Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya

Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya
22. Pengakuan Bagas


__ADS_3

Bagas tidak bisa berpaling menatap Alea dengan penampilan barunya. Wanita yang dimatanya itu sudah cantik kini terlihat semakin cantik dengan hijab dan outfit yang dikenakannya.


Sepulangnya dari kantor, Alea segera mencoba semua hijab yang dihadiahkan oleh istri Lukman padanya.


"Bismillah." Alea yakin dengan keputusannya untuk hijrah dan mulai hari ini dia merubah penampilannya.


"Cantik." gumam Bagas yang bisa didengar bu Tuti yang berdiri disampingnya.


"Tunggu apalagi Den? Secepatnya di ikat sebelum didahului oleh yang lain." bisik bu Tuti.


"Iya Bu." jawab Bagas mengiyakan ucapan bu Tuti.


Asisten rumah tangga yang sudah ikut bersamanya sejak dia masih kanak-kanak itu benar. Bagas harus cepat bertindak. Setidaknya dia harus mengakui perasaannya dengan kata-kata bukan hanya dengan tindakan yang selama ini dia tunjukkan.


"Ayo Pak sarapan. Nanti kita terlambat." suara Alea yang menyapanya mengejutkan Bagas.


"Kamu terlihat lebih cantik, Lea." ucap Bagas yang memberanikan diri memuji Alea.


Blush rona merah terlihat diwajah Alea, membuatnya semakin cantik di mata Bagas. Untuk kali pertama Alea mendapatkan pujian dari pria yang tidak pernah mengumbar kata cinta atau rayuan selama Alea kenal dan dekat dengan Bagas.


"Terima kasih, Pak. Doakan saya bisa istiqomah dan lebih baik lagi kedepannya." jawab Alea yang tidak ingin terlihat terlalu senang dengan pujian Bagas.


Bukan kali pertama Alea satu mobil dengan Bagas, tapi tetap saja membuat Alea tidak berani banyak bicara saat berdua seperti ini.


"Kamu tidak ingin tahu mengapa pimpinan pusat ingin bertemu kamu?" tanya Bagas disela-sela konsentrasinya pada jalanan.


"Memangnya kenapa Pak?" tanya Alea. Semalam dia sempat bertanya-tanya, tapi dia berpikir positif. Mungkin ini menyangkut keberhasilannya beberapa bulan terakhir ini.


"Saya juga tidak tahu pasti, tapi sepertinya kamu akan ditarik ke kantor pusat."


Seperti yang di perkirakan Bagas, Alea akan ditarik ke kantor pusat. Masih ada waktu satu bulan untuk Alea menentukan pilihan. Pindah ke kantor pusat atau menggantikan posisi Bagas saat ini.


"Mau makan dimana?" tanya Bagas begitu mereka sudah keluar dari kantor pusat.


Sebelumnya Alea sempat melihat-lihat suasana kantor, untuk membantunya mengambil keputusan. Dia baru dua tahun bergabung di perusahaan ini, tapi dinilai mampu memimpin mengantikan Bagas yang mengundurkan diri dari perusahaan.


"Bapak kenapa resign?" Bukan menjawab pertanyaan Bagas tapi dia balik bertanya.


"Ohh saya tahu, Bapak mau married lagi ya?" tebak Alea, tapi entah mengapa dia merasakan nyeri saat mengucapkan kalimat itu.


"Maunya begitu kalau yang mau saya ajak nikah juga mau." jawab Bagas.


"Bukannya Bapak sudah di jodohkan, berarti Bapak sudah ada yang mau." jawab Alea lagi.


Dia diberi tahu Bu tuti, tentang Bagas yang dijodohkan oleh keluarganya. Mendengar berita Itu juga yang menyebabkan Alea tidak ingin terlalu berharap banyak pada Bagas. Status sosial keluarga mereka jauh berbeda, tentu saja keluarga Bagas akan mencarikan pasanagan untuk Bagas yang setara dengan keluarga mereka.


