keluarga bersama menemani Evan bermain.
"Terserah Mas aja, " jawab Kinara tersenyum tipis.
Roman tak suka dengan jawaban seperti itu, "kenapa terserah? Apa kamu nggak menginginkannya, anak kedua kita? " tegas Roman.
"Terserahnya aku itu maksudnya sesempetnya Mas aja, " Kinara tetap tenang.
"Evan udah nguap-nguap terus, aku anterin ke kamar dulu, " Kinara menuntun Evan menuju kamarnya.
Sementara Roman yang masih memendam kecewa memilih beranjak ke ruang kerjanya.
Kinara celingukan mencari suaminya yang sudah tak terlihat lagi di ruangan tadi, di kamar juga nggak ada.
"Udah malem, apa mau lembur? " tanyanya saat menemukan Roman tengah fokus dengan beberapa lembar berkas.
"Kamu duluan aja? " jawaban yang dingin.
Kinara mendekat, memilih duduk persis d depan Roman, " semoga besok hasilnya bagus semua," ucapnya lembut dengan menggenggam hangat telapak tangan suaminya.
Dan itu sontak membuat Roman luluh. "Aku sangat menginginkannya, menikmati masa-masa yang telah aku buang dulu saat kamu mengandung Evan."
"Apa kamu siap, naik pohon tetangga petik mangga, cari es teler tengah malem, atau nyari gado-gado dini hari? " Kinara dengan senyum meledeknya.
"Kenapa enggak? " Roman penuh percaya diri.
"Apapun akan aku lakukan untuk kamu dan anak kita, " imbuhnya lagi sembari mengusap lembut wajah ayu istrinya yang juga belum pudar sedikitpun.
Sikap Roman dan kesabarannya selama ini perlahan mang mampu membuat Kinara merasa nyaman, meski perasaan itu berawal dari sebatas kewajiban. Walau belum membuka hati sepenuhnya.
__ADS_1
Dan esoknya beberapa tes yang mereka jalani hasilnya baik, tak ada masalah apapun. Namun ada satu pesan yang Dokter Rahma sampaikan secara pribadi pada Roman.
"Buatlah istri kamu nyaman saat kalian berhubungan, apa istrimu sering merasa tertekan? " tanya Dokter Rahma yang masih kerabat Roman.
"Ya.. ada trauma yang Kinara alami, dia memang nggak pernah nyaman saat kami berhubungan, " wajah Roman nampak lesu.
"Menurutku trauma yang menaun itu bisa karena kejadianya yang terlalu menyakitkan, atau imbas dari kejadian itu yang lebih menyakitkan dan bahkan berlangsung dalam waktu yang lama. Tapi yakinlah, teruslah berusaha.. " Dokter Rahma menepuk bahu Roman, menyemangatinya.
"Dan satu lagi, jangan memaksakan apapun. Toh kalian juga punya Evan. Pasrahkan semua sama Yang di atas.
Roman memikirkan apa yang Dokter Rahma katakan, mungkinkah imbas dari kejadian itu yang membuat Kinara sulit keluar dari traumanya.
"Ayah kok lama banget sih, " protes Evan yang menunggu Roman di kantin.
"Tadi ayah mampir ke toilet, antri banget, " yuk kita balik, mengangkat tubuh bocah yang makin tumbuh besar itu.
Nampak sekali sikap Roman nampak berbeda, bahkan beberapa kali mengabaikan perkataan Evan. Dan itu tak luput dari mata Kinara, membuatnya penuh tanda tanya.
"Mas kenapa? " tanya Kinara mendekat pada suaminya, setelah mereka berada di rumah.
"Maafkan aku sayang, bahkan aku belum bisa membuat kamu bahagia sepenuhnya, " ucap Roman lirih.
Roman menarik tubuh Kinara ke dalam pelukannya, "aku akan tetap sabar menunggu kamu benar-benar menerimaku sayang, ini adalah hukuman ku yang telah membuat kamu menderita selama ini, " makin memeluknya erat.
*****
Di tempat lain Hana yang merasa pengap seharian bergulat dengan pekerjaannya, beranjak keluar cafe mencari udara segar. Namun berau beberapa langkah dia berjalan, ada pemandangan yang membuatnya menganga. Seseorang di pukuli oleh beberapa pria bertubuh kekar. Ngeri, takut tapi juga tak tega.
"Polisi... tolong... " teriaknya dengan keras membuat beberapa pria kekar itu lari dengan kesal, dengan mudahnya dibodohi Hana.
Hana pun menghampiri pria yang babak belur itu, "Vino... ? " terkejut dengan wajah itu.
"Panggilan kamu nggak enak banget didenger, " ucapnya malah tersenyum tipis.
"Babak belur gini bisa-bisanya malah ngomong gitu, emang harus aku panggil apa? " Hana memberengut melihat tingkahnya.
"Aku kan lebih tua, panggil dong 'Mas' atau apa kek gitu, kan kedengaranya lebih enak, " cerocosnya.
__ADS_1
Hana hanya tersenyum geli dengan jawaban itu, "dari mana kamu tahu? "
"Stalking medsos kamu, " balas Vino.
"Ke klinik apa kemana gih sana, obati tuh luka kamu! " suruh Hana.
"Beli salep aja di apotik, kamu yang obatin, " Vino tersenyum penuh maksud.
"Yayayayya... baiklah, kita ke apotik. Kali ini aku lagi baik hati, " Hana melangkah terlebih dulu, diikuti Vino yang tersenyum puas. Secepat itu mereka terlihat akrab.
Vino duduk di sebuah bangku, sementara Hana masuk ke apotik.
"Bersihin dulu lukanya, " Hana mulai me bersihkan luka Vino dengan hati-hati.
Vino meringis kesakitan, "pelan dong, " protesnya.
"Iya ini pelan kok, dah ini tinggal di kasih salep, " dengan lebih hati-hati Hana mengoleskan salep di bagian wajah Vino.
Tak berkedip Vino menatap wajah melankolis Hana, jantungnya melompat-lompat tak terkendali. Hana pun mulai tak nyaman dengan tatapan itu.
"Udah selesai, " Hana menarik tubuhnya, namun Vino menahannya.
"Yang ini belum, " menuntun tangan Hana ke dadanya.
"Sini juga sakit, " ucapnya tanpa mengalihkan tatapanya dari Hana.
Sontak Hana mendorongnya dengan keras, "apaan si? " omelnya.
"Aowww... sakitt, " rintihan Vino manja.
"Mending kamu pulang aja, ni obatnya kamu pake sendiri, " Hana menyodorkan salep yang tadi
"Aku nggak bisa ngolesi sendiri, harus kamu, " gida Vino.
"Masa bodo..., " dengan cepat Hana berbalik, melangkah masuk kembali ke cafenya.
Hana... lu bener-bener udah ngerampok hati gue... gumamnya lirih tersenyum menatap kepergian Hana.
__ADS_1
"Besok pagi aku kesini lagu beneran, " teriak Vino yang membuat Hana melangkah makin cepat.