"Tapi saya tidak menerima perjodohan ini. Saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama." jawab Bagas sambil menatap lekat Alea.


"Kita sudah sampai." ucap Alea setelah memalingkan wajahnya dari tatapan Bagas yang membuatnya berdebar.


"Ayo turun" ajak Bagas yang tahu Alea menghindari tatapan matanya.


Baru saja Alea akan melangkah masuk ke dalam restoran pilihan Bagas, seorang gadis muda berlari dan langsung memeluk Bagas dengan erat.


"Kangen Kak." ucap gadis itu.

__ADS_1


Alea yang melihatnya hanya bisa menatap penuh tanya. Mungkinkah itu gadis yang dijodohkan keluarga Bagas.


"Kamu sama siapa?" tanya Bagas sambil merapikan rambut gadis itu, membuat Alea memalingkan muka.


"Sama teman-teman aku, Kak." jawab gadis itu.


"Kak, kenapa tidak pulang? Kakak sudah ada di Jakarta harus mampir ke rumah."


"Iya nanti Kakak pulang, tapi sekarang mau makan dulu." jawab Bagas.


"Dia siapa Kak?" tanya gadis itu menunjuk Alea.


Alea yang tahu dia yang sedang dibicarakan segera mengulurkan tangannya dan menjawab sendiri siapa dirinya.


"Saya karyawan Pak Bagas, kami ada pekerjaan di kantor pusat." jawab Alea yang tidak ingin gadis di hadapannya ini salah faham tentang dirinya.


"Ohh karyawan, saya kira calon istri Kak Bagas." ucapnya sambil menilai penampilan Alea dari atas hingga ke bawah.


"Lisa" tegur Bagas kebiasaan adiknya yang suka menilai orang yang baru bertemu dengannya.


"Saya adik dupan alias duda tampan yang bernama Bagas ini." Lisa memperkenalkan dirinya pada Alea.


"Alea." ucap Alea menyebutkan namanya.


"Ah... benar, Mbak yang..."


"Lisa" potong Bagas ucapan Lisa.


"Iya, Lisa pulang. Kakak jangan lupa mampir. Oma kan juga mau ketemu..." Lisa melanjutkan ucapannya dengan matanya yang melirik pada Alea.


"Iya...iya..."jawab Bagas membuat Lisa terkekeh sambil berlalu meninggalkan Bagas dan Alea.


"Saya kira Lisa gadis yang dijodohkan sama Bapak." ucap Alea setelah pelayan yang mencatat pesanan mereka berlalu.


"Bukankah sudah saya katakan, saya tidak menerima dijodohkan dengan wanita itu." tegas Bagas.


"Kenapa? Dia pasti dari keluarga yang setara dengan Bapak."


"Karena saya sudah terlanjur jatuh cinta pada wanita yang ada dihadapan saya saat ini."


Deg, Alea menundukkan kepala dan terdiam. Jangan tanya bagaimana yang kini dia rasakan, jantungnya berdebar. Alea tidak tahu harus menjawab apa pengakuan dari Bagas, dia belum siap.


Hening, Bagas juga tidak melanjutkan ucapannya. Jika tidak ingat apa yang dikatakan bu Tuti untuk segera memberi tahu Alea tentang perasaannya, Bagas tidak akan mengungkapkan perasaannya saat ini pada Alea. Dia takut wanita yang dia cintai ini tidak siap mendengar ungkapan cintanya yang akhirnya akan menjauh darinya.


Makan siang keduanya diisi dengan keheningan, hanya suara sendok dan garpu yang terdengar beradu dengan piring. Sampai mereka meninggalkan tempat itu.


"Alea maaf, jika pernyataan saya membuat kamu...."


"Tidak apa-apa, saya hanya tidak menduga akan secepat ini." jawab Alea memotong ucapan Bagas.


"Saya..."


"Beri saya waktu." potong Alea lagi ucapan Bagas.


Memenuhi janjinya pada Lisa, Bagas melajukan mobilnya menuju kediaman omanya. Tiba disana Alea terpesona pada rumah mewah milik keluarga Bagas. Alea tahu Bagas terlahir dari keluarga kaya, tapi ini jauh dari apa yang dia pikirkan tentang Bagas selama ini.

__ADS_1


"Ayo masuk." ajak Bagas agar Alea masuk kedalam rumah yang dia diami sejak lahir.


"Kalau Bapak mau bertemu keluarga Bapak, silakan. Saya tunggu disini saja." tolak Alea ajakan Bagas.


Tidak menerima penolakan Alea, Bagas meraih tangan Alea lalu menggenggamnya dan membawa Alea masuk kedalam rumah yang bagi Alea adalah istana. Dengan ragu Alea mengikuti kemana Bagas membawanya.


Satu tempat yang langsung dituju Bagas, yaitu tempat favorit omanya. Wanita tua itu sedang sibuk dengan tanamannya.


"Oma." panggil Bagas membuat wanita tua itu langsung melihatnya.


"Lisa sudah memberi tahu Oma, kalau kamu ada di Jakarta." ucap Oma Sundari sambil melihat tangan Bagas yang menggenggam tangan Alea.


Alea yang tahu tangannya menjadi perhatian dari oma Bagas segera menarik tangannya dari genggaman Bagas.


"Jadi Oma nungguin aku nih." jawab Bagas sambil terpaksa melepaskan genggaman tangannya pada Alea.


"Iya, kalau sampai kamu tidak pulang, Oma coret nama kamu dari cucu Oma."


Bagas terkekeh mendengar jawaban sang Oma yang selalu memberikan ancaman seperti itu padanya.


"Bagas tidak mau di coret jadi cucu Oma, makanya Bagas pulang." jawab Bagas sambil mendekati sang oma dan memeluknya.


"Apa dia?" tanya oma mengaju pada Alea.


Bagas hanya menjawabnya dengan senyuman yang berarti mengiyakan.


"Cantik, kamu memang pintar memilih." bisik oma lagi lalu berjalan mendekati Alea.


"Siapa namanya sayang?" sapa oma Sundari pada Alea.


"Alea, Oma." jawab Alea sambil mencium punggung tangan oma Sundari.


"Cantik seperti orangnya."


"Terimakasih pujiannya, Oma."


"Ini bukan pujian, kamu memang cantik seperti yang dibicarakan Bagas."


"Oma..." tegur Bagas yang membuka rahasianya.


"Jadi kapan kalian akan menikah?"


Pertanyaan tak terduga dari oma Sundari mengejutkan Alea juga Bagas. Dia baru hari ini mendengar pengakuan Bagas dan masih meminta waktu untuk memikirkannya. Mengapa seakan-akan dia sudah lama menjalin hubungan dengan Bagas.


"Saya..." belum selesai Alea bicara sudah dipotong oma Sundari.


"Oma tahu, masa iddah kamu belum selesai, tapi tidak ada salahnya kalau di persiakan dari sekarang."


Pernyataan oma Sundari kembali mengejutkan Alea. Oma dari Bagas ini tahu siapa dan bagaimana dirinya. Alea melihat Bagas yang langsung mengucapkan kata, "Maaf" tanpa suara.


"Siapa yang akan menikah dengan siapa?" suara seorang wanita mengejutkan mereka.


"Ohh, jadi ini janda yang membuat kamu menolak dijodohkan dengan Hana." ucap wanita itu.


Mendengar nama Hana membuat Alea merasa dejavu. Mengapa dia harus kembali bermasalah dengan yang namanya Hana. Alea tidak tahu, jika Hana yang dimaksud adalah Hana yang menghancurkan rumah tangganya.

__ADS_1


...💔💔💔...


...Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya...


__ADS_